alexametrics
26.5 C
Kudus
Thursday, August 11, 2022

Di Balik Proyek Jembatan Juwana

Sewakan Rusunawa, Rela di Kolong Jembatan

Persoalan rumah tinggal layak huni membayangi proyek pembangunan Jembatan Juwana, Pati yang diperkirakan menelan dana ratusan miliar rupiah. Sebelum terbakar, di kolong jembatan itu berdiri 11 banguni dihuni 16 warga. Sementara tak jauh dari hunian liar itu berdiri rusunawa. Penghuni bangunan liar sengaja menyewakannya ke pihak lain.

Sepuluh bangunan liar di sana pun sudah rata dengan tanah hangus terbakar si jago merah beberapa waktu lalu (Minggu, 22 Mei 2022). Termasuk rumah milik Suyati, warga Todanan, Blora.

Suyati itu sejak 2002 silam menempati rumah semi permanen di bawah Jembatan Juwana (utara). Dia pun terpaksa ndompleng tetangga untuk melanjutkan hidupnya pasca terbakar. Tetangganya juga tak jauh dari jembatan. Sekitar tiga meter.


Kesehariannya, berjualan beraneka makanan di bawah Jembatan Juwana itu. Suyati yang janda ini hidup dengan membuka warung di bawah jembatan sudah berusia 50 tahun lebih. Kata dia, ada 10 rumah bedeng yang sebelumnya tinggal di bawah jembatan.

Dia terpaksa ndompleng rumah yang masih tersisa di sana. Ngakunya, kenal dari jalanan. ”Sudah habis semua (barang berharga), Mas. Tinggal badan dan nyawa saja ini yang masih tersisa,” tuturnya.

Namun pascakebakaran warga lainnya sudah pindah sudah 20 tahun. Saya jualan kopi, mi instan. Sekadarnya, mas,” terang perempuan 51 tahun itu.

Dia tak menahu secara rinci warga lain yang tinggal bersama di jembatan itu. ”Ndak tahu yang warga yang lainya. Mungkin sudah pada pulang,” imbuhnya.

Dia pun mengaku pasrah jika nanti digusur dari bawah Jembatan Juwana. Apalagi sebetulnya dilarang tinggal di bawah jembatan. ”Kalau jembatan dibongkar, misalnya boleh ditempati ya ke sini. Kalau tidak boleh ditinggali ya sudah. Mungkin balik kampung ke Blora. Pasrah,” tukasnya.

Penghuni kolong Jembatan Juwana itu, berdasarkan pendataan pihak Kecamatan Juwana dulu sampai sekarang, tak terdaftar sebagai penduduk desa. Hunian itu dapat dikatakan bangunan liar.

Camat Juwana Sunaryo mengatakan, warga yang tinggal di bawah Jembatan Juwana bukan warga Juwana. Menurutnya, mereka warga dari luar Juwana.

”Orang yang di jembatan ini ada yang punya rumah di rusunawa. Tapi itu dikontrakkan. Nah, malah tinggal di bawah jembatan. Data detailnya, kami belum tahu. Coba hubungi kepala desa (Kades) setempat. Sementara ini, mereka mungkin sudah kembali,” ujarnya.

Sunaryo menerangkan, kini sudah tidak ada warga yang tinggal bawah jembatan. Ke depan, lanjutnya, pemerintah daerah akan melakukan koordinasi agar warga tidak tinggal lagi di kolong Jembatan Juwana.

Sementara itu, berdasarkan data dari pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Doropayung, Juwana setidaknya ada 16 warga yang tinggal di bawah jembatan itu. Pihaknya mendata dengan memfotocopy KTP warga tersebut. Data itu di antaranya, warga asal Purwodadi Suratno (KTP alamat Doropayung), warga Pati, Masrikin (alamat Semampir), warga asal Pati Sulastri (alamat Bringin, Juwana), warga Pati Wakjo (alamat Jakenan), warga Pati Sundari (alamat Kauman, Juwana), warga asal Jepara Rosinah (alamat Ujungwatu, Donorojo), warga Doropayung sendiri, Sabar, warga Pati Nirah (Waturoyo, Margoyoso), dan warga Blora, Suyati (Todanan, Blora).

Baca Juga :  BPBD Pati Rampungkan Dua Dokumen Kebencanaan

”Kalau memang ada warga rusunawa tinggal di jembatan kami kurang tahu. Tapi hanya satu warga Doropayung yang tinggal di sana. Mungkin karena persoalan rumah tangga dan sebagainya,” terang Perangkat Desa Doropayung, Juwana Saleh.

Di sisi lain, harga rusunawa itu tergantung dari lantai dimana tinggal. Misalnya, di lantai 5 harga kontrakannya Rp 50 ribu sebulan. Sedangkan lantai 2 Rp 300 ribu (sudah dihitung listrik dan air).

”Harga tergantung lantai mana. Misalnya, anda mau ngontrak palingan di lantai lima. Semua kamar ukurannya 3×3 meter persegi. Itu termasuk ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi,” ujar salah satu penghuni rusunawa Joko.

