alexametrics
25.1 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Lebih Dekat dengan Keluarga Ketua KPU RI Hasyim Asy’ari

Susah Tidur ketika Anaknya Ikut Tes, Terpaksa Minum Obat

Tidak menyangka Hasyim Asy’ari, warga asal Kudus terpilih sebagai ketua KPU RI. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini berhasil wawancara dengan ibunya, Rusdah, di  Panjunan Wetan, Kota, Kudus. Dia mengaku susah tidur ketika anaknya ikut tes KPU RI. Bahkan terpaksa minum antimo.

GALIH ERLAMBANG W, Kudus, Radar Kudus

UNTUK menemukan rumah orang tua Hasyim Asy’ari, wartawan koran ini menyusuri gang yang hanya bisa dilalui dua kendaraan bermotor. Rumahnya berada di sebelah utara Masjid Jami’ Al Urwatil Wutsqo di RT 3/ RW III, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus.


Rumahnya cukup sederhana. Bangunnya masih era 80-an. Tidak bertingkat. Di pekarangannya terdapat tanaman berpot. Juga ada kolam lengkap dengan ikan koi. Menambah asri rumah itu.

Oleh masyarakat di situ dan keluarganya, Hasyim Asy’ari disapa Ayik. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Alamarhum ayahnya bernama Musthofa dan ibunya Rusdah, 74. Ayik dibesarkan dan dididik oleh orang tuanya dengan cara sederhana. Tidak jauh dari pendidikan pesantren.

Ayahnya dulu sengaja memberikan nama anaknya Hasyim Asy’ari. Sebab ingin mendapatkan berkah dan bisa melanjutkan perjuangan pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari.

Ibunya Rusdah bercerita panjang lebar tentang masa kecil anaknya. Hingga makanan kesuakaanya ketika pulang ke rumah.

Sejak SD hingga SMA Ayik, tidak hanya mengeyam pendidikan agama, tetapi juga sekolah umum. Meskipun begitu, kedua orang tuanya mewajibkan pria kelahiran Pati itu untuk mengikuti madrasah pada sore harinya.

Riwayat pendidikannya sejak SD bersokalah di SDN Panjunan, SMP 1 Kudus, dan SMA 1 Kudus. Sedangkan pesantren ia pernah mondok di Ponpes milik KH Arwani. Itu dijalani semenjak duduk di bangku SMP.  Dirinya menimba ilmu tentang Fasafah Alquran ketika puasa.

”Pas berangkat dari pondok menggunakan becak pakai sarung. Ketika SMP kan pakai celana pendek. Nanti setelah beberapa meter dari pondok sarung dilepas begitu pula pas balik dari sekolah. Itu bentuk menghargai,” katanya.

Selepas SMA dan menimba ilmu di bangku kuliah Ayik tetap menempa pendidikan pesantren. Karena itu bagian perintah almarhum bapaknya. Orang tuanya menganggap, ketika anak di pesantren bisa mendengarkan orang tadarus Alquran setiap hari. Sekaligus kumpul dengan orang-orang soleh.

Baca Juga :  Soesilo Toer Berobsesi Mengalahkan Pramoedya Ananta Toer

Dia mengambil jurusan ilmu hukum di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. Bapak tiga orang anak ini berlanjut mengambil studi magister sains bidang ilmu politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan rampung 1998.

Pada 2012, Hasyim meraih gelar doktoral di bidang sosiologi politik University of Malaya, Malaysia.

”Selama dia kuliah tetap mondok. Dulu pernah jadi santri di Ponpes Al-Hidayah Purwoketo,” terangnya.

Sosok ketua KPU yang memiliki Laporan Harta Kekayayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Rp 7,6 miliar per 2021 merupakan pria yang sederhana. Dulu, setiap kali diberi uang saku oleh orang tuanya nilainya pas-pasan. Ketika kuliah, dirinya juga menolak pemberian fasilitas sepeda motor dari almarhum ayahnya.

Rusdah mengungkapkan kesederhanaan Ayik juga terlihat pada menu makanan yang disukainya. Ketika pulang ke Kudus, ia minta dimasakkan pindang tempe dengan irisan blimbing keris. Menu lainnya, kotokan atau tumis tahu, dan kepala ikan manyung.

Kedua orang tuanya selalu berpesan kepadanya agar selalu bersyukur. Melihat sekelilingnya dengan pandangan ke bawah. Tidak ke atas. Karena nasib seseorang bisa sekolah saja harus disyukuri, ketimbang tidak bisa mengeyam pendidikan.

”Karena keterbatasan ekonomi itu mereka tidak bisa sekolah. Jadi kamu (Ayik, Red) harus bersyukur mampu sekolah dan bisa menyesuaikan dengan teman sekaligus masyarakat,” katanya.

Sosok anaknya itu, juga tergolong takdzim dengan orang tuanya. Tidak dipungkiri, kesuksesan anaknya itu, berkat iringan doa restu orang tuanya. Setiap kali hendak mengikuti tes seleksi KPU RI Ayik selalu minta ibunya mendoakannya.

Rasa tegang juga dialami oleh ibunya. Bahkan pada tes seleksi awal hingga akhir KPU RI, Rusdah mengaku susah tidur.

Alhamdulillah sekarang tidurnya sudah gampang. Sebelumnya (saat seleksi, Red) sampai minum antimo,” kenangnya.

Tidak lupa Rusdah tak henti-hentinya memberikan nasehat kepada Ayik. Pesan tersebut harus dipegang teguh. Ia meminta, Ayik untuk tekun beribadah dan selalu bertakwa kepada Allah SWT.

