alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Gending Dibikin Orang Senenan, Pemain Boleh dari Luar Daerah

Gong Senen rutin dimainkan setiap hari Senin. Lokasinya di Panti Pradoggo Biworo, selatan Pendopo Kabupaten Jepara. Dinamakan gong Senen karena yang buat gendingnya orang Desa Senenan, Tahunan. Yang memainkan ada dari Salatiga dan Pekalongan.

MOH. NUR SYAHRI MUHARROM, Radar Kudus

SEKITAR pukul 06.00 para pemain Gong Senen sudah mulai tiba di area Panti Pradonggo Birowo. Saat itu hari Senin. Jadwal rutin memainkan beberapa gending lewat gong tersebut. Pagi itu ada enam orang yang bertugas.


Mereka memakai pakaian lurik dan berblankon. Sebelum mulai, tiga buah dupa dinyalakan dan dipasang di sudut panti. Baru sekitar pukul 06.30, gong dimainkan. Diawali dengan bacaan surat Fatihah. Dilanjut dengan memainkan set gong. Durasi waktunya sekitar 30 menit. Dari pukul 06.30 hingga pukul 07.00.

Gong Senen itu terdiri dari dua buah jidur, kendang satu buah, gong satu buah, gong kempul dua buah, dan bonang 24 buah.

Bonang tersebut masing-masing diletakkan di atas rancak. Satu rancak terdiri dari enam buah bonang. Sehingga ada empat rancak.

Ada empat gending yang dimainkan. Yakni Obrokan,Cara Balen, Kethuk Tutul, dan Kodok Ngorek. ”Semua gending itu yang buat orang Senenan,” ujar Bambang Panji Kisworo, 63, salah satu pemain gong Senenan tertua saat ini. Dirinya mengaku sudah memainkan gong tersebut sejak tahun 1972. Melanjutkan jejak ayahnya.

Dari keterangannya, Gong itu diberi nama Gong Senen karena yang menemukan gendingnya adalah orang Senenan. Selain itu, waktu memainkannya pun tiap Senin. Ia menyangkal informasi bahwa hanya orang Senenan yang bisa membunyikan gong tersebut. ”Gongnya bisa berbunyi. Tapi yang pas gendingnya itu hanya yang dibuat orang Senenan itu,” terang Bambang.

Baca Juga :  Sajian Imlek: Merekah Lambang Kemakmuran, Lengket Eratkan Persaudaraan

Namun, hingga saat ini belum ada data historis tentang Gong Senen. Dari keterangan Kasi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Liya Supardianik saat ini yang berkembang di masyarakat tentang Gong Senen baru konon katanya. ”Sebab itu saat ini menjadi prioritas kami untuk meneliti tentang itu,” ujarnya.

Yang jadi prioritasnya adalah pendokumentasian Gong Senen. Mulai dari notasi musik, ritual persiapannya, hingga pemainnya. Prioritas lainnya adalah dalam hal regenerasi pemain. Karena saat ini pemain Gong Senen usianya rata-rata 50 tahun ke atas.

Dari keterangan Bambang, proses regenerasi yang saat ini berjalan adalah kerabat atau saudara pemain langsung praktik saat Gong Senin dimainkan. Saat itu mereka diajari secara perlahan cara mainnya.

Pemain Gong Senin saat ini tak hanya dari Senanan. Bahkan adapula yang asalnya Salatiga dan Pekalongan. Gong Senin saat ini salah satu identitas Jepara. Ada sebuah mitos, bila tak dimainkan, akan terjadi hal buruk yang menimpa Jepara. Di samping itu, regenerasi dan penelitian perlu dijalankan. Agar warisan budaya itu tak mudah terlupakan. (zen)

Gong Senen rutin dimainkan setiap hari Senin. Lokasinya di Panti Pradoggo Biworo, selatan Pendopo Kabupaten Jepara. Dinamakan gong Senen karena yang buat gendingnya orang Desa Senenan, Tahunan. Yang memainkan ada dari Salatiga dan Pekalongan.

MOH. NUR SYAHRI MUHARROM, Radar Kudus

SEKITAR pukul 06.00 para pemain Gong Senen sudah mulai tiba di area Panti Pradonggo Birowo. Saat itu hari Senin. Jadwal rutin memainkan beberapa gending lewat gong tersebut. Pagi itu ada enam orang yang bertugas.

Mereka memakai pakaian lurik dan berblankon. Sebelum mulai, tiga buah dupa dinyalakan dan dipasang di sudut panti. Baru sekitar pukul 06.30, gong dimainkan. Diawali dengan bacaan surat Fatihah. Dilanjut dengan memainkan set gong. Durasi waktunya sekitar 30 menit. Dari pukul 06.30 hingga pukul 07.00.

Gong Senen itu terdiri dari dua buah jidur, kendang satu buah, gong satu buah, gong kempul dua buah, dan bonang 24 buah.

Bonang tersebut masing-masing diletakkan di atas rancak. Satu rancak terdiri dari enam buah bonang. Sehingga ada empat rancak.

Ada empat gending yang dimainkan. Yakni Obrokan,Cara Balen, Kethuk Tutul, dan Kodok Ngorek. ”Semua gending itu yang buat orang Senenan,” ujar Bambang Panji Kisworo, 63, salah satu pemain gong Senenan tertua saat ini. Dirinya mengaku sudah memainkan gong tersebut sejak tahun 1972. Melanjutkan jejak ayahnya.

Dari keterangannya, Gong itu diberi nama Gong Senen karena yang menemukan gendingnya adalah orang Senenan. Selain itu, waktu memainkannya pun tiap Senin. Ia menyangkal informasi bahwa hanya orang Senenan yang bisa membunyikan gong tersebut. ”Gongnya bisa berbunyi. Tapi yang pas gendingnya itu hanya yang dibuat orang Senenan itu,” terang Bambang.

Baca Juga :  Disparbud Jepara Tambah Boardwalk untuk Percantik Pantai Kartini

Namun, hingga saat ini belum ada data historis tentang Gong Senen. Dari keterangan Kasi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Liya Supardianik saat ini yang berkembang di masyarakat tentang Gong Senen baru konon katanya. ”Sebab itu saat ini menjadi prioritas kami untuk meneliti tentang itu,” ujarnya.

Yang jadi prioritasnya adalah pendokumentasian Gong Senen. Mulai dari notasi musik, ritual persiapannya, hingga pemainnya. Prioritas lainnya adalah dalam hal regenerasi pemain. Karena saat ini pemain Gong Senen usianya rata-rata 50 tahun ke atas.

Dari keterangan Bambang, proses regenerasi yang saat ini berjalan adalah kerabat atau saudara pemain langsung praktik saat Gong Senin dimainkan. Saat itu mereka diajari secara perlahan cara mainnya.

Pemain Gong Senin saat ini tak hanya dari Senanan. Bahkan adapula yang asalnya Salatiga dan Pekalongan. Gong Senin saat ini salah satu identitas Jepara. Ada sebuah mitos, bila tak dimainkan, akan terjadi hal buruk yang menimpa Jepara. Di samping itu, regenerasi dan penelitian perlu dijalankan. Agar warisan budaya itu tak mudah terlupakan. (zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/