alexametrics
25.3 C
Kudus
Sunday, May 22, 2022

Nyantri di Ponpes Al Anwar, Sarang, Tempat Gus Baha’ Mondok (4-Bersambung)

Dekat hingga Ketahui Rahasia Keluarga Mbah Moen

Gus Baha’ sangat dekat dengan keluarga KH. Maimoen Zubair. Kedekatan itu sampai pada mengetahui rahasia keluarga Mbah Moen. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Radar Kudus Eko Santoso dan Nibros Hassani di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang.

PEREMPUAN itu duduk menyamping di ruang tamu istri KH. Maimoen Zubair, Maryam Heni Syafa’ati. Perempuan yang memakai kerudung cokelat itu menolah-noleh seperti menanti sesuatu. Dia terlihat begitu waswas. Beberapa saat kemudian, dia tampak tak tahan dan memilih beranjak pergi ke ruangan lain. Namun baru beberapa saat pergi, dia kembali ke ruang tamu dengan membawa telepon pintar. Perempuan bernama Khorid itu membuka notifikasi yang muncul di layarnya.

Telepon itu bukan miliknya, tetapi milik Bu Nyai. Dengan lincah, dia menyebut nomor WhatsApp Bu Nyai kepada wartawan koran ini. “Ini kontaknya. HP Bu Maimoen biasanya saya yang pegang” katanya.


Khorid bukan santri biasa. Dia juga berbeda dari santri ndalem lainnya. Kedekatannya dengan keluarga ndalem , khususnya istri Mbah Moen. Dia sudah seperti ajudan pribadi Bu Nyai.

BU NYAI: Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Nibros Hassani berfoto bersama Bu Nyai Maimoen Zubair di kediamannya. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Selain memegang HP Bu Maimoen, dia juga mengurus semua jadwal kegiatan, mendampingi, dan memastikan siapa saja yang akan ditemui Bu Nyai. Kadang sudah seperti keluarga karena, Khorid sangat mengerti kebutuhan dan selalu berada di dekat Bu Nyai. Begitu juga dengan Bu Nyai. Istri Mbah Moen juga sangat menyanyangi santrinya itu.

Baca Juga :  Gus Baha: Jangan Putus Asa, Alquran Datang Bawa Solusi

Tak hanya Khorid, kedekatan dengan keluarga Maimoen Zubair juga tampak pada diri Gus Baha’. Itu tergambar saat Bu Nyai bercerita tentang Ning Winda, istri Gus Baha’.

Kata Bu Nyai, Gus  Baha’ bertemu dengan Ning Winda saat mengurus kegiatan di Nahdlatul Ulama. Dari sana, mereka sering bertemu hingga memutuskan untuk menikah.

“Ning Winda itu kan keturunan kiai. Saat bertemu Gus Baha’ ya langsung cocok,” katanya.

Bu Maimoen juga memperlihatkan foto Ning Winda bersamanya. Foto itu tertempel di dinding dalam sebuah pigura. Foto itu tertempel bersamaan dengan foto Mbah Moen dan keluarga lain. Juga foto Gus Idror dan Gus Yasin. Ada lebih dari lima figura foto tertempel.

Kedekatan Gus Baha’ dengan keluarga juga tampak dari cerita Gus Idror soal Gus Baha’. “Pondoknya Gus Baha’ kan cuma 15 menit dari sini. Nah, Gus Baha’ tak jarang main ke pondok sini,” jelas putra bungsu KH. Maimoen Zubair itu.

Tak hanya itu, ada rahasia keluarga Maimoen Zubair yang juga diketahui Gus Baha’.

“Biasanya tiap keluarga pasti punya rahasia masing-masing. Saking dekatnya, rahasia keluarga kami ini sampai diketahui Gus Baha’,” imbuhnya.

