alexametrics
31.6 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Merasakan Kehidupan di Penjara pada Bulan Ramadan (1)

Di Penjara, yang Kristen Bertoleransi Ikut Puasa Ramadan

Hidup di penjara betul-betul tidak gampang. Segalanya serba terbatas. Namun, di bulan Ramadan ini, para penghuni Rumah Tahanan Kelas IIB Kudus tetap bisa menjalankan ibadah. Bahkan, yang tidak muslim pun ikut berpuasa karena toleransi. Berikut laporan wartawati Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udlma dan Arina Faela Saufa yang merasakan kehidupan di balik terali besi itu.

DI dalam sebuah kamar terlihat tiga perempuan muda bercengkerama. Perhatiannya tersita ketika melihat dua perempuan diantar petugas rutan berhenti di depan selnya. Sorot matanya kelihatan berbinar. Mereka tersenyum dan saling sikut ketika petugas tersebut membuka pintu.

Mereka mengulurkan tangan. Senyumnya semakin mengembang. Kelihatan ramah sekali. Sama sekali tak ada kesan mereka adalah penjahat. Sore menjelang Maghrib itu, mereka segera mendapat dua teman baru. Betul. Dua perempuan yang diantar petugas akan menghuni sel bersama mereka.


Tiga di antara 146 penghuni rutan tersebut tak tahu kalau dua perempuan yang baru masuk ke selnya adalah dua wartawati koran ini. Noor Syafatul Udhma dan Arina Faila Saufa, tidak memperlihatkan diri sebagai wartawan. Mereka akan menghuni sel itu sebagaimana yang lain. Makan, tidur, mandi di sel itu, serta melakukan segala kegiatan yang diwajibkan di rutan

Nyaris tepat pukul 17.00, wartawan koran ini memasuki gerbang rutan. Kelihatannya memang angker. Pintunya kokoh setinggi tiga meter. Di balik pintu ada penjaganya. Petugas langsung memeriksa secara detail barang bawaan. Mereka memastikan isi tas hanya buku, bolpoin, dan pakaian, seperti yang dilaporkan pemiliknya.

Handphone (HP) dan kamera yang dibawa wartawan koran ini harus dititipkan ke petugas. Kata petugas itu, rutan Kudus harus bebas dari HP, pungli, dan narkoba atau disingkat halinar. Bahkan, Rutan Kudus menjadi percontohan bagi rutan lain di Jateng. Malamnya juga ada pemeriksaan di setiap sel. Dan memang tidak ditemukan barang-barang tersebut.

Sesaat setelah semuanya aman, dua petugas lantas menggiring wartawan koran ini ke blok wanita. Mereka didampingi Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR) Sholihin. Sebelumnya, wartawan koran ini telah mendapat izin dari Kepala Rutan Masjuno .

Bangunan blok perempuan berbeda dengan bangunan yang dihuni pesakitan laki-laki. Blok wanita berupa bangunan yang rapat. Sel dikelilingi tembok setinggi enam meter dengan penjagaan ketat. Tidak ada taman atau pemandangan lain. Setiap mata memandang yang terlihat hanya tembok. Bahkan ketika melihat ke luar lewat pintu jeruji besi sekalipun. ”Awalnya memang menyeramkan,’’ kata Noor Syafaatul Udhma yang biasa disapa Mala.

Satu-satunya lubang angin hanyalah pintu jerujii besi tersebut. Tetapi, di depannya juga tembok. Untuk bisa mendapatkan udara bebas, para penghuni disediai waktu pukul 06.30-09.00 dan pukul 16.00-17.00. Saat itu pintu sel dibuka. Mereka harus keluar sel untuk melakukan aktivitas lain.

Blok wanita itu berbeda dengan sel laki-laki yang ada tamannya. Bahkan penghuni laki-laki bisa melihat aula yang ada di tengah-tengah blok. Mereka bisa mendapatkan udara bebas yang berhembus dari taman. Sore itu, semua penghuni laki-laki juga berada di selnya. Semua menunggu saat berbuka puasa.

Kamar di blok perempuan berukuran 4×4. Kalau saat itu hanya dihuni tiga orang, masih cukup lega. Bahkan ketika penghuninya menjadi lima pun tidak sesak. Masih manusiawi. Di dalam kamar itu terdapat tempat tidur yang terbuat dari semen setinggi pinggang orang dewasa. Memanjang dari barat ke timur. Bagian atasnya dilapisi kasur tipis untuk tidur. Kesannya seperti di kos-kosan.

