alexametrics
30.8 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Alfian dan Sanu, Siswa Peraih Penghargaan Robotic di JRC 2022

Belajar Coding Hanya Tiga Hari Saja

Tim robotic MTsN 1 Pati Alfian Fais Rian Putra dan Ahsanu Amala mendapat Excellent Prize Award kategori Maze Solving dalam ajang Jateng Robotic Competition (JRC 2022). Dalam ajang ini, tim robotik MTsN 1 Pati membuat Robot Line Follower. Keduanya butuh waktu tiga hari untuk belajar pemograman (coding).

ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

LAKILAKI asal Desa Tlogowungu, Pati, itu bersama rekannya Aldian terlihat mengotak-ngatik mobil robotik itu. Mereka sedang mengodingnya. Supaya bisa berjalan sesuai garis.


”Ada 32 koding yang dimasukkan ke aplikasi di laptop. Soalnya banyak garisnya. Ada belokannya. Dari pertigaan hingga perempatan,” ucap Alfian.

Pembuatan koding cukup rumit. Terlihat seperti angka-angka/script. Mungkin butuh waktu lama untuk belajar.

”Memang ada angkanya untuk mengkoding. Mengikuti lima sensor pengkodingannya. Misalnya, belok kiri itu kodingnya 4,3. Jadi seperti itu,” jelas laki-laki asal Jakarta itu.

Setelah pegkodingan selesai, robot yang tampak seperti mobil itu diletakkan di selembaran baner yang ada garis-garisnya. Mobilnya pun bisa bergerak belok-belok mengikuti garis.

”Wah hebat. Kok bisa gitu,” tanya salah satu siswa yang ikut melihat kedua siswa itu praktik.

Ini namanya, robot line follower. Kalau ini tahapan awal belajar robotik. Istilahnya level I atau pemula di universitas,” saut pembimbing mereka, Muhammad Ali Muzaki.

Pembimbing asal Jepara ini sempat menyesal karena tak jadi mengikuti acara G20 di Bali. Bahwasannya, seharusnya proyek tim robotik madrasah itu akan dipaparkan di sana. Karena pandemi Covid-19 tak jadi.

”Namanya, smart train. Nanti kereta bisa melaju tanpa pilot. Harapannya diterapkan di sana. Tapi masih perlu belajar tiga sampai lima tahun lagi untuk bisa menjadi sempurna,” tuturnya.

Baca Juga :  Sulap Stoking Jadi Kerajinan

Saat ini, tahapan Alfian dan Sanu baru level pertama atau pemula. Untuk belajar koding mobil robot itu, Zaki memberikan semacam pelajaran coding hanya tiga jam saja.

”Saya beri modul pelajaran selama tiga jam saja. Selebihnya, tergantung siswanya mau seperti apa. Biar dikembangkan sendiri,” tukasnya.

”Cuman dua sampai tiga jam saja diberikan pak Zaki materinya. Kalau belajar kodingnya ini selama tiga hari saja. Itu menjelang lomba pada Febuari lalu. Kalau mau, semua tidak ada yang mustahil,” tegas Sanu melengkapi pembimbingnya.

Mereka belajar tiga hari itu pun tak melulu mempelajari koding. Masih banyak aktivitas madrasah seperti hafalan Alquran.

”Hari pertama dan kedua cuman dua sampai tiga jam belajar koding. Itu setelah pulang sekolah. Kemudian H-1 lomba seharian full belajar hingga larut malam,” imbuh Sanu.

Lebih dari 10 kegagalan dalam percobaan menjalan mobil robot itu. Namun, mereka tampaknya tak menyerah. Buktinya, dapat penghargaan di tingkat Jateng itu.

”Berhasilnya malah malam menjelang lomba. Sekitar pukul 11.30. Saya bersama Sanu mencoba tidak bisa-bisa sensornya. Lebih dari 10 kali otak-atik koding. Namun, akhirnya bisa dan mendapat penghargaan itu,” ujar Alfian.

Di benak Alfian dan Sanu, belajar coding dan robotik ini mengasyikkan. Juga harus mau dan amanah. Ibarat sudah kena air sekalian basah saja. Jadi meneruskan perjuangan. Sekalian memperoleh prestasi berupa penghargaan.

”Suka aja mengotak-ngatik dan mengkoding. Soalnya asyik. Jangan menyerah. Soalnya, kan harus amanah,” kata Sanu.

Ke depannya, mereka berencana mengikuti lagi lomba robotik. Tapi ajang internasional pada 6-8 Agustus mendatang.