Selain itu, ibadah sunah salat malam harus dijalankan. Iringan doa ibunya terus mengalir kepada Ayik, tetapi kembali lagi segala keputusan adalah kehendak dari Allah SWT. (*/zen)

Tidak menyangka Hasyim Asy’ari, warga asal Kudus terpilih sebagai ketua KPU RI. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini berhasil wawancara dengan ibunya, Rusdah, di  Panjunan Wetan, Kota, Kudus. Dia mengaku susah tidur ketika anaknya ikut tes KPU RI. Bahkan terpaksa minum antimo.

GALIH ERLAMBANG W, Kudus, Radar Kudus

UNTUK menemukan rumah orang tua Hasyim Asy’ari, wartawan koran ini menyusuri gang yang hanya bisa dilalui dua kendaraan bermotor. Rumahnya berada di sebelah utara Masjid Jami’ Al Urwatil Wutsqo di RT 3/ RW III, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus.

Rumahnya cukup sederhana. Bangunnya masih era 80-an. Tidak bertingkat. Di pekarangannya terdapat tanaman berpot. Juga ada kolam lengkap dengan ikan koi. Menambah asri rumah itu.

Oleh masyarakat di situ dan keluarganya, Hasyim Asy’ari disapa Ayik. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Alamarhum ayahnya bernama Musthofa dan ibunya Rusdah, 74. Ayik dibesarkan dan dididik oleh orang tuanya dengan cara sederhana. Tidak jauh dari pendidikan pesantren.

Ayahnya dulu sengaja memberikan nama anaknya Hasyim Asy’ari. Sebab ingin mendapatkan berkah dan bisa melanjutkan perjuangan pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari.

Ibunya Rusdah bercerita panjang lebar tentang masa kecil anaknya. Hingga makanan kesuakaanya ketika pulang ke rumah.

Sejak SD hingga SMA Ayik, tidak hanya mengeyam pendidikan agama, tetapi juga sekolah umum. Meskipun begitu, kedua orang tuanya mewajibkan pria kelahiran Pati itu untuk mengikuti madrasah pada sore harinya.

Riwayat pendidikannya sejak SD bersokalah di SDN Panjunan, SMP 1 Kudus, dan SMA 1 Kudus. Sedangkan pesantren ia pernah mondok di Ponpes milik KH Arwani. Itu dijalani semenjak duduk di bangku SMP.  Dirinya menimba ilmu tentang Fasafah Alquran ketika puasa.

”Pas berangkat dari pondok menggunakan becak pakai sarung. Ketika SMP kan pakai celana pendek. Nanti setelah beberapa meter dari pondok sarung dilepas begitu pula pas balik dari sekolah. Itu bentuk menghargai,” katanya.

Selepas SMA dan menimba ilmu di bangku kuliah Ayik tetap menempa pendidikan pesantren. Karena itu bagian perintah almarhum bapaknya. Orang tuanya menganggap, ketika anak di pesantren bisa mendengarkan orang tadarus Alquran setiap hari. Sekaligus kumpul dengan orang-orang soleh.

Baca Juga :  Dikhususkan Bagi Difabel, Ada Pemijat di Bagian Punggung

Dia mengambil jurusan ilmu hukum di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. Bapak tiga orang anak ini berlanjut mengambil studi magister sains bidang ilmu politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan rampung 1998.

Pada 2012, Hasyim meraih gelar doktoral di bidang sosiologi politik University of Malaya, Malaysia.

”Selama dia kuliah tetap mondok. Dulu pernah jadi santri di Ponpes Al-Hidayah Purwoketo,” terangnya.

Sosok ketua KPU yang memiliki Laporan Harta Kekayayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Rp 7,6 miliar per 2021 merupakan pria yang sederhana. Dulu, setiap kali diberi uang saku oleh orang tuanya nilainya pas-pasan. Ketika kuliah, dirinya juga menolak pemberian fasilitas sepeda motor dari almarhum ayahnya.

Rusdah mengungkapkan kesederhanaan Ayik juga terlihat pada menu makanan yang disukainya. Ketika pulang ke Kudus, ia minta dimasakkan pindang tempe dengan irisan blimbing keris. Menu lainnya, kotokan atau tumis tahu, dan kepala ikan manyung.

Kedua orang tuanya selalu berpesan kepadanya agar selalu bersyukur. Melihat sekelilingnya dengan pandangan ke bawah. Tidak ke atas. Karena nasib seseorang bisa sekolah saja harus disyukuri, ketimbang tidak bisa mengeyam pendidikan.

”Karena keterbatasan ekonomi itu mereka tidak bisa sekolah. Jadi kamu (Ayik, Red) harus bersyukur mampu sekolah dan bisa menyesuaikan dengan teman sekaligus masyarakat,” katanya.

Sosok anaknya itu, juga tergolong takdzim dengan orang tuanya. Tidak dipungkiri, kesuksesan anaknya itu, berkat iringan doa restu orang tuanya. Setiap kali hendak mengikuti tes seleksi KPU RI Ayik selalu minta ibunya mendoakannya.

Rasa tegang juga dialami oleh ibunya. Bahkan pada tes seleksi awal hingga akhir KPU RI, Rusdah mengaku susah tidur.

Alhamdulillah sekarang tidurnya sudah gampang. Sebelumnya (saat seleksi, Red) sampai minum antimo,” kenangnya.

Tidak lupa Rusdah tak henti-hentinya memberikan nasehat kepada Ayik. Pesan tersebut harus dipegang teguh. Ia meminta, Ayik untuk tekun beribadah dan selalu bertakwa kepada Allah SWT.

Selain itu, ibadah sunah salat malam harus dijalankan. Iringan doa ibunya terus mengalir kepada Ayik, tetapi kembali lagi segala keputusan adalah kehendak dari Allah SWT. (*/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/