alexametrics
22.6 C
Kudus
Monday, August 8, 2022

Mengenal Seni Bela Diri Gong Cik

Sudah Dipertontonkan sejak Zaman Belanda

Warga Desa Ngagel, Dukuhseti melestarikan seni bela diri Gong Cik. Seni ini dilestarikan sejak zaman penjajahan Belanda. Kemudian diselenggarakan tiap tradisi sedekah bumi desa setempat.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati, Radar Kudus

Iringan musik tradisional mengiringi dua lakon seni bela diri itu. Mereka memeragakan perlawanan masyarakat era penjajahan belanda.


Tempo musiknya pun berubah-ubah. Kadang cepat, sewaktu-waktu juga lambat. Gerakan lakon itu sesuai tempo. Anehnya, ini terbalik kecepatan aksi bela dirinya.

Namanya, seni bela diri Gong Cik. Tapi, warga sekitar menyebutnya Encik. Beladiri khas wilayah pesisir Pati utara ini tetap dilestarikan hingga saat ini.  Bahkan, ribuan penonton mampu memadati area makam simbah Surgi Surowencono yang menjadi tempat pagelaran Gong Cik tersebut.

Gong Cik ini seni beladiri khas Kabupaten Pati yang sudah ada sejak jaman penjajahan. Selain memakai jurus-jurus menjatuhkan lawan, Gong Cik juga ditambahi dengan gerakan lelucon untuk menghibur. Mengingat, pada zaman penjajahan dulu, masyarakat pribumi tidak diperbolehkan memiliki ilmu beladiri. Untuk mengelabuhi penjajah itulah gerakan jurus-jurus mematikan itu diubah dengan perpaduan tari dan hiburan.

ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS

”Kalau tempo musiknya cepat berarti gerakan bela dirinya melambat. Sebaliknya, musiknya pelan berarti bela dirinya makin kencang,” ujar salah satu warga Desa Ngagel, Dukuhseti Dimas Anwar.

Baca Juga :  Latihan Tatap Muka Sekali Juara III Lomba Baca Maulid Internasional

Gerakan-gerakan teratur itu, sesuai kondisi saat penjajahan. Lanjut Anwar, itu semacam kode untuk para pelaku seni bela diri. Pada saat penjajahan bela diri dilarang. Jika ketahuan akan ditangkap penjajah. Maka, belajar seni bela diri dengan sembunyi-sembunyi.

”Musik cepat itu artinya penjajah datang. Ibarat kentongan kalau cepat itu sesuatu pertanda. Maka seni bela diri itu berubah menjadi lambat. Mirip seperti tarian,” katanya.

”Sebaliknya, jika musik lambat berarti menggambarkan situasi aman. Sehingga, gerakannya kembali menjadi seni bela diri,” lanjutnya.

Acara seni bela diri itu biasanya satu serangkaian dengan acara sedekah bumi. Kepala Desa (Kades) Ngagel Suwardi menambahkan, acara tasyakuran ini pihaknya mengenakan pakaian adat Pati berkeliling desa. Dibelakangnya, diikuti masyarakat yang membawa puluhan ancak/jegul (gunungan hasil bumi).

”Kami berkomitmen dan mempertahankan budaya dan tradisi ini. Semua aparatur desa memakai pakaian adat Kabupaten Pati. Tradisi sedekah bumi ini juga sebagai sarana silaturahmi dan memperkuat persatuan dan kesatuan di tingkat desa. Kalau ada acara sedekah bumi ini kan jadinya guyub rukun saling berbaur dan menyatu,” pungkasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Warga Desa Ngagel, Dukuhseti melestarikan seni bela diri Gong Cik. Seni ini dilestarikan sejak zaman penjajahan Belanda. Kemudian diselenggarakan tiap tradisi sedekah bumi desa setempat.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati, Radar Kudus

Iringan musik tradisional mengiringi dua lakon seni bela diri itu. Mereka memeragakan perlawanan masyarakat era penjajahan belanda.

Tempo musiknya pun berubah-ubah. Kadang cepat, sewaktu-waktu juga lambat. Gerakan lakon itu sesuai tempo. Anehnya, ini terbalik kecepatan aksi bela dirinya.

Namanya, seni bela diri Gong Cik. Tapi, warga sekitar menyebutnya Encik. Beladiri khas wilayah pesisir Pati utara ini tetap dilestarikan hingga saat ini.  Bahkan, ribuan penonton mampu memadati area makam simbah Surgi Surowencono yang menjadi tempat pagelaran Gong Cik tersebut.

Gong Cik ini seni beladiri khas Kabupaten Pati yang sudah ada sejak jaman penjajahan. Selain memakai jurus-jurus menjatuhkan lawan, Gong Cik juga ditambahi dengan gerakan lelucon untuk menghibur. Mengingat, pada zaman penjajahan dulu, masyarakat pribumi tidak diperbolehkan memiliki ilmu beladiri. Untuk mengelabuhi penjajah itulah gerakan jurus-jurus mematikan itu diubah dengan perpaduan tari dan hiburan.

ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS

”Kalau tempo musiknya cepat berarti gerakan bela dirinya melambat. Sebaliknya, musiknya pelan berarti bela dirinya makin kencang,” ujar salah satu warga Desa Ngagel, Dukuhseti Dimas Anwar.

Baca Juga :  Lima Busana Kudusan Segera Dipatenkan

Gerakan-gerakan teratur itu, sesuai kondisi saat penjajahan. Lanjut Anwar, itu semacam kode untuk para pelaku seni bela diri. Pada saat penjajahan bela diri dilarang. Jika ketahuan akan ditangkap penjajah. Maka, belajar seni bela diri dengan sembunyi-sembunyi.

”Musik cepat itu artinya penjajah datang. Ibarat kentongan kalau cepat itu sesuatu pertanda. Maka seni bela diri itu berubah menjadi lambat. Mirip seperti tarian,” katanya.

”Sebaliknya, jika musik lambat berarti menggambarkan situasi aman. Sehingga, gerakannya kembali menjadi seni bela diri,” lanjutnya.

Acara seni bela diri itu biasanya satu serangkaian dengan acara sedekah bumi. Kepala Desa (Kades) Ngagel Suwardi menambahkan, acara tasyakuran ini pihaknya mengenakan pakaian adat Pati berkeliling desa. Dibelakangnya, diikuti masyarakat yang membawa puluhan ancak/jegul (gunungan hasil bumi).

”Kami berkomitmen dan mempertahankan budaya dan tradisi ini. Semua aparatur desa memakai pakaian adat Kabupaten Pati. Tradisi sedekah bumi ini juga sebagai sarana silaturahmi dan memperkuat persatuan dan kesatuan di tingkat desa. Kalau ada acara sedekah bumi ini kan jadinya guyub rukun saling berbaur dan menyatu,” pungkasnya. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/