alexametrics
25.9 C
Kudus
Wednesday, May 25, 2022

Perlu Waktu Dua Tahun Temukan Bumbu Pas

Tak puas hanya menjual kalkun, peternak di Desa Undaan Tengah, Undaan, Kudus, Sumarni berkreasi. Dia membuat olahan daging unggas itu, menjadi frozen.

EKO SANTOSO, Radar Kudus

(EKO SANTOSO/Radar Kudus)

SUMARNI tampak sibuk bersama suaminya, Suyatno. Di beranda rumah, keduanya meracik sesuatu. Ada daging kalkun yang telah diolah dengan beragam varian. Ada rica-rica hingga sate. Olahan daging itu, kemudian dikemas.


Perempuan berumur 45 itu, terlihat mewadahi olahan daging kalkun itu ke plastik. Yang sudah terwadahi itu kemudian diambil Suyatno. Ditambahkan bumbu yang sudah terkemas pula. Bumbunya beragam, sesuai dengan jenis olahan daging itu.

Usai semuanya terkemas, langsung dipres dengan mesin. Kemudian diberi stiker. Stiker itu bertuliskan Frozen Food Marni-Kun. Yang dilengkapi dengan informasi produk miliknya. Setelah selesai kemudian dibekukan di freezer.

Kreasi mengolah daging kalkun untuk di-frozen berjalan sejak pertengahan September lalu. Belum lama. Baru tiga minggu. Padahal, keduanya sudah beternak kalkun bertahun-tahun. Aktivitas pasangan suami istri itu, kini tak sekadar berada di kandang kalkun. Sebagaimana biasanya memberi makan dan membersihkan kandang. Tetapi kini mengolah dagingnya pula.

Tak menutup kemungkinan dari sekadar peternak, bakal jadi pengepul. Membeli kalkun untuk diolah menjadi frozen. Sebab permintaannya lumayan banyak. Belum genap sebulan, 500 bungkus daging olahan kalkun frozen ludes.

Pembelinya mayoritas dari luar daerah. Seperti dari Semarang, Solo, Cirebon, hingga Subang.

”Satu kandang saya yang semula terisi kalkun habis disembelih untuk dibuat olahan frozen. Sebab permintaan memang banyak,” kata Suyatno.

Baca Juga :  Tempuh 47 Jam; Lawan Arus Laut, Punguti Sampah, hingga Disengat Ubur-ubur

Sumarni menambahkan, ada sejumlah menu kalkun frozen yang diproduksi. Seperti rica-rica kalkun, kalkun goreng sambal matah, kalkun goreng sambal terasi, kalkun asam manis, kalkun asam pedas, kalkun ungkep, hingga sate kalkun.

”Jadi kalkun yang di-frozen sudah matang lengkap dengan bumbu dan sambalnya,” ujarnya.

Cara penyajiannya pun menurutnya sangat mudah. Kalkun frozen terlebih dahulu dikeluarkan dari frezeer. Setelah itu, bumbu yang sudah tersaji dalam paket dikeluarkan dan dipanaskan. Kemudian, daging yang sebelumnya beku dan mulai mencair dicampur ke dalam adonan bumbu dan diaduk secara merata.

Dia menambahkan, kalkun frozen ini bisa disimpan dalam jangka waktu lama. ”Kalau posisi di dalam freezer bisa bertahan sampai enam bulan,” ucapnya.

Harganya pun cukup terjangkau. Satu paket kalkun frozen dibandrol dengan harga Rp 30-35 ribu. Meski baru diproduksi tiga pekan, kalkun frozen sudah mampu terjual 150-200 porsi paket tiap pekan.

Meski kini penjualannya laris, menurutnya butuh proses lama untuk menemukan racikan bumbu yang pas. Setidaknya dua tahun keduanya melakukan uji coba. Bergonta-ganti meracik bumbu yang pas.

