alexametrics
25.9 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Mengunjungi Desa Kendengsidialilt di Jepara, Lumbung Atlet Sepak Takraw

Penghasil Atlet Berprestasi Internasional

Di Jepara, ada sebuah desa yang menjadi lumbung atlet sepak takraw berkelas nasional hingga internasional. Namanya Desa Kendengsidialit di Kecamatan Welahan. Bagaimana kisahnya?

Moh. Nur Syahri Muharrom, Jepara, Radar Kudus

OKTOBER lalu, dalam kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX yang diselenggarakan di Papua, Jepara mengirimkan empat orang perwakilan atlet cabang olahraga sepak takraw. Dua putra dan dua putri. Mereka turut mewakili Jawa Tengah dalam kejuaraan itu.


Hasilnya, putra dan putri Jepara itu turut mempersembahkan medali bagi Jawa Tengah. Medali emas bagi regu sepak takraw putri, dan medali perak untuk regu sepak takraw putra. Ternyata, keempat atlet asal Jepara tersebut berasal dari daerah yang sama. Yakni Desa Kendengsidialit Kecamatan Welahan.

Desa penghasil atlet sepak takraw berbakat itu jaraknya sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Jepara. Sejarah pesatnya perkembangan sepak takraw di sana bermula sejak tahun 1980-an. ”Tahun di mana sepak takraw masuk ke Jepara yang dibawa oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga saat itu,” terang Musthakim, Ketua Harian Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Jawa Tengah yang juga mantan atlet sepak takraw asal Desa Kendengsidialit era tahun 90-an.

Sepak takraw disosialisasikan ke sekolah-sekolah di Jepara. Saat itu bola yang dipakai masih terbuat dari rotan. Kebetulan di Desa Telukwetan, Kecamatan Welahan, terdapat pengrajin rotan. Sehingga, sepak takraw berkembang pesat di Welahan. Terutama di desa-desa sekitar Telukwetan. Mulai dari Kendengsidialit, Sidigede, Kalipucang Wetan, dan sekitarnya.

Dalam membangun sarana dan prasana, di masa awal-awal munculnya takraw, Musthakim membuatkan satu lapangan takraw di belakang rumahnya di Kendengsidialit. Setelah dari sana, sekitar tahun 2005, dirinya mengirimkan beberapa proposal ke banyak pihak. Mulai dari bupati hingga gubernur. Tujuannya, untuk membantu pembangunan gedung olahraga (GOR) sepak takraw di wilayah Welahan.

Gayung bersambut, Bupati Jepara saat itu memberikan dukungan dengan memberi sebidang tanah untuk dibanguni sebuah GOR sepak takraw. ”Animo masyarakat luar biasa, dan bantuan pemerintah juga luar biasa. Sehingga terbentuklah GOR takraw tersebut,” papar Musthakim.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jepara juga memberikan anggaran tiap tahun. Itu untuk pembinaan atau kelengkapan sarana dan prasarana latihan. Pemkab melalui dinas terkait juga bertugas melengkapi atau merawat sarana dan prasarana di GOR takraw.

Baca Juga :  Bupati Jepara: Kader NU Silahkan Isi Pengajian di Instansi Pemerintah

”Sementara di wilayah sekolahan, itu kewenangan Disdikpora Jepara,”terang Ketua Umum PSTI Jepara Ary Bachtiar.

 

Tumbuhkan Kecintaan Takraw Sejak Usia Dini via Ekstrakulikuler Sekolah

SD N 1 Kendengsidialit di Kecamatan Welahan masuk jadi salah satu pusat pembibitan atlet takraw nasional asal Welahan. Di SD tersebut, ada tiga buah lapangan yang tiap sore atau jam istirahat sekolah kosong dimanfaatkan anak-anak Kendengsidialit atau sekitarnya untuk berlatih takraw.

Di salah satu sudutnya, terpampang atlet-atlet nasional peraih penghargaan yang berasal dari Kendengsidialit. Ada Mandeg Suharno, Victoria Eka, Dini Mitasari, dan Evana Rahmawati. Mereka adalah wakil Jepara yang baru saja meraih medali di ajang PON XX yang digelar di Papua Oktober lalu.

