alexametrics
29.8 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Ivan Kurinawan Peternak Tokek Imut Seharga Puluhan Juta

Berawal hanya Iseng, Jadi Hobi, Akhirnya Hoki

Semua berawal dari hobi. Ivan Kurniawan, peternak gecko kini sudah mendapatkan penghasilan. Omsetnya, bisa tembus puluhan juta.

VACHRI RINALDY  L, Radar Kudus

TOKEK hias milik Ivan Kurniawan sudah keluar dari cangkang telurnya. Si baby hewan yang kerap disebut gecko itu mirip seperti buaya kecil. Dengan motif warna-warni.


Ada juga yang berwarna hitam polos. Ukurannya sekitar separo dari telapak tangan Ivan.  Awal menggeluti ini, kaya Ivan, hanya sebatas iseng. Karena, mulanya ia diberi gecko oleh saudaranya. Saat itu hanya satu ekor betina. Selanjutnya ia menambah satu jantan dan satu betina lagi.

Mulai dari sini, Ivan telaten merawat hewan piaraannya itu. Seperti belajar tentang proses pengawinan. Yang ia pelajari secara otodidak.

Sekitar tujuh tahun lalu, ia memulai bisnis ternaknya dengan modal Rp 1 Juta. Awalnya sempat gagal. 25 telur seluruhnya gagal menetas. Kalau pun menetas, si tokek hias gagal hidup.

“Setelah gagal-gagal itu baru hidup. Modal tiga ekor. Kurang lebih kalau diuangkan tahun 2014 kurang lebih Rp 1,5 Juta,” katanya.

Selama beternak ada beberapa jenis tokek hias yang tidak ia jual. Terutama yang juara kontes. Biasanya, kata dia, gecko-gecko yang menjadi kriteria untuk mengikuti kontes harus lincah. Selain itu, kondisi fisik juga mulus.

“Kuku lengkap. Ujung ekor tidak keriting. Baru setelah itu lihat warna, motif keunikannya,” imbuhnya.

Sebelum terjun ke dunia kontes gecko, ia mempelajari terlebih dahulu seluk beluk hewan pemakan jangkrik itu melalui bisnis ternak yang telah digeluti. Agar mengetahui apa yang memengaruhi kemahalan si tokek.

Baca Juga :  Ijab 2020, Miliki Surat Resmi Tahun Ini

Semakin banyak prestasi, semakin mahal harga gecko. Untuk perawatan sendiri, Ivan menilai cukup simple simpel. Perhatian biasanya diberikan dua hari sekali. Dengan membersihkan kandang, memberi makan dan minum. Kandangnya pun bisa memakai toples plastik.

Namun jika cuaca dingin, si gecko biasanya berkurang nafsu makan. Sehingga, tubuhnya agak kurusan. Namun jika sudah musim panas badannya kembali berisi. Makanannya biasanya menggunakan perut jangkrik atau ulat hongkong.

Kalaupun sakit, bisa diobati menggunakan obat manusia yang biasa dikonsumsi untuk infeksi pencernaan. Caranya, dari obat yang berbentuk tablet, kemudian dimasukkan ke air lalu diminumkan ke gecko.

“Kalau manusia satu tablet sekali minum. Lha ini satu tablet bisa untuk lima sampai delapan ekor gecko,” imbuhnya.

Ia menganggap bisnis ini sebagai hobi yang menguntungkan. Omzet jika tidak musim bertelur saja bisa tembus pendapatan kotor sekitar Rp 4 Juta sampai Rp 5 Juta. Kalau musim bertelur, malah bisa sampai dua kali lipat. Bahkan pada jenis-jenis tertentu bisa tembus puluhan juta rupiah.

