alexametrics
24.2 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Merasakan Kehidupan di Penjara pada Bulan Ramadan (2)

Tahanan Perempuan dapat Suitan ketika Melintas di Blok Laki-laki

Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para tahanan dan narapidana. Mereka lebih rajin dan lebih khusyuk beribadah. Berikut laporan lanjutan dua wartawati Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma dan Arina Faila Saufa yang merasakan kehidupan di Rumah Tahanan Kelas IIB Kudus.

ADZAN Isya terdengar menggema dari musala. Itu jelas suara NW, salah satu tahanan laki-laki di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kudus. Suaranya mendayu-dayu. Merdu sekali. Laki-laki itu memang pernah menjadi juara I lomba tilawatil quran di kecamatannya. Dia juga menjadi guru mengaji di kampungnya. Kalau sekarang menjadi penghuni rutan, itu  karena kekhilafannya.

Penghuni rutan lain memanggilnya Cis, sebutan bagi pelaku persetubuhan.  Kasusnya pernah marak dipergunjingkan. Cis telah dua tahun menjalani masa tahanan. Umurnya 30 tahun. Tubuhnya mungil dan cenderung pendek, namun lincah. Wajahnya putih bersih. Good looking. Dia bukan satu-satunya Cis. Ada juga yang lain.


Selagi suara NW berkumandang, para penghuni rutan segera bersiap ke musala untuk menjalankan salat Isya dan Tarawih. Tak ketinggalan LV, narapidana yang pernah menyamar sebagai seorang polwan. Dia segera berwudu di kamar mandi kecil di sel. Langkah LV menggugah dua wartawati koran ini yang satu sel dengannya.

Usai berwudu, LV yang terjerat kasus buntut telu, istilah untuk kasus pelanggaran Pasal 378 KUHP, juga memoleskan bedak ke wajahnya. Tak ketinggalan, dia mempercantik bibirnya dengan lipstik merah sehingga tampak merekah. Dia berharap di musala bisa bertatap muka dengan pujaan hatinya. ”Mudah-mudahan,’’ katanya. Pujaan hati LV juga terjerat cis.

RN, salah satu penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kudus juga sibuk seperti LV. Malah kelihatan lebih cemerlang. Padahal, dia tidak akan ikut salat Isya dan Tarawih. Dia yang beragama Kristen memanfaatkan momen Tarawih hanya sekadar keluar dari sel untuk mendapatkan angin segar. Itu berkah Ramadan baginya. Petugas memperbolehkan para tahanan dan narapidana yang beragama nonmuslim keluar sel saat salat Tarawih.

PT, salah satu napi perempuan lainnya, tidak ikut berdandan. Dia sudah bersiap sejak Maghrib lengkap dengan mukena dan sajadah. Dia duduk di dekat pintu berterali besi sambil memandangi teman-temannya. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Itu menjadi kebiasaannya setelah Maghrib selama Ramadan.

Setelah semua siap, gerbang pun dibuka oleh petugas. Arin dan Mala merasakan sembribit angin menerpa wajah. Segar, setelah sehari dalam kepengapan. Petugas menggiring para napi perempuan langsung ke aula yang disulap menjadi musala. Dari gerbang blok wanita melewati gerbang blok lelaki.

Di blok laki-laki itu terdapat 12 sel. Tampak bersih dan terawat. Bahkan satu sampah pun tidak terlihat di sana. Annadhofatu Minaliman (kebersihan itu bagian dari iman). Hadis itu rupanya benar-benar diterapkan di rutan. Bersih, rapi, dan indah.

Melintasnya empat perempuan di sel laki-laki itu membuat suasana lebih hidup. Para narapidana laki-laki yang sedang menunggu giliran berwudu saling sikut. Mereka juga berbisik sambil mencuri pandang. Ada yang memanggil nama LV dan bersiul-siul. Sut, suiit. Manusiawi sekali seperti halnya ketika ada gadis melintas di tengah kerumunan anak-anak muda di jalan. Mendapat godaan, kelihatan LV malu-malu. Dia menunduk. Tak ada kesempatan berbicara atau berbincang. ”Ah, biasa,’’ ujarnya kemudian.

