alexametrics
23.5 C
Kudus
Thursday, July 7, 2022

Evi Septimardiati Seniman yang Ciptakan Topeng Mina Tani

Ciptakan Berbahan Kuningan, Pamerkan di Ajang Internasional

Sanggar Pandu milik Evi Septimardiati menciptakan produk budaya Topeng Mina Tani. Topeng Mina Tani berbahan kuningan yang selama ini jadi kerajinan khas produk Pati. Bahkan, topeng tersebut telah dipertontonkan hingga Internasional.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

TOPENG yang terbuat dari kuningan itu terlihat digunakan anak-anak didikan sanggar tersebut. Mereka memperagakan hasil karya tarian buatan sendiri dengan topeng itu.


”Topengnya digigit. Mengacu pada gaya Solo. Kalau Yogyakarta kan dicantelke,” kata wanita yang akrab disapa Evi itu.

Lalu, Evi menunjukkan wartawan ini hasil budaya itu. ”Lumayan berat. Bahannya dari kuningan kan. Bukan kayu. Tak bisa dibayangkan bila anak-anak SD memainkannya,” tanya wartawan ini.

”Penari sudah terbiasa dengan ini. Mereka dilatih teknik dasar menari. Kemudian tari topeng. Hal yang sulit malah penari cenderung melihat penonton. Jadi kesannya ndangak. Seharusnya tak seperti itu,” jawabnya.

Topeng ini tak seperti kebanyakan daerah lain. Tak terbuat dari bahan kayu seperti topeng di Yogakarta dan Solo.

”Materialnya dari kuningan. Mau menunjukkan di Pati punya produk kuningan terbaik. Piala indonesia pun dibuat dari kuningan Pati,” ujar wanita lulusan S2 ISI Solo ini.

Selain itu, beberapa ciri khas Pati juga menempel pada topeng. Ya. Ada ukiran ikan, laut, dan padi. Itu Mina Tani.

Seperti halnya Pati Kota Mina Tani. Produk unggulannya hasil tanam padi dan hasil laut.

”Mina Itu perikanan. Tani itu melambangkam pertanian. Dibungkus kedalam ukiran topeng. Menunjukkan inilah Topeng Mina Tani,” papar Wanita asal Pemalang itu.

Baca Juga :  Bangun Pusat Oleh-Oleh, Genjot Potensi Wisata

Biaya pembuatan topeng ini terbilang cukup merogoh gocek. Tiap topeng harganya Rp 1,5 jutaan.

”Saya punya 12. Yang 5 dibelikan gratis okeh salah satu pengrajin kuningan. Sisanya bayar sendiri,” terang wanita usia 30 tahunan ini.

Selain itu, topeng ini sudah berhak cipta. Lanjut wanita berdomisili Kecamatan Gabus ini, pengajuannya 2020 lalu. Kemudian dari Kemenkumham surat hak ciptanya baru keliar 2021.

”Jadi sudah hak cipta. Hasil budaya topeng ini tak bisa ditiru. Ciri khas Pati-nya tak bisa dijiplak,” lanjutnya.

Terus kenapa bisa dapat ide membuat topeng ini? Jawab dia, saat 2017 Sanggar Pandu ketiban sampur untuk membuat tari openning.

”Saat itu Pati touris ekspo. Sanggar Pandu mendapatkan jatah tari tema kuningan. Akhirnya ada ide bikin topeng ini. Memasukkan unsur mina tani,” ujarnya.

Topeng ini biasanya diiringi tarian topeng yang Evi kembangkan sendiri. Setidaknya ada 17-an gerakan tari. Buatnya tak sampai berbulan-bulan. Cuman tiga pekan saja.

”Dapat idenya ggak nentu. Kadang lihat anak sedang main. Dia lompat-lompat. Kadang pas mandi terlintas ide gerakan. Jadi mandi sambil nari,” tukasnya.

