alexametrics
24.6 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

Dampak Kelangkaan Kontainer di Jepara

Tetap Survive, Banting Setir ke Negara selain Amerika

BEBERAPA bulan terakhir eksportir di Jepara masih mengalami kendala dalam mengirim barang ke luar negeri. Pasalnya, loading ketersediaan kontainer bisa sampai sebulan. Terutama ekspor barang ke Amerika, harganya melejit sekitar delapan hingga sembilan kali lipat.

sebelum langka, biaya ekspor sekitar USD 2 ribu. Namun, saat ini biayanya mencapai USD 18 ribu. ”Keadaan di Jepara sampai saat ini harganya masih tinggi, Itu untuk tujuan Amerika,” tutur salah satu eksportir mebel Thomas Djorgi.

Kenaikan harga ekspor tersebut mulai dirasakannya saat terjadi gelombang ke dua pandemi beberapa waktu lalu. Akibatnya, dirinya pun terkena dampak kelangkaan kontainer itu. Ada 4 kontainer ukuran 40 kaki yang belum terkirim saat ini. Tujuannya Amerika. Wartawan koran ini sempat berkunjung ke gudangnya di Desa Senenan, Tahunan.


Dari sebagian isi kontainer itu berisi ratusan kursi lipat. Saking lamanya tidak disentuh, kursi tersebut dilapisi debu lumayan tebal. Saat tangan wartawan ini mencolek debu tersebut, timbul garis yang menunjukkan debu itu tebal. Selain kursi, juga ad arak dapur portable.

Namun, dirinya tak ingin terus berlarut dalam kendala tersebut. menurutnya, dirinya harus tetap survive. Sehingga, sementara waktu dirinya mengalihkan ekspornya ke New Zealand dan negara di Eropa. Jerman salah satunya.

Selain Thomas, dampak kelangkaan kontainer tersebut juga dirasakan Daniel. Dirinya merupakan eksportir dengan tujuan Malaysia. Biaya ekspornya turut naik. ”Naiknya misalnya sekitar Rp 24 juta sekarang menjadi Rp 26 juta begitu. Selain itu, untuk memesan kontainer juga harus jauh-jauh hari. Dahulunya bisa dalam waktu dekat, bahkan mendadak pun bisa,” tuturnya.

Baca Juga :  Paguyuban PLJ Salurkan Donasi Bencana Semeru di Lumajang

Meski begitu, beruntung tidak ada barangnya yang sampai gagal kirim akibat kelangkaan kontainer tersebut.

SINERGI: Pekerja mebel meneliti produk mebel skala ekspor sebelum dikemas di salah satu gudang mebel di Jepara. (MOH. NUR SYAHTRI MUHARROM/RADAR KUDUS)

Rugi Ratusan Juta, Pilih Pertahankan Karyawan

Dampak kelangkaan kontainer yang terjadi di Jepara mengakibatkan pengusaha rugi hingga ratusan juta. Termasuk yang dialami Thomas Djorgi. Dirinya mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp 700 juta. Meski rugi, dirinya tak melepas para karyawannya.

Di gudang produksinya, ada lebih dari serratus orang pekerja. Mulai dari bagian produksi hingga bagian pengemasan. ”Karena nanti kalau keadaan sudah normal, nyari pekerja lagi susah,” canda Thomas.

Disamping itu, produksi juga masih berjalan. Hanya pangsa pasarnya yang dirubah. Semula ke Amerika, saat ini dirubah ke Eropa dan New Zealand. ”Masih ada buyer lainnya. Beruntung bukan single buyer. Kalau single buyer kemungkinan bisa bangkrut,” tegas Thomas.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara Eriza Rudi Yulianto melalui Kabid Perdagangan Iskandar Zulkarnain menjelaskan kasus kelangkaan kontainer tersebut bukan lagi masalah lokal. Melainkan juga nasional. Pasalnya, kasus tersebut tak hanya terjadi di Jepara.

Permasalahan selain kelangkaan kontainer yakni keberadaan kapal pengangkutnya yang terbatas. ”Kita kan tidak punya kapal. Akhirnya ketergantungan kita semua itu,” tuturnya.

