alexametrics
25.5 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Merasakan Kehidupan di Penjara pada Bulan Ramadan (5-Habis)

Bilang ke Anak Bekerja, Padahal Dipenjara

Pagi hari adalah waktu paling favorit bagi penghuni rutan. Saat itulah mereka bisa menghirup udara bebas sebebas-bebasnya. Bisa mandi matahari. Juga menelepon keluarga. Berikut laporan lanjutan dua wartawati Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma dan Arina Faila Saufa yang merasakan hidup di balik jeruji besi Rutan Kelas IIB Kudus.

PUKUL 07.00 satu per satu gembok pintu sel yang kuat dibuka. Penghuninya yang sudah semalaman dikerangkeng berbondong-bondong keluar. Tingkahnya macam-macam. Ada yang menggeliatkan badan. Ada yang tengok kanan-kiri di teras. Ada pula yang langsung menuju taman.

Wartawati Jawa Pos Radar Kudus yang berada di blok wanita juga memanfaatkan kesempatan itu. Arin, panggilan Arina, merasakan kesegaran yang berbeda 180 derajat dibanding di kamar. Maklumlah sel yang ditempati hanya ada satu lubang angin yaitu lewat pintu berterali besi. Pintu itu menghadap ke tembok lagi. ”Nyaris tidak ada udara yang sembribit,’’ tambah Mala, panggilan Noor Syafaatul Udhma.


Sebenarnya itu bukan waktu istirahat, melainkan waktu kerja bakti. Mereka harus membersihkan kamar masing-masing, halaman, taman, kamar mandi, aula, dan fasilitas lain di rutan. Tapi, bagi mereka itu kesempatan menyenangkan. Selain bisa menghirup udara bebas yang segar, juga bisa bermandi sinar matahari. Karena itu, semua penghuni memanfaatkan sebaik-baiknya.

Waktunya tidak lama. Hanya sampai pukul 09.00. Terlihat para penghuni sel, baik blok laki-laki maupun perempuan, membersihkan kamar masing-masing. Di blok perempuan, tiga penghuni yang satu sel dengan wartawati koran ini melakukan pekerjaan layaknya di rumah. Ada yang mencuci pakaian, mandi, dan satu lagi langsung menonton televisi. Sarana hiburan itu disediakan di luar sel yang hanya bisa dinikmati di waktu-waktu tertentu.

Pagi itu sel wanita sudah sangat bersih. Sehingga tidak perlu dibersihkan lagi. Dua wartawati koran ini pun membantu membersihkan taman yang dilakukan oleh para napi laki-laki. Banyak napi yang memperhatikan. Namun mereka tidak berani menggoda. Yang dilakukan hanya melirik, menatap, dan berbisik dengan sesama teman. Kali itu tidak ada suitan seperti ketika kali pertama wartawati koran ini melintas di blok laki-laki.

Di blok laki-laki, terlihat sebagian penghuni menyapu, membuang sampah, mencuci pakaian, dan mencuci piring. Aktivitas bersih-bersih seperti ini dilakukan sehari dua kali, pagi dan sore. Tak heran, lingkungan Rutan Kudus ini tampak bersih. Jika melewati sel laki-laki tidak ada bau khas seperti kamar kos-kosan laki-laki yang jarang dibersihkan.

Sepanjang pengamatan, tidak kelihatan wajah murung atau ogah-ogahan. Banyak napi memilih untuk bersih-bersih di halaman sekitar aula. Mereka memunguti sampah dan menyapu. Di situ jugalah mereka menghirup udara segar sebebas-bebasnya dan bermandi sinar matahari sepuas-puasnya. Sedang di aula yang merangkap sebagai musala, mereka membersihkan kamar mandi, dan tempat wudu.

Dari aula itu terdengar nyaring suara nyanyian. Sumber suara itu dari ruang staf kesatuan pengamanan rutan yang berada di sebelah kiri kantor koperasi. Terlihat tiga orang nonmuslim sedang berdoa bersama. Salah satu adalah RN, napi perempuan, yang satu sel dengan wartawati koran ini. Mereka dipimpin seorang petugas gereja yang berkemeja putih. Kata Masjuno, kepala rutan, setiap pagi mereka yang nonmuslim difasilitasi untuk berdoa bersama.

