alexametrics
29.5 C
Kudus
Wednesday, June 29, 2022

Sudah Langka, Sudah Jarang yang Runtut

Tedak siten, “melangkah di bumi” atau turun tanah, adalah tradisi mendoakan  bayi agar sukses di hari kelak. Selain praktiknya yang sudah jarang, tidak banyak orang yang melaksanakan tedak siten dengan cara yang runtut. Meski begitu, tedak siten selalu mendapat perhatian dari masyarakat.

NIBROS HASSANI, Jepara, Radar Kudus

PAGI itu sekitar pukul 11, halaman rumah Miftahul Faizin ramai. Orang-orang berjejer duduk. Di halaman rumah Miftahul Faizin—akrab disapa Faiz, sedang ada acara tedak siten. Tampak ada jadah warna warni atas piring, sangkar ayam besar, tangga dari tebu, dan beberapa mainan anak kecil. Warga tampak antusias melihatnya.


Ini bukan kali pertama bagi Faiz untuk menyelenggarakan tedak siten. Sebelumnya, anak pertamanya juga merayakan ini. Sekarang anak keduanya Ayra Shirly Sailla melaksanakan hal serupa. Tepat pada masa anaknya sudah mulai bisa berjalan.

MENJEJAK: Ayah dan Ibu melangkah di atas ketan berwarna secara bertahap, memiliki makna masing masing. (RUBIKAN FOR RADAR KUDUS)

Bagi Faiz, tradisi ini penting. Ini adalah salah satu cara mendoakan anaknya agar berhasil di masa depan. Juga bentuk pengungkapan syukur atas kelahiran anaknya. Menurut Faiz, sudah tidak banyak yang melakukan ini. “Kalau ada yang nyelenggarakan kebanyakan tidak urut (prosesinya),” jelas Faiz.

Ia bahkan membentuk kepanitiaan sendiri yang dibantu oleh hansip dan polres setempat. Agar tidak rusuh saat pembagian uang atau koin nanti.

Betul, salah satu yang menarik perhatian masyarakat adalah pembagian koin itu. Masyarakat berani berdesak-desakan demi koin yang akan disebarkan pada prosesi akhir tedak siten.

Sebelumnya, ada beberapa tahap yang dilakukan. Masing-masing memiliki arti sendiri.

Baca Juga :  Aktor Film Pendek Muhamad Iqbal: Dilirik Media Mainstream Nasional

Dimulai dari berdoa dan memohon restu atau doa dari orang tua. Selanjutnya, bayi akan digiring dipandu berjalan di atas jenang atau jadah dengan warna yang beraneka. Ada tujuh warna: Merah, Hitam, Kuning, Putih, Hijau, Biru, Ungu. Warna-warna ini memiliki arti yang berbeda. Warna-warna ini berarti anak harus bisa mengatasi beragam masalah yang ada dalam hidup.

DANDAN: Setelah berganti baju, dalam proses tedak siten bayi juga bisa didandani. (RUBIKAN FOR RADAR KUDUS)

Selanjutnya, prosesi naik tangga dari tebu. Tebu dipilih karena melambangkan sumber rasa manis atau kebahagiaan. Ada harapan bahwa anak akan bersikap seperti Arjuna dalam menyikapi hidup. Arjuna: lambang manusia dunia. Anak lalu dibawa ke tumpukan pasir. Tujuannya untuk menceker pasir tersebut atau bermain pasir dengan dua kaki. Tahap ini bermakna bekerja di masa depan untuk memenuhi kebutuhannya.

Berikutnya, anak diajak masuk ke dalam sangkar ayam. Didalamnya sudah ada beberapa barang. Barang-barang tersebut adalah simbol profesi yang menjadi semacam penuntun bagi bayi dalam memilih pekerjaan nanti.

Kemudian ada Siraman atau mandi. Pada tahap ini anak dimandikan dengan air yang bercampur dengan bunga-bunga pilihan. Ada mawar, melati, kanthil, dan kenanga. Berikutnya anak diberikan baju baru: maknanya dalam menghadapi perubahan hidup harus siap berjalan di tengah diri mereka sendiri

Selepas itu anak diberikan mahkota janur. Harapannya semoga selalu mendapat cahaya sejati dari Tuhan Yang Maha Esa.