Musthakim, Ketua Harian PSTI Jawa Tengah yang juga mantan atlet takraw asal Kendengsidialit menjelaskan kaderisasi dilakukan dengan sistem teratur. Mulai usia dini, anak-anak di Kendengsidialit dan sekitarnya dididik untuk ikut latihan sepak takraw.

Usia mulai kelas 4 SD, atau sekitar 10 tahun, sudah ikut latihan. Tata caranya dengan dijadikan muatan lokal sekolah di sana dalam bentuk kegiatan ekstra kulikuler. Salah satunya di SD N 1 Kendengsidialit tersebut.

”Untuk tumbuhkan kecintaan terhadap sepak takraw, kami beri mereka motivasi. Juga kami tunjukkan senior yang sukses dan jadi role model,” terang Musthakim.

Bahkan, bagi atlet yang berprestasi ia tak segan memberi ganjaran beasiswa pendidikan bagi atlet tersebut. ”Beasiswanya beragam. Ada SPP gratis, atau diskon sampai sekian persen,” imbuh Muthakim.

Para atlet sepak takraw asal Welahan mulai ikut bagian di tingkat nasional sejak tahun 1982. Dalam kejuaraan nasional di Jakarta itu, mereka meraih juara tiga. Sejak saat itu, sepak takraw terus dikembangkan di Welahan. Pelatihnya adalah guru-guru olahraga di sekolah yang ada di Welahan. Salah satunya di SD Negeri 1 Kendengsidialit.

Dari situ, perkembangan sepak takraw kian pesat. Sejak tahun 1993 hingga saat ini Jepara tak pernah absen mengirim wakilnya dalam kejuaraan sepak takraw. Atlet sepak takraw Jepara sampai saat ini terus berkontribusi dalam kejuaaraan Sea Games hingga Asian Games. ”Bahkan ada atlet sepak takraw Jepara yang saat ini bergabung di Liga Malaysia tahun 2020 lalu. Yakni Victoria Eka,” papar Musthakim. (rom)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Di Jepara, ada sebuah desa yang menjadi lumbung atlet sepak takraw berkelas nasional hingga internasional. Namanya Desa Kendengsidialit di Kecamatan Welahan. Bagaimana kisahnya?

Moh. Nur Syahri Muharrom, Jepara, Radar Kudus

OKTOBER lalu, dalam kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX yang diselenggarakan di Papua, Jepara mengirimkan empat orang perwakilan atlet cabang olahraga sepak takraw. Dua putra dan dua putri. Mereka turut mewakili Jawa Tengah dalam kejuaraan itu.

Hasilnya, putra dan putri Jepara itu turut mempersembahkan medali bagi Jawa Tengah. Medali emas bagi regu sepak takraw putri, dan medali perak untuk regu sepak takraw putra. Ternyata, keempat atlet asal Jepara tersebut berasal dari daerah yang sama. Yakni Desa Kendengsidialit Kecamatan Welahan.

Desa penghasil atlet sepak takraw berbakat itu jaraknya sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Jepara. Sejarah pesatnya perkembangan sepak takraw di sana bermula sejak tahun 1980-an. ”Tahun di mana sepak takraw masuk ke Jepara yang dibawa oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga saat itu,” terang Musthakim, Ketua Harian Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Jawa Tengah yang juga mantan atlet sepak takraw asal Desa Kendengsidialit era tahun 90-an.

Sepak takraw disosialisasikan ke sekolah-sekolah di Jepara. Saat itu bola yang dipakai masih terbuat dari rotan. Kebetulan di Desa Telukwetan, Kecamatan Welahan, terdapat pengrajin rotan. Sehingga, sepak takraw berkembang pesat di Welahan. Terutama di desa-desa sekitar Telukwetan. Mulai dari Kendengsidialit, Sidigede, Kalipucang Wetan, dan sekitarnya.

