alexametrics
22.4 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Dicky Safitri, Pembudi Daya Lobster Air tawar

Dari Kang Besi Jadi “Pengasuh” Red Claw

Pandemi berdampak pada pekerja nonformal seperti Dicky Safitri. Sebab tawaran pekerjaan sebagai buruh lepas bidang konstruksi berkurang. Dia pun memanfaatkan lahan sempit di rumahnya menjadi tempat budidaya lobster demi memenuhi kebutuhan harian dan biaya kuliah.

EKO SANTOSO, Radar Kudus

HALAMAN rumah Dicky Safitri, 27, sempit. Hanya berukuran panjang dua meter dan lebar satu meter. Namun lahan itu disulap menjadi kolam bertumpuk untuk budi daya lobster.


Pemuda asal Desa Rendeng RT 1 RW 4, Kota itu merupakan peternak lobster air tawar jenis red claw. Budidaya lobster itu dilakoni sejak 2018 lalu. Namun, diawal hanya sekedar sampingan karena masih bekerja sebagai buruh konstruksi bidang pemasangan besi baja.

“Mulai menekuni sejak 2020. Itu karena selama pandemi saya jarang dapat kerjaan,” terangnya.

Seiring susahnya mendapat pekerjaan, dia berupaya tetap mendapatkan penghasilan. Itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai kuliahnya di Universitas Muria Kudus (UMK). Terlebih dia juga harus menyiapkan biaya menjelang pernikahan.

“Sejak itulah saya fokus. Berupaya agar budi daya ini bisa menjadi sandaran untuk memenuhi kebutuhan,” tegas anak sulung dari pasangan suami istri Sri Lestari dan Agung Susetyo ini.

Baca Juga :  Belajar dari Youtube, Bisa Mirip Aslinya

Meski semula tak paham sama sekali terkait ilmu budi daya lobster, Dicky mengaku tak menyerah. Dia pun  belajar dari salah seorang temannya, juga dari media sosial. Dari situlah, perlahan usaha itu berkembang. Dia juga terus menambah kolam.

Dari budi daya lobster itu, dia bisa meraup keuntungan setara gaji karyawan atau sebesar upah minimum Kabupaten Kudus. Lobster tersebut dijual dengan cara online, sehingga bisa sampai daerah di luar Kudus.

“Pemasaran sebagian besar melalui daring. Karena dengan online ini bisa menjangkau daerah di luar Kudus. Sehingga banyak pembeli dari berbagai daerah, misalnya Pati, Jepara, Brebes, Banyumas, sampai Jakarta,” katanya.

Dari hasil penjualan itu pelan-pelan dia bisa mengumpulkan uang untuk selanjutnya dijadikan modal.

Untuk harga jual lobster air tawar itu per kilogram Rp 200 ribu. Berisi 13 ekor. Selain menjual lobster mentahan, dia juga menjual  yang telah dimasak. Yakni seharga Rp 80 ribu per porsi. Berisi dua ekor berukuran besar dan kecil. (mal)

Pandemi berdampak pada pekerja nonformal seperti Dicky Safitri. Sebab tawaran pekerjaan sebagai buruh lepas bidang konstruksi berkurang. Dia pun memanfaatkan lahan sempit di rumahnya menjadi tempat budidaya lobster demi memenuhi kebutuhan harian dan biaya kuliah.

EKO SANTOSO, Radar Kudus

HALAMAN rumah Dicky Safitri, 27, sempit. Hanya berukuran panjang dua meter dan lebar satu meter. Namun lahan itu disulap menjadi kolam bertumpuk untuk budi daya lobster.

Pemuda asal Desa Rendeng RT 1 RW 4, Kota itu merupakan peternak lobster air tawar jenis red claw. Budidaya lobster itu dilakoni sejak 2018 lalu. Namun, diawal hanya sekedar sampingan karena masih bekerja sebagai buruh konstruksi bidang pemasangan besi baja.

“Mulai menekuni sejak 2020. Itu karena selama pandemi saya jarang dapat kerjaan,” terangnya.

Seiring susahnya mendapat pekerjaan, dia berupaya tetap mendapatkan penghasilan. Itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai kuliahnya di Universitas Muria Kudus (UMK). Terlebih dia juga harus menyiapkan biaya menjelang pernikahan.

“Sejak itulah saya fokus. Berupaya agar budi daya ini bisa menjadi sandaran untuk memenuhi kebutuhan,” tegas anak sulung dari pasangan suami istri Sri Lestari dan Agung Susetyo ini.

Baca Juga :  Belajar dari Youtube, Bisa Mirip Aslinya

Meski semula tak paham sama sekali terkait ilmu budi daya lobster, Dicky mengaku tak menyerah. Dia pun  belajar dari salah seorang temannya, juga dari media sosial. Dari situlah, perlahan usaha itu berkembang. Dia juga terus menambah kolam.

Dari budi daya lobster itu, dia bisa meraup keuntungan setara gaji karyawan atau sebesar upah minimum Kabupaten Kudus. Lobster tersebut dijual dengan cara online, sehingga bisa sampai daerah di luar Kudus.

“Pemasaran sebagian besar melalui daring. Karena dengan online ini bisa menjangkau daerah di luar Kudus. Sehingga banyak pembeli dari berbagai daerah, misalnya Pati, Jepara, Brebes, Banyumas, sampai Jakarta,” katanya.

Dari hasil penjualan itu pelan-pelan dia bisa mengumpulkan uang untuk selanjutnya dijadikan modal.

Untuk harga jual lobster air tawar itu per kilogram Rp 200 ribu. Berisi 13 ekor. Selain menjual lobster mentahan, dia juga menjual  yang telah dimasak. Yakni seharga Rp 80 ribu per porsi. Berisi dua ekor berukuran besar dan kecil. (mal)

Most Read

Artikel Terbaru

/