”Selalu kami coba gimana hasilnya. Rasanya selalu dicicipi dulu. Ternyata susah menemukan yang pas buat olahan frozen. Sampai akhirnya kemarin ketemu racikan yang pas. Dan akhirnya baru berani kami pasarkan,” terangnya. (*/lin)

Tak puas hanya menjual kalkun, peternak di Desa Undaan Tengah, Undaan, Kudus, Sumarni berkreasi. Dia membuat olahan daging unggas itu, menjadi frozen.

EKO SANTOSO, Radar Kudus

(EKO SANTOSO/Radar Kudus)

SUMARNI tampak sibuk bersama suaminya, Suyatno. Di beranda rumah, keduanya meracik sesuatu. Ada daging kalkun yang telah diolah dengan beragam varian. Ada rica-rica hingga sate. Olahan daging itu, kemudian dikemas.

Perempuan berumur 45 itu, terlihat mewadahi olahan daging kalkun itu ke plastik. Yang sudah terwadahi itu kemudian diambil Suyatno. Ditambahkan bumbu yang sudah terkemas pula. Bumbunya beragam, sesuai dengan jenis olahan daging itu.

Usai semuanya terkemas, langsung dipres dengan mesin. Kemudian diberi stiker. Stiker itu bertuliskan Frozen Food Marni-Kun. Yang dilengkapi dengan informasi produk miliknya. Setelah selesai kemudian dibekukan di freezer.

Kreasi mengolah daging kalkun untuk di-frozen berjalan sejak pertengahan September lalu. Belum lama. Baru tiga minggu. Padahal, keduanya sudah beternak kalkun bertahun-tahun. Aktivitas pasangan suami istri itu, kini tak sekadar berada di kandang kalkun. Sebagaimana biasanya memberi makan dan membersihkan kandang. Tetapi kini mengolah dagingnya pula.

Tak menutup kemungkinan dari sekadar peternak, bakal jadi pengepul. Membeli kalkun untuk diolah menjadi frozen. Sebab permintaannya lumayan banyak. Belum genap sebulan, 500 bungkus daging olahan kalkun frozen ludes.

Pembelinya mayoritas dari luar daerah. Seperti dari Semarang, Solo, Cirebon, hingga Subang.

”Satu kandang saya yang semula terisi kalkun habis disembelih untuk dibuat olahan frozen. Sebab permintaan memang banyak,” kata Suyatno.

Baca Juga :  Bikin Lahan Hijau, Gagas Terminal UMKM

Sumarni menambahkan, ada sejumlah menu kalkun frozen yang diproduksi. Seperti rica-rica kalkun, kalkun goreng sambal matah, kalkun goreng sambal terasi, kalkun asam manis, kalkun asam pedas, kalkun ungkep, hingga sate kalkun.

”Jadi kalkun yang di-frozen sudah matang lengkap dengan bumbu dan sambalnya,” ujarnya.

Cara penyajiannya pun menurutnya sangat mudah. Kalkun frozen terlebih dahulu dikeluarkan dari frezeer. Setelah itu, bumbu yang sudah tersaji dalam paket dikeluarkan dan dipanaskan. Kemudian, daging yang sebelumnya beku dan mulai mencair dicampur ke dalam adonan bumbu dan diaduk secara merata.

Dia menambahkan, kalkun frozen ini bisa disimpan dalam jangka waktu lama. ”Kalau posisi di dalam freezer bisa bertahan sampai enam bulan,” ucapnya.

Harganya pun cukup terjangkau. Satu paket kalkun frozen dibandrol dengan harga Rp 30-35 ribu. Meski baru diproduksi tiga pekan, kalkun frozen sudah mampu terjual 150-200 porsi paket tiap pekan.

Meski kini penjualannya laris, menurutnya butuh proses lama untuk menemukan racikan bumbu yang pas. Setidaknya dua tahun keduanya melakukan uji coba. Bergonta-ganti meracik bumbu yang pas.

”Selalu kami coba gimana hasilnya. Rasanya selalu dicicipi dulu. Ternyata susah menemukan yang pas buat olahan frozen. Sampai akhirnya kemarin ketemu racikan yang pas. Dan akhirnya baru berani kami pasarkan,” terangnya. (*/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/