Kedekatan itu terjalin karena Gus Baha dekat dengan gurunya KH. Maimoen Zubair. Hal itu yang membuat keluarga ndalem Sarang menganggapnya seperti keluarga sendiri (bersambung). (nib/tos/mal)

Gus Baha’ sangat dekat dengan keluarga KH. Maimoen Zubair. Kedekatan itu sampai pada mengetahui rahasia keluarga Mbah Moen. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Radar Kudus Eko Santoso dan Nibros Hassani di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang.

PEREMPUAN itu duduk menyamping di ruang tamu istri KH. Maimoen Zubair, Maryam Heni Syafa’ati. Perempuan yang memakai kerudung cokelat itu menolah-noleh seperti menanti sesuatu. Dia terlihat begitu waswas. Beberapa saat kemudian, dia tampak tak tahan dan memilih beranjak pergi ke ruangan lain. Namun baru beberapa saat pergi, dia kembali ke ruang tamu dengan membawa telepon pintar. Perempuan bernama Khorid itu membuka notifikasi yang muncul di layarnya.

Telepon itu bukan miliknya, tetapi milik Bu Nyai. Dengan lincah, dia menyebut nomor WhatsApp Bu Nyai kepada wartawan koran ini. “Ini kontaknya. HP Bu Maimoen biasanya saya yang pegang” katanya.

Khorid bukan santri biasa. Dia juga berbeda dari santri ndalem lainnya. Kedekatannya dengan keluarga ndalem , khususnya istri Mbah Moen. Dia sudah seperti ajudan pribadi Bu Nyai.

BU NYAI: Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Nibros Hassani berfoto bersama Bu Nyai Maimoen Zubair di kediamannya. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Selain memegang HP Bu Maimoen, dia juga mengurus semua jadwal kegiatan, mendampingi, dan memastikan siapa saja yang akan ditemui Bu Nyai. Kadang sudah seperti keluarga karena, Khorid sangat mengerti kebutuhan dan selalu berada di dekat Bu Nyai. Begitu juga dengan Bu Nyai. Istri Mbah Moen juga sangat menyanyangi santrinya itu.

Baca Juga :  Ngeband untuk Berkesplorasi, Bukan Turuti Pasar

Tak hanya Khorid, kedekatan dengan keluarga Maimoen Zubair juga tampak pada diri Gus Baha’. Itu tergambar saat Bu Nyai bercerita tentang Ning Winda, istri Gus Baha’.

Kata Bu Nyai, Gus  Baha’ bertemu dengan Ning Winda saat mengurus kegiatan di Nahdlatul Ulama. Dari sana, mereka sering bertemu hingga memutuskan untuk menikah.

“Ning Winda itu kan keturunan kiai. Saat bertemu Gus Baha’ ya langsung cocok,” katanya.

Bu Maimoen juga memperlihatkan foto Ning Winda bersamanya. Foto itu tertempel di dinding dalam sebuah pigura. Foto itu tertempel bersamaan dengan foto Mbah Moen dan keluarga lain. Juga foto Gus Idror dan Gus Yasin. Ada lebih dari lima figura foto tertempel.

Kedekatan Gus Baha’ dengan keluarga juga tampak dari cerita Gus Idror soal Gus Baha’. “Pondoknya Gus Baha’ kan cuma 15 menit dari sini. Nah, Gus Baha’ tak jarang main ke pondok sini,” jelas putra bungsu KH. Maimoen Zubair itu.

Tak hanya itu, ada rahasia keluarga Maimoen Zubair yang juga diketahui Gus Baha’.

“Biasanya tiap keluarga pasti punya rahasia masing-masing. Saking dekatnya, rahasia keluarga kami ini sampai diketahui Gus Baha’,” imbuhnya.

Kedekatan itu terjalin karena Gus Baha dekat dengan gurunya KH. Maimoen Zubair. Hal itu yang membuat keluarga ndalem Sarang menganggapnya seperti keluarga sendiri (bersambung). (nib/tos/mal)

Most Read

Artikel Terbaru

/