Faiz mengatakan, untuk pembagian koin atau uang ia lakukan pada tahap terakhir. Kata Faiz, harapannya sang anak bisa terus berbagi meski diberikan harta yang berlimpah. (*/him)

Tedak siten, “melangkah di bumi” atau turun tanah, adalah tradisi mendoakan  bayi agar sukses di hari kelak. Selain praktiknya yang sudah jarang, tidak banyak orang yang melaksanakan tedak siten dengan cara yang runtut. Meski begitu, tedak siten selalu mendapat perhatian dari masyarakat.

NIBROS HASSANI, Jepara, Radar Kudus

PAGI itu sekitar pukul 11, halaman rumah Miftahul Faizin ramai. Orang-orang berjejer duduk. Di halaman rumah Miftahul Faizin—akrab disapa Faiz, sedang ada acara tedak siten. Tampak ada jadah warna warni atas piring, sangkar ayam besar, tangga dari tebu, dan beberapa mainan anak kecil. Warga tampak antusias melihatnya.

Ini bukan kali pertama bagi Faiz untuk menyelenggarakan tedak siten. Sebelumnya, anak pertamanya juga merayakan ini. Sekarang anak keduanya Ayra Shirly Sailla melaksanakan hal serupa. Tepat pada masa anaknya sudah mulai bisa berjalan.

MENJEJAK: Ayah dan Ibu melangkah di atas ketan berwarna secara bertahap, memiliki makna masing masing. (RUBIKAN FOR RADAR KUDUS)

Bagi Faiz, tradisi ini penting. Ini adalah salah satu cara mendoakan anaknya agar berhasil di masa depan. Juga bentuk pengungkapan syukur atas kelahiran anaknya. Menurut Faiz, sudah tidak banyak yang melakukan ini. “Kalau ada yang nyelenggarakan kebanyakan tidak urut (prosesinya),” jelas Faiz.

Ia bahkan membentuk kepanitiaan sendiri yang dibantu oleh hansip dan polres setempat. Agar tidak rusuh saat pembagian uang atau koin nanti.

Betul, salah satu yang menarik perhatian masyarakat adalah pembagian koin itu. Masyarakat berani berdesak-desakan demi koin yang akan disebarkan pada prosesi akhir tedak siten.

Sebelumnya, ada beberapa tahap yang dilakukan. Masing-masing memiliki arti sendiri.

Baca Juga :  UMKM Mitra Binaan TJSL PLN UIK Tanjung Jati B Panen Madu

Dimulai dari berdoa dan memohon restu atau doa dari orang tua. Selanjutnya, bayi akan digiring dipandu berjalan di atas jenang atau jadah dengan warna yang beraneka. Ada tujuh warna: Merah, Hitam, Kuning, Putih, Hijau, Biru, Ungu. Warna-warna ini memiliki arti yang berbeda. Warna-warna ini berarti anak harus bisa mengatasi beragam masalah yang ada dalam hidup.

DANDAN: Setelah berganti baju, dalam proses tedak siten bayi juga bisa didandani. (RUBIKAN FOR RADAR KUDUS)

Selanjutnya, prosesi naik tangga dari tebu. Tebu dipilih karena melambangkan sumber rasa manis atau kebahagiaan. Ada harapan bahwa anak akan bersikap seperti Arjuna dalam menyikapi hidup. Arjuna: lambang manusia dunia. Anak lalu dibawa ke tumpukan pasir. Tujuannya untuk menceker pasir tersebut atau bermain pasir dengan dua kaki. Tahap ini bermakna bekerja di masa depan untuk memenuhi kebutuhannya.

Berikutnya, anak diajak masuk ke dalam sangkar ayam. Didalamnya sudah ada beberapa barang. Barang-barang tersebut adalah simbol profesi yang menjadi semacam penuntun bagi bayi dalam memilih pekerjaan nanti.

Kemudian ada Siraman atau mandi. Pada tahap ini anak dimandikan dengan air yang bercampur dengan bunga-bunga pilihan. Ada mawar, melati, kanthil, dan kenanga. Berikutnya anak diberikan baju baru: maknanya dalam menghadapi perubahan hidup harus siap berjalan di tengah diri mereka sendiri

Selepas itu anak diberikan mahkota janur. Harapannya semoga selalu mendapat cahaya sejati dari Tuhan Yang Maha Esa.

Faiz mengatakan, untuk pembagian koin atau uang ia lakukan pada tahap terakhir. Kata Faiz, harapannya sang anak bisa terus berbagi meski diberikan harta yang berlimpah. (*/him)

Most Read

Artikel Terbaru

/