alexametrics
25.9 C
Kudus
Wednesday, May 25, 2022

Mempertahankan Kerajinan Monel, Kalinyamatan, Jepara

Lapisi Emas untuk Menarik Pembeli

Di tengah gempuran model-model aksesori, kerajinan monel Jepara tetap bertahan hingga sekarang. Di antara inovasi, beberapa perajin mencampur monel dengan emas. Peminatnya dari dalam dan luar negeri.

NIBROS HASSANI, Radar Kudus

PEMUDA itu menyelupkan sepaket besi yang beraneka bentuk ke dalam sebuah cairan. Ia lalu membawa tabung kaca berdiameter 15 sentimeter. Di bawahnya tabung kaca itu ada kompor kecil. Tabung itu berisikan cairan dengan campuran emas. Berkali-kali pemuda itu mencelup sepaket besi tadi ke tabung tersebut. Dari berwarna perak, besi itu berubah menjadi kuning.


Besi-besi tadi beraneka bentuk. Ada yang membentuk ukiran nama, ada pula yang melingkar dengan ukiran khusus. Besi-besi berbentuk itu dikaitkan ke dalam satu pengail. Untuk memudahkan penyepuh mengangkat besi.

Secara umum, ada tiga tahap dalam produksi kerajinan monel ini. Pertama, di tahap perajin. Pada tahap ini monel dibentuk sesuai pesanan. Selanjutnya, monel diwarnai dengan cara disepuh pada tahap dua. Setelah rapi dengan warna yang sudah jadi, monel akan dikirim langsung ke reseller atau showroom.

DETAIL: Monel dalam proses pewarnaan sesuai permintaan pelanggan, setelah dilapisi emas. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Andi, salah satu perajin monel di Kriyan mengaku sering kedapatan pesanan monel berbentuk ukiran nama. Kata Andi, monel dengan bentuk itu sedang banyak peminat. Di daerahnya, ada yang sempat menjual hingga ke Malaysia.

Ia kini membuka pemesanan daring secara terbatas. Peminatnya bisa berasal dari berbagai daerah. Menurutnya, wisatawan yang berkunjung ke Jepara kini tidak perlu pusing saat hendak memilih oleh-oleh. Kerajinan monel ini bisa dijadikan opsi buah tangan.

Secara terpisah, wartawan menemui pemilik showroom Seni Sakti Monel di Kriyan. Abdur Rohim, di umurnya yang berusia lanjut itu, masih tegap berdiri di belakang etalase. Menemani karyawan-karyawannya.

Baca Juga :  Dikala Dokter Spesialis Obstetri jadi Sahabat Ibu Hamil

Di usianya yang 70, Abdur Rohim bercerita mengenai perkembangan kerajinan monel di Kriyan. Meski pendengarannya yang sudah terbatas. Wartawan perlu berulangkali mengajukan pertanyaan, ia tetap semangat menjawab dan bercerita.

“Umur showroom ini lebih tua daripada kamu,” celetuk pemilik berjenggot putih itu kepada wartawan.

Ia lalu menceritakan kondisi sejak 1989 saat showroom itu ada. ”Awalnya coba-coba, saat itu juga ada tawaran pembangunan plang dari Pemerintah Kabupaten (di depan jalan) akhirnya monel dikenal,” ungkapnya.

Ia mengingat ketika zaman dulu kerajinan monel  sangat diminati. “Belum ada yang menyaingi,” jelasnya.

Ia bercerita, di era 90-an hingga sekitar 2000-an kerajinan monel masih banyak memiliki penggemar. Kemudian pada tahun 2016 pasar monel anjlok. Alasannya, saingan aksesori dari luar mulai banyak.

Pada waktu itu, beberapa karyawannya beralih profesi. Saat ini ia hanya memasok barang dan menyediakan pesanan.

Dalam sebulan, ia rata-rata menjual 100 potong aksesori. Kalau banyak pesanan bisa lebih. Ia juga menerima pesanan daring. Nantinya pesanan itu dikemas dan dikirim melalui paket.

Ada yang pernah memesan dari Rusia dan Amerika. Ditolaknya karena tidak sanggup memenuhi pesanan. Meski begitu, ada pesanan datang dari dalam negeri. Mulai Jakarta hingga luar jawa seperti Makassar, Manado, Kalimantan Timur, hingga Merauke.