Selain bersih-bersih, wartawati Jawa Pos Radar Kudus juga memanfaatkan untuk berkeliling sel laki-laki. Terjadi saling pandang dengan para napi. Bahkan saling lempar senyum dan sapa. Mereka ramah dan sopan. Sama sekali tak ada kesan mereka adalah orang-orang jahat.

Saat melewati beberapa sel, Jawa Pos Radar Kudus melihat beberapa bagian dinding yang ditempeli foto. Kebanyakan foto anak kecil. Rupanya, itulah foto-foto anak sebagian narapidana. Foto  itu ditempel di tembok sebagai obat rindu. Memang tidak semua sel terdapat pemandangan seperti ini. Tepatnya hanya ada tiga sel. Ada juga sel yang dihiasi ayat-ayat Alquran. Wartawati koran ini mendapati dua sel seperti itu.

Saat melewati sel khusus, terlihat dua penghuni yang tidur-tiduran di kamar berbeda. Selnya sangat kecil. Hanya sekitar 2×2 meter. Penghuni nyaris tidak bisa meluruskan badan saat tidur. Maklum di kamar itu juga ada WC yang berjarak 50 sentimeter dari tempat tidur. WC itu tepat berada di depan pintu sel.

Baca Juga :  Tempat Ibadah Saling Berhadapan, Adik Pendiri Masjid Jadi Pendeta

Solichin, kepala kesatuan pengamanan rutan menjelaskan, tahanan yang dimasukkan ke sel khusus ini hanyalah tahanan yang bermasalah. Misalnya sering bertengkar dengan teman satu selnya atau tergangggu kejiwaannya. Satu di antara penghuni sel khusus pagi itu terganggu kejiwaannya tersebut.

Setelah bersih-bersih, kesempatan pagi itu juga dimanfaatkan untuk menelepon keluarga. Rutan memfasilitasi mereka dengan membuka warung telekomunikasi (wartel). Maklum, semua penghuni termasuk wartawan koran ini tidak diperkenankan membawa handphone dan alat komunikasi lainnya.

Di Rutan Kudus tersedia satu ruangan wartel yang dilengkapi tiga buah telepon. Pagi itu ruangan penuh. Para napi terlihat antre menunggu giliran menelepon keluarga. Tidak gratis. Mereka harus membayar. Uangnya dari keluarga yang dititipkan ke koperasi. Di koperasi itu pula mereka bisa membeli jajanan. Napi sendiri tidak diperkenankan menyimpan uang di sel.

Hampir semua napi yang menelepon keluarga, terlihat sumringah. Telepon itu sebagai obat rindu bagi mereka yang tidak dijenguk keluarga. Sayang, napi tidak bisa berlama-lama menelepon. Karena teman yang lain sudah mengular ke belakang. Seorang hanya diberi kesempatan 5 hingga 10 menit.

Salah seorang napi keluar dari wartel dengan mengusap air mata. Laki-laki itu sekitar 45 tahun. Tubuhnya kurus. Kulitnya tipis dan mulai keriput. Jawa Pos Radar Kudus menghampirinya dan mengajaknya berbincang. Namanya DN. Laki-laki ini asal Desa Gulang, Mejobo, Kudus. Cukup mengagetkan. Dia terlibat kasus pembunuhan tetangganya. Dia divonis 9 tahun dan baru dijalani 11 bulan.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia mempunyai dua anak yang masih kecil. Anak pertamanya masih 9 tahun. Sedangkan anak kedua 2,5 tahun. Beruntung, istrinya masih mau menerima sebagai suami. Sesekali istrinya juga menjenguk dengan membawa kedua anaknya ke rutan. Istrinya juga membawakan nasi, lauk, serta beberapa makanan kering. Tak ketinggalan dia memotivasi agar kuat dan tabah melewati cobaan tersebut.

Karena anaknya masih kecil, DN merasa tak bisa menjelaskan masalahnya sampai masuk ke penjara. Alhasil, dia dan istri harus mengarang cerita agar mudah diterima sang anak. ”Terpaksa kami harus berbohong. Karena tidak mungkin saya bilang kalau saya membunuh dan dipenjara,” jelasnya.

