alexametrics
25.3 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Cerita Sisi Lain Pandoyo, Kepala Desa Tegalharjo, Kecamatan Trangkil, Pati

Petani Tulen yang Matang di Birokrasi

Selepas tugas di kantor desa selesai, Pandoyo bergegas pulang ke rumah. Seragam dinas dilepas dan menggantinya dengan kaos oblong yang sedikit kumal. Setelah itu dia akan tancap gas pergi ke sawah. Melihat tanaman padi, ketela, dan tebu yang ditanamnya.

Begitulah aktivitas keseharian pria kelahiran Pati, 22 April 19970 ini. Setelah merampungkan tugas-tugasnya sebagai kepala desa dia segera turun ke sawah. Pertanian baginya adalah passion. Hobi dan keseriusan bertani itu diwariskan oleh kedua orang tuanya yang merupakan petani.

“Saya memang petani tulen. Sejak remaja setelah lulus sekolah sudah fokus bergelut di dunia pertanian. Waktu lulus dari madrasah aliyah (setingkat SMA) saya sudah Bertani semangka. Menyewa lahan di Kalikalong, Tayu dan Dumpil, Dukuhseti. Sampai sekarang terus menjadi petani,” jelas pria yang baru saja dipercaya menjadi ketua Paguyuban Kepala Desa se Kabupaten Pati (Pasopati) ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.


Pandoyo sendiri menanam bermacam-macam tanaman. Di desanya dia menanam padi, ketela, dan tebu. Dia juga menyewa lahan di tempat lain. Untuk ditanami bawang merah, dan sayuran.

Baca Juga :  Tak Ada Even Tetap Latihan di Kesatuan

“Jadi petani itu terasa damai, kehidupan tenang, tidak banyak riuhnya. Apalagi saat panen tiba, rasanya senang. Banyak happynya buktinya sampai sekarang masih tekun bertani. Memang kadang juga dirundung masalah seperti kelangkaan pupuk, dan harga panen yang jatuh,” papar Pandoyo.

Dengan latar belakang sebagai petani ini, dalam pemerintahannya, Pandoyo juga menaruh perhatian penting agar warganya yang mayoritas petani dapat hidup sejahtera. Melalui kebijakan—kebijakan dan program desa yang mendukung terhadap petani.

“Karena basic saya petani, sebisa mungkin berusaha secara maksimal memperjuangkan nasib dan hak-hak petani. Utamanya dalam pengembangan dan produktivitas hasil. Sarpras dan pendampingan. Pengolahan lahan dan pemupukan. Sehingga di masing-masing dukuh saat ada kelompok tani. Warga Desa Tegalharjo memang mayoritas petani dan peternak, mereka menanam ketela dan tebu. Sebagian beternak ayam boiler, pejantan, petelur, kambing dan sapi,” paparnya.






Reporter: Achmad Ulil Albab

Selepas tugas di kantor desa selesai, Pandoyo bergegas pulang ke rumah. Seragam dinas dilepas dan menggantinya dengan kaos oblong yang sedikit kumal. Setelah itu dia akan tancap gas pergi ke sawah. Melihat tanaman padi, ketela, dan tebu yang ditanamnya.

Begitulah aktivitas keseharian pria kelahiran Pati, 22 April 19970 ini. Setelah merampungkan tugas-tugasnya sebagai kepala desa dia segera turun ke sawah. Pertanian baginya adalah passion. Hobi dan keseriusan bertani itu diwariskan oleh kedua orang tuanya yang merupakan petani.

“Saya memang petani tulen. Sejak remaja setelah lulus sekolah sudah fokus bergelut di dunia pertanian. Waktu lulus dari madrasah aliyah (setingkat SMA) saya sudah Bertani semangka. Menyewa lahan di Kalikalong, Tayu dan Dumpil, Dukuhseti. Sampai sekarang terus menjadi petani,” jelas pria yang baru saja dipercaya menjadi ketua Paguyuban Kepala Desa se Kabupaten Pati (Pasopati) ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Pandoyo sendiri menanam bermacam-macam tanaman. Di desanya dia menanam padi, ketela, dan tebu. Dia juga menyewa lahan di tempat lain. Untuk ditanami bawang merah, dan sayuran.

Baca Juga :  Tol Kudus-Pati-Rembang segera Dibangun, Berikut Rencananya

“Jadi petani itu terasa damai, kehidupan tenang, tidak banyak riuhnya. Apalagi saat panen tiba, rasanya senang. Banyak happynya buktinya sampai sekarang masih tekun bertani. Memang kadang juga dirundung masalah seperti kelangkaan pupuk, dan harga panen yang jatuh,” papar Pandoyo.

Dengan latar belakang sebagai petani ini, dalam pemerintahannya, Pandoyo juga menaruh perhatian penting agar warganya yang mayoritas petani dapat hidup sejahtera. Melalui kebijakan—kebijakan dan program desa yang mendukung terhadap petani.

“Karena basic saya petani, sebisa mungkin berusaha secara maksimal memperjuangkan nasib dan hak-hak petani. Utamanya dalam pengembangan dan produktivitas hasil. Sarpras dan pendampingan. Pengolahan lahan dan pemupukan. Sehingga di masing-masing dukuh saat ada kelompok tani. Warga Desa Tegalharjo memang mayoritas petani dan peternak, mereka menanam ketela dan tebu. Sebagian beternak ayam boiler, pejantan, petelur, kambing dan sapi,” paparnya.






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/