alexametrics
25.9 C
Kudus
Wednesday, May 25, 2022

Merasakan Kehidupan di Penjara pada Bulan Ramadan (4)

Nikmatnya Ngopi Bareng Napi di Teras Dapur Penjara

Dua wartawati Jawa Pos Radar Kudus mendapat kesempatan memasak bersama narapidana. Itu kesempatan yang langka. Karena, selama ini memasak diserahkan kepada narapidana laki-laki. Berikut lanjutan laporan Noor Syafaatul Udhma dan Arina Faila Saufa dari balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kudus.

SELAMA dua wartawati koran ini berada di Rutan Kudus, banyak air mata menetes. Banyak napi yang menangis terutama di saat-saat tengah malam. Saat mereka mengenang kebahagiaan bersama keluarga dan saat mereka menghadap Tuhan. ”Anak saya lahir, sedangkan saya di penjara,” ujar Dn, salah satu napi.

Ketika menceritakan hal itu, kelihatan Dn sangat menyesal. Wajahnya menjadi lesu. Air matanya menetes. Dia pun mengakui kesalahan dan sangat menyesal. Bersyukur istri dan keluarganya masih bisa menerimanya. Anak-anak kecilnya juga kadang dibawa ke rutan untuk menengoknya.


Meskipun bertemu langsung dengan anak istri sangat jarang, namun dia selalu mendoakan keluarga di rumah. ”Biasanya ke sini seminggu sekali. Dan itu benar-benar saya manfaatkan dengan baik,” ujarnya.

Dua wartawati koran ini bisa bertemu dan berbincang panjang dengan Dn saat memasak di dapur rutan. Itu kesempatan yang sangat langka. Selama ini, tugas memasak selalu diserahkan kepada narapidana laki-laki. Sedangkan malam itu, dua wartawati koran ini diberi kesempatan oleh Kepala Rutan Masjuno untuk ikut menyiapkan makan sahur.

Beny, selaku kepala sub seksi pelayanan tahanan mengatakan, napi laki-laki lebih dipercaya untuk memasak dibanding dengan napi perempuan. Nah, ini baru berbeda dengan kenyataan di masyarakat, di mana tugas memasak lebih banyak dilakukan kaum perempuan. ”Karena napi perempuan lebih berpotensi mencoba kabur. Biasalah, kalau perempuan memang seperti itu,” katanya saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Kudus.

Malam itu Dn mendapat tugas memasak bersama Ed, Sf, Wh, Ek. Kasus mereka berbeda-beda. Dn sendiri terlibat perkelahian. Sedangkan yang lain kebetulan sama-sama cis, yaitu persetubuhan. Usia mereka antara 20 hingga 28 tahun. Mereka ternyata sangat supel. ”Saya semakin tertarik membantu mereka memasak di dapur,” kata Arin, panggilan Arina Faila Saufa.

Awalnya, memang ada rasa takut untuk berkontak langsung dengan narapidana. Apalagi narapidana laki-laki. Beberapa di antaranya berbadan gempal. Ada yang bertato lagi. Tapi, setelah mencoba, ketakutan itu sirna. Ternyata mereka tetap manusia yang memiliki kelembutan rasa.

Di dapur, kelihatan mereka sangat menikmati pekerjaannya meskipun harus bangun pukul 01.00 saat narapidana dan tahanan lain tidur pulas. Mereka juga banyak senyum. Sama sekali tidak menakutkan. Bahkan mereka ngobrol ngalorngidul dan saling ledek tanpa ada rasa malu.

Di dapur, tugas mereka berbeda-beda. Ed dan Wh menanak nasi, Sf memasak sayur, Dn membikin teh hangat, dan Ek mempersiapkan lepak (tempat nasi bagi para tahanan dan napi). Dua wartawati koran ini membantu pekerjaan mereka semua. Aktivitas masak dimulai pukul 00.00. ”Jam 12 malam kami dikeluarkan dari sel untuk masak. Kalau persiapan bumbu sudah kami lakukan sore tadi,” kata Ed. Itu dilakukan setiap hari.

Tim dapur ini sengaja diambilkan dari satu kamar. Tujuannya agar petugas tidak kesulitan membuka banyak sel. Tentu wartawati koran ini berada di sel yang berbeda yaitu di blok perempuan. ”Kami ada di sel nomor 3. Satu kamar ada tujuh orang. Yang dua lagi tidak diikutkan,” terang Ed.

