alexametrics
30.5 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Pondok Damaran 78, Tempat Yantri Gus Baha di Kudus (2-Habis)

Jumlah Santri Dibatasi, Fokus Hafalkan Alquran

Gus Baha menjadi pengasuh Ponpes Damaran, Kudus, atas wasiat Ibu Nyai Aminah. Jumlah santri di ponpes itu dibatasi. Seluruhnya fokus hafalkan Alquran. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Eko Santoso dan Noor Syafaatul Udhma belum lama ini mengunjungi ponpes itu.

SUASANA sejuk langsung terasa ketika memasuki area pondok yang dikelilingi tembok besar bercat putih. Sinar matahari menyusup di antara sela-sela bangunan. Aliran air pancur di sebelah kiri pintu masuk menambah sedap pandangan mata dengan beragam ikan warna-warni di dalamnya. Lelaki berbaju putih dan peci hitam mirip pakaian yang biasa dipakai Gus Baha lalu menghampiri.

Dia membawa dua kertas bertuliskan huruf arab gundul. Itu tampak spesial. Seperti bagan. Terlihat urutan-urutan kata yang disambung dengan garis-garis. Terbaca, ada beberapa nama yang tertulis. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini hanya tahu sebagian saja secara lamat-lamat.


Tetapi dengan fasih KH Ali Imron Zubaidi pengasuh II Ponpes Mazro’atul Ulum membacanya.  Di atas lantai bertegel keramik kuno berukruan 20×20 berwarna hitam kecokelatan yang terpasang di aula depan ndalem itu dia menceritakan silsilah pendiri pondok Mazroatul Ulum 78 atau yang lebih dikenal sebagai Pondok Damaran.

Dari silsilah itulah terungkap jika Gus Baha yang kini menjadi pengasuh Ponpes Damaran masih satu nasab dengan mantan ketua PBNU KH  Said Aqil Sirodj. Menurut KH Ali Imron Zubaidi, Pondok Damaran tersebut kini memang diasuh langsung Gus Baha. Putra KH Nursalim itu menjadi pengasuh ndalem setelah mendapatkan wasiat Ibu Nyai Aminah, yang merupakan cucu canggah pendiri Ponpes KH. Ahmad Sholeh sepuh.

Gus Baha sendiri dari jalur nenek bertemu nasab dengan Ibu Nyai Aminah sebagai keponakan dari Ibu Nyai Hafshah Sedan atau kakak putri dari KH. Ahmad Fauzan. KH. Ahmad Fauzan merupakan anak dari KH. Ma’shum. Dan cucu dari KH. Ahmad Sholeh Sepuh selaku pendiri pondok.

“Gus Baha adalah cucu keponakan Kiai Said Aqil yang bertemu di kakek gantung siwur (urutan ke-7) dari KH. Ahmad Sholeh. Artinya baik Gus Baha maupun Kyai Said Aqil Sirodj sama-sama memiliki garis keturunan hingga KH Ahmad Sholeh Sepuh dan KH Asnawi Sepuh,” terangnya

Bedanya, Kiai Said sampai kepada KH Ahmad Sholeh sepuh melalui jalur ayah, yakni KH Aqil Siroj. Urutannya KH. Said Aqil Siroj, bin KH Aqil, bin Nyai Fathimah, bin Nyai Fadhilah, binti KH Ahmad Sholeh sepuh bin KH Asnawi Sepuh.

“Sementara Gus Baha sampai ke KH Ahmad Sholeh Sepuh melalui jalur ibu. Yakni lewat Nyai Zuhanidz. Urutannya, KH Ahmad Bahauddin bin Nyai Zuhanidz, binti Nyai Fatimah, binti Nyai Shofiyah, binti Nyai Hafshoh, binti KH Ma’shum, bin KH Ahmad Sholeh sepuh bin KH Asnawi Sepuh,” imbuhnya.

Baca Juga :  Mobil Listrik Kecepatan Maksimal 40 Km per Jam, Menanjak No Problem

Tak hanya bertemu nasab dengan Kyai Said Aqil Sirodj. Tetapi juga nyambung hingga Kiai Sahal Mahfudz. Sebab buyut Kiai Said Aqil yang bernama Nyai Fadhilah adalah kakak dari buyut Kiai Sahal yakni KH. Ma’shum yang juga merupakan saudara satu nenek Nyai Aminah dari jalur ibu.

”Artinya Gus Baha adalah cucu anak ndulur atau keponakan dari Kiai Sahal yang bertemu di nenek canggah (Nyai Hafshoh),” terangnya.