Di ujung barat terdapat lemari tempat penyimpanan baju dengan penutup kain yang untuk membukanya tinggal menyingkap ke kanan atau kiri. Di atas lemari setinggi pinggang orang dewasa itu, terdapat segala macam perlengkapan mereka. Mulai dari piring, gelas, sendok, buku tulis, hingga termos.

Sedangkan di ujung timur, ada kamar mandi dengan bak terbuka untuk buang air. Kamar mandi setinggi dada orang dewasa tersebut terdapat 10 ember berukuran sedang untuk menyimpan air. Terdapat pula satu padasan untuk berwudu serta dua ember kosong tempat mencuci baju. Sedangkan di tengah bagian kiri ruangan terdapat tempat kosong untuk tempat makan dan bercengkerama.

Wartawan koran ini merasakan, ruangan tersebut pengap dan panas. Meski demikian, tiga perempuan yang menghuni sel itu sejak beberapa bulan sebelumnya tidak terlihat kegerahan.

Mereka adalah PT, 25, LV, 20, dan RN, 35. Mereka terjerat kasus yang sama, yaitu buntut telu atau pasal 378 alias kasus penipuan. Meski kasusnya sama, namun masa tahanan mereka berbeda.

PT masuk penjara karena meminjam motor tapi tak dikembalikan. Katanya sih hanya tiga hari. Tapi, itu bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya dia pernah masuk penjara juga karena kasus yang sama. RN, yang paling tua, adalah pebisnis emas. Dia menipu pembelinya dengan alasan rugi. Sebagai pebisnis emas, dia kelihatan lebih berada. Pakaiannya modis. Sehari bisa ganti pakaian empat kali.

Sedangkan LV masuk penjara karena menipu banyak orang dengan menyaru sebagai polwan. Ceritanya, pernah berkeinginan kuat untuk menjadi penegak hukum. Tetapi ketika tes, dia gagal. Dia pun berlagak seperti polisi dengan pakaian lengkap. Banyak orang tepedaya. Tapi, akhirnya dia kena batunya.

Baca Juga :  Pemkab Kudus Mulai Perbaiki Jalan Alternatif Jelang Mudik Lebaran

Ketika terdengar suara adzan dari musala rutan, PT dan LV segera membuka kotak makanan berwarna hijau yang berisi sego cadong, atau sego dis. Ada pula yang mengatakan sego jatah. Semua kata itu memiliki arti yang sama, yaitu nasi dengan lauk dan sayur yang disediakan rutan.

Dulu, untuk makan para napi harus antre. Mereka menyodorkan piring (nyadong) ke petugas. Nasinya diciduk oleh petugas itu. Karena itu disebut sego cadong. Sekarang lebih maju. Nasi sudah dimasukkan tepak seperti yang dibawa oleh sebagian karyawan perempuan ke kantor atau anak-anak ke sekolah.

Wartawan koran ini mendapat jatah tepak berwarna hijau tersebut. Isinya sama. Nasi dengan lauk ikan muniran dan sayur bening. PT dan LV kelihatan lahap. Tak ada komentar mengenai makanan itu. Wartawan koran ini merasakan menunya cukup enak. Mungkin karena tidak ada yang lain.

Menu tersebut tidak dipesan dari luar penjara, melainkan dimasak para napi sendiri sejak pukul 15.00. Yang masak pun napi laki-laki. Makanan itu dibagikan ke sel pukul 17.00. Sedangkan untuk sahur disediakan pukul 02.00.

RN yang beragama kristen mendapat jatah makanan yang sama. Dia turut menyantap makanan saat berbuka. Dia tidak mau makan terlebih dahulu meskipun dua temannya sudah mempersilakan sejak makanan dimasukkan ke sel. RN menghormati dua temannya yang saat itu berpuasa. Mereka saling menghormati. ”Lebih nikmat kita makan bersama-sama,’’ katanya.

Rutan telah berhasil menanamkan nilai-nilai baru bagi kehidupan mereka. Mereka saling bantu, saling bertoleransi. Mereka saling meminjam dan memberi. Mereka juga curhat masalah pribadi. Malah kadang-kadang RN turut berpuasa dan berbuka bersama. Tak jarang dia mencuci piring temannya yang habis dipakai berbuka. Begitu sebaliknya.