DN berpura-pura mengatakan bekerja. Ya, bekerja di penjara itu. Untuk menguatkan alasannya dia selalu memberi uang kepada anak-anaknya setiap kali menjenguk. Kadang-kadang Rp 20 ribu. Kadangkala Rp 50 ribu. Uang itu sebenarnya pemberian istrinya. ”Jadi istri saya biasanya memberi uang Rp 20 ribuan atau Rp 50 ribuan, baru saya kasihkan ke anak saya,” tambahnya.

Ketika menceritakan hal itu, mata DN kelihatan nanar. Air matanya menetes. Yang membuat dia semakin pilu, ketika mengenang kali terakhir anak pertamanya menjenguk.

Anak itu tidak mau lagi menerima uang darinya. ”Saat saya tanya kenapa. Ia menjawab sudah mengerti semua tentang keadaan saya. Itu yang membuat saya sangat sedih,” katanya sambil mengelap mata bagian kanannya.

DN mengaku di penjara mulai menjalankan ibadah seperti salat dan mengaji. Suatu kewajiban yang tidak pernah dilakukan ketika masih bebas. Padahal dia sudah mempunyai bekal itu. Dia bisa membaca Alquran. Di balik jeruji besi dia selalu menyempatkan membaca ayat-ayat suci setelah salat lima waktu. Di bulan Ramadan ini dia juga menjalankan puasa. ”Setelah salat biasanya membaca alquran lima sampai enam ayat,” ungkapnya.

Masjuno, kepala Rutan Kelas II B Kudus, menjelaskan, para tahanan dan napi digembleng dengan ajaran agama. Itu untuk meluluhkan hatinya.  ”Kalau tidak dihajar hatinya dulu, bisa habis kita. Bandingkan, jumlah tahanan dengan petugas rutan itu sangat tidak seimbang. Kalau mereka belum sadar, bisa saja mereka berbuat jahat terhadap petugas,” ungkapnya.

Awalnya para napi memang dipaksa untuk melakukan aktivitas keagamaan. Mereka akhirnya mau mengikuti dan mulai terbiasa. Lama-lama hatinya tersentuh. Beribadah pun menjadi kesadaran dan kebutuhan. ”Ya, pada dasarnya mereka masih mempunyai hati. Mereka menyayangi keluarga dan sesama,” tegasnya. (*)

Pagi hari adalah waktu paling favorit bagi penghuni rutan. Saat itulah mereka bisa menghirup udara bebas sebebas-bebasnya. Bisa mandi matahari. Juga menelepon keluarga. Berikut laporan lanjutan dua wartawati Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma dan Arina Faila Saufa yang merasakan hidup di balik jeruji besi Rutan Kelas IIB Kudus.

PUKUL 07.00 satu per satu gembok pintu sel yang kuat dibuka. Penghuninya yang sudah semalaman dikerangkeng berbondong-bondong keluar. Tingkahnya macam-macam. Ada yang menggeliatkan badan. Ada yang tengok kanan-kiri di teras. Ada pula yang langsung menuju taman.

Wartawati Jawa Pos Radar Kudus yang berada di blok wanita juga memanfaatkan kesempatan itu. Arin, panggilan Arina, merasakan kesegaran yang berbeda 180 derajat dibanding di kamar. Maklumlah sel yang ditempati hanya ada satu lubang angin yaitu lewat pintu berterali besi. Pintu itu menghadap ke tembok lagi. ”Nyaris tidak ada udara yang sembribit,’’ tambah Mala, panggilan Noor Syafaatul Udhma.

Sebenarnya itu bukan waktu istirahat, melainkan waktu kerja bakti. Mereka harus membersihkan kamar masing-masing, halaman, taman, kamar mandi, aula, dan fasilitas lain di rutan. Tapi, bagi mereka itu kesempatan menyenangkan. Selain bisa menghirup udara bebas yang segar, juga bisa bermandi sinar matahari. Karena itu, semua penghuni memanfaatkan sebaik-baiknya.

Waktunya tidak lama. Hanya sampai pukul 09.00. Terlihat para penghuni sel, baik blok laki-laki maupun perempuan, membersihkan kamar masing-masing. Di blok perempuan, tiga penghuni yang satu sel dengan wartawati koran ini melakukan pekerjaan layaknya di rumah. Ada yang mencuci pakaian, mandi, dan satu lagi langsung menonton televisi. Sarana hiburan itu disediakan di luar sel yang hanya bisa dinikmati di waktu-waktu tertentu.

