alexametrics
29 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Bukukan Karya, Catat Ide Setiap Saat di Ponsel

Dengan jalan membukukan karya, Fajrin Dwi Artika berharap bisa menginspirasi pemuda untuk lebih mencintai bahasa Jawa. Sebab, penutur mayoritas ternyata juga tak menjamin kelestarian bahasa. Setelah dua buku tunggal, kini dia bersiap untuk buku ketiga.

SAIFUL ANWAR, Radar Kudus

Karya-karya itu sudah tersimpan lama di folder laptop. Kapan pastinya, fajrin Dwi Artika mengaku tidak tahu. Tapi dia ingat, mulai berani mempublikasikan karyanya sejak 2018. Buku karya pertama yang berhasil diluncurkan adalah buku “Media Pembelajaran Bahasa Jawa”, tepatnya 18 November 2018 di Solo.


”Dulu sebelumnya tidak tahu gimana cara menerbitkan buku. Terus ketika 2018 itu kebetulan gabung dengan perkumpulan ‘Sang Pengajar’, akhirnya bisa menerbitkan buku,” ungkap guru SMPN 1 Grobogan itu.

Buku kedua yang terbit adalah fiksi, bertajuk Asung Pitedah. Buku yang terbit pada 1 Mei 2019 itu berisi 40 puisi jawa alias geguritan. Setiap puisi temanya berbeda-beda, seperti lingkungan, pendidikan, tema-tema yang lain.

”Inspirasinya di mana-mana. Biasanya kalau dapat inspirasi dicatat dulu di HP (handphone). Nanti kalau sudah ada waktu luang baru ditulis,” tutur Alumnus Pendidikan Bahasa Jawa, Unnes Semarang itu.

Dia mengaku bangga atas terbitnya buku fiksi geguritan itu. Sebab, bagian atur pembuka atau kata pengantarnya ditulis oleh Prof. George Quinn yang merupakan guru besar Sastra Jawa di Australian National University. Selain sampai di tempat sang profesor mengajar, bukunya juga telah sampai di Perpustakaan Leiden, Belanda.

”Kebetulan beliau juga peneliti sastra Jawa. Dulu ketemu ketika beliau datang ke Indonesia,” cerita Fajrin dengan bangga.

Selain dua buku tunggal, karya perempuan 36 tahun itu juga tercatat dalam sejumlah buku antologi bersama.  Antara lain “Padmapuspita ing Tlaga Jawi”, “Ketawang Angen-angen”, “Kusumaning Driya”, “Sekaring Pasamuwan”, dan sejumlah judul lain. Ada yang kumpulan cerita cekak (cerkak) atau cerpen Bahasa Jawa, ada yang esai Bahasa Jawa, dan ada pula puisi bahasa Indonesia.

Baca Juga :  Disambut Kalung Bunga di Arab Saudi, Pulang Bawa Kabar Baik

Sejumlah karyanya juga dimuat di media massa berbahasa Jawa. Antara lain majalah Swaratama terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, Panjebar Semangat, Jaya Baya, serta portal daring jawasastra.com. Semua karya itu terbit dalam medio 2018 hingga kini.

Semenjak karyanya dikirm hingga diterbitkan, butuh waktu berbeda-beda setiap majalah. Ada yang 2 minggu hingga dua bulan, ada pula yang harus menunggu hingga empat bulan. Sedangkan, khusus terbitan Balai Bahasa, karena setahun hanya terbit tiga kali, maka harus menunggu agak lama.

Fajrin mengaku tak menemukan kesulitan berarti dalam menulis. Keluarga sangat mendukung aktivitasnya berkarya. Yang terpenting, tidak mengganggu waktu untuk keluarga.

”Saya menulis seringnya ide muncul saja. Paling ya kadang waktunya saja. Kalau banyak kerjaan tidak bsia langsung nulis. Jadi harus menunggu waktu agak longgar dulu,” terang Fajrin yang tinggal bersama keluarganya di Kelurahan Danyang, Purwodadi itu.

Kini, Fajrin mengaku sedang menyiapkan buku tunggal ketiganya. Kali ini yakni cerkak yang kebetulan sudah dimuat di beberapa majalah. Menurutnya, karena cukup banyak, sudah layak untuk dibukukan. Dia menargetkan buku itu bisa terbit tahun ini.

Sudah merasa cukup berhasil dengan geguritan dan cerkak, Fajrin mengaku ingin menggenapinya dengan karya novel. Namun, karena novel butuh waktu yang panjang dan konsisten, dia mengaku harus menyiapkan energi tersendiri untuk menggarapnya. Meski, sebenarnya di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak waktu santai.

”Nulis novel butuh waktu lama. Tidak seperti cerkak yang bisa sekali jadi. Sekarang ini kan serba daring, waktunya santai. Jadi justru memanfaatkan pandemi ini untuk ini untuk sesuatu yang positif. Semoga segera terwujud,” kata dia.