Selesai berbuka, wartawan koran ini berwudu di kamar mandi terbuka secara bergantian. LV dan PT menyusul. Salat pun harus bergantian karena luas kamar yang tidak memadai. Terlihat LV khusyuk dalam menjalankan salatnya. Berdoanya pun cukup lama. Dia juga melanjutkan dengan salat sunnah. ”Sekarang setiap habis salat fardu saya salat sunnah,’’ katanya.

Para tahanan laki-laki juga salat di sel masing-masing. Mereka juga berbuka puasa di sana. Meski jumlah mereka banyak, tak terdengar ada keributan. Maghrib itu suasananya sangat tenang. Itu berlangsung sampai saatnya salat Isyak.

Usai salat Maghrib, PT, LV, RN ditambah wartawan koran ini melanjutkan obrolan di atas tempat tidur. Mereka terbuka sekali. LV menceritakan hubungannya dengan beberapa napi lelaki. Ada satu yang diincar untuk dijadikan kekasih. ”Kalau berkomunikasi ya lewat surat,’’ ujarnya. Surat biasanya dititipkan pada napi laki-laki yang bertugas mengantar makanan.

Bagi LV, yang harus menjalani hukuman satu tahun, surat cinta menjadi hiburan yang sangat mengasikkan. Maklumlah menonton TV juga terbatas. Dia harus ke lorong untuk menonton TV bersama-sama. Sedangkan di kamar hanya ada radio yang dibawa oleh PT.

Di sel laki-laki, televisi lebih bisa dinikmati. Ada tujuh TV yang dipasang di depan sel. Para penghuni bisa menikmatinya di teras sambil merasakan segarnya udara. Di sana sering terdengar tawa dan senda gurau manakala acara TV sedang seru. Sayang wartawan koran ini tidak bisa bergabung dengan mereka dengan alasan ketertiban dan keamanan.

LV blak-blakan, surat cintanya dikirim kepada CT, salah satu napi yang bekerja di bagian dapur. Tidak setiap hari juga bisa berkirim surat mengingat waktu pengiriman yang tidak menentu. Terkadang surat dikirim hari Sabtu dan seminggu lagi baru mendapat balasan. Baginya, itu tidak masalah. Rindu justru memberikan getaran berbeda bagi hubungan mereka.

Biasanya surat LV berisi tentang keadaan masing-masing di dalam penjara, motivasi, kata romantis, dan semangat. Surat itu ditulis rapi di atas kertas Sinar Dunia. Lipannya menarik seperti surat-surat anak SMP/SMA. Ada yang berbentuk segi panjang, segi lima, dan kotak. Setiap surat dia simpan rapi di dalam lemari tepat di bawah bajunya yang paling bawah. Dengan telaten diurutkan sesuai dengan tanggal diterima. Hal itu memudahkan LV untuk membacanya kembali.

Pernah suatu kali LV ketahuan oleh petugas saat mengirimkan surat cintanya. Petugas langsung meminta surat tersebut. Tidak disobek atau dirampas. Petugas keamanan justru membacanya dan membiarkan surat tersebut sampai kepada pemiliknya. Namun LV kerap ketakutan jika suratnya ketahuan petugas. “Pernah disuruh membuat surat pernyataan keamanan, tetapi tidak dimarahi,” ungkapnya.

Petugas tidak mempermasalahkan surat tersebut dengan catatan tidak ada unsur kejahatan. Bahkan tidak memberikan sanksi kepada narapidana. “Kami memberikan toleransi dengan beberapa catatan. Yang pasti kami sudah melihat isinya dan memang surat cinta,” ungkap Sholihin.

Sudah setengah tahun dia menjalani hukumannya. Itu membuatnya berubah. Dia mulai rajin salat fardu. Bahkan setiap pukul 03.00 dini hari, dia melakukan ritual rutin salat tahajud dan hajat. Baginya penjara membuatnya mengerti arti sebuah kejujuran.