Tim dapur mendapat kepercayaan dari petugas rutan karena berkelakukan baik dan tidak menunjukkan gelagat ingin melarikan diri. Personelnya akan diganti jika salah satu dari mereka ada yang bebas. ”Dulu yang masak sayur Mas Arif. Karena dia mau keluar, saya ditunjuk untuk menggantikan. Mas Arif yang mengajari saya memasak sayur. Tidak ada pelatihan masak dari luar,” tambah Dn.

Baca Juga :  Tradisi Imlek, Hindari Angka 4

Pukul 00.00 kemarin, tim dapur sudah berada di TKP alias tempat mereka bekerja. Malam itu mereka menyiapkan makan sahur untuk 146 tahanan dan narapidana. Mereka hafal kebutuhan berasnya, 15 kilogram. Tim ini terlihat sangat cekatan menentukan takaran bumbu maupun air. ”Iya kami sudah sangat hafal. Karena sudah hampir satu tahun juga,” imbuhnya.

Untuk menyiapkan makanan bagi para teman-teman napi yang lain, mereka butuh waktu sekitar 2 jam. Masak nasi sekitar 1,5 jam, teh hangat sekitar 1 jam, dan masak sayur sekitar 20 menit. Ini dilakukan secara bersamaan. Menu sahur waktu itu adalah oseng sawi dan telur asin.

Setelah semuanya siap, kelima napi ini kemudian bekerjasama memasukkan semua item makanan ke dalam lepak satu per satu. Lepaknya seragam berwarna hijau dan tutup putih.

Bolot sapaan akrab untuk Ed ganti bertugas memasukkan nasi ke dalam lepak. Danang memasukkan sayur, Wh memasukkan telur, Ek dan Sf mempersiapkannya untuk dibagikan. Semuanya bekerjasama dengan baik. Tidak ada yang enak-enak duduk saat teman lainnya bekerja. Padahal penjagaan dari petugas tidak begitu ketat. Petugas berjaga di gerbang, dan kelima napi ini mengerjakannya di dapur.

Setelah semua lepak selesai disiapkan, jam 02.00 tepat mereka bergegas mengangkat lepak-lepak tadi ke masing-masing sel. Sedikitnya ada 21 sel yang harus mereka datangi. Ada yang mengangkat puluhan tremos berisi teh hangat, ada juga yang bergantian mengangkat ratusan lepak tadi.

Dengan ditemani petugas rutan, tim dapur ini membagikan makanan sahur untuk para napi. Saat itu, sebagian napi tidak tidur. Ada yang salat malam. Ada yang membaca Alquran. Ada pula yang asyik menonton bola.

Sekitar setengah jam, pembagian nasi selesai. Tim dapur masih mempunyai cukup waktu menghirup udara segar sebelum dimasukkan kembali ke sel pukul 04.00. Di sela-sela waktu ini, tim dapur menghabiskan waktu ngopi bareng Jawa Pos Radar Kudus dan berbincang di teras depan dapur.

Saat ditanya tentang upah yang didapatkan untuk memasak, jawaban mereka seragam. Mereka tidak butuh uang. Mereka sudah sangat senang mendapatkan kesempatan itu. Mereka mempunyai waktu lebih lama di luar sel dibanding napi lainnya. ”Senangnya karena bisa menikmati waktu di luar. Kalau di sel terus bosen,” kata Wh.

Selain itu, mereka juga bisa memasak makanan kesukaan yang berbeda dengan napi lain. ”Kalau kita pengen masak nasi goreng, bisa. Kalau ada mi instan, kami juga kadang masak mie. Gitu sih Mbak, senangnya,” imbuh Ed.

Saat berbincang, mereka juga menceritakan kehidupan keluarganya. Mereka juga tidak enggan bercerita tentang kasus yang dialami. Mereka semua mengakui kesalahan dan sangat menyesal.

Apa yang mereka lakukan memperlihatkan kehidupan di rutan tidak sebegitu menakutkan seperti yang diceritakan banyak orang. Mereka memang pernah berbuat kesalahan. Ada yang membunuh, memperkosa, mencuri, merampok, menipu, menggelapkan, dan menganiaya. Namun sebagai manusia mereka bisa khilaf. Dan, apabila telah mengakui kesalahan dan bertaubat mereka bisa menjadi manusia sebenarnya yang saling menyayangi. (*/bersambung)

Dua wartawati Jawa Pos Radar Kudus mendapat kesempatan memasak bersama narapidana. Itu kesempatan yang langka. Karena, selama ini memasak diserahkan kepada narapidana laki-laki. Berikut lanjutan laporan Noor Syafaatul Udhma dan Arina Faila Saufa dari balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kudus.

