alexametrics
22.4 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Dua Wisudawan Sarjana Terbaik IAIN Kudus Asal Blora

Anak Petani dari Pelosok Hutan Blora yang Lulus Cumlaude, Bercita-cita Jadi Politisi

Menjadi perempuan desa tidak menyurutkan semangat Endang Susanti dan Siti Rohwati, dua lulusan terbaik IAIN Kudus asal Blora. Keduanya ingin stigma perempuan harus di rumah itu hilang. Terbukti, mereka telah menjadi wisudawan terbaik.

AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF, Blora, Radar Kudus

DUA lulusan terbaik IAIN Kudus asal Blora mendapatkan undangan khusus dari Bupati Blora Arief Rohman. Keduanya Endang Susanti yang mendapatkan IPK 3,89 dari Program Studi Pemikiran Politik Islam dan Siti Rohwati yang mendapatkan IPK 3,84 dari Program Studi Pengembangan Islam.


Keduanya memiliki latar belakang yang mirip. Anak petani dan buruh tani. Hidup dan berkembang di pelosok desa. Mereka perempuan, kalangan yang di desa biasanya terstigma sebagai manusia kelas dua. Manusia yang dianggap hanya bisa berbuat di ranah domestik rumah, seperti mencuci, ngepel, nyapu, dan lain-lain.

Stigma-stigma tersebut, tidak menyurutkan niat mereka untuk selalu melakukan yang terbaik. Ada cita-cita yang harus diperjuangkan.

Siti Rohwati mengaku, sejak kecil telah dididik secara keras oleh orang tuanya. Motivasi-motivasi yang kini dianggap biasa, dahulu sangat membakar semangatnya sejak kecil.

”Dulu pas kecil pernah dibilangi bapak begini: ”kalau tidak dapat ranking I, nggak dibelikan bakso.” Kalau sekarang hal itu kan sudah biasa. Tapi pas dulu bagi orang desa, bakso termasuk salah satu yang jarang bisa dinikmati,” ucapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini kemarin.

Selain itu, dia pernah ditakut-takuti tidak akan disekolahkan lagi apabila tidak berprestasi. ”Kalau tidak disekolahkan, disuruh gembala kambing atau sapi. Ya saya nggak mau. Jadinya saya lebih giat belajar,” katanya.

Perempuan yang masih aktif sebagai sekretaris Kopri PMII Komisariat Sunan Kudus itu, juga termotivasi dengan usaha keras orang tuanya untuk membiayai pendidikan dia dan adiknya.

”Orang tua saya buruh tani. Selain itu, ibu masih jualan nasi jagung untuk tambahan. Usaha mereka untuk pendidikan kami tidak gampang. Itu yang selalu saya ingat,” ucap gadis asal Desa Kepoh, Kecamatan Jati, Blora. Desanya itu berjarak 42 kilometer dari pusat kota itu.

Baca Juga :  Ngeband untuk Berkesplorasi, Bukan Turuti Pasar

Sedangkan Endang Susanti mengaku termotivasi oleh perkataan yang seringkali diucapkan ayahnya. ”Bapak tidak bisa memberikan warisan harta seperti yang lain. Hanya bisa membekali dengan pendidikan,” ucapnya menirukan perkataan Sujiman, ayahnya.

Perempuan yang akrab disapa Santi ini, juga termotivasi oleh sosok Wakil Bupati (Wabup) Blora Tri Yuli Setyowati. Sebab, merupakan perempuan yang mampu duduk di lembaga eksekutif Kabupaten Blora.

Perempuan yang ingin menjadi politikus ini berharap, nantinya bisa mendapatkan beasiswa untuk pendidikan lanjutnya. ”Saat ini disarankan Pak Bupati untuk magang dulu di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Sekalian menyiapkan bahasa Inggris. Karena menurut beliau (bupati, Red), kalau bisa kuliah ke luar negeri, kenapa tidak,” katanya sembari menirukan ucapan Bupati Blora Arief Rohman.

Keduanya memang mendapatkan tawaran untuk magang di Pemkab Blora sambil menyiapkan kemampuan bahasa Inggris. Sebab, bahasa Inggris merupakan salah satu syarat administratif untuk mendaftarkan beasiswa ke luar negeri. Selain itu, keduanya mendapatkan hadiah berupa jaket bermotif barongan dan daun jati khas Blora.

Kedua lulusan berprestasi asal Blora itu, berharap bisa menjadi motivasi oleh perempuan asal desa yang lain. ”Meskipun orang desa, kalau tekat semangatnya kuat, diiringi usaha keras, inshaallah akan mendapatkan apa yang menjadi cita-cita dan harapannya,” tegas Rohwati.

Bupati Blora Arief Rohman mengapresiasi mereka. Dengan mengundang ke rumah dinas dan memberikan bingkisan hadiah. Dia juga mempersilakan keduanya untuk ikut magang di Pemkab Blora.