Bulan Ramadan ini, LV semakin rajin mendekatkan diri pada Tuhan. Demikian juga RN dan PT. Ramadan betul-betul membawa berkah. Di penjara tetap ada cinta, kebersamaan, kedamaian, dan toleransi. Di sana juga ada Tuhan. Semoga mereka menjadi lebih bertaqwa. Itulah esensi Ramadan. (*/bersambung)

Hidup di penjara betul-betul tidak gampang. Segalanya serba terbatas. Namun, di bulan Ramadan ini, para penghuni Rumah Tahanan Kelas IIB Kudus tetap bisa menjalankan ibadah. Bahkan, yang tidak muslim pun ikut berpuasa karena toleransi. Berikut laporan wartawati Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udlma dan Arina Faela Saufa yang merasakan kehidupan di balik terali besi itu.

DI dalam sebuah kamar terlihat tiga perempuan muda bercengkerama. Perhatiannya tersita ketika melihat dua perempuan diantar petugas rutan berhenti di depan selnya. Sorot matanya kelihatan berbinar. Mereka tersenyum dan saling sikut ketika petugas tersebut membuka pintu.

Mereka mengulurkan tangan. Senyumnya semakin mengembang. Kelihatan ramah sekali. Sama sekali tak ada kesan mereka adalah penjahat. Sore menjelang Maghrib itu, mereka segera mendapat dua teman baru. Betul. Dua perempuan yang diantar petugas akan menghuni sel bersama mereka.

Tiga di antara 146 penghuni rutan tersebut tak tahu kalau dua perempuan yang baru masuk ke selnya adalah dua wartawati koran ini. Noor Syafatul Udhma dan Arina Faila Saufa, tidak memperlihatkan diri sebagai wartawan. Mereka akan menghuni sel itu sebagaimana yang lain. Makan, tidur, mandi di sel itu, serta melakukan segala kegiatan yang diwajibkan di rutan

Nyaris tepat pukul 17.00, wartawan koran ini memasuki gerbang rutan. Kelihatannya memang angker. Pintunya kokoh setinggi tiga meter. Di balik pintu ada penjaganya. Petugas langsung memeriksa secara detail barang bawaan. Mereka memastikan isi tas hanya buku, bolpoin, dan pakaian, seperti yang dilaporkan pemiliknya.

Handphone (HP) dan kamera yang dibawa wartawan koran ini harus dititipkan ke petugas. Kata petugas itu, rutan Kudus harus bebas dari HP, pungli, dan narkoba atau disingkat halinar. Bahkan, Rutan Kudus menjadi percontohan bagi rutan lain di Jateng. Malamnya juga ada pemeriksaan di setiap sel. Dan memang tidak ditemukan barang-barang tersebut.

Sesaat setelah semuanya aman, dua petugas lantas menggiring wartawan koran ini ke blok wanita. Mereka didampingi Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR) Sholihin. Sebelumnya, wartawan koran ini telah mendapat izin dari Kepala Rutan Masjuno .

Bangunan blok perempuan berbeda dengan bangunan yang dihuni pesakitan laki-laki. Blok wanita berupa bangunan yang rapat. Sel dikelilingi tembok setinggi enam meter dengan penjagaan ketat. Tidak ada taman atau pemandangan lain. Setiap mata memandang yang terlihat hanya tembok. Bahkan ketika melihat ke luar lewat pintu jeruji besi sekalipun. ”Awalnya memang menyeramkan,’’ kata Noor Syafaatul Udhma yang biasa disapa Mala.

Satu-satunya lubang angin hanyalah pintu jerujii besi tersebut. Tetapi, di depannya juga tembok. Untuk bisa mendapatkan udara bebas, para penghuni disediai waktu pukul 06.30-09.00 dan pukul 16.00-17.00. Saat itu pintu sel dibuka. Mereka harus keluar sel untuk melakukan aktivitas lain.

Blok wanita itu berbeda dengan sel laki-laki yang ada tamannya. Bahkan penghuni laki-laki bisa melihat aula yang ada di tengah-tengah blok. Mereka bisa mendapatkan udara bebas yang berhembus dari taman. Sore itu, semua penghuni laki-laki juga berada di selnya. Semua menunggu saat berbuka puasa.

Kamar di blok perempuan berukuran 4×4. Kalau saat itu hanya dihuni tiga orang, masih cukup lega. Bahkan ketika penghuninya menjadi lima pun tidak sesak. Masih manusiawi. Di dalam kamar itu terdapat tempat tidur yang terbuat dari semen setinggi pinggang orang dewasa. Memanjang dari barat ke timur. Bagian atasnya dilapisi kasur tipis untuk tidur. Kesannya seperti di kos-kosan.