Harga beragam, tergantung jenis monel. Ada yang dilapisi emas, ada yang monel biasa. Mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 100 ribu-an per piece. (*/zen)

Di tengah gempuran model-model aksesori, kerajinan monel Jepara tetap bertahan hingga sekarang. Di antara inovasi, beberapa perajin mencampur monel dengan emas. Peminatnya dari dalam dan luar negeri.

NIBROS HASSANI, Radar Kudus

PEMUDA itu menyelupkan sepaket besi yang beraneka bentuk ke dalam sebuah cairan. Ia lalu membawa tabung kaca berdiameter 15 sentimeter. Di bawahnya tabung kaca itu ada kompor kecil. Tabung itu berisikan cairan dengan campuran emas. Berkali-kali pemuda itu mencelup sepaket besi tadi ke tabung tersebut. Dari berwarna perak, besi itu berubah menjadi kuning.

Besi-besi tadi beraneka bentuk. Ada yang membentuk ukiran nama, ada pula yang melingkar dengan ukiran khusus. Besi-besi berbentuk itu dikaitkan ke dalam satu pengail. Untuk memudahkan penyepuh mengangkat besi.

Secara umum, ada tiga tahap dalam produksi kerajinan monel ini. Pertama, di tahap perajin. Pada tahap ini monel dibentuk sesuai pesanan. Selanjutnya, monel diwarnai dengan cara disepuh pada tahap dua. Setelah rapi dengan warna yang sudah jadi, monel akan dikirim langsung ke reseller atau showroom.

DETAIL: Monel dalam proses pewarnaan sesuai permintaan pelanggan, setelah dilapisi emas. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Andi, salah satu perajin monel di Kriyan mengaku sering kedapatan pesanan monel berbentuk ukiran nama. Kata Andi, monel dengan bentuk itu sedang banyak peminat. Di daerahnya, ada yang sempat menjual hingga ke Malaysia.

Ia kini membuka pemesanan daring secara terbatas. Peminatnya bisa berasal dari berbagai daerah. Menurutnya, wisatawan yang berkunjung ke Jepara kini tidak perlu pusing saat hendak memilih oleh-oleh. Kerajinan monel ini bisa dijadikan opsi buah tangan.

Secara terpisah, wartawan menemui pemilik showroom Seni Sakti Monel di Kriyan. Abdur Rohim, di umurnya yang berusia lanjut itu, masih tegap berdiri di belakang etalase. Menemani karyawan-karyawannya.

Baca Juga :  Sempat Dipecat Bupati, BKN Masih Akui Edy Sebagai Sekda Jepara

Di usianya yang 70, Abdur Rohim bercerita mengenai perkembangan kerajinan monel di Kriyan. Meski pendengarannya yang sudah terbatas. Wartawan perlu berulangkali mengajukan pertanyaan, ia tetap semangat menjawab dan bercerita.

“Umur showroom ini lebih tua daripada kamu,” celetuk pemilik berjenggot putih itu kepada wartawan.

Ia lalu menceritakan kondisi sejak 1989 saat showroom itu ada. ”Awalnya coba-coba, saat itu juga ada tawaran pembangunan plang dari Pemerintah Kabupaten (di depan jalan) akhirnya monel dikenal,” ungkapnya.

Ia mengingat ketika zaman dulu kerajinan monel  sangat diminati. “Belum ada yang menyaingi,” jelasnya.

Ia bercerita, di era 90-an hingga sekitar 2000-an kerajinan monel masih banyak memiliki penggemar. Kemudian pada tahun 2016 pasar monel anjlok. Alasannya, saingan aksesori dari luar mulai banyak.

Pada waktu itu, beberapa karyawannya beralih profesi. Saat ini ia hanya memasok barang dan menyediakan pesanan.

Dalam sebulan, ia rata-rata menjual 100 potong aksesori. Kalau banyak pesanan bisa lebih. Ia juga menerima pesanan daring. Nantinya pesanan itu dikemas dan dikirim melalui paket.

Ada yang pernah memesan dari Rusia dan Amerika. Ditolaknya karena tidak sanggup memenuhi pesanan. Meski begitu, ada pesanan datang dari dalam negeri. Mulai Jakarta hingga luar jawa seperti Makassar, Manado, Kalimantan Timur, hingga Merauke.

Harga beragam, tergantung jenis monel. Ada yang dilapisi emas, ada yang monel biasa. Mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 100 ribu-an per piece. (*/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/