alexametrics
27.7 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Latihan Tatap Muka Sekali Juara III Lomba Baca Maulid Internasional

Empat siswi MA NU Banat berhasil menyabet juara III Festival Seni Internasional (FSII) yang diselenggarakan Unissula pada cabang lomba pembacaan maulid. Mereka satu grup rebana Arrahma.

INDAH SUSANTI, Radar Kudus

MOMENT menyambut maulid Nabi Muhammad SAW, empat siswi MA NU Banat yang tergabung dalam grup rebana Arrahma ramai mendapatkan undangan. Selain mengisi di sekolah, juga diundang acara luar sekolah.


”Kalau diundang ke acara-acara menyambut maulid itu, bersama grup rebana Arrahma. Khusus kami berempat perform sendiri, hari ini (kemarin, Red) acara muludan di sekolah,” kata Shendy Bintang Januari, salah satu siswi yang ikut lomba pembacaan maulid.

Dia menceritakan keikutsertaannya di FSII 2021. Dia bersama ketiga kawannya, Reta Mustika Sari, Sherin Himmatus Suroyya, dan Suzana Fitria Hilda. Proses mengirimkan materi lomba sampai ke babak final.

FSII tersebut digelar September lalu. Lombanya dengan mengirim video rekaman pembacaan maulid berdurasi 15 menit pada 21 September lalu. Latihannya cukup mengirimkan voice note lewat grup Whatsapp (WA) kepada guru pembina.

”Saat itu tidak diperkenankan datang ke sekolah, karena masih ada pembatasan kegiatan. Jadi, kami mengirimkan suara masing-masing. Nanti berdiskusi dan ada masukan-masukan dari pembina lewat grup WA,” jelasnya.

Suzana menambakan, waktu persiapan menghadapi lomba tergolong mepet. Hanya sekitar satu pekan untuk latihan. Kemudian, jelang rekaman video, hanya latihan tatap muka sekali. Kemudian, pada 20 September 2021 langsung rekaman.

”Ya waktu rekaman tentunya tidak berjalan mulus. Ada gangguan teknis. Misalnya, kamera dua kali mati. Sudah bagus pengambilannya, tapi berbarengan dengan suara bel sekolah. Jadi, suara belnya masuk ke video. Sampai akhirnya rampung dengan hasil yang seperti diinginkan,” ceritanya.

Baca Juga :  Alasan Penting Kenapa MA NU Banat Kudus Jaring Bakat Siswi sejak Masuk

Video yang dikirim ke panitia lomba apa adanya. Tanpa editan. Lalu, pengumuman masuk final seharusnya pada 25 September, tapi dari panitia mengundur menjadi 26 dan 27 September performance melalui Zoom.

”Kami mendapatkan giliran manggung pertama. Rasanya deg-degan. Tapi dengan tampil pertama, justru kami merasa diuntungkan. Kalau tampil belakangan malah membuat semakin grogi melihat penampilan-penampilan peserta lain,” jelasnya.

Empat siswi MA Banat Kudus itu, meski sudah mahir dan suaranya tidak diragukan, tetap latihan. Menurut pengakuan Reta, latihan tak terlalu ngoyo, karena pembacaan maulid sudah sering dibawakan bersama saat rebana Arrahma manggung.

”Saya juga ikut rebana di masjid dekat rumah. Jadi, tinggal mengolah vokal menjadi lebih baik lagi. Ya kalau tampil di lomba tetap grogi, meski sudah terbiasa. Saya menjaga suara tetap empuk dan ringan dengan meninggalkan makan gorengan dan es,” kata Sherin.

Berbeda dengan Shendy, dia justru santai dengan kondisi suaranya, meski sering minum es. ”Tenggorakan butuh penyegaran. Tapi, untuk makan gorengan memang sedikit saya hindari,” selorohnya.