Dua wartawati koran ini juga tak luput dari perhatian. Nyaris seluruh tahanan dan narapidana laki-laki mengarahkan sorot matanya ke wartawati koran ini. Ada yang berbisik, ”Orang baru, orang baru.’’ Ada juga yang bersiul. Sebagian besar penghuni rutan tidak mengetahui bahwa dua penghuni baru sel perempuan adalah wartawan Jawa Pos Radar Kudus.

Di aula, kaum perempuan menempati shof di pojok belakang sebelah kiri. Aula tersebut cukup besar. Bangunannya 9×7 meter dengan tinggi enam meter. Cukup lega untuk menampung 146 narapidana dan petugas rutan. Tampak saat itu Kepala Rutan Masjuno berada dalam barisan jamaah salat.

Para napi langsung menempati barisan yang disediakan. Ada yang salat sunah qobliyah. Mereka tampak khusyuk menjalankan salat yang tidak wajib itu. Tidak semua memang. Namun, sebagian besar menjalankannya termasuk LV dan dua wartawati koran ini.

Baca Juga :  Setahun Jadi “Angel” di Pati, Baru Kali Ini Di-Booking Online

Setelah salat sunnah, LV sesekali melirik ke tempat wudu. Kemudian tersenyum dan menunduk. Dia lakukan berulang-ulang. Dia sepertinya menemukan sosok yang selalu mengganggu tidurnya. Seperti anak muda pada umumnya, dia merasakan jatuh cinta. Jatuh cintanya dengan narapidana, sama seperti dirinya.

Ketika sosok yang dicarinya sedang memasuki aula, matanya berbinar. Dia hanya bergumam nama pujaan hatinya tanpa mampu menyapa. Sungguh pemandangan yang dramatis.

Tak lama, seluruh shof penuh. Hanya beberapa napi yang masih berada di luar. Mereka mengantre berwudu di sebuah bak kira-kira berisi 270 liter atau dua kulah.

Sepinta tidak ada yang berbeda dengan jamaah salat Tarawih pada umumnya. Para penghuni rutan ini membentuk shof salat berjamaah dengan tertib. Bahkan beberapa narapidana berebut barisan tepat di belakang imam yang konon pahalanya lebih banyak. Pakaian mereka pun beragam. Ada yang memakai baju koko dan kaus berkerah. Tak hanya itu, sarung dan peci pun dikenakan untuk mempermanis penampilan. Tidak banyak menggunakan kaus napi dari rutan. Sama sekali tak ada kesan mereka orang pernah melakukan tindak kejahatan.

Sebanyak 139 narapidana memenuhi aula di tengah-tengah rutan seluas 4.000 meter. Delapan lainnya absen. Enam dari mereka beragama nonmuslim dan dua lainnya sedang sakit. Sebelum salat diimulai, para napi membaca salawat. Cis memimpinnya dengan suara merdu.

Imam salat tarawih adalah seorang staf Pendidikan Agama Islam (Pais) Kementerian Agama Kudus. Namanya Sholihul Hadi yang pernah menjadi juara harapan I MTQ International di India.  Ketika imam datang, para napi serentak berdiri. Salat pun dimulai.

Salat Tarawihnya hanya delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat. Tetap tidak berbeda dengan salat Tarawih di sebagian masjid. Mala, wartawan koran ini merasakan nuansa salat serasa di Masjid Agung yang megah. Suasananya hikmat. ”Rumah tahanan rasa pesantren,’’ tambah Arin.

Tausiyah diisi langsung imam tarawih. Isinya tentang mengingat Allah dan melakukan amal saleh. Para napi dengan antusias mendengarkan tausiyah tujuh menit tersebut.