Pagi itu sel wanita sudah sangat bersih. Sehingga tidak perlu dibersihkan lagi. Dua wartawati koran ini pun membantu membersihkan taman yang dilakukan oleh para napi laki-laki. Banyak napi yang memperhatikan. Namun mereka tidak berani menggoda. Yang dilakukan hanya melirik, menatap, dan berbisik dengan sesama teman. Kali itu tidak ada suitan seperti ketika kali pertama wartawati koran ini melintas di blok laki-laki.

Di blok laki-laki, terlihat sebagian penghuni menyapu, membuang sampah, mencuci pakaian, dan mencuci piring. Aktivitas bersih-bersih seperti ini dilakukan sehari dua kali, pagi dan sore. Tak heran, lingkungan Rutan Kudus ini tampak bersih. Jika melewati sel laki-laki tidak ada bau khas seperti kamar kos-kosan laki-laki yang jarang dibersihkan.

Sepanjang pengamatan, tidak kelihatan wajah murung atau ogah-ogahan. Banyak napi memilih untuk bersih-bersih di halaman sekitar aula. Mereka memunguti sampah dan menyapu. Di situ jugalah mereka menghirup udara segar sebebas-bebasnya dan bermandi sinar matahari sepuas-puasnya. Sedang di aula yang merangkap sebagai musala, mereka membersihkan kamar mandi, dan tempat wudu.

Dari aula itu terdengar nyaring suara nyanyian. Sumber suara itu dari ruang staf kesatuan pengamanan rutan yang berada di sebelah kiri kantor koperasi. Terlihat tiga orang nonmuslim sedang berdoa bersama. Salah satu adalah RN, napi perempuan, yang satu sel dengan wartawati koran ini. Mereka dipimpin seorang petugas gereja yang berkemeja putih. Kata Masjuno, kepala rutan, setiap pagi mereka yang nonmuslim difasilitasi untuk berdoa bersama.

Selain bersih-bersih, wartawati Jawa Pos Radar Kudus juga memanfaatkan untuk berkeliling sel laki-laki. Terjadi saling pandang dengan para napi. Bahkan saling lempar senyum dan sapa. Mereka ramah dan sopan. Sama sekali tak ada kesan mereka adalah orang-orang jahat.

Saat melewati beberapa sel, Jawa Pos Radar Kudus melihat beberapa bagian dinding yang ditempeli foto. Kebanyakan foto anak kecil. Rupanya, itulah foto-foto anak sebagian narapidana. Foto  itu ditempel di tembok sebagai obat rindu. Memang tidak semua sel terdapat pemandangan seperti ini. Tepatnya hanya ada tiga sel. Ada juga sel yang dihiasi ayat-ayat Alquran. Wartawati koran ini mendapati dua sel seperti itu.

Saat melewati sel khusus, terlihat dua penghuni yang tidur-tiduran di kamar berbeda. Selnya sangat kecil. Hanya sekitar 2×2 meter. Penghuni nyaris tidak bisa meluruskan badan saat tidur. Maklum di kamar itu juga ada WC yang berjarak 50 sentimeter dari tempat tidur. WC itu tepat berada di depan pintu sel.

Baca Juga :  Tahun Baru, Penjual Terompet di Kudus Sepi

Solichin, kepala kesatuan pengamanan rutan menjelaskan, tahanan yang dimasukkan ke sel khusus ini hanyalah tahanan yang bermasalah. Misalnya sering bertengkar dengan teman satu selnya atau tergangggu kejiwaannya. Satu di antara penghuni sel khusus pagi itu terganggu kejiwaannya tersebut.

Setelah bersih-bersih, kesempatan pagi itu juga dimanfaatkan untuk menelepon keluarga. Rutan memfasilitasi mereka dengan membuka warung telekomunikasi (wartel). Maklum, semua penghuni termasuk wartawan koran ini tidak diperkenankan membawa handphone dan alat komunikasi lainnya.