Dalam membangun sarana dan prasana, di masa awal-awal munculnya takraw, Musthakim membuatkan satu lapangan takraw di belakang rumahnya di Kendengsidialit. Setelah dari sana, sekitar tahun 2005, dirinya mengirimkan beberapa proposal ke banyak pihak. Mulai dari bupati hingga gubernur. Tujuannya, untuk membantu pembangunan gedung olahraga (GOR) sepak takraw di wilayah Welahan.

Gayung bersambut, Bupati Jepara saat itu memberikan dukungan dengan memberi sebidang tanah untuk dibanguni sebuah GOR sepak takraw. ”Animo masyarakat luar biasa, dan bantuan pemerintah juga luar biasa. Sehingga terbentuklah GOR takraw tersebut,” papar Musthakim.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jepara juga memberikan anggaran tiap tahun. Itu untuk pembinaan atau kelengkapan sarana dan prasarana latihan. Pemkab melalui dinas terkait juga bertugas melengkapi atau merawat sarana dan prasarana di GOR takraw.

Baca Juga :  Setia 26 Tahun, Tak Ingin ke Lain Hati

”Sementara di wilayah sekolahan, itu kewenangan Disdikpora Jepara,”terang Ketua Umum PSTI Jepara Ary Bachtiar.

 

Tumbuhkan Kecintaan Takraw Sejak Usia Dini via Ekstrakulikuler Sekolah

SD N 1 Kendengsidialit di Kecamatan Welahan masuk jadi salah satu pusat pembibitan atlet takraw nasional asal Welahan. Di SD tersebut, ada tiga buah lapangan yang tiap sore atau jam istirahat sekolah kosong dimanfaatkan anak-anak Kendengsidialit atau sekitarnya untuk berlatih takraw.

Di salah satu sudutnya, terpampang atlet-atlet nasional peraih penghargaan yang berasal dari Kendengsidialit. Ada Mandeg Suharno, Victoria Eka, Dini Mitasari, dan Evana Rahmawati. Mereka adalah wakil Jepara yang baru saja meraih medali di ajang PON XX yang digelar di Papua Oktober lalu.

Musthakim, Ketua Harian PSTI Jawa Tengah yang juga mantan atlet takraw asal Kendengsidialit menjelaskan kaderisasi dilakukan dengan sistem teratur. Mulai usia dini, anak-anak di Kendengsidialit dan sekitarnya dididik untuk ikut latihan sepak takraw.

Usia mulai kelas 4 SD, atau sekitar 10 tahun, sudah ikut latihan. Tata caranya dengan dijadikan muatan lokal sekolah di sana dalam bentuk kegiatan ekstra kulikuler. Salah satunya di SD N 1 Kendengsidialit tersebut.

”Untuk tumbuhkan kecintaan terhadap sepak takraw, kami beri mereka motivasi. Juga kami tunjukkan senior yang sukses dan jadi role model,” terang Musthakim.

Bahkan, bagi atlet yang berprestasi ia tak segan memberi ganjaran beasiswa pendidikan bagi atlet tersebut. ”Beasiswanya beragam. Ada SPP gratis, atau diskon sampai sekian persen,” imbuh Muthakim.

Para atlet sepak takraw asal Welahan mulai ikut bagian di tingkat nasional sejak tahun 1982. Dalam kejuaraan nasional di Jakarta itu, mereka meraih juara tiga. Sejak saat itu, sepak takraw terus dikembangkan di Welahan. Pelatihnya adalah guru-guru olahraga di sekolah yang ada di Welahan. Salah satunya di SD Negeri 1 Kendengsidialit.

Dari situ, perkembangan sepak takraw kian pesat. Sejak tahun 1993 hingga saat ini Jepara tak pernah absen mengirim wakilnya dalam kejuaraan sepak takraw. Atlet sepak takraw Jepara sampai saat ini terus berkontribusi dalam kejuaaraan Sea Games hingga Asian Games. ”Bahkan ada atlet sepak takraw Jepara yang saat ini bergabung di Liga Malaysia tahun 2020 lalu. Yakni Victoria Eka,” papar Musthakim. (rom)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/