Selesai tarawih, semua napi kembali ke blok masing-masing. Hanya tersisa tim tadarus. Mereka membentuk lingkaran kecil untuk memulai tadarus. Tim tadarus dibagi menjadi dua bagian. Tadarus pagi dan malam. Jumlah setiap tim 15 orang. Semua laki-laki. Mereka adalah napi pilihan. Tim tadarus yang terpilih telah memenuhi kriteria membaca dengan ketentuan fasih dan lancar membaca Alquran.

Setiap orang mendapat giliran sak rai atau satu halaman Alquran. Membacanya pun bergiliran sesuai dengan urutan lingkaran. Mereka membaca dengan fasih sama seperti tadarus di masjid dan musala kebanyakan. Nuansa Ramadan benar-benar jelas terasa di sana.

Waktu tadarus hanya dua jam setiap hari. Satu jam saat pagi dan satu jam sehabis Tarawih. Di hari ke-12 Ramadan mereka telah mengkhatamkan Alquran. Beberapa hari lagi akan khatam untuk kali kedua.

Salah satu anggota tim tadarus Jimin Susanto, tahanan dengan kasus penipuan atau pasal 372 ini mengaku telah ditahan selama satu bulan. Penahanannya tersebut diduga karena telah melakukan penipuan mobil. Dia sedang menunggu putusan persidangan atas kasusnya tersebut.

Mendekam di penjara membuatnya lebih khusyuk beribadah. Bahkan karena kefasihannya membaca Alquran, dia ditunjuk menjadi tim tadarus. Mendapat amanah, dia bersemangat mengikuti semua kegiatan di rutan. Terutama saat tadarus.

Kegiatan itu membuatnya memiliki kesempatan yang berbeda dengan penghuni lainnya. Jika seluruh penghuni rutan kembali ke sel masing-masing, dia mendapat keringan satu jam lagi berada di luar sel. Kesempatan itu, dia gunakan untuk tadarus dan berangin-angin. ”Melihat dunia luar merupakan sebuah keringan luar biasa bagi kami penghuni rutan,” ungkapnya. Itulah salah satu berkah Ramadan di balik jeruji besi. (*/bersambung)

 

Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para tahanan dan narapidana. Mereka lebih rajin dan lebih khusyuk beribadah. Berikut laporan lanjutan dua wartawati Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma dan Arina Faila Saufa yang merasakan kehidupan di Rumah Tahanan Kelas IIB Kudus.

ADZAN Isya terdengar menggema dari musala. Itu jelas suara NW, salah satu tahanan laki-laki di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kudus. Suaranya mendayu-dayu. Merdu sekali. Laki-laki itu memang pernah menjadi juara I lomba tilawatil quran di kecamatannya. Dia juga menjadi guru mengaji di kampungnya. Kalau sekarang menjadi penghuni rutan, itu  karena kekhilafannya.

Penghuni rutan lain memanggilnya Cis, sebutan bagi pelaku persetubuhan.  Kasusnya pernah marak dipergunjingkan. Cis telah dua tahun menjalani masa tahanan. Umurnya 30 tahun. Tubuhnya mungil dan cenderung pendek, namun lincah. Wajahnya putih bersih. Good looking. Dia bukan satu-satunya Cis. Ada juga yang lain.

Selagi suara NW berkumandang, para penghuni rutan segera bersiap ke musala untuk menjalankan salat Isya dan Tarawih. Tak ketinggalan LV, narapidana yang pernah menyamar sebagai seorang polwan. Dia segera berwudu di kamar mandi kecil di sel. Langkah LV menggugah dua wartawati koran ini yang satu sel dengannya.

Usai berwudu, LV yang terjerat kasus buntut telu, istilah untuk kasus pelanggaran Pasal 378 KUHP, juga memoleskan bedak ke wajahnya. Tak ketinggalan, dia mempercantik bibirnya dengan lipstik merah sehingga tampak merekah. Dia berharap di musala bisa bertatap muka dengan pujaan hatinya. ”Mudah-mudahan,’’ katanya. Pujaan hati LV juga terjerat cis.