Sedangkan Reta dan Suzana, lebih memilih banyak minum air putih. Menurut mereka berdua, es memang tidak bisa dihindari, tapi tidak terlalu sering minum es. Pada intinya mereka tetap menjaga kualitas suara, meski tidak terlalu ketat aturan larangan menghindari makanan. (lin)

Empat siswi MA NU Banat berhasil menyabet juara III Festival Seni Internasional (FSII) yang diselenggarakan Unissula pada cabang lomba pembacaan maulid. Mereka satu grup rebana Arrahma.

INDAH SUSANTI, Radar Kudus

MOMENT menyambut maulid Nabi Muhammad SAW, empat siswi MA NU Banat yang tergabung dalam grup rebana Arrahma ramai mendapatkan undangan. Selain mengisi di sekolah, juga diundang acara luar sekolah.

”Kalau diundang ke acara-acara menyambut maulid itu, bersama grup rebana Arrahma. Khusus kami berempat perform sendiri, hari ini (kemarin, Red) acara muludan di sekolah,” kata Shendy Bintang Januari, salah satu siswi yang ikut lomba pembacaan maulid.

Dia menceritakan keikutsertaannya di FSII 2021. Dia bersama ketiga kawannya, Reta Mustika Sari, Sherin Himmatus Suroyya, dan Suzana Fitria Hilda. Proses mengirimkan materi lomba sampai ke babak final.

FSII tersebut digelar September lalu. Lombanya dengan mengirim video rekaman pembacaan maulid berdurasi 15 menit pada 21 September lalu. Latihannya cukup mengirimkan voice note lewat grup Whatsapp (WA) kepada guru pembina.

”Saat itu tidak diperkenankan datang ke sekolah, karena masih ada pembatasan kegiatan. Jadi, kami mengirimkan suara masing-masing. Nanti berdiskusi dan ada masukan-masukan dari pembina lewat grup WA,” jelasnya.

Suzana menambakan, waktu persiapan menghadapi lomba tergolong mepet. Hanya sekitar satu pekan untuk latihan. Kemudian, jelang rekaman video, hanya latihan tatap muka sekali. Kemudian, pada 20 September 2021 langsung rekaman.

”Ya waktu rekaman tentunya tidak berjalan mulus. Ada gangguan teknis. Misalnya, kamera dua kali mati. Sudah bagus pengambilannya, tapi berbarengan dengan suara bel sekolah. Jadi, suara belnya masuk ke video. Sampai akhirnya rampung dengan hasil yang seperti diinginkan,” ceritanya.

Baca Juga :  Perlu Waktu Dua Tahun Temukan Bumbu Pas

Video yang dikirim ke panitia lomba apa adanya. Tanpa editan. Lalu, pengumuman masuk final seharusnya pada 25 September, tapi dari panitia mengundur menjadi 26 dan 27 September performance melalui Zoom.

”Kami mendapatkan giliran manggung pertama. Rasanya deg-degan. Tapi dengan tampil pertama, justru kami merasa diuntungkan. Kalau tampil belakangan malah membuat semakin grogi melihat penampilan-penampilan peserta lain,” jelasnya.

Empat siswi MA Banat Kudus itu, meski sudah mahir dan suaranya tidak diragukan, tetap latihan. Menurut pengakuan Reta, latihan tak terlalu ngoyo, karena pembacaan maulid sudah sering dibawakan bersama saat rebana Arrahma manggung.

”Saya juga ikut rebana di masjid dekat rumah. Jadi, tinggal mengolah vokal menjadi lebih baik lagi. Ya kalau tampil di lomba tetap grogi, meski sudah terbiasa. Saya menjaga suara tetap empuk dan ringan dengan meninggalkan makan gorengan dan es,” kata Sherin.

Berbeda dengan Shendy, dia justru santai dengan kondisi suaranya, meski sering minum es. ”Tenggorakan butuh penyegaran. Tapi, untuk makan gorengan memang sedikit saya hindari,” selorohnya.

Sedangkan Reta dan Suzana, lebih memilih banyak minum air putih. Menurut mereka berdua, es memang tidak bisa dihindari, tapi tidak terlalu sering minum es. Pada intinya mereka tetap menjaga kualitas suara, meski tidak terlalu ketat aturan larangan menghindari makanan. (lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/