alexametrics
29.7 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Saras Ningrum, Aktivis Disabilitas Pengembang UMKM di Rembang

Sulap Limbah jadi Rupiah, Ciptakan Ruang Kerja Disabilitas

Berkat kiprahnya, nama Saras Ningrum sudah tercatat dalam berbagai even hingga  internasional. Ia merupakan seorang difabel wanita yang ikut bersaing dalam ajang Asia-Pacific Women Empowerment Principles (WEPs) Awards tahun 2021.

Vachri Rinaldy L, Rembang, Radar Kudus

SARAS Ningrum mendesain ruangan di rumahnya untuk produksi kerajinan dari limbah jagung. Di pojokan bertumpuk berkarung-karung barang yang akan disulap untuk hand craft yang menarik.


Di ruangan itu sudah ditata berbagai produk yang siap dipasarkan. Ada kotak tisu, wadah lampu tidur, hingga miniatur rumah joglo. Hasil karya dari bahan yang sebelumnya dianggap sampah, kini bisa menghasilkan rupiah. Harga kerajinannya dibandrol Rp 50 ribu – Rp 250 ribu.

Kata Saras, di desanya, Sendangcoyo, Kecamatan Bulu, rata-rata penduduk sekitar berprofesi sebagai petani. Sehingga banyak menyisakan limbah dari batang jagung. Atau yang kerap disebut “janggel” itu.

“Limbah Jagung melimpah di daerah saya. Apalagi saat panen raya. Di belakang rumah biasanya dibuang di sungai. Kalau dibakar asapnya mengganggu,” katanya.

Saras melihat fenomena itu sebagai peluang. Dari situ, ia bersama warga desa lain berniat membuat inovasi. Awalnya ia belajar membuat kerajinan tersebut dari kenalan. Prosesnya cukup lama. Misal, mengamplas butuh proses lama untuk bisa menjadikan kerajinan yang bernilai.

Hanya begitu dasar yang ia dapat dari pelatihan itu. Selebihnya, mereka mencoba belajar otodidak. Saat ini, di ruangan kerja sudah ada alat-alat untuk menyulap limbah tersebut. Saat Jawa Pos Radar Kudus berkunjung ke kediamannya baru-baru ini, memang sedang tak ada aktivitas pekerjaan. Namun Saras bersedia mempraktekkan cara pembuatannya.

Awalnya batang-batang jagung itu diukur sesuai dengan desain kerajinan yang akan dibuat. Kemudian dipotong dengan gergaji. Bentuknya seperti meja. Dengan lingkaran runcing di tengahnya. Dulu, kenang Saras, ketika awal-awal belajar, saat menggergaji ia perlu memakai helm. Karena serpihan-serpihan bertaburan ke mana-mana.

Baca Juga :  Kanopi Masjid dan Gereja Menyatu

Sekarang ia nampak sudah piawai. Cukup menggunakan sarung tangan dan masker sebagai alat pelindung diri. Seiring berjalannya waktu, rumah produksi yang diberinama Janggel Jaya Craft (J2C) itu mulai dikenal. Melalui berbagai even pameran yang ia ikuti.

Saat ini, juga sudah bisa menyerap tenaga kerja sekitar. Yang awalnya tiga orang, sekarang sudah ada sekitar 15 orang. “Bapak-bapak bagian ngamplas. Ibu-ibunya merangkai. Sekarang ada 15-an. Bagi yang selo (waktu bekerja, Red) tidak mengikat. Bebas aja. Mayoritas kan bekerja petani. Jadi untuk memanfaatkan waktu luang,” jelasnya.

Saras juga merekrut teman-teman difabel. Ya, ia sendiri merupakan seorang aktivis penyandang disabilitas. Saras menderita polio sejak kecil. Beberaoa waktu lalu ia bersama J2C mendapatkan dukungan untuk masuk di ajang  Asia-Pacific Women Empowerment Principles (WEPs) Awards tahun 2021.

Saras yang merupakan founder J2C yang dinilai sebagai UMKM inklusif gender yang merekrut para disabilitas wanita dan kaum duafa, serta pionir penyerapan berton-ton limbah janggel (bonggol jagung) yang selama ini mencemari lingkungan.

Dukungan dan pendampingan yang diberikan PT Semen Gresik itu sebagai wujud kolaborasi dalam memajukan usaha, sekaligus mempromosikan prinsip ramah difabel dan pemberdayaan wanita serta pelestarian lingkungan.

