28 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Melihat Pusat Latihan Karawitan dan Dalang Cilik di Pati

Alhamdulillah Masih Ada Anak-Anak Mau Nguri-uri Budaya

Regenerasi kesenian tradisional sangat penting dilakukan agar masa depan tak sampai punah. Karena itu penting untuk mengajari kesenian kepada generasi muda, seperti yang dilakukan di Desa Pangguroyom Kecamatan Wedarijaksa, Pati.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati, Radar Kudus

ALUNAN gamelan terdengar merdu memenuhi ruangan. Terlihat anak-anak berusia belasan sedang asyik memainkan seperangkat gamelan. Mereka tampak lihai memainkan alat musik tradisional itu. Di depan seorang dalang cilik terlihat luwes memainkan wayang kulit yang berjajar rapi. Semua pemainnya adalah anak-anak.


Bocah berusia 13 tahun itu bernama Gandrung Swara Alghifari. Sebagai seorang dalang cilik di usianya yang masih belia Gandrung sudah luwes memainkan wayang kulit. Tidak hanya itu, bocah yang baru menginjak umur 13 tahun ini, juga hafal di luar kepala cerita dan tokoh dalam pewayangan.

Gandrung mengaku, telah jatuh cinta pada budaya nusantara ini sejak masih kanak-kanak. Terlebih ayahnya adalah seorang dalang wayang kulit.

Sejumlah prestasi telah diraih Gandrung saat menekuni budaya dan tradisi tersebut. Pada tahun 2020 silam, ia menyabet juara pertama dalam lomba dalang anak di Pati. Kemudian mendapatkan juara tingkat Keresidenan Pati pada tahun 2021.

Gandrung juga tercatat masuk lima besar gaya sabet Surakarta tingkat nasional. Dan pada tahun 2022, siswa kelas I SMP ini mewakili Keresidenan Pati untuk maju dalam lomba dalang anak tingkat provinsi Jawa Tengah, dan berhasil menyabet juara 2.

Baca Juga :  Ada Air Suci untuk Pembaptisan

Pelatih dalang dan karawitan anak, Tri Luwih Winarko mengatakan, dalam lomba dalang anak tingkat provinsi Jawa Tengah, pihaknya telah melatih anak-anak selama 10 hari terakhir di Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa.

“Anak-anak ini dari penjuru Pati. Kita persiapan untuk mengikuti lomba dalang tingkat provinsi yang diselenggarakan Pepadi provinsi, bertempat di Sragen. Ini sangat bagus untuk regenarasi seni, khususnya karawitan,” ujar pria yang karib disapa Dalang Wiwin Nusantara ini.

Menurut warga RT 08/RW 02 Desa/Kecamatan Kayen ini, tantangan terbesar untuk terus melestarikan kesenian tradisional adalah gempuran zaman. Dimana budaya tradisional saat ini harus bersaing dengan teknologi yang sangat luar biasa.

“Alhamdulillah, Allah masih menyisakan anak-anak ini untuk nguri-uri budayanya sendiri. Untuk menjaga harkat martabat budaya nusantara sebagai kekayaan dunia. Karena kebanyakan seusia mereka itu condong bermain gadget ataupun game, pokoknya yang berbau teknologi. Tetapi mereka masih mencintai budaya dengan gamelannya, wayangnya, tarinya, itu sangat luar biasa,” beber ayah Gandrung ini. (*/him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Regenerasi kesenian tradisional sangat penting dilakukan agar masa depan tak sampai punah. Karena itu penting untuk mengajari kesenian kepada generasi muda, seperti yang dilakukan di Desa Pangguroyom Kecamatan Wedarijaksa, Pati.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati, Radar Kudus

ALUNAN gamelan terdengar merdu memenuhi ruangan. Terlihat anak-anak berusia belasan sedang asyik memainkan seperangkat gamelan. Mereka tampak lihai memainkan alat musik tradisional itu. Di depan seorang dalang cilik terlihat luwes memainkan wayang kulit yang berjajar rapi. Semua pemainnya adalah anak-anak.

Bocah berusia 13 tahun itu bernama Gandrung Swara Alghifari. Sebagai seorang dalang cilik di usianya yang masih belia Gandrung sudah luwes memainkan wayang kulit. Tidak hanya itu, bocah yang baru menginjak umur 13 tahun ini, juga hafal di luar kepala cerita dan tokoh dalam pewayangan.

Gandrung mengaku, telah jatuh cinta pada budaya nusantara ini sejak masih kanak-kanak. Terlebih ayahnya adalah seorang dalang wayang kulit.

Sejumlah prestasi telah diraih Gandrung saat menekuni budaya dan tradisi tersebut. Pada tahun 2020 silam, ia menyabet juara pertama dalam lomba dalang anak di Pati. Kemudian mendapatkan juara tingkat Keresidenan Pati pada tahun 2021.

Gandrung juga tercatat masuk lima besar gaya sabet Surakarta tingkat nasional. Dan pada tahun 2022, siswa kelas I SMP ini mewakili Keresidenan Pati untuk maju dalam lomba dalang anak tingkat provinsi Jawa Tengah, dan berhasil menyabet juara 2.

Baca Juga :  Tim Pelajar hingga SEA Games: Medali Perak Senam di PON Papua Asal Pati

Pelatih dalang dan karawitan anak, Tri Luwih Winarko mengatakan, dalam lomba dalang anak tingkat provinsi Jawa Tengah, pihaknya telah melatih anak-anak selama 10 hari terakhir di Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa.

“Anak-anak ini dari penjuru Pati. Kita persiapan untuk mengikuti lomba dalang tingkat provinsi yang diselenggarakan Pepadi provinsi, bertempat di Sragen. Ini sangat bagus untuk regenarasi seni, khususnya karawitan,” ujar pria yang karib disapa Dalang Wiwin Nusantara ini.

Menurut warga RT 08/RW 02 Desa/Kecamatan Kayen ini, tantangan terbesar untuk terus melestarikan kesenian tradisional adalah gempuran zaman. Dimana budaya tradisional saat ini harus bersaing dengan teknologi yang sangat luar biasa.

“Alhamdulillah, Allah masih menyisakan anak-anak ini untuk nguri-uri budayanya sendiri. Untuk menjaga harkat martabat budaya nusantara sebagai kekayaan dunia. Karena kebanyakan seusia mereka itu condong bermain gadget ataupun game, pokoknya yang berbau teknologi. Tetapi mereka masih mencintai budaya dengan gamelannya, wayangnya, tarinya, itu sangat luar biasa,” beber ayah Gandrung ini. (*/him)






Reporter: Achmad Ulil Albab

Most Read

Artikel Terbaru

/