Di Rutan Kudus tersedia satu ruangan wartel yang dilengkapi tiga buah telepon. Pagi itu ruangan penuh. Para napi terlihat antre menunggu giliran menelepon keluarga. Tidak gratis. Mereka harus membayar. Uangnya dari keluarga yang dititipkan ke koperasi. Di koperasi itu pula mereka bisa membeli jajanan. Napi sendiri tidak diperkenankan menyimpan uang di sel.

Hampir semua napi yang menelepon keluarga, terlihat sumringah. Telepon itu sebagai obat rindu bagi mereka yang tidak dijenguk keluarga. Sayang, napi tidak bisa berlama-lama menelepon. Karena teman yang lain sudah mengular ke belakang. Seorang hanya diberi kesempatan 5 hingga 10 menit.

Salah seorang napi keluar dari wartel dengan mengusap air mata. Laki-laki itu sekitar 45 tahun. Tubuhnya kurus. Kulitnya tipis dan mulai keriput. Jawa Pos Radar Kudus menghampirinya dan mengajaknya berbincang. Namanya DN. Laki-laki ini asal Desa Gulang, Mejobo, Kudus. Cukup mengagetkan. Dia terlibat kasus pembunuhan tetangganya. Dia divonis 9 tahun dan baru dijalani 11 bulan.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia mempunyai dua anak yang masih kecil. Anak pertamanya masih 9 tahun. Sedangkan anak kedua 2,5 tahun. Beruntung, istrinya masih mau menerima sebagai suami. Sesekali istrinya juga menjenguk dengan membawa kedua anaknya ke rutan. Istrinya juga membawakan nasi, lauk, serta beberapa makanan kering. Tak ketinggalan dia memotivasi agar kuat dan tabah melewati cobaan tersebut.

Karena anaknya masih kecil, DN merasa tak bisa menjelaskan masalahnya sampai masuk ke penjara. Alhasil, dia dan istri harus mengarang cerita agar mudah diterima sang anak. ”Terpaksa kami harus berbohong. Karena tidak mungkin saya bilang kalau saya membunuh dan dipenjara,” jelasnya.

DN berpura-pura mengatakan bekerja. Ya, bekerja di penjara itu. Untuk menguatkan alasannya dia selalu memberi uang kepada anak-anaknya setiap kali menjenguk. Kadang-kadang Rp 20 ribu. Kadangkala Rp 50 ribu. Uang itu sebenarnya pemberian istrinya. ”Jadi istri saya biasanya memberi uang Rp 20 ribuan atau Rp 50 ribuan, baru saya kasihkan ke anak saya,” tambahnya.

Ketika menceritakan hal itu, mata DN kelihatan nanar. Air matanya menetes. Yang membuat dia semakin pilu, ketika mengenang kali terakhir anak pertamanya menjenguk.

Anak itu tidak mau lagi menerima uang darinya. ”Saat saya tanya kenapa. Ia menjawab sudah mengerti semua tentang keadaan saya. Itu yang membuat saya sangat sedih,” katanya sambil mengelap mata bagian kanannya.

DN mengaku di penjara mulai menjalankan ibadah seperti salat dan mengaji. Suatu kewajiban yang tidak pernah dilakukan ketika masih bebas. Padahal dia sudah mempunyai bekal itu. Dia bisa membaca Alquran. Di balik jeruji besi dia selalu menyempatkan membaca ayat-ayat suci setelah salat lima waktu. Di bulan Ramadan ini dia juga menjalankan puasa. ”Setelah salat biasanya membaca alquran lima sampai enam ayat,” ungkapnya.

Masjuno, kepala Rutan Kelas II B Kudus, menjelaskan, para tahanan dan napi digembleng dengan ajaran agama. Itu untuk meluluhkan hatinya.  ”Kalau tidak dihajar hatinya dulu, bisa habis kita. Bandingkan, jumlah tahanan dengan petugas rutan itu sangat tidak seimbang. Kalau mereka belum sadar, bisa saja mereka berbuat jahat terhadap petugas,” ungkapnya.

Awalnya para napi memang dipaksa untuk melakukan aktivitas keagamaan. Mereka akhirnya mau mengikuti dan mulai terbiasa. Lama-lama hatinya tersentuh. Beribadah pun menjadi kesadaran dan kebutuhan. ”Ya, pada dasarnya mereka masih mempunyai hati. Mereka menyayangi keluarga dan sesama,” tegasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/