alexametrics
32.3 C
Kudus
Tuesday, May 24, 2022

Melihat Kreativitas Emak-Emak dalam Menjaga Lingkungan

Dari Sampah Buat Tanaman Rajin Berbuah

Di tangan orang kreatif, sampah justru bisa memiliki nilai tambah. Seperti sampah dapur rumah tangga, di tangan ibu-ibu Desa Tanjunganom, Gabus, Pati, dijadikan pupuk organik ramah lingkungan.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

DI sebuah kebun sayur di Desa Tanjunganom, Gabus, Pati, sekelompok ibu-ibu tampak sibuk merawat tanaman. Ada yang sedang nyemprot tomat. Ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Tanjung ini, sedang mengaplikasikan pupuk organik cair dan padat hasil kreasinya.


Kelompok ini memang sedang konsen untuk membuat pupuk organik, memanfaatkan sampah dapur. Hasilnya menakjubkan, tanaman yang menggunakan pupuk ini, lebih cepat tumbuh dan produktif.

PUPUK TANAMAN: anggota KWT Sekar Tanjung memupuk tanaman pangan dengan pupuk organik buatannya.

Anggota KWT Sekar Tanjung Sumiyati mengungkapkan, proses pembuatan pupuk organik ini cukuplah mudah. Pertama, masukkan sisa buah-buahan ke wadah khusus selama dua bulan. Ini dilakukan untuk merangsang munculnya mikroba pengurai.

”Dimasukkan ke ember tumbuh untuk memunculkan mikroba. Baru setelahnya, bisa menggunakan sampah dapur apa saja. Caranya, cairan sampah buah disemprotkan ke sampah dapur terlebih dahulu,” jelasnya.

Sumiyati menambahkan, semua sampah dapur bisa dijadikan pupuk organik. Mulai dari sampah cangkang telur, kepala ikan, hingga sisa-sisa sayuran. Kemudian setelah dua bulan didiamkan, nantinya pupuk organik cair dan padat itu dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Baca Juga :  PLN UIK TJB Operasikan Road Sweeper di Area PLTU TJB

Meski baru diaplikasikan beberapa bulan, tanaman yang menggunakan pupuk organik ini, lebih produktif dan cepat tumbuh. Selain itu lebih sehat, lantaran memakai bahan-bahan yang ramah lingkungan.

”Subur sekali tanaman kami. Kami memang beralih ke organik, karena sayur ini kan untuk konsumsi sendiri. Jadi, lebih sehat karena tidak terpapar bahan kimia buatan. Tumbuhan yang kami tanam ada sayur terong, sawi, cabai, dan lannya,” imbuhnya Sumiyati.

Dia mengaku bakal terus mengembangkan pupuk organik buatannya, karena nilai kemanfaatannya sangat dirasakan masyarakat. Khususnya warga Desa Tanjunganom.

”Insya Allah (pupuk cair) akan dikembangkan terus, karena dilihat hasilnya sangat bagus untuk tanaman. Selain itu juga lebih murah, karena kita menggunakan bahan-bahan sisa dapur,” imbuhnya.

Dengan pengembangan sampah dapur menjadi pupuk ini, bakal menjadikan lingkungan menjadi bersih. Sebab, meminimalisasi sampah-sampah yang menumpuk, karena langsung dimanfaatkan menjadi pupuk. (*/lin)

Di tangan orang kreatif, sampah justru bisa memiliki nilai tambah. Seperti sampah dapur rumah tangga, di tangan ibu-ibu Desa Tanjunganom, Gabus, Pati, dijadikan pupuk organik ramah lingkungan.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

DI sebuah kebun sayur di Desa Tanjunganom, Gabus, Pati, sekelompok ibu-ibu tampak sibuk merawat tanaman. Ada yang sedang nyemprot tomat. Ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Tanjung ini, sedang mengaplikasikan pupuk organik cair dan padat hasil kreasinya.

Kelompok ini memang sedang konsen untuk membuat pupuk organik, memanfaatkan sampah dapur. Hasilnya menakjubkan, tanaman yang menggunakan pupuk ini, lebih cepat tumbuh dan produktif.

PUPUK TANAMAN: anggota KWT Sekar Tanjung memupuk tanaman pangan dengan pupuk organik buatannya.

Anggota KWT Sekar Tanjung Sumiyati mengungkapkan, proses pembuatan pupuk organik ini cukuplah mudah. Pertama, masukkan sisa buah-buahan ke wadah khusus selama dua bulan. Ini dilakukan untuk merangsang munculnya mikroba pengurai.

”Dimasukkan ke ember tumbuh untuk memunculkan mikroba. Baru setelahnya, bisa menggunakan sampah dapur apa saja. Caranya, cairan sampah buah disemprotkan ke sampah dapur terlebih dahulu,” jelasnya.

Sumiyati menambahkan, semua sampah dapur bisa dijadikan pupuk organik. Mulai dari sampah cangkang telur, kepala ikan, hingga sisa-sisa sayuran. Kemudian setelah dua bulan didiamkan, nantinya pupuk organik cair dan padat itu dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Baca Juga :  PLN UIK TJB Operasikan Road Sweeper di Area PLTU TJB

Meski baru diaplikasikan beberapa bulan, tanaman yang menggunakan pupuk organik ini, lebih produktif dan cepat tumbuh. Selain itu lebih sehat, lantaran memakai bahan-bahan yang ramah lingkungan.

”Subur sekali tanaman kami. Kami memang beralih ke organik, karena sayur ini kan untuk konsumsi sendiri. Jadi, lebih sehat karena tidak terpapar bahan kimia buatan. Tumbuhan yang kami tanam ada sayur terong, sawi, cabai, dan lannya,” imbuhnya Sumiyati.

Dia mengaku bakal terus mengembangkan pupuk organik buatannya, karena nilai kemanfaatannya sangat dirasakan masyarakat. Khususnya warga Desa Tanjunganom.

”Insya Allah (pupuk cair) akan dikembangkan terus, karena dilihat hasilnya sangat bagus untuk tanaman. Selain itu juga lebih murah, karena kita menggunakan bahan-bahan sisa dapur,” imbuhnya.

Dengan pengembangan sampah dapur menjadi pupuk ini, bakal menjadikan lingkungan menjadi bersih. Sebab, meminimalisasi sampah-sampah yang menumpuk, karena langsung dimanfaatkan menjadi pupuk. (*/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/