”Mbak Santi ini rumahnya sempu. Ia harus mencari sinyal juga saat belajar. Ini perjuangan juga. Selain itu, Rohwati ini orang tuanya buruh tani. Desanya di tengah hutan. Desa Kepoh. Kami terharu sekali. Sejak kecil mau berjuang, sehingga SMP mondok, SMA mondok, dan sebagainya. Ini tentu menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagi adik-adik yang masih belajar harus untuk terus bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu,” pesan bupati. (*/lin)

Menjadi perempuan desa tidak menyurutkan semangat Endang Susanti dan Siti Rohwati, dua lulusan terbaik IAIN Kudus asal Blora. Keduanya ingin stigma perempuan harus di rumah itu hilang. Terbukti, mereka telah menjadi wisudawan terbaik.

AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF, Blora, Radar Kudus

DUA lulusan terbaik IAIN Kudus asal Blora mendapatkan undangan khusus dari Bupati Blora Arief Rohman. Keduanya Endang Susanti yang mendapatkan IPK 3,89 dari Program Studi Pemikiran Politik Islam dan Siti Rohwati yang mendapatkan IPK 3,84 dari Program Studi Pengembangan Islam.

Keduanya memiliki latar belakang yang mirip. Anak petani dan buruh tani. Hidup dan berkembang di pelosok desa. Mereka perempuan, kalangan yang di desa biasanya terstigma sebagai manusia kelas dua. Manusia yang dianggap hanya bisa berbuat di ranah domestik rumah, seperti mencuci, ngepel, nyapu, dan lain-lain.

Stigma-stigma tersebut, tidak menyurutkan niat mereka untuk selalu melakukan yang terbaik. Ada cita-cita yang harus diperjuangkan.

Siti Rohwati mengaku, sejak kecil telah dididik secara keras oleh orang tuanya. Motivasi-motivasi yang kini dianggap biasa, dahulu sangat membakar semangatnya sejak kecil.

”Dulu pas kecil pernah dibilangi bapak begini: ”kalau tidak dapat ranking I, nggak dibelikan bakso.” Kalau sekarang hal itu kan sudah biasa. Tapi pas dulu bagi orang desa, bakso termasuk salah satu yang jarang bisa dinikmati,” ucapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini kemarin.

Selain itu, dia pernah ditakut-takuti tidak akan disekolahkan lagi apabila tidak berprestasi. ”Kalau tidak disekolahkan, disuruh gembala kambing atau sapi. Ya saya nggak mau. Jadinya saya lebih giat belajar,” katanya.

Perempuan yang masih aktif sebagai sekretaris Kopri PMII Komisariat Sunan Kudus itu, juga termotivasi dengan usaha keras orang tuanya untuk membiayai pendidikan dia dan adiknya.

”Orang tua saya buruh tani. Selain itu, ibu masih jualan nasi jagung untuk tambahan. Usaha mereka untuk pendidikan kami tidak gampang. Itu yang selalu saya ingat,” ucap gadis asal Desa Kepoh, Kecamatan Jati, Blora. Desanya itu berjarak 42 kilometer dari pusat kota itu.

Baca Juga :  Lengkapi Sarana, Dinkes Blora Salurkan 750 Tabung Oksigen

Sedangkan Endang Susanti mengaku termotivasi oleh perkataan yang seringkali diucapkan ayahnya. ”Bapak tidak bisa memberikan warisan harta seperti yang lain. Hanya bisa membekali dengan pendidikan,” ucapnya menirukan perkataan Sujiman, ayahnya.

Perempuan yang akrab disapa Santi ini, juga termotivasi oleh sosok Wakil Bupati (Wabup) Blora Tri Yuli Setyowati. Sebab, merupakan perempuan yang mampu duduk di lembaga eksekutif Kabupaten Blora.

Perempuan yang ingin menjadi politikus ini berharap, nantinya bisa mendapatkan beasiswa untuk pendidikan lanjutnya. ”Saat ini disarankan Pak Bupati untuk magang dulu di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Sekalian menyiapkan bahasa Inggris. Karena menurut beliau (bupati, Red), kalau bisa kuliah ke luar negeri, kenapa tidak,” katanya sembari menirukan ucapan Bupati Blora Arief Rohman.

Keduanya memang mendapatkan tawaran untuk magang di Pemkab Blora sambil menyiapkan kemampuan bahasa Inggris. Sebab, bahasa Inggris merupakan salah satu syarat administratif untuk mendaftarkan beasiswa ke luar negeri. Selain itu, keduanya mendapatkan hadiah berupa jaket bermotif barongan dan daun jati khas Blora.

Kedua lulusan berprestasi asal Blora itu, berharap bisa menjadi motivasi oleh perempuan asal desa yang lain. ”Meskipun orang desa, kalau tekat semangatnya kuat, diiringi usaha keras, inshaallah akan mendapatkan apa yang menjadi cita-cita dan harapannya,” tegas Rohwati.

Bupati Blora Arief Rohman mengapresiasi mereka. Dengan mengundang ke rumah dinas dan memberikan bingkisan hadiah. Dia juga mempersilakan keduanya untuk ikut magang di Pemkab Blora.

”Mbak Santi ini rumahnya sempu. Ia harus mencari sinyal juga saat belajar. Ini perjuangan juga. Selain itu, Rohwati ini orang tuanya buruh tani. Desanya di tengah hutan. Desa Kepoh. Kami terharu sekali. Sejak kecil mau berjuang, sehingga SMP mondok, SMA mondok, dan sebagainya. Ini tentu menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagi adik-adik yang masih belajar harus untuk terus bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu,” pesan bupati. (*/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/