Bila kembali dirunut ke atas, silsilah antara Kiai Sahal, Kiai Said Aqil dan Gus Baha juga bersambung ke hingga kepada KH. Mutamakkin, Kajen, Pati. Sebab Kiai Asnawi Sepuh yang merupakan ayah dari KH Ahmad Sholeh sepuh Kudus diketahui sebagai cucu KH. Mutamakkin Kajen.

Ustadz Hamdan yang juga murid Gus Baha serta alumni Ponpes Damaran menambahkan memang ada ikatan dari Kajen. Dari Kajen dan Kudus bersatu di Kiai Asnawi Sepuh. Sebab yang dinikahi Kiai Asnawi sepuh merupakan keturunan dari Sunan Kudus.

“Dari para pendiri ini juga melahirkan para murid yang menjadi ulama besar. Misalnya Mbh Sholeh Darat yang menjadi guru RA Kartini, KH Hasyim Asyari, dan KH Ahmad Dahlan adalah murid KH Ahmad Sholeh Sepuh. Selain itu, Kyai Ma’shum Lasem merupakan murid dari KH. Ma’shum Damaran,” imbuhnya.

Dengan latar belakang sejarah panjang tersebut hingga kini Ponpes Damaran tetap eksis. Hanya saja jumlah santri memang dibatasi. Disesuaikan kondisi pondok yang memiliki bangunan terbatas.

”Tetapi tak pernah habis santrinya. Selalu ada. Kata nyai itu bukti keikhlasan pendiri pondok,” terangnya.

Hingga kini Ponpes hanya memiliki empat gedung. Pertama bagian ndalem, musala, gedung untuk santri di sebelah utara muhola yang sudah bertingkat. Dan bangunan pondok di bagian timur yang menjadi perluasan baru.

”Dulu kata nyai pondok bagian timur ini masih jadi satu. Dulu ada pembagian ke ahli waris. Hingga akhirnya kena orang lain. Namun sekarang kembali lagi di sini,” terangnya.

Sementara untuk jumlah santri ada 150-an. Mereka mayoritas fokus menghafal Alquran. Tetapi dahulu kala ketika masa KH Fauzan dan KH Ma’shum banyak mengaji kitab.

“Kalau sekarang meski fokus al quran tetapi tetap ada yang ngaji kitab. Jadi ada program kitab dan tahfidz,” imbuhnya. (tos/zen)






Reporter: Eko Santoso

Gus Baha menjadi pengasuh Ponpes Damaran, Kudus, atas wasiat Ibu Nyai Aminah. Jumlah santri di ponpes itu dibatasi. Seluruhnya fokus hafalkan Alquran. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Eko Santoso dan Noor Syafaatul Udhma belum lama ini mengunjungi ponpes itu.

SUASANA sejuk langsung terasa ketika memasuki area pondok yang dikelilingi tembok besar bercat putih. Sinar matahari menyusup di antara sela-sela bangunan. Aliran air pancur di sebelah kiri pintu masuk menambah sedap pandangan mata dengan beragam ikan warna-warni di dalamnya. Lelaki berbaju putih dan peci hitam mirip pakaian yang biasa dipakai Gus Baha lalu menghampiri.

Dia membawa dua kertas bertuliskan huruf arab gundul. Itu tampak spesial. Seperti bagan. Terlihat urutan-urutan kata yang disambung dengan garis-garis. Terbaca, ada beberapa nama yang tertulis. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini hanya tahu sebagian saja secara lamat-lamat.

Tetapi dengan fasih KH Ali Imron Zubaidi pengasuh II Ponpes Mazro’atul Ulum membacanya.  Di atas lantai bertegel keramik kuno berukruan 20×20 berwarna hitam kecokelatan yang terpasang di aula depan ndalem itu dia menceritakan silsilah pendiri pondok Mazroatul Ulum 78 atau yang lebih dikenal sebagai Pondok Damaran.

Dari silsilah itulah terungkap jika Gus Baha yang kini menjadi pengasuh Ponpes Damaran masih satu nasab dengan mantan ketua PBNU KH  Said Aqil Sirodj. Menurut KH Ali Imron Zubaidi, Pondok Damaran tersebut kini memang diasuh langsung Gus Baha. Putra KH Nursalim itu menjadi pengasuh ndalem setelah mendapatkan wasiat Ibu Nyai Aminah, yang merupakan cucu canggah pendiri Ponpes KH. Ahmad Sholeh sepuh.