”Nanti lombanya virtual di Korea. Ada banyak negara yang ikut. Intinya tetap berusaha dan amanah,” pungkasnya. (*/zen)

Tim robotic MTsN 1 Pati Alfian Fais Rian Putra dan Ahsanu Amala mendapat Excellent Prize Award kategori Maze Solving dalam ajang Jateng Robotic Competition (JRC 2022). Dalam ajang ini, tim robotik MTsN 1 Pati membuat Robot Line Follower. Keduanya butuh waktu tiga hari untuk belajar pemograman (coding).

ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

LAKILAKI asal Desa Tlogowungu, Pati, itu bersama rekannya Aldian terlihat mengotak-ngatik mobil robotik itu. Mereka sedang mengodingnya. Supaya bisa berjalan sesuai garis.

”Ada 32 koding yang dimasukkan ke aplikasi di laptop. Soalnya banyak garisnya. Ada belokannya. Dari pertigaan hingga perempatan,” ucap Alfian.

Pembuatan koding cukup rumit. Terlihat seperti angka-angka/script. Mungkin butuh waktu lama untuk belajar.

”Memang ada angkanya untuk mengkoding. Mengikuti lima sensor pengkodingannya. Misalnya, belok kiri itu kodingnya 4,3. Jadi seperti itu,” jelas laki-laki asal Jakarta itu.

Setelah pegkodingan selesai, robot yang tampak seperti mobil itu diletakkan di selembaran baner yang ada garis-garisnya. Mobilnya pun bisa bergerak belok-belok mengikuti garis.

”Wah hebat. Kok bisa gitu,” tanya salah satu siswa yang ikut melihat kedua siswa itu praktik.

Ini namanya, robot line follower. Kalau ini tahapan awal belajar robotik. Istilahnya level I atau pemula di universitas,” saut pembimbing mereka, Muhammad Ali Muzaki.

Pembimbing asal Jepara ini sempat menyesal karena tak jadi mengikuti acara G20 di Bali. Bahwasannya, seharusnya proyek tim robotik madrasah itu akan dipaparkan di sana. Karena pandemi Covid-19 tak jadi.

”Namanya, smart train. Nanti kereta bisa melaju tanpa pilot. Harapannya diterapkan di sana. Tapi masih perlu belajar tiga sampai lima tahun lagi untuk bisa menjadi sempurna,” tuturnya.

Baca Juga :  Sulap Stoking Jadi Kerajinan

Saat ini, tahapan Alfian dan Sanu baru level pertama atau pemula. Untuk belajar koding mobil robot itu, Zaki memberikan semacam pelajaran coding hanya tiga jam saja.

”Saya beri modul pelajaran selama tiga jam saja. Selebihnya, tergantung siswanya mau seperti apa. Biar dikembangkan sendiri,” tukasnya.

”Cuman dua sampai tiga jam saja diberikan pak Zaki materinya. Kalau belajar kodingnya ini selama tiga hari saja. Itu menjelang lomba pada Febuari lalu. Kalau mau, semua tidak ada yang mustahil,” tegas Sanu melengkapi pembimbingnya.

Mereka belajar tiga hari itu pun tak melulu mempelajari koding. Masih banyak aktivitas madrasah seperti hafalan Alquran.

”Hari pertama dan kedua cuman dua sampai tiga jam belajar koding. Itu setelah pulang sekolah. Kemudian H-1 lomba seharian full belajar hingga larut malam,” imbuh Sanu.

Lebih dari 10 kegagalan dalam percobaan menjalan mobil robot itu. Namun, mereka tampaknya tak menyerah. Buktinya, dapat penghargaan di tingkat Jateng itu.

”Berhasilnya malah malam menjelang lomba. Sekitar pukul 11.30. Saya bersama Sanu mencoba tidak bisa-bisa sensornya. Lebih dari 10 kali otak-atik koding. Namun, akhirnya bisa dan mendapat penghargaan itu,” ujar Alfian.

Di benak Alfian dan Sanu, belajar coding dan robotik ini mengasyikkan. Juga harus mau dan amanah. Ibarat sudah kena air sekalian basah saja. Jadi meneruskan perjuangan. Sekalian memperoleh prestasi berupa penghargaan.

”Suka aja mengotak-ngatik dan mengkoding. Soalnya asyik. Jangan menyerah. Soalnya, kan harus amanah,” kata Sanu.

Ke depannya, mereka berencana mengikuti lagi lomba robotik. Tapi ajang internasional pada 6-8 Agustus mendatang.

”Nanti lombanya virtual di Korea. Ada banyak negara yang ikut. Intinya tetap berusaha dan amanah,” pungkasnya. (*/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/