alexametrics
31 C
Kudus
Saturday, June 4, 2022

Gunari Atlet Atletik Difabel Berprestasi

Selalu Sabet Medali sejak Pertama Ikuti Kejuaraan

Atlet difabel asal Kabupaten grobogan Gunari sudah mengikuti empat kali edisi kejuaraan Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Peparnas). Dari empat kejuaraan itu ia selalu panen medali.

SIROJUL MUNIR, Grobogan, Radar Kudus

GUNARI, warga Desa Batura gung, Kecamatan Gubug, ini sudah empat kali pengalaman mengikuti kejuaraan Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Peparnas). Yaitu tahun 2008, 2012, 2016 dan 2021. Ia kerap menyabet medali di kejuaraan yang diikutinya tersebut.


Prestasi terakhir yang dida pat kan di Peparnas bulan November tahun 2021 di Papua lalu mendapatkan dua medali perak dan satu perunggu. Dua medali perak diraih di kelas 200 meter dan 400 meter. Sedangkan perunggu kelas 100 meter. Tiga nomor kejuaraan yang didapatkan mendapatkan medali semua.

”Dari dua medali mendapatkan Rp 160 juta untuk bonus. Setiap perak mendapatkan Rp 80 juta dan perak Rp 50 juta dari Pemprov Jateng. Bonus tersebut saya belikan rumah,” kata Gunari.

Selain mendapatkan bonus dari Provinsi Jateng, Gunari juga mendapatkan bonus dari Pemkab Grobogan yang diserahkan Bupati Sri Sumarni. Bonus medali perak Rp 30 juta dan perunggu Rp 10 juta. Total mendapatkan Rp 250 juta. Rencananya akan dibelikan rumah di Solo.

”Rumah tempat kelahiran saya di Desa Baturagung, Kecamatan Gubug. Tetapi latihan saya di Stadion Manahan, Solo. Agar mudah ke tempat latihan saya beli rumah di Solo, karena saat ini saya masih ngontrak,” ujarnya.

GUNARI FOR RADAR KUDUS

Dia menceritakan menjadi atlet difabel dimulai 2004 lalu. Saat itu, ia pertama kali mengikuti seleksi persiapan Porcanas di Kalimantan Timur tahun 2008. Dirinya menyadari sudah menjadi difabel sejak masih kecil. Ketika itu, saat usia lima tahun dia sakit panas. Oleh kedua orang tuanya diberobatkan. Saat itu ia terkena folio.

Kehidupan menjadi difabel dijalani dalam kehidupanya. Yaitu dengan sekolah umum biasa di SDN 1 Baturagung dan SMPN 1 Solo. Setelah lulus SLTP dirinya tidak melanjutkan sekolah lagi.

”Setelah itu, saya putuskan pulang dan menjadi tukang kayu. Karena dari kecil senang olahraga, saya diajari ayah untuk hidup sehat. Saya dikenalkan sama teman-teman mengikuti olahraga,” aku dia.

Baca Juga :  Rintis Kedai sejak 2012, Promosikan Kopi Muria

Setelah terjun mengikuti a tlet difabel, dirinya bergabung dengan BDOC yang menaungi olahraga difabel. Pertama kali ikuti cabor atletik tolak lempar. Karena keterbatasan lemparan, dirinya pindah lagi ke cabor alat berat. Kemudian saya trauma pernah kejatuhan barbel. Kemudian ada informasi seleksi balap roda tahun 2004.

”Saya mencoba mengikuti seleksi nomor 2 se-Jawa Tengah. Karena waktu itu, persiapan Porcanas Kaltim,” terang dia.

Setelah itu lolos seleksi pembinaan jangka panjang untuk Jawa Tengah mengikuti pembinaan jangka panjang. Hingga akhirnya dikirim pertama kali ikut Percanas 2008. Pertama mengikuti kejuaraan nasional tersebut berhasil mendapatkan tiga medali emas. Cabor yang diikuti atletik dengan nomor pertandingan. Yakni kelas 800 meter, 1.500 meter dan 5.000 meter.

”Tiga medali emas. Puncakpun prestasi saya. Sekaligus ketiganya pemecah rekor,” tambahnya

Dari hasil mendapatkan ti ga medali emas, dirinya mendapatkan bonus Rp 30 juta untuk satu medali emas. Tiga emas mendapatkan Rp 90 juta. Ditambah lagi dengan pemecahan rekor tambahan Rp 3 juta perkelas. Total yang didapatkan Rp 99 juta.

Bonus yang didapatkan pertama kali dibuat untuk membantu orang tua di Desa Baturagung, Kecamatan Gubug dan membeli sebidang tanah dan persiapan pernikahan dengan kekasih.

Kejuaraan Peparnas 2012 di Provinsi Riau, ia pindah kelas sprint. Kelas 100 meter, 200 meter dan 400 meter. Dari tiga lomba yang diikuti mendapatkan tiga medali perak. Bonus yang didapatkan Rp 15 per medali perak. Total mendapatkan Rp 45 juta.

”Untuk Peparnas tahun 2016 di Provinsi Jawa Tengah ikuti kelas sprint lagi. Yaitu kelas 100 meter, 200 meter dan 400 meter. Kali ini saya hanya mendapatkan 1 perak di kelas 100 meter dan 1 perunggu 200 meter. Bonusnya perak Rp 35 juta dan perunggu Rp 20 juta,” aku dia.