Lanjut laki-laki yang sudah 7 tahun menetap di rusunawa itu, tak tau alasan warga sini (rusunawa) yang menetap di bawah kolong jembatan. Mungkin urusan berbeda-beda.

”Mereka tak mau pindah dari kolong jembatan. Di rusunawa itu orangnya cuek. Mau pentung-pentungan di sini tak ada yang ngurusin. Urusannya beda-beda. Mungkin yang menetap di jembatan itu punya kepentingan masing-masing,” pungkasnya.

DIHUNI: Terlihat kondisi warga dan anak-anak di rusunawa Pati belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

Dilarang Pindahkan Hak Hunian

Warga rusunawa di Juwana diduga sewakan huniannya ke orang lain. Malah, memilih tinggal di bawah Jembatan Juwana. Sedangkan dalam aturan Pemkab Pati, warga rusunawa dilarang memindah hak hunian kepada orang lain.

Atuaran pelarangan hak hunian ini tertuang dalam Peraturan Bupati Pati Nomor 126 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa Kabupaten Pati.

Rinciannya, pada Pasal 16 Larangan Penghuni poin a. Di antara bunyi dalam pasal itu, penghuni sarusunawa dilarang memindahkan hak penghunian kepada pihak lain. Selain itu, menyewa lebih dari satu-satuan hunian dan menggunakan satuan hunian sebagai tempat usaha atau gudang.

Aturan tersebut ditegaskan dengan kata Bupati Pati Haryanto. Katanya. ”Pemilik hunian menyewakan hunian ke orang lain itu ya tidak boleh. Ada aturannya,”.

Sementara itu, berdasarkan data pihak Kecamatan Juwana, ada warga rusunawa yang menyewakan huniannya. Mereka malah tidur di bawah Jembatan Juwana.

Camat Juwana Sunaryo mengatakan, warga yang tinggal di bawah Jembatan Juwana bukan warga Juwana. Menurutnya, mereka warga dari luar Juwana. ”Orang yang di jembatan ini ada yang punya rumah di rusunawa. Tapi itu dikontrakkan. Nah, malah tinggal di bawah jembatan. Data detailnya, kami belum tahu. Coba hubungi kepala desa (Kades) setempat. Sementara ini, mereka mungkin sudah kembali,” ujarnya.

Sunaryo menerangkan, kini sudah tidak ada warga yang tinggal bawah jembatan. Ke depan, lanjutnya, pemerintah daerah akan melakukan koordinasi agar warga tidak tinggal lagi di kolong Jembatan Juwana. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Persoalan rumah tinggal layak huni membayangi proyek pembangunan Jembatan Juwana, Pati yang diperkirakan menelan dana ratusan miliar rupiah. Sebelum terbakar, di kolong jembatan itu berdiri 11 banguni dihuni 16 warga. Sementara tak jauh dari hunian liar itu berdiri rusunawa. Penghuni bangunan liar sengaja menyewakannya ke pihak lain.

Sepuluh bangunan liar di sana pun sudah rata dengan tanah hangus terbakar si jago merah beberapa waktu lalu (Minggu, 22 Mei 2022). Termasuk rumah milik Suyati, warga Todanan, Blora.

Suyati itu sejak 2002 silam menempati rumah semi permanen di bawah Jembatan Juwana (utara). Dia pun terpaksa ndompleng tetangga untuk melanjutkan hidupnya pasca terbakar. Tetangganya juga tak jauh dari jembatan. Sekitar tiga meter.

Kesehariannya, berjualan beraneka makanan di bawah Jembatan Juwana itu. Suyati yang janda ini hidup dengan membuka warung di bawah jembatan sudah berusia 50 tahun lebih. Kata dia, ada 10 rumah bedeng yang sebelumnya tinggal di bawah jembatan.

Dia terpaksa ndompleng rumah yang masih tersisa di sana. Ngakunya, kenal dari jalanan. ”Sudah habis semua (barang berharga), Mas. Tinggal badan dan nyawa saja ini yang masih tersisa,” tuturnya.

Namun pascakebakaran warga lainnya sudah pindah sudah 20 tahun. Saya jualan kopi, mi instan. Sekadarnya, mas,” terang perempuan 51 tahun itu.

Dia tak menahu secara rinci warga lain yang tinggal bersama di jembatan itu. ”Ndak tahu yang warga yang lainya. Mungkin sudah pada pulang,” imbuhnya.

Dia pun mengaku pasrah jika nanti digusur dari bawah Jembatan Juwana. Apalagi sebetulnya dilarang tinggal di bawah jembatan. ”Kalau jembatan dibongkar, misalnya boleh ditempati ya ke sini. Kalau tidak boleh ditinggali ya sudah. Mungkin balik kampung ke Blora. Pasrah,” tukasnya.

Penghuni kolong Jembatan Juwana itu, berdasarkan pendataan pihak Kecamatan Juwana dulu sampai sekarang, tak terdaftar sebagai penduduk desa. Hunian itu dapat dikatakan bangunan liar.

