alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

10 Tahun ke Kampung-Kampung Kumpulkan Kisah Desa

Sejak 2009, Ratna Septi Anggraheni mencari cerita rakyat di Pati. Kemudian disalurkan melalui wayang bathok. Awalnya hanya hobi dan tak ditarget untuk bisa pentas.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

RATNA Septi Anggraheni menunjukkan beberapa karyanya. Berupa wayang bathok yang dibuatnya sendiri. Setidaknya ada lima jenis wayang. Ada kakek-kakek, istri, dan tiga cucu.


Pakaian wayang itu, juga terbilang unik. Ada pakaian khas Jawa dan Jepang. ”Memang ini cara saya menarik perhatian anak-anak,” katanya saat ditanya wartawan koran ini.

Dia memegang dua wayang itu dengan kedua tangannya. Sambil memperagakan karakternya. Seakan-akan dialog langsung dua karakter yang berbeda. Wayang berbentuk cucu itu, sedang gila main game Jepang. Dia berpakaian dan dandan ala Jepang. Memakai kimono dan berbahasa Jepang.

”Lho wong Jowo kok lali Jowone. Malah lali karo adate dewe. Ora ngerti sejarah desane dewe,” kata karakter kakek yang diperagakannya. ”Terus bagaimana, Kek. Coba saya ceritakan,” jawab cucunya dengan bahasa Jepang.

Itu salah satu dialog antara kakek dan cucu karakter wayang bathok itu. Dari sana, Ratna menunjukkan karakter Jepang tersebut, ke anak-anak di Desa Gabus, Pati. Keunikan khas Jepang disajikan dengan bentuk wayang bathok itu.

Konsepnya edukasi dongeng foklor dengan media wayang bathok. Tujuannya, mengalihkan gadget anak-anak. Mengenalkan daerah masing-masing. ”Sudah penelitian di Gabus. Hasilnya, anak-anak ingin coba main sendiri. Dan tiga jam mereka tanpa HP,” katanya.

Baca Juga :  Sudah Langka, Sudah Jarang yang Runtut

Pemegang rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) lukisan kaligrafi dari tulang daun sirsak ini, mengumpulkan foklor atau cerita rakyat se-Kabupaten Pati. Ceritanya, 20 tahun sejak lulus kuliah di IKIP Malang dia kembali ke Bumi Minatani pada 2009 lalu. Dari sana dia menggali cerita-cerita rakyat.

Dia menunjukkan karyanya yang mendapat rekor Muri itu. Tapi mau beralih ke bathok. Soalnya daun sirsak tidak awet. ”Ini karya baru saya. Konsepnya sea world. Rencanaya mau dipajang di pameran seni di Joga dekat-dekat ini,” paparnya sambil menunjukkan karyanya yang tertempel di dinding rumahnya.

Dari 406 desa/kelurahan di Kabupaten Pati, ia sudah punya cerita rakyat sekitar 300-an desa. Dikumpulkan diberbagai kertas. Bentuknya coret-coretan. Dia menunjukkan itu.

”Sekitar ratusan itu tadi belum bentuk file. Dalam artian dalam bentuk coretan tangan memang saya punya segini. Saya pisah-pisahkan. Ini bentuk sejarah. Ini bentuk foklor. Ini dongeng itu belum, tapi itu ada 300-an,” ujarnya.

Berbagai sesepuh dia temui di desa-desa. Memang hobinya denger cerita daerah. ”Tradisi dari kecil kan seperti itu. Diceritain cerita daerah sebelum tidur. Nah, dari sana malah kebawa menjadi hobi,” kata perempuan pemenang lomba kesenian Bappeda Pati ini.

Awalnya, ia mengumpulkan foklor di Pati untuk konsumsi pribadi. Cita-citanya cerita itu dibukukan. Nantinya bisa dijadikan landasan literatur budaya bagi para peminat cerita rakyat. (lin)

Sejak 2009, Ratna Septi Anggraheni mencari cerita rakyat di Pati. Kemudian disalurkan melalui wayang bathok. Awalnya hanya hobi dan tak ditarget untuk bisa pentas.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

RATNA Septi Anggraheni menunjukkan beberapa karyanya. Berupa wayang bathok yang dibuatnya sendiri. Setidaknya ada lima jenis wayang. Ada kakek-kakek, istri, dan tiga cucu.

Pakaian wayang itu, juga terbilang unik. Ada pakaian khas Jawa dan Jepang. ”Memang ini cara saya menarik perhatian anak-anak,” katanya saat ditanya wartawan koran ini.

Dia memegang dua wayang itu dengan kedua tangannya. Sambil memperagakan karakternya. Seakan-akan dialog langsung dua karakter yang berbeda. Wayang berbentuk cucu itu, sedang gila main game Jepang. Dia berpakaian dan dandan ala Jepang. Memakai kimono dan berbahasa Jepang.

”Lho wong Jowo kok lali Jowone. Malah lali karo adate dewe. Ora ngerti sejarah desane dewe,” kata karakter kakek yang diperagakannya. ”Terus bagaimana, Kek. Coba saya ceritakan,” jawab cucunya dengan bahasa Jepang.

Itu salah satu dialog antara kakek dan cucu karakter wayang bathok itu. Dari sana, Ratna menunjukkan karakter Jepang tersebut, ke anak-anak di Desa Gabus, Pati. Keunikan khas Jepang disajikan dengan bentuk wayang bathok itu.

Konsepnya edukasi dongeng foklor dengan media wayang bathok. Tujuannya, mengalihkan gadget anak-anak. Mengenalkan daerah masing-masing. ”Sudah penelitian di Gabus. Hasilnya, anak-anak ingin coba main sendiri. Dan tiga jam mereka tanpa HP,” katanya.

Baca Juga :  Wisatawan Bisa Nikmati Air Jernih dari Stalaktit dan Stalagmit

Pemegang rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) lukisan kaligrafi dari tulang daun sirsak ini, mengumpulkan foklor atau cerita rakyat se-Kabupaten Pati. Ceritanya, 20 tahun sejak lulus kuliah di IKIP Malang dia kembali ke Bumi Minatani pada 2009 lalu. Dari sana dia menggali cerita-cerita rakyat.

Dia menunjukkan karyanya yang mendapat rekor Muri itu. Tapi mau beralih ke bathok. Soalnya daun sirsak tidak awet. ”Ini karya baru saya. Konsepnya sea world. Rencanaya mau dipajang di pameran seni di Joga dekat-dekat ini,” paparnya sambil menunjukkan karyanya yang tertempel di dinding rumahnya.

Dari 406 desa/kelurahan di Kabupaten Pati, ia sudah punya cerita rakyat sekitar 300-an desa. Dikumpulkan diberbagai kertas. Bentuknya coret-coretan. Dia menunjukkan itu.

”Sekitar ratusan itu tadi belum bentuk file. Dalam artian dalam bentuk coretan tangan memang saya punya segini. Saya pisah-pisahkan. Ini bentuk sejarah. Ini bentuk foklor. Ini dongeng itu belum, tapi itu ada 300-an,” ujarnya.

Berbagai sesepuh dia temui di desa-desa. Memang hobinya denger cerita daerah. ”Tradisi dari kecil kan seperti itu. Diceritain cerita daerah sebelum tidur. Nah, dari sana malah kebawa menjadi hobi,” kata perempuan pemenang lomba kesenian Bappeda Pati ini.

Awalnya, ia mengumpulkan foklor di Pati untuk konsumsi pribadi. Cita-citanya cerita itu dibukukan. Nantinya bisa dijadikan landasan literatur budaya bagi para peminat cerita rakyat. (lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/