SG menilai, Saras dengan UMKM-nya layak berkompetisi pada WEPs Awards 2021. Yakni ajang penghargaan prestisius bagi pemimpin usaha dan perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik. Perjuangan Saras terhadap difabel wanita dianggap memenuhi persyaratan untuk ikut bersaing. (*)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Berkat kiprahnya, nama Saras Ningrum sudah tercatat dalam berbagai even hingga  internasional. Ia merupakan seorang difabel wanita yang ikut bersaing dalam ajang Asia-Pacific Women Empowerment Principles (WEPs) Awards tahun 2021.

Vachri Rinaldy L, Rembang, Radar Kudus

SARAS Ningrum mendesain ruangan di rumahnya untuk produksi kerajinan dari limbah jagung. Di pojokan bertumpuk berkarung-karung barang yang akan disulap untuk hand craft yang menarik.

Di ruangan itu sudah ditata berbagai produk yang siap dipasarkan. Ada kotak tisu, wadah lampu tidur, hingga miniatur rumah joglo. Hasil karya dari bahan yang sebelumnya dianggap sampah, kini bisa menghasilkan rupiah. Harga kerajinannya dibandrol Rp 50 ribu – Rp 250 ribu.

Kata Saras, di desanya, Sendangcoyo, Kecamatan Bulu, rata-rata penduduk sekitar berprofesi sebagai petani. Sehingga banyak menyisakan limbah dari batang jagung. Atau yang kerap disebut “janggel” itu.

“Limbah Jagung melimpah di daerah saya. Apalagi saat panen raya. Di belakang rumah biasanya dibuang di sungai. Kalau dibakar asapnya mengganggu,” katanya.

Saras melihat fenomena itu sebagai peluang. Dari situ, ia bersama warga desa lain berniat membuat inovasi. Awalnya ia belajar membuat kerajinan tersebut dari kenalan. Prosesnya cukup lama. Misal, mengamplas butuh proses lama untuk bisa menjadikan kerajinan yang bernilai.

Hanya begitu dasar yang ia dapat dari pelatihan itu. Selebihnya, mereka mencoba belajar otodidak. Saat ini, di ruangan kerja sudah ada alat-alat untuk menyulap limbah tersebut. Saat Jawa Pos Radar Kudus berkunjung ke kediamannya baru-baru ini, memang sedang tak ada aktivitas pekerjaan. Namun Saras bersedia mempraktekkan cara pembuatannya.

Awalnya batang-batang jagung itu diukur sesuai dengan desain kerajinan yang akan dibuat. Kemudian dipotong dengan gergaji. Bentuknya seperti meja. Dengan lingkaran runcing di tengahnya. Dulu, kenang Saras, ketika awal-awal belajar, saat menggergaji ia perlu memakai helm. Karena serpihan-serpihan bertaburan ke mana-mana.

Baca Juga :  Kisah Babinsa di Lasem Rawat Anak Yatim dan Diberi Penghargaan Kasad

Sekarang ia nampak sudah piawai. Cukup menggunakan sarung tangan dan masker sebagai alat pelindung diri. Seiring berjalannya waktu, rumah produksi yang diberinama Janggel Jaya Craft (J2C) itu mulai dikenal. Melalui berbagai even pameran yang ia ikuti.

Saat ini, juga sudah bisa menyerap tenaga kerja sekitar. Yang awalnya tiga orang, sekarang sudah ada sekitar 15 orang. “Bapak-bapak bagian ngamplas. Ibu-ibunya merangkai. Sekarang ada 15-an. Bagi yang selo (waktu bekerja, Red) tidak mengikat. Bebas aja. Mayoritas kan bekerja petani. Jadi untuk memanfaatkan waktu luang,” jelasnya.

Saras juga merekrut teman-teman difabel. Ya, ia sendiri merupakan seorang aktivis penyandang disabilitas. Saras menderita polio sejak kecil. Beberaoa waktu lalu ia bersama J2C mendapatkan dukungan untuk masuk di ajang  Asia-Pacific Women Empowerment Principles (WEPs) Awards tahun 2021.

Saras yang merupakan founder J2C yang dinilai sebagai UMKM inklusif gender yang merekrut para disabilitas wanita dan kaum duafa, serta pionir penyerapan berton-ton limbah janggel (bonggol jagung) yang selama ini mencemari lingkungan.

Dukungan dan pendampingan yang diberikan PT Semen Gresik itu sebagai wujud kolaborasi dalam memajukan usaha, sekaligus mempromosikan prinsip ramah difabel dan pemberdayaan wanita serta pelestarian lingkungan.

SG menilai, Saras dengan UMKM-nya layak berkompetisi pada WEPs Awards 2021. Yakni ajang penghargaan prestisius bagi pemimpin usaha dan perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik. Perjuangan Saras terhadap difabel wanita dianggap memenuhi persyaratan untuk ikut bersaing. (*)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/