RN, salah satu penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kudus juga sibuk seperti LV. Malah kelihatan lebih cemerlang. Padahal, dia tidak akan ikut salat Isya dan Tarawih. Dia yang beragama Kristen memanfaatkan momen Tarawih hanya sekadar keluar dari sel untuk mendapatkan angin segar. Itu berkah Ramadan baginya. Petugas memperbolehkan para tahanan dan narapidana yang beragama nonmuslim keluar sel saat salat Tarawih.

PT, salah satu napi perempuan lainnya, tidak ikut berdandan. Dia sudah bersiap sejak Maghrib lengkap dengan mukena dan sajadah. Dia duduk di dekat pintu berterali besi sambil memandangi teman-temannya. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Itu menjadi kebiasaannya setelah Maghrib selama Ramadan.

Setelah semua siap, gerbang pun dibuka oleh petugas. Arin dan Mala merasakan sembribit angin menerpa wajah. Segar, setelah sehari dalam kepengapan. Petugas menggiring para napi perempuan langsung ke aula yang disulap menjadi musala. Dari gerbang blok wanita melewati gerbang blok lelaki.

Di blok laki-laki itu terdapat 12 sel. Tampak bersih dan terawat. Bahkan satu sampah pun tidak terlihat di sana. Annadhofatu Minaliman (kebersihan itu bagian dari iman). Hadis itu rupanya benar-benar diterapkan di rutan. Bersih, rapi, dan indah.

Melintasnya empat perempuan di sel laki-laki itu membuat suasana lebih hidup. Para narapidana laki-laki yang sedang menunggu giliran berwudu saling sikut. Mereka juga berbisik sambil mencuri pandang. Ada yang memanggil nama LV dan bersiul-siul. Sut, suiit. Manusiawi sekali seperti halnya ketika ada gadis melintas di tengah kerumunan anak-anak muda di jalan. Mendapat godaan, kelihatan LV malu-malu. Dia menunduk. Tak ada kesempatan berbicara atau berbincang. ”Ah, biasa,’’ ujarnya kemudian.

Dua wartawati koran ini juga tak luput dari perhatian. Nyaris seluruh tahanan dan narapidana laki-laki mengarahkan sorot matanya ke wartawati koran ini. Ada yang berbisik, ”Orang baru, orang baru.’’ Ada juga yang bersiul. Sebagian besar penghuni rutan tidak mengetahui bahwa dua penghuni baru sel perempuan adalah wartawan Jawa Pos Radar Kudus.

Di aula, kaum perempuan menempati shof di pojok belakang sebelah kiri. Aula tersebut cukup besar. Bangunannya 9×7 meter dengan tinggi enam meter. Cukup lega untuk menampung 146 narapidana dan petugas rutan. Tampak saat itu Kepala Rutan Masjuno berada dalam barisan jamaah salat.

Para napi langsung menempati barisan yang disediakan. Ada yang salat sunah qobliyah. Mereka tampak khusyuk menjalankan salat yang tidak wajib itu. Tidak semua memang. Namun, sebagian besar menjalankannya termasuk LV dan dua wartawati koran ini.

Baca Juga :  Jarang Tidur, Nderes Alquran sambil Guyonan

Setelah salat sunnah, LV sesekali melirik ke tempat wudu. Kemudian tersenyum dan menunduk. Dia lakukan berulang-ulang. Dia sepertinya menemukan sosok yang selalu mengganggu tidurnya. Seperti anak muda pada umumnya, dia merasakan jatuh cinta. Jatuh cintanya dengan narapidana, sama seperti dirinya.

Ketika sosok yang dicarinya sedang memasuki aula, matanya berbinar. Dia hanya bergumam nama pujaan hatinya tanpa mampu menyapa. Sungguh pemandangan yang dramatis.

Tak lama, seluruh shof penuh. Hanya beberapa napi yang masih berada di luar. Mereka mengantre berwudu di sebuah bak kira-kira berisi 270 liter atau dua kulah.