Dalam menulis, sebagaimana penulis lain, Fajrin juga mengidolakan beberapa nama. Sebut saja Suparto Brata, Djayus Pete, Margareth Widhy Pratiwi, Andini Pangastuti, Irul S Budiyanto, dan sejumlah nama penulis sastra Jawa lain. (*)

Dengan jalan membukukan karya, Fajrin Dwi Artika berharap bisa menginspirasi pemuda untuk lebih mencintai bahasa Jawa. Sebab, penutur mayoritas ternyata juga tak menjamin kelestarian bahasa. Setelah dua buku tunggal, kini dia bersiap untuk buku ketiga.

SAIFUL ANWAR, Radar Kudus

Karya-karya itu sudah tersimpan lama di folder laptop. Kapan pastinya, fajrin Dwi Artika mengaku tidak tahu. Tapi dia ingat, mulai berani mempublikasikan karyanya sejak 2018. Buku karya pertama yang berhasil diluncurkan adalah buku “Media Pembelajaran Bahasa Jawa”, tepatnya 18 November 2018 di Solo.

”Dulu sebelumnya tidak tahu gimana cara menerbitkan buku. Terus ketika 2018 itu kebetulan gabung dengan perkumpulan ‘Sang Pengajar’, akhirnya bisa menerbitkan buku,” ungkap guru SMPN 1 Grobogan itu.

Buku kedua yang terbit adalah fiksi, bertajuk Asung Pitedah. Buku yang terbit pada 1 Mei 2019 itu berisi 40 puisi jawa alias geguritan. Setiap puisi temanya berbeda-beda, seperti lingkungan, pendidikan, tema-tema yang lain.

”Inspirasinya di mana-mana. Biasanya kalau dapat inspirasi dicatat dulu di HP (handphone). Nanti kalau sudah ada waktu luang baru ditulis,” tutur Alumnus Pendidikan Bahasa Jawa, Unnes Semarang itu.

Dia mengaku bangga atas terbitnya buku fiksi geguritan itu. Sebab, bagian atur pembuka atau kata pengantarnya ditulis oleh Prof. George Quinn yang merupakan guru besar Sastra Jawa di Australian National University. Selain sampai di tempat sang profesor mengajar, bukunya juga telah sampai di Perpustakaan Leiden, Belanda.

”Kebetulan beliau juga peneliti sastra Jawa. Dulu ketemu ketika beliau datang ke Indonesia,” cerita Fajrin dengan bangga.

Selain dua buku tunggal, karya perempuan 36 tahun itu juga tercatat dalam sejumlah buku antologi bersama.  Antara lain “Padmapuspita ing Tlaga Jawi”, “Ketawang Angen-angen”, “Kusumaning Driya”, “Sekaring Pasamuwan”, dan sejumlah judul lain. Ada yang kumpulan cerita cekak (cerkak) atau cerpen Bahasa Jawa, ada yang esai Bahasa Jawa, dan ada pula puisi bahasa Indonesia.

Baca Juga :  Ketahuan Open BO, Suami Minggat

Sejumlah karyanya juga dimuat di media massa berbahasa Jawa. Antara lain majalah Swaratama terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, Panjebar Semangat, Jaya Baya, serta portal daring jawasastra.com. Semua karya itu terbit dalam medio 2018 hingga kini.

Semenjak karyanya dikirm hingga diterbitkan, butuh waktu berbeda-beda setiap majalah. Ada yang 2 minggu hingga dua bulan, ada pula yang harus menunggu hingga empat bulan. Sedangkan, khusus terbitan Balai Bahasa, karena setahun hanya terbit tiga kali, maka harus menunggu agak lama.

Fajrin mengaku tak menemukan kesulitan berarti dalam menulis. Keluarga sangat mendukung aktivitasnya berkarya. Yang terpenting, tidak mengganggu waktu untuk keluarga.

”Saya menulis seringnya ide muncul saja. Paling ya kadang waktunya saja. Kalau banyak kerjaan tidak bsia langsung nulis. Jadi harus menunggu waktu agak longgar dulu,” terang Fajrin yang tinggal bersama keluarganya di Kelurahan Danyang, Purwodadi itu.

Kini, Fajrin mengaku sedang menyiapkan buku tunggal ketiganya. Kali ini yakni cerkak yang kebetulan sudah dimuat di beberapa majalah. Menurutnya, karena cukup banyak, sudah layak untuk dibukukan. Dia menargetkan buku itu bisa terbit tahun ini.

Sudah merasa cukup berhasil dengan geguritan dan cerkak, Fajrin mengaku ingin menggenapinya dengan karya novel. Namun, karena novel butuh waktu yang panjang dan konsisten, dia mengaku harus menyiapkan energi tersendiri untuk menggarapnya. Meski, sebenarnya di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak waktu santai.

”Nulis novel butuh waktu lama. Tidak seperti cerkak yang bisa sekali jadi. Sekarang ini kan serba daring, waktunya santai. Jadi justru memanfaatkan pandemi ini untuk ini untuk sesuatu yang positif. Semoga segera terwujud,” kata dia.

Dalam menulis, sebagaimana penulis lain, Fajrin juga mengidolakan beberapa nama. Sebut saja Suparto Brata, Djayus Pete, Margareth Widhy Pratiwi, Andini Pangastuti, Irul S Budiyanto, dan sejumlah nama penulis sastra Jawa lain. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/