Ada banyak kontes gecko. Kata Ivan, bisa sampai 10 kelas. Dua untuk kelas kecil, dua yang besar. Biasanya dilaksanakan berdasarkan warna. “Ada delapan kontes sendiri yang dewasa,” katanya. (*/ali)

Semua berawal dari hobi. Ivan Kurniawan, peternak gecko kini sudah mendapatkan penghasilan. Omsetnya, bisa tembus puluhan juta.

VACHRI RINALDY  L, Radar Kudus

TOKEK hias milik Ivan Kurniawan sudah keluar dari cangkang telurnya. Si baby hewan yang kerap disebut gecko itu mirip seperti buaya kecil. Dengan motif warna-warni.

Ada juga yang berwarna hitam polos. Ukurannya sekitar separo dari telapak tangan Ivan.  Awal menggeluti ini, kaya Ivan, hanya sebatas iseng. Karena, mulanya ia diberi gecko oleh saudaranya. Saat itu hanya satu ekor betina. Selanjutnya ia menambah satu jantan dan satu betina lagi.

Mulai dari sini, Ivan telaten merawat hewan piaraannya itu. Seperti belajar tentang proses pengawinan. Yang ia pelajari secara otodidak.

Sekitar tujuh tahun lalu, ia memulai bisnis ternaknya dengan modal Rp 1 Juta. Awalnya sempat gagal. 25 telur seluruhnya gagal menetas. Kalau pun menetas, si tokek hias gagal hidup.

“Setelah gagal-gagal itu baru hidup. Modal tiga ekor. Kurang lebih kalau diuangkan tahun 2014 kurang lebih Rp 1,5 Juta,” katanya.

Selama beternak ada beberapa jenis tokek hias yang tidak ia jual. Terutama yang juara kontes. Biasanya, kata dia, gecko-gecko yang menjadi kriteria untuk mengikuti kontes harus lincah. Selain itu, kondisi fisik juga mulus.

“Kuku lengkap. Ujung ekor tidak keriting. Baru setelah itu lihat warna, motif keunikannya,” imbuhnya.

Sebelum terjun ke dunia kontes gecko, ia mempelajari terlebih dahulu seluk beluk hewan pemakan jangkrik itu melalui bisnis ternak yang telah digeluti. Agar mengetahui apa yang memengaruhi kemahalan si tokek.

Baca Juga :  Banting Setir Usaha Tiwul, Jual Motor Buat Modal

Semakin banyak prestasi, semakin mahal harga gecko. Untuk perawatan sendiri, Ivan menilai cukup simple simpel. Perhatian biasanya diberikan dua hari sekali. Dengan membersihkan kandang, memberi makan dan minum. Kandangnya pun bisa memakai toples plastik.

Namun jika cuaca dingin, si gecko biasanya berkurang nafsu makan. Sehingga, tubuhnya agak kurusan. Namun jika sudah musim panas badannya kembali berisi. Makanannya biasanya menggunakan perut jangkrik atau ulat hongkong.

Kalaupun sakit, bisa diobati menggunakan obat manusia yang biasa dikonsumsi untuk infeksi pencernaan. Caranya, dari obat yang berbentuk tablet, kemudian dimasukkan ke air lalu diminumkan ke gecko.

“Kalau manusia satu tablet sekali minum. Lha ini satu tablet bisa untuk lima sampai delapan ekor gecko,” imbuhnya.

Ia menganggap bisnis ini sebagai hobi yang menguntungkan. Omzet jika tidak musim bertelur saja bisa tembus pendapatan kotor sekitar Rp 4 Juta sampai Rp 5 Juta. Kalau musim bertelur, malah bisa sampai dua kali lipat. Bahkan pada jenis-jenis tertentu bisa tembus puluhan juta rupiah.

Ada banyak kontes gecko. Kata Ivan, bisa sampai 10 kelas. Dua untuk kelas kecil, dua yang besar. Biasanya dilaksanakan berdasarkan warna. “Ada delapan kontes sendiri yang dewasa,” katanya. (*/ali)

Most Read

Artikel Terbaru

/