Gus Baha sendiri dari jalur nenek bertemu nasab dengan Ibu Nyai Aminah sebagai keponakan dari Ibu Nyai Hafshah Sedan atau kakak putri dari KH. Ahmad Fauzan. KH. Ahmad Fauzan merupakan anak dari KH. Ma’shum. Dan cucu dari KH. Ahmad Sholeh Sepuh selaku pendiri pondok.

“Gus Baha adalah cucu keponakan Kiai Said Aqil yang bertemu di kakek gantung siwur (urutan ke-7) dari KH. Ahmad Sholeh. Artinya baik Gus Baha maupun Kyai Said Aqil Sirodj sama-sama memiliki garis keturunan hingga KH Ahmad Sholeh Sepuh dan KH Asnawi Sepuh,” terangnya

Bedanya, Kiai Said sampai kepada KH Ahmad Sholeh sepuh melalui jalur ayah, yakni KH Aqil Siroj. Urutannya KH. Said Aqil Siroj, bin KH Aqil, bin Nyai Fathimah, bin Nyai Fadhilah, binti KH Ahmad Sholeh sepuh bin KH Asnawi Sepuh.

“Sementara Gus Baha sampai ke KH Ahmad Sholeh Sepuh melalui jalur ibu. Yakni lewat Nyai Zuhanidz. Urutannya, KH Ahmad Bahauddin bin Nyai Zuhanidz, binti Nyai Fatimah, binti Nyai Shofiyah, binti Nyai Hafshoh, binti KH Ma’shum, bin KH Ahmad Sholeh sepuh bin KH Asnawi Sepuh,” imbuhnya.

Baca Juga :  PLN UIK Tanjung Jati B Manfaatkan FABA untuk Bangun Pondok Pesantren

Tak hanya bertemu nasab dengan Kyai Said Aqil Sirodj. Tetapi juga nyambung hingga Kiai Sahal Mahfudz. Sebab buyut Kiai Said Aqil yang bernama Nyai Fadhilah adalah kakak dari buyut Kiai Sahal yakni KH. Ma’shum yang juga merupakan saudara satu nenek Nyai Aminah dari jalur ibu.

”Artinya Gus Baha adalah cucu anak ndulur atau keponakan dari Kiai Sahal yang bertemu di nenek canggah (Nyai Hafshoh),” terangnya.

Bila kembali dirunut ke atas, silsilah antara Kiai Sahal, Kiai Said Aqil dan Gus Baha juga bersambung ke hingga kepada KH. Mutamakkin, Kajen, Pati. Sebab Kiai Asnawi Sepuh yang merupakan ayah dari KH Ahmad Sholeh sepuh Kudus diketahui sebagai cucu KH. Mutamakkin Kajen.

Ustadz Hamdan yang juga murid Gus Baha serta alumni Ponpes Damaran menambahkan memang ada ikatan dari Kajen. Dari Kajen dan Kudus bersatu di Kiai Asnawi Sepuh. Sebab yang dinikahi Kiai Asnawi sepuh merupakan keturunan dari Sunan Kudus.

“Dari para pendiri ini juga melahirkan para murid yang menjadi ulama besar. Misalnya Mbh Sholeh Darat yang menjadi guru RA Kartini, KH Hasyim Asyari, dan KH Ahmad Dahlan adalah murid KH Ahmad Sholeh Sepuh. Selain itu, Kyai Ma’shum Lasem merupakan murid dari KH. Ma’shum Damaran,” imbuhnya.

Dengan latar belakang sejarah panjang tersebut hingga kini Ponpes Damaran tetap eksis. Hanya saja jumlah santri memang dibatasi. Disesuaikan kondisi pondok yang memiliki bangunan terbatas.

”Tetapi tak pernah habis santrinya. Selalu ada. Kata nyai itu bukti keikhlasan pendiri pondok,” terangnya.

Hingga kini Ponpes hanya memiliki empat gedung. Pertama bagian ndalem, musala, gedung untuk santri di sebelah utara muhola yang sudah bertingkat. Dan bangunan pondok di bagian timur yang menjadi perluasan baru.

”Dulu kata nyai pondok bagian timur ini masih jadi satu. Dulu ada pembagian ke ahli waris. Hingga akhirnya kena orang lain. Namun sekarang kembali lagi di sini,” terangnya.

Sementara untuk jumlah santri ada 150-an. Mereka mayoritas fokus menghafal Alquran. Tetapi dahulu kala ketika masa KH Fauzan dan KH Ma’shum banyak mengaji kitab.

“Kalau sekarang meski fokus al quran tetapi tetap ada yang ngaji kitab. Jadi ada program kitab dan tahfidz,” imbuhnya. (tos/zen)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/