Camat Juwana Sunaryo mengatakan, warga yang tinggal di bawah Jembatan Juwana bukan warga Juwana. Menurutnya, mereka warga dari luar Juwana.

”Orang yang di jembatan ini ada yang punya rumah di rusunawa. Tapi itu dikontrakkan. Nah, malah tinggal di bawah jembatan. Data detailnya, kami belum tahu. Coba hubungi kepala desa (Kades) setempat. Sementara ini, mereka mungkin sudah kembali,” ujarnya.

Sunaryo menerangkan, kini sudah tidak ada warga yang tinggal bawah jembatan. Ke depan, lanjutnya, pemerintah daerah akan melakukan koordinasi agar warga tidak tinggal lagi di kolong Jembatan Juwana.

Sementara itu, berdasarkan data dari pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Doropayung, Juwana setidaknya ada 16 warga yang tinggal di bawah jembatan itu. Pihaknya mendata dengan memfotocopy KTP warga tersebut. Data itu di antaranya, warga asal Purwodadi Suratno (KTP alamat Doropayung), warga Pati, Masrikin (alamat Semampir), warga asal Pati Sulastri (alamat Bringin, Juwana), warga Pati Wakjo (alamat Jakenan), warga Pati Sundari (alamat Kauman, Juwana), warga asal Jepara Rosinah (alamat Ujungwatu, Donorojo), warga Doropayung sendiri, Sabar, warga Pati Nirah (Waturoyo, Margoyoso), dan warga Blora, Suyati (Todanan, Blora).

Baca Juga :  Sidang Perdana Mafia Solar di Pati Hadirkan Enam Tersangka, Delapan Lainnya Menyusul

”Kalau memang ada warga rusunawa tinggal di jembatan kami kurang tahu. Tapi hanya satu warga Doropayung yang tinggal di sana. Mungkin karena persoalan rumah tangga dan sebagainya,” terang Perangkat Desa Doropayung, Juwana Saleh.

Di sisi lain, harga rusunawa itu tergantung dari lantai dimana tinggal. Misalnya, di lantai 5 harga kontrakannya Rp 50 ribu sebulan. Sedangkan lantai 2 Rp 300 ribu (sudah dihitung listrik dan air).

”Harga tergantung lantai mana. Misalnya, anda mau ngontrak palingan di lantai lima. Semua kamar ukurannya 3×3 meter persegi. Itu termasuk ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi,” ujar salah satu penghuni rusunawa Joko.

Lanjut laki-laki yang sudah 7 tahun menetap di rusunawa itu, tak tau alasan warga sini (rusunawa) yang menetap di bawah kolong jembatan. Mungkin urusan berbeda-beda.

”Mereka tak mau pindah dari kolong jembatan. Di rusunawa itu orangnya cuek. Mau pentung-pentungan di sini tak ada yang ngurusin. Urusannya beda-beda. Mungkin yang menetap di jembatan itu punya kepentingan masing-masing,” pungkasnya.

DIHUNI: Terlihat kondisi warga dan anak-anak di rusunawa Pati belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

Dilarang Pindahkan Hak Hunian

Warga rusunawa di Juwana diduga sewakan huniannya ke orang lain. Malah, memilih tinggal di bawah Jembatan Juwana. Sedangkan dalam aturan Pemkab Pati, warga rusunawa dilarang memindah hak hunian kepada orang lain.

Atuaran pelarangan hak hunian ini tertuang dalam Peraturan Bupati Pati Nomor 126 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa Kabupaten Pati.

Rinciannya, pada Pasal 16 Larangan Penghuni poin a. Di antara bunyi dalam pasal itu, penghuni sarusunawa dilarang memindahkan hak penghunian kepada pihak lain. Selain itu, menyewa lebih dari satu-satuan hunian dan menggunakan satuan hunian sebagai tempat usaha atau gudang.

Aturan tersebut ditegaskan dengan kata Bupati Pati Haryanto. Katanya. ”Pemilik hunian menyewakan hunian ke orang lain itu ya tidak boleh. Ada aturannya,”.

Sementara itu, berdasarkan data pihak Kecamatan Juwana, ada warga rusunawa yang menyewakan huniannya. Mereka malah tidur di bawah Jembatan Juwana.

Camat Juwana Sunaryo mengatakan, warga yang tinggal di bawah Jembatan Juwana bukan warga Juwana. Menurutnya, mereka warga dari luar Juwana. ”Orang yang di jembatan ini ada yang punya rumah di rusunawa. Tapi itu dikontrakkan. Nah, malah tinggal di bawah jembatan. Data detailnya, kami belum tahu. Coba hubungi kepala desa (Kades) setempat. Sementara ini, mereka mungkin sudah kembali,” ujarnya.

Sunaryo menerangkan, kini sudah tidak ada warga yang tinggal bawah jembatan. Ke depan, lanjutnya, pemerintah daerah akan melakukan koordinasi agar warga tidak tinggal lagi di kolong Jembatan Juwana. (adr/him)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/