Di ujung barat terdapat lemari tempat penyimpanan baju dengan penutup kain yang untuk membukanya tinggal menyingkap ke kanan atau kiri. Di atas lemari setinggi pinggang orang dewasa itu, terdapat segala macam perlengkapan mereka. Mulai dari piring, gelas, sendok, buku tulis, hingga termos.

Sedangkan di ujung timur, ada kamar mandi dengan bak terbuka untuk buang air. Kamar mandi setinggi dada orang dewasa tersebut terdapat 10 ember berukuran sedang untuk menyimpan air. Terdapat pula satu padasan untuk berwudu serta dua ember kosong tempat mencuci baju. Sedangkan di tengah bagian kiri ruangan terdapat tempat kosong untuk tempat makan dan bercengkerama.

Wartawan koran ini merasakan, ruangan tersebut pengap dan panas. Meski demikian, tiga perempuan yang menghuni sel itu sejak beberapa bulan sebelumnya tidak terlihat kegerahan.

Mereka adalah PT, 25, LV, 20, dan RN, 35. Mereka terjerat kasus yang sama, yaitu buntut telu atau pasal 378 alias kasus penipuan. Meski kasusnya sama, namun masa tahanan mereka berbeda.

PT masuk penjara karena meminjam motor tapi tak dikembalikan. Katanya sih hanya tiga hari. Tapi, itu bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya dia pernah masuk penjara juga karena kasus yang sama. RN, yang paling tua, adalah pebisnis emas. Dia menipu pembelinya dengan alasan rugi. Sebagai pebisnis emas, dia kelihatan lebih berada. Pakaiannya modis. Sehari bisa ganti pakaian empat kali.

Sedangkan LV masuk penjara karena menipu banyak orang dengan menyaru sebagai polwan. Ceritanya, pernah berkeinginan kuat untuk menjadi penegak hukum. Tetapi ketika tes, dia gagal. Dia pun berlagak seperti polisi dengan pakaian lengkap. Banyak orang tepedaya. Tapi, akhirnya dia kena batunya.

Baca Juga :  Ada Air Suci untuk Pembaptisan

Ketika terdengar suara adzan dari musala rutan, PT dan LV segera membuka kotak makanan berwarna hijau yang berisi sego cadong, atau sego dis. Ada pula yang mengatakan sego jatah. Semua kata itu memiliki arti yang sama, yaitu nasi dengan lauk dan sayur yang disediakan rutan.

Dulu, untuk makan para napi harus antre. Mereka menyodorkan piring (nyadong) ke petugas. Nasinya diciduk oleh petugas itu. Karena itu disebut sego cadong. Sekarang lebih maju. Nasi sudah dimasukkan tepak seperti yang dibawa oleh sebagian karyawan perempuan ke kantor atau anak-anak ke sekolah.

Wartawan koran ini mendapat jatah tepak berwarna hijau tersebut. Isinya sama. Nasi dengan lauk ikan muniran dan sayur bening. PT dan LV kelihatan lahap. Tak ada komentar mengenai makanan itu. Wartawan koran ini merasakan menunya cukup enak. Mungkin karena tidak ada yang lain.

Menu tersebut tidak dipesan dari luar penjara, melainkan dimasak para napi sendiri sejak pukul 15.00. Yang masak pun napi laki-laki. Makanan itu dibagikan ke sel pukul 17.00. Sedangkan untuk sahur disediakan pukul 02.00.

RN yang beragama kristen mendapat jatah makanan yang sama. Dia turut menyantap makanan saat berbuka. Dia tidak mau makan terlebih dahulu meskipun dua temannya sudah mempersilakan sejak makanan dimasukkan ke sel. RN menghormati dua temannya yang saat itu berpuasa. Mereka saling menghormati. ”Lebih nikmat kita makan bersama-sama,’’ katanya.

Rutan telah berhasil menanamkan nilai-nilai baru bagi kehidupan mereka. Mereka saling bantu, saling bertoleransi. Mereka saling meminjam dan memberi. Mereka juga curhat masalah pribadi. Malah kadang-kadang RN turut berpuasa dan berbuka bersama. Tak jarang dia mencuci piring temannya yang habis dipakai berbuka. Begitu sebaliknya.