Menyikapi kelangkaan tersebut, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Pusat dan Kantor Sekretariat Presiden. Kelangkaan kontainerpun mulai tertangani. Namun, kendalanya masih ada di kapal yang terbatas. ”Saat ini kontainernya ada. Tapi harganya mahal,” imbuh Iskandar. (him)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

BEBERAPA bulan terakhir eksportir di Jepara masih mengalami kendala dalam mengirim barang ke luar negeri. Pasalnya, loading ketersediaan kontainer bisa sampai sebulan. Terutama ekspor barang ke Amerika, harganya melejit sekitar delapan hingga sembilan kali lipat.

sebelum langka, biaya ekspor sekitar USD 2 ribu. Namun, saat ini biayanya mencapai USD 18 ribu. ”Keadaan di Jepara sampai saat ini harganya masih tinggi, Itu untuk tujuan Amerika,” tutur salah satu eksportir mebel Thomas Djorgi.

Kenaikan harga ekspor tersebut mulai dirasakannya saat terjadi gelombang ke dua pandemi beberapa waktu lalu. Akibatnya, dirinya pun terkena dampak kelangkaan kontainer itu. Ada 4 kontainer ukuran 40 kaki yang belum terkirim saat ini. Tujuannya Amerika. Wartawan koran ini sempat berkunjung ke gudangnya di Desa Senenan, Tahunan.

Dari sebagian isi kontainer itu berisi ratusan kursi lipat. Saking lamanya tidak disentuh, kursi tersebut dilapisi debu lumayan tebal. Saat tangan wartawan ini mencolek debu tersebut, timbul garis yang menunjukkan debu itu tebal. Selain kursi, juga ad arak dapur portable.

Namun, dirinya tak ingin terus berlarut dalam kendala tersebut. menurutnya, dirinya harus tetap survive. Sehingga, sementara waktu dirinya mengalihkan ekspornya ke New Zealand dan negara di Eropa. Jerman salah satunya.

Selain Thomas, dampak kelangkaan kontainer tersebut juga dirasakan Daniel. Dirinya merupakan eksportir dengan tujuan Malaysia. Biaya ekspornya turut naik. ”Naiknya misalnya sekitar Rp 24 juta sekarang menjadi Rp 26 juta begitu. Selain itu, untuk memesan kontainer juga harus jauh-jauh hari. Dahulunya bisa dalam waktu dekat, bahkan mendadak pun bisa,” tuturnya.

Baca Juga :  Rangkul Masyarakat Pesisir Tanpa Menghakimi

Meski begitu, beruntung tidak ada barangnya yang sampai gagal kirim akibat kelangkaan kontainer tersebut.

SINERGI: Pekerja mebel meneliti produk mebel skala ekspor sebelum dikemas di salah satu gudang mebel di Jepara. (MOH. NUR SYAHTRI MUHARROM/RADAR KUDUS)

Rugi Ratusan Juta, Pilih Pertahankan Karyawan

Dampak kelangkaan kontainer yang terjadi di Jepara mengakibatkan pengusaha rugi hingga ratusan juta. Termasuk yang dialami Thomas Djorgi. Dirinya mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp 700 juta. Meski rugi, dirinya tak melepas para karyawannya.

Di gudang produksinya, ada lebih dari serratus orang pekerja. Mulai dari bagian produksi hingga bagian pengemasan. ”Karena nanti kalau keadaan sudah normal, nyari pekerja lagi susah,” canda Thomas.

Disamping itu, produksi juga masih berjalan. Hanya pangsa pasarnya yang dirubah. Semula ke Amerika, saat ini dirubah ke Eropa dan New Zealand. ”Masih ada buyer lainnya. Beruntung bukan single buyer. Kalau single buyer kemungkinan bisa bangkrut,” tegas Thomas.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara Eriza Rudi Yulianto melalui Kabid Perdagangan Iskandar Zulkarnain menjelaskan kasus kelangkaan kontainer tersebut bukan lagi masalah lokal. Melainkan juga nasional. Pasalnya, kasus tersebut tak hanya terjadi di Jepara.

Permasalahan selain kelangkaan kontainer yakni keberadaan kapal pengangkutnya yang terbatas. ”Kita kan tidak punya kapal. Akhirnya ketergantungan kita semua itu,” tuturnya.

Menyikapi kelangkaan tersebut, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Pusat dan Kantor Sekretariat Presiden. Kelangkaan kontainerpun mulai tertangani. Namun, kendalanya masih ada di kapal yang terbatas. ”Saat ini kontainernya ada. Tapi harganya mahal,” imbuh Iskandar. (him)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/