Tak berhenti disitu, topengnya ini mewakili nama Pati saat Solo Internasional Mask Festival (IMF) pada 2018 lalu. “Itu secara virtual. Banyak negara yang ikut. Di antaranya, Meksiko, Jepang, Thailand. Dua kali ikut ini. Dapat piagam keterlibatkan mengisi festival. Semua diapresiasi. Karena punya produk tari. Tari Topeng Mina Tani,” tutupnya. (*/him)

Sanggar Pandu milik Evi Septimardiati menciptakan produk budaya Topeng Mina Tani. Topeng Mina Tani berbahan kuningan yang selama ini jadi kerajinan khas produk Pati. Bahkan, topeng tersebut telah dipertontonkan hingga Internasional.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus

TOPENG yang terbuat dari kuningan itu terlihat digunakan anak-anak didikan sanggar tersebut. Mereka memperagakan hasil karya tarian buatan sendiri dengan topeng itu.

”Topengnya digigit. Mengacu pada gaya Solo. Kalau Yogyakarta kan dicantelke,” kata wanita yang akrab disapa Evi itu.

Lalu, Evi menunjukkan wartawan ini hasil budaya itu. ”Lumayan berat. Bahannya dari kuningan kan. Bukan kayu. Tak bisa dibayangkan bila anak-anak SD memainkannya,” tanya wartawan ini.

”Penari sudah terbiasa dengan ini. Mereka dilatih teknik dasar menari. Kemudian tari topeng. Hal yang sulit malah penari cenderung melihat penonton. Jadi kesannya ndangak. Seharusnya tak seperti itu,” jawabnya.

Topeng ini tak seperti kebanyakan daerah lain. Tak terbuat dari bahan kayu seperti topeng di Yogakarta dan Solo.

”Materialnya dari kuningan. Mau menunjukkan di Pati punya produk kuningan terbaik. Piala indonesia pun dibuat dari kuningan Pati,” ujar wanita lulusan S2 ISI Solo ini.

Selain itu, beberapa ciri khas Pati juga menempel pada topeng. Ya. Ada ukiran ikan, laut, dan padi. Itu Mina Tani.

Seperti halnya Pati Kota Mina Tani. Produk unggulannya hasil tanam padi dan hasil laut.

”Mina Itu perikanan. Tani itu melambangkam pertanian. Dibungkus kedalam ukiran topeng. Menunjukkan inilah Topeng Mina Tani,” papar Wanita asal Pemalang itu.

Baca Juga :  Semangat Juara Termotivasi Ubah Nasib Kehidupan

Biaya pembuatan topeng ini terbilang cukup merogoh gocek. Tiap topeng harganya Rp 1,5 jutaan.

”Saya punya 12. Yang 5 dibelikan gratis okeh salah satu pengrajin kuningan. Sisanya bayar sendiri,” terang wanita usia 30 tahunan ini.

Selain itu, topeng ini sudah berhak cipta. Lanjut wanita berdomisili Kecamatan Gabus ini, pengajuannya 2020 lalu. Kemudian dari Kemenkumham surat hak ciptanya baru keliar 2021.

”Jadi sudah hak cipta. Hasil budaya topeng ini tak bisa ditiru. Ciri khas Pati-nya tak bisa dijiplak,” lanjutnya.

Terus kenapa bisa dapat ide membuat topeng ini? Jawab dia, saat 2017 Sanggar Pandu ketiban sampur untuk membuat tari openning.

”Saat itu Pati touris ekspo. Sanggar Pandu mendapatkan jatah tari tema kuningan. Akhirnya ada ide bikin topeng ini. Memasukkan unsur mina tani,” ujarnya.

Topeng ini biasanya diiringi tarian topeng yang Evi kembangkan sendiri. Setidaknya ada 17-an gerakan tari. Buatnya tak sampai berbulan-bulan. Cuman tiga pekan saja.

”Dapat idenya ggak nentu. Kadang lihat anak sedang main. Dia lompat-lompat. Kadang pas mandi terlintas ide gerakan. Jadi mandi sambil nari,” tukasnya.

Tak berhenti disitu, topengnya ini mewakili nama Pati saat Solo Internasional Mask Festival (IMF) pada 2018 lalu. “Itu secara virtual. Banyak negara yang ikut. Di antaranya, Meksiko, Jepang, Thailand. Dua kali ikut ini. Dapat piagam keterlibatkan mengisi festival. Semua diapresiasi. Karena punya produk tari. Tari Topeng Mina Tani,” tutupnya. (*/him)


Most Read

Artikel Terbaru

/