alexametrics
28.6 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Pengusaha Sablon Muhamad Istain Tamimi

Tergerak Lanjutkan Usaha Keluarga sejak Ayah Meninggal

Meski Muhammad Istain Tamimi mengenal sablon sejak TK, tak membuatnya langsung menggeluti hal itu. Sampai pada titik, kepergian ayahnya menjadi pelecut baginya untuk meneruskan usaha keluarga itu. Terlebih ilmu yang ia geluti berkorelasi dengan dunia bisnis yang dijalankan.

EKO SANTOSO, Radar Kudus, Grobogan

RUANGAN berukuran sekitar 7 kali empat meter itu penuh dengan pakaian. Tampak seperti gerai. Mulai baju, kaos hingga celana. Sebagian tertata rapi di rak sebelah di almari kaca. Sisanya tergantung pada peraga. Ada tiga deret.


Sementara di lantai dua terpampang peralatan sablon. Seperti meja sablon, screen, rakel, hingga tinta. Muhammad Istain Tamimi terlihat sibuk di situ. Dengan lincah tangannya satu persatu memegang peralatan sablon manual itu.

Pertama-tama ia mengambil kaos polos yang sudah disiapkan. Kemudian, menaruhnya di atas meja. Sembari meletakkan screen di atasnya. Lalu menuangkan cat sablon. Kemudian perlahan memakai rakel, ia meratakan cat itu. Tak lama, ia mengangkat screen dan tampaklah desain yang menempel pada kaos tersebut.

Rumah produksi dan gerai itu terletak di RT 3/RW 16 Kelurahan Purwodadi. Sekaligus menjadi tempat tinggalnya bersama ibu dan saudaranya. Mahasiswa semester 12 Udinus itu telah mengenal sablon sejak TK. Sebab ayahnya Suprihto memiliki usaha di bidang itu.

“Iseng-iseng mencoba sejak SD. Menirukan aktivitas ayah. Tetapi cuma buat screen saja,” jelasnya.

Baca Juga :  Ciptakan Agrowisata untuk Semua Umur

Ia sebenarnya tak pernah berpikir bakal menekuni usaha itu. Tetapi semenjak ayahnya meninggal kala Tamimi masih duduk di bangku SMA, perlahan ia belajar membuat sablon. Meneruskan usaha ayahnya itu.

“Sebenarnya awal-awal setelah kepergian ayah, pekerjaan sablon dibantu  pekerja. Tetapi semenjak pandemi dan saya kuliah online, akhirnya mulai serius menggarap sendiri,” tambahnya.

Tamimi pun membagi waktunya. Kuliah dan menggarap usahanya itu. Menurutnya ia bisa mengerjakan sablon kapanpun. Pagi, siang, bahkan malam. Fleksibel. Hanya saja dengan jenis dan pengerjaan sablon secara manual itu membuatnya berhati-hati kala membuat screen.

“Buatnya pakai sinar matahari. Bukan sinar UV. Jadi harus hati-hati. Jika mendung bisa rusak” jelasnya.

Biasanya anak Ragil dari dua bersaudara itu menggarap pesanan dalam jumlah banyak. Seperti sekolah hingga perkantoran. Tidak melayani satuan.

“Sebenarnya gak cuma sablon. Kami juga melayani bordir. Biasanya digarap sendiri, tetapi kalau kewalahan ya ada pekerja. Khusus bagian jahit,” paparnya.

Menurutnya apa yang dikerjakan bersama ibunya Dwi Ratna Heru Sukasih itu sejalan dengan bidang ilmu yang ditekuni selama kuliah. Yakni komunikasi bisnis.

“Saya dapat ilmu soal relasi, pemasaran, lobi. Jadi harapannya ke depan bisa terus menekuni dan besar. Toh ini juga meneruskan usaha orang tua,” imbuhnya. (*/him)






Reporter: Eko Santoso

Meski Muhammad Istain Tamimi mengenal sablon sejak TK, tak membuatnya langsung menggeluti hal itu. Sampai pada titik, kepergian ayahnya menjadi pelecut baginya untuk meneruskan usaha keluarga itu. Terlebih ilmu yang ia geluti berkorelasi dengan dunia bisnis yang dijalankan.

EKO SANTOSO, Radar Kudus, Grobogan

RUANGAN berukuran sekitar 7 kali empat meter itu penuh dengan pakaian. Tampak seperti gerai. Mulai baju, kaos hingga celana. Sebagian tertata rapi di rak sebelah di almari kaca. Sisanya tergantung pada peraga. Ada tiga deret.

Sementara di lantai dua terpampang peralatan sablon. Seperti meja sablon, screen, rakel, hingga tinta. Muhammad Istain Tamimi terlihat sibuk di situ. Dengan lincah tangannya satu persatu memegang peralatan sablon manual itu.

Pertama-tama ia mengambil kaos polos yang sudah disiapkan. Kemudian, menaruhnya di atas meja. Sembari meletakkan screen di atasnya. Lalu menuangkan cat sablon. Kemudian perlahan memakai rakel, ia meratakan cat itu. Tak lama, ia mengangkat screen dan tampaklah desain yang menempel pada kaos tersebut.

Rumah produksi dan gerai itu terletak di RT 3/RW 16 Kelurahan Purwodadi. Sekaligus menjadi tempat tinggalnya bersama ibu dan saudaranya. Mahasiswa semester 12 Udinus itu telah mengenal sablon sejak TK. Sebab ayahnya Suprihto memiliki usaha di bidang itu.

“Iseng-iseng mencoba sejak SD. Menirukan aktivitas ayah. Tetapi cuma buat screen saja,” jelasnya.

Baca Juga :  Ciptakan Agrowisata untuk Semua Umur

Ia sebenarnya tak pernah berpikir bakal menekuni usaha itu. Tetapi semenjak ayahnya meninggal kala Tamimi masih duduk di bangku SMA, perlahan ia belajar membuat sablon. Meneruskan usaha ayahnya itu.

“Sebenarnya awal-awal setelah kepergian ayah, pekerjaan sablon dibantu  pekerja. Tetapi semenjak pandemi dan saya kuliah online, akhirnya mulai serius menggarap sendiri,” tambahnya.

Tamimi pun membagi waktunya. Kuliah dan menggarap usahanya itu. Menurutnya ia bisa mengerjakan sablon kapanpun. Pagi, siang, bahkan malam. Fleksibel. Hanya saja dengan jenis dan pengerjaan sablon secara manual itu membuatnya berhati-hati kala membuat screen.

“Buatnya pakai sinar matahari. Bukan sinar UV. Jadi harus hati-hati. Jika mendung bisa rusak” jelasnya.

Biasanya anak Ragil dari dua bersaudara itu menggarap pesanan dalam jumlah banyak. Seperti sekolah hingga perkantoran. Tidak melayani satuan.

“Sebenarnya gak cuma sablon. Kami juga melayani bordir. Biasanya digarap sendiri, tetapi kalau kewalahan ya ada pekerja. Khusus bagian jahit,” paparnya.

Menurutnya apa yang dikerjakan bersama ibunya Dwi Ratna Heru Sukasih itu sejalan dengan bidang ilmu yang ditekuni selama kuliah. Yakni komunikasi bisnis.

“Saya dapat ilmu soal relasi, pemasaran, lobi. Jadi harapannya ke depan bisa terus menekuni dan besar. Toh ini juga meneruskan usaha orang tua,” imbuhnya. (*/him)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/