Selesai berbuka, wartawan koran ini berwudu di kamar mandi terbuka secara bergantian. LV dan PT menyusul. Salat pun harus bergantian karena luas kamar yang tidak memadai. Terlihat LV khusyuk dalam menjalankan salatnya. Berdoanya pun cukup lama. Dia juga melanjutkan dengan salat sunnah. ”Sekarang setiap habis salat fardu saya salat sunnah,’’ katanya.

Para tahanan laki-laki juga salat di sel masing-masing. Mereka juga berbuka puasa di sana. Meski jumlah mereka banyak, tak terdengar ada keributan. Maghrib itu suasananya sangat tenang. Itu berlangsung sampai saatnya salat Isyak.

Usai salat Maghrib, PT, LV, RN ditambah wartawan koran ini melanjutkan obrolan di atas tempat tidur. Mereka terbuka sekali. LV menceritakan hubungannya dengan beberapa napi lelaki. Ada satu yang diincar untuk dijadikan kekasih. ”Kalau berkomunikasi ya lewat surat,’’ ujarnya. Surat biasanya dititipkan pada napi laki-laki yang bertugas mengantar makanan.

Bagi LV, yang harus menjalani hukuman satu tahun, surat cinta menjadi hiburan yang sangat mengasikkan. Maklumlah menonton TV juga terbatas. Dia harus ke lorong untuk menonton TV bersama-sama. Sedangkan di kamar hanya ada radio yang dibawa oleh PT.

Di sel laki-laki, televisi lebih bisa dinikmati. Ada tujuh TV yang dipasang di depan sel. Para penghuni bisa menikmatinya di teras sambil merasakan segarnya udara. Di sana sering terdengar tawa dan senda gurau manakala acara TV sedang seru. Sayang wartawan koran ini tidak bisa bergabung dengan mereka dengan alasan ketertiban dan keamanan.

LV blak-blakan, surat cintanya dikirim kepada CT, salah satu napi yang bekerja di bagian dapur. Tidak setiap hari juga bisa berkirim surat mengingat waktu pengiriman yang tidak menentu. Terkadang surat dikirim hari Sabtu dan seminggu lagi baru mendapat balasan. Baginya, itu tidak masalah. Rindu justru memberikan getaran berbeda bagi hubungan mereka.

Biasanya surat LV berisi tentang keadaan masing-masing di dalam penjara, motivasi, kata romantis, dan semangat. Surat itu ditulis rapi di atas kertas Sinar Dunia. Lipannya menarik seperti surat-surat anak SMP/SMA. Ada yang berbentuk segi panjang, segi lima, dan kotak. Setiap surat dia simpan rapi di dalam lemari tepat di bawah bajunya yang paling bawah. Dengan telaten diurutkan sesuai dengan tanggal diterima. Hal itu memudahkan LV untuk membacanya kembali.

Pernah suatu kali LV ketahuan oleh petugas saat mengirimkan surat cintanya. Petugas langsung meminta surat tersebut. Tidak disobek atau dirampas. Petugas keamanan justru membacanya dan membiarkan surat tersebut sampai kepada pemiliknya. Namun LV kerap ketakutan jika suratnya ketahuan petugas. “Pernah disuruh membuat surat pernyataan keamanan, tetapi tidak dimarahi,” ungkapnya.

Petugas tidak mempermasalahkan surat tersebut dengan catatan tidak ada unsur kejahatan. Bahkan tidak memberikan sanksi kepada narapidana. “Kami memberikan toleransi dengan beberapa catatan. Yang pasti kami sudah melihat isinya dan memang surat cinta,” ungkap Sholihin.

Sudah setengah tahun dia menjalani hukumannya. Itu membuatnya berubah. Dia mulai rajin salat fardu. Bahkan setiap pukul 03.00 dini hari, dia melakukan ritual rutin salat tahajud dan hajat. Baginya penjara membuatnya mengerti arti sebuah kejujuran.

Bulan Ramadan ini, LV semakin rajin mendekatkan diri pada Tuhan. Demikian juga RN dan PT. Ramadan betul-betul membawa berkah. Di penjara tetap ada cinta, kebersamaan, kedamaian, dan toleransi. Di sana juga ada Tuhan. Semoga mereka menjadi lebih bertaqwa. Itulah esensi Ramadan. (*/bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/