Menurutnya keberhasilan mengikuti kejuaraan empat kali Peparnas karena semangat bisa juara terus dan memikirkan masa depan. Meski difabel harus bisa memiliki masa depan keluarga istri dan anak. (*/him)






Reporter: Sirojul Munir

Atlet difabel asal Kabupaten grobogan Gunari sudah mengikuti empat kali edisi kejuaraan Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Peparnas). Dari empat kejuaraan itu ia selalu panen medali.

SIROJUL MUNIR, Grobogan, Radar Kudus

GUNARI, warga Desa Batura gung, Kecamatan Gubug, ini sudah empat kali pengalaman mengikuti kejuaraan Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Peparnas). Yaitu tahun 2008, 2012, 2016 dan 2021. Ia kerap menyabet medali di kejuaraan yang diikutinya tersebut.

Prestasi terakhir yang dida pat kan di Peparnas bulan November tahun 2021 di Papua lalu mendapatkan dua medali perak dan satu perunggu. Dua medali perak diraih di kelas 200 meter dan 400 meter. Sedangkan perunggu kelas 100 meter. Tiga nomor kejuaraan yang didapatkan mendapatkan medali semua.

”Dari dua medali mendapatkan Rp 160 juta untuk bonus. Setiap perak mendapatkan Rp 80 juta dan perak Rp 50 juta dari Pemprov Jateng. Bonus tersebut saya belikan rumah,” kata Gunari.

Selain mendapatkan bonus dari Provinsi Jateng, Gunari juga mendapatkan bonus dari Pemkab Grobogan yang diserahkan Bupati Sri Sumarni. Bonus medali perak Rp 30 juta dan perunggu Rp 10 juta. Total mendapatkan Rp 250 juta. Rencananya akan dibelikan rumah di Solo.

”Rumah tempat kelahiran saya di Desa Baturagung, Kecamatan Gubug. Tetapi latihan saya di Stadion Manahan, Solo. Agar mudah ke tempat latihan saya beli rumah di Solo, karena saat ini saya masih ngontrak,” ujarnya.

GUNARI FOR RADAR KUDUS

Dia menceritakan menjadi atlet difabel dimulai 2004 lalu. Saat itu, ia pertama kali mengikuti seleksi persiapan Porcanas di Kalimantan Timur tahun 2008. Dirinya menyadari sudah menjadi difabel sejak masih kecil. Ketika itu, saat usia lima tahun dia sakit panas. Oleh kedua orang tuanya diberobatkan. Saat itu ia terkena folio.

Kehidupan menjadi difabel dijalani dalam kehidupanya. Yaitu dengan sekolah umum biasa di SDN 1 Baturagung dan SMPN 1 Solo. Setelah lulus SLTP dirinya tidak melanjutkan sekolah lagi.

”Setelah itu, saya putuskan pulang dan menjadi tukang kayu. Karena dari kecil senang olahraga, saya diajari ayah untuk hidup sehat. Saya dikenalkan sama teman-teman mengikuti olahraga,” aku dia.

Baca Juga :  Gubernur Ganjar Temukan Perangkat Desa Masuk Penerima Bantuan

Setelah terjun mengikuti a tlet difabel, dirinya bergabung dengan BDOC yang menaungi olahraga difabel. Pertama kali ikuti cabor atletik tolak lempar. Karena keterbatasan lemparan, dirinya pindah lagi ke cabor alat berat. Kemudian saya trauma pernah kejatuhan barbel. Kemudian ada informasi seleksi balap roda tahun 2004.

”Saya mencoba mengikuti seleksi nomor 2 se-Jawa Tengah. Karena waktu itu, persiapan Porcanas Kaltim,” terang dia.

Setelah itu lolos seleksi pembinaan jangka panjang untuk Jawa Tengah mengikuti pembinaan jangka panjang. Hingga akhirnya dikirim pertama kali ikut Percanas 2008. Pertama mengikuti kejuaraan nasional tersebut berhasil mendapatkan tiga medali emas. Cabor yang diikuti atletik dengan nomor pertandingan. Yakni kelas 800 meter, 1.500 meter dan 5.000 meter.

”Tiga medali emas. Puncakpun prestasi saya. Sekaligus ketiganya pemecah rekor,” tambahnya

Dari hasil mendapatkan ti ga medali emas, dirinya mendapatkan bonus Rp 30 juta untuk satu medali emas. Tiga emas mendapatkan Rp 90 juta. Ditambah lagi dengan pemecahan rekor tambahan Rp 3 juta perkelas. Total yang didapatkan Rp 99 juta.

Bonus yang didapatkan pertama kali dibuat untuk membantu orang tua di Desa Baturagung, Kecamatan Gubug dan membeli sebidang tanah dan persiapan pernikahan dengan kekasih.

Kejuaraan Peparnas 2012 di Provinsi Riau, ia pindah kelas sprint. Kelas 100 meter, 200 meter dan 400 meter. Dari tiga lomba yang diikuti mendapatkan tiga medali perak. Bonus yang didapatkan Rp 15 per medali perak. Total mendapatkan Rp 45 juta.

”Untuk Peparnas tahun 2016 di Provinsi Jawa Tengah ikuti kelas sprint lagi. Yaitu kelas 100 meter, 200 meter dan 400 meter. Kali ini saya hanya mendapatkan 1 perak di kelas 100 meter dan 1 perunggu 200 meter. Bonusnya perak Rp 35 juta dan perunggu Rp 20 juta,” aku dia.

Menurutnya keberhasilan mengikuti kejuaraan empat kali Peparnas karena semangat bisa juara terus dan memikirkan masa depan. Meski difabel harus bisa memiliki masa depan keluarga istri dan anak. (*/him)






Reporter: Sirojul Munir

Most Read

Artikel Terbaru

/