SELAMA dua wartawati koran ini berada di Rutan Kudus, banyak air mata menetes. Banyak napi yang menangis terutama di saat-saat tengah malam. Saat mereka mengenang kebahagiaan bersama keluarga dan saat mereka menghadap Tuhan. ”Anak saya lahir, sedangkan saya di penjara,” ujar Dn, salah satu napi.

Ketika menceritakan hal itu, kelihatan Dn sangat menyesal. Wajahnya menjadi lesu. Air matanya menetes. Dia pun mengakui kesalahan dan sangat menyesal. Bersyukur istri dan keluarganya masih bisa menerimanya. Anak-anak kecilnya juga kadang dibawa ke rutan untuk menengoknya.

Meskipun bertemu langsung dengan anak istri sangat jarang, namun dia selalu mendoakan keluarga di rumah. ”Biasanya ke sini seminggu sekali. Dan itu benar-benar saya manfaatkan dengan baik,” ujarnya.

Dua wartawati koran ini bisa bertemu dan berbincang panjang dengan Dn saat memasak di dapur rutan. Itu kesempatan yang sangat langka. Selama ini, tugas memasak selalu diserahkan kepada narapidana laki-laki. Sedangkan malam itu, dua wartawati koran ini diberi kesempatan oleh Kepala Rutan Masjuno untuk ikut menyiapkan makan sahur.

Beny, selaku kepala sub seksi pelayanan tahanan mengatakan, napi laki-laki lebih dipercaya untuk memasak dibanding dengan napi perempuan. Nah, ini baru berbeda dengan kenyataan di masyarakat, di mana tugas memasak lebih banyak dilakukan kaum perempuan. ”Karena napi perempuan lebih berpotensi mencoba kabur. Biasalah, kalau perempuan memang seperti itu,” katanya saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Kudus.

Malam itu Dn mendapat tugas memasak bersama Ed, Sf, Wh, Ek. Kasus mereka berbeda-beda. Dn sendiri terlibat perkelahian. Sedangkan yang lain kebetulan sama-sama cis, yaitu persetubuhan. Usia mereka antara 20 hingga 28 tahun. Mereka ternyata sangat supel. ”Saya semakin tertarik membantu mereka memasak di dapur,” kata Arin, panggilan Arina Faila Saufa.

Awalnya, memang ada rasa takut untuk berkontak langsung dengan narapidana. Apalagi narapidana laki-laki. Beberapa di antaranya berbadan gempal. Ada yang bertato lagi. Tapi, setelah mencoba, ketakutan itu sirna. Ternyata mereka tetap manusia yang memiliki kelembutan rasa.

Di dapur, kelihatan mereka sangat menikmati pekerjaannya meskipun harus bangun pukul 01.00 saat narapidana dan tahanan lain tidur pulas. Mereka juga banyak senyum. Sama sekali tidak menakutkan. Bahkan mereka ngobrol ngalorngidul dan saling ledek tanpa ada rasa malu.

Di dapur, tugas mereka berbeda-beda. Ed dan Wh menanak nasi, Sf memasak sayur, Dn membikin teh hangat, dan Ek mempersiapkan lepak (tempat nasi bagi para tahanan dan napi). Dua wartawati koran ini membantu pekerjaan mereka semua. Aktivitas masak dimulai pukul 00.00. ”Jam 12 malam kami dikeluarkan dari sel untuk masak. Kalau persiapan bumbu sudah kami lakukan sore tadi,” kata Ed. Itu dilakukan setiap hari.

Tim dapur ini sengaja diambilkan dari satu kamar. Tujuannya agar petugas tidak kesulitan membuka banyak sel. Tentu wartawati koran ini berada di sel yang berbeda yaitu di blok perempuan. ”Kami ada di sel nomor 3. Satu kamar ada tujuh orang. Yang dua lagi tidak diikutkan,” terang Ed.