Sepinta tidak ada yang berbeda dengan jamaah salat Tarawih pada umumnya. Para penghuni rutan ini membentuk shof salat berjamaah dengan tertib. Bahkan beberapa narapidana berebut barisan tepat di belakang imam yang konon pahalanya lebih banyak. Pakaian mereka pun beragam. Ada yang memakai baju koko dan kaus berkerah. Tak hanya itu, sarung dan peci pun dikenakan untuk mempermanis penampilan. Tidak banyak menggunakan kaus napi dari rutan. Sama sekali tak ada kesan mereka orang pernah melakukan tindak kejahatan.

Sebanyak 139 narapidana memenuhi aula di tengah-tengah rutan seluas 4.000 meter. Delapan lainnya absen. Enam dari mereka beragama nonmuslim dan dua lainnya sedang sakit. Sebelum salat diimulai, para napi membaca salawat. Cis memimpinnya dengan suara merdu.

Imam salat tarawih adalah seorang staf Pendidikan Agama Islam (Pais) Kementerian Agama Kudus. Namanya Sholihul Hadi yang pernah menjadi juara harapan I MTQ International di India.  Ketika imam datang, para napi serentak berdiri. Salat pun dimulai.

Salat Tarawihnya hanya delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat. Tetap tidak berbeda dengan salat Tarawih di sebagian masjid. Mala, wartawan koran ini merasakan nuansa salat serasa di Masjid Agung yang megah. Suasananya hikmat. ”Rumah tahanan rasa pesantren,’’ tambah Arin.

Tausiyah diisi langsung imam tarawih. Isinya tentang mengingat Allah dan melakukan amal saleh. Para napi dengan antusias mendengarkan tausiyah tujuh menit tersebut.

Selesai tarawih, semua napi kembali ke blok masing-masing. Hanya tersisa tim tadarus. Mereka membentuk lingkaran kecil untuk memulai tadarus. Tim tadarus dibagi menjadi dua bagian. Tadarus pagi dan malam. Jumlah setiap tim 15 orang. Semua laki-laki. Mereka adalah napi pilihan. Tim tadarus yang terpilih telah memenuhi kriteria membaca dengan ketentuan fasih dan lancar membaca Alquran.

Setiap orang mendapat giliran sak rai atau satu halaman Alquran. Membacanya pun bergiliran sesuai dengan urutan lingkaran. Mereka membaca dengan fasih sama seperti tadarus di masjid dan musala kebanyakan. Nuansa Ramadan benar-benar jelas terasa di sana.

Waktu tadarus hanya dua jam setiap hari. Satu jam saat pagi dan satu jam sehabis Tarawih. Di hari ke-12 Ramadan mereka telah mengkhatamkan Alquran. Beberapa hari lagi akan khatam untuk kali kedua.

Salah satu anggota tim tadarus Jimin Susanto, tahanan dengan kasus penipuan atau pasal 372 ini mengaku telah ditahan selama satu bulan. Penahanannya tersebut diduga karena telah melakukan penipuan mobil. Dia sedang menunggu putusan persidangan atas kasusnya tersebut.

Mendekam di penjara membuatnya lebih khusyuk beribadah. Bahkan karena kefasihannya membaca Alquran, dia ditunjuk menjadi tim tadarus. Mendapat amanah, dia bersemangat mengikuti semua kegiatan di rutan. Terutama saat tadarus.

Kegiatan itu membuatnya memiliki kesempatan yang berbeda dengan penghuni lainnya. Jika seluruh penghuni rutan kembali ke sel masing-masing, dia mendapat keringan satu jam lagi berada di luar sel. Kesempatan itu, dia gunakan untuk tadarus dan berangin-angin. ”Melihat dunia luar merupakan sebuah keringan luar biasa bagi kami penghuni rutan,” ungkapnya. Itulah salah satu berkah Ramadan di balik jeruji besi. (*/bersambung)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/