Tim dapur mendapat kepercayaan dari petugas rutan karena berkelakukan baik dan tidak menunjukkan gelagat ingin melarikan diri. Personelnya akan diganti jika salah satu dari mereka ada yang bebas. ”Dulu yang masak sayur Mas Arif. Karena dia mau keluar, saya ditunjuk untuk menggantikan. Mas Arif yang mengajari saya memasak sayur. Tidak ada pelatihan masak dari luar,” tambah Dn.

Baca Juga :  Ternyata! Ramadan di Penjara Ada yang Nobar Bola, Ada yang Zikir Semalaman

Pukul 00.00 kemarin, tim dapur sudah berada di TKP alias tempat mereka bekerja. Malam itu mereka menyiapkan makan sahur untuk 146 tahanan dan narapidana. Mereka hafal kebutuhan berasnya, 15 kilogram. Tim ini terlihat sangat cekatan menentukan takaran bumbu maupun air. ”Iya kami sudah sangat hafal. Karena sudah hampir satu tahun juga,” imbuhnya.

Untuk menyiapkan makanan bagi para teman-teman napi yang lain, mereka butuh waktu sekitar 2 jam. Masak nasi sekitar 1,5 jam, teh hangat sekitar 1 jam, dan masak sayur sekitar 20 menit. Ini dilakukan secara bersamaan. Menu sahur waktu itu adalah oseng sawi dan telur asin.

Setelah semuanya siap, kelima napi ini kemudian bekerjasama memasukkan semua item makanan ke dalam lepak satu per satu. Lepaknya seragam berwarna hijau dan tutup putih.

Bolot sapaan akrab untuk Ed ganti bertugas memasukkan nasi ke dalam lepak. Danang memasukkan sayur, Wh memasukkan telur, Ek dan Sf mempersiapkannya untuk dibagikan. Semuanya bekerjasama dengan baik. Tidak ada yang enak-enak duduk saat teman lainnya bekerja. Padahal penjagaan dari petugas tidak begitu ketat. Petugas berjaga di gerbang, dan kelima napi ini mengerjakannya di dapur.

Setelah semua lepak selesai disiapkan, jam 02.00 tepat mereka bergegas mengangkat lepak-lepak tadi ke masing-masing sel. Sedikitnya ada 21 sel yang harus mereka datangi. Ada yang mengangkat puluhan tremos berisi teh hangat, ada juga yang bergantian mengangkat ratusan lepak tadi.

Dengan ditemani petugas rutan, tim dapur ini membagikan makanan sahur untuk para napi. Saat itu, sebagian napi tidak tidur. Ada yang salat malam. Ada yang membaca Alquran. Ada pula yang asyik menonton bola.

Sekitar setengah jam, pembagian nasi selesai. Tim dapur masih mempunyai cukup waktu menghirup udara segar sebelum dimasukkan kembali ke sel pukul 04.00. Di sela-sela waktu ini, tim dapur menghabiskan waktu ngopi bareng Jawa Pos Radar Kudus dan berbincang di teras depan dapur.

Saat ditanya tentang upah yang didapatkan untuk memasak, jawaban mereka seragam. Mereka tidak butuh uang. Mereka sudah sangat senang mendapatkan kesempatan itu. Mereka mempunyai waktu lebih lama di luar sel dibanding napi lainnya. ”Senangnya karena bisa menikmati waktu di luar. Kalau di sel terus bosen,” kata Wh.

Selain itu, mereka juga bisa memasak makanan kesukaan yang berbeda dengan napi lain. ”Kalau kita pengen masak nasi goreng, bisa. Kalau ada mi instan, kami juga kadang masak mie. Gitu sih Mbak, senangnya,” imbuh Ed.

Saat berbincang, mereka juga menceritakan kehidupan keluarganya. Mereka juga tidak enggan bercerita tentang kasus yang dialami. Mereka semua mengakui kesalahan dan sangat menyesal.

Apa yang mereka lakukan memperlihatkan kehidupan di rutan tidak sebegitu menakutkan seperti yang diceritakan banyak orang. Mereka memang pernah berbuat kesalahan. Ada yang membunuh, memperkosa, mencuri, merampok, menipu, menggelapkan, dan menganiaya. Namun sebagai manusia mereka bisa khilaf. Dan, apabila telah mengakui kesalahan dan bertaubat mereka bisa menjadi manusia sebenarnya yang saling menyayangi. (*/bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/