alexametrics
30.5 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Pondok Damaran, Tempat Nyantri KH Bahauddin Nur Salim di Kudus (1-Bersambung)

Jalankan Amanah, Gus Baha Jadi Pengasuh

Selain mondok di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, KH Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha juga pernah nyantri di Kudus. Tepatnya di Ponpes Mazroatul Ulum atau Pondok Damaran. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Eko Santoso dan Noor Syafaatul Udhma berkesempatan mengunjungi.

Suasana hening terasa sesampainya di ujung gang sempit sebelah barat Menara Kudus. Mirip labirin. Terlihat tembok tebal bercat putih dengan warna yang mulai lamat-lamat. Khas bangunan masa kolonial. Terlebih terdapat jendela dengan daun jendela ganda yang dilengkapi dua lubang di atasnya.

Di bagian tengah dinding itu, terdapat pintu kayu berwarna cokelat dengan dua daun. Tepat setelah membuka pintu, hawa sejuk langsung terasa. Pandangan mata langsung tertuju ke bangunan unik dan klasik di depan pintu. Gedung berwarna kuning gading itu, tertulis huruf arab. Tepatnya di tembok bagian atas. Tepat di bawah ventilasi. Terbaca 27 Rajab 1343 Hijriyah.


Dari luar gedung, lamat-lamat terdengar suara lantunan ayat suci Alquran. Suara ini beradu dengan obrolan suara santri dari dalam kamar. Sementara di aula, terlihat santri tidur dengan posisi miring dengan kaki tertekuk meringkuk.

Inilah kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Mazroatul Ulum atau juga dikenal sebagai Pondok Damaran 78. Angka 78 hanya penanda alamat bangunan yang kini masih kokoh dihuni oleh pengasuhnya dari generasi ke generasi. Pondok ini juga dikenal sebagai salah satu pondok tertua di Kudus. Yang kini diasuh oleh KH Bahauddin Nur Salin atau Gus Baha. Sejak sepeninggal Nyai Aminah pada 2019 lalu.

Terpilihnya Gus Baha pemegang estafet pengasuh pondok bukanlah tanpa alasan. Menurut Pengasuh II Ponpes Mazro’atul Ulum KH Ali Imron Zubaidi, terpilihnya Gus Baha karena sesuai amanah dari Nyai Aminah.

Amanah itu diberikan karena Gus Baha memang pernah menjadi santri di Ponpes Damaran. Sekaligus memiliki trah yang sanad-nya nyambung dengan pendiri pondok KH Ahmad Sholeh Sepuh.

”Sebelum Bu Nyai Aminah meninggal, beliau wasiat, pesen ke saya untuk disampaikan ke Gus Baha, agar meneruskan pondok ini,” kata KH Ali Imron Zubaidi.

Pada 2019, kala Bu Nyai sakit-sakitan, KH Ali Imron Zubaidi datang ke Narukan, Rembang, kediaman Gus Baha. Menyampaikan pesan dari Bu Nyai mengenai kelanjutan estafet pengasuh pondok tersebut. Setelah sampai di Narukan dan pesan disampaikan, Gus Baha menerima. Sejak saat itulah, Ponpes Damaran itu diasuh langsung Gus Baha hingga sekarang.

Meski baru menjadi pengasuh pada 2019, sebelumnya Gus Baha sudah mulai ngaji rutinan di ponpes tersebut. Itu juga atas permintaan Bu Nyai.

Ustaz Hamdan, salah satu alumni Ponpes Damaran yang juga murid Gus Baha menyebut, pengajian Gus Baha di ponpes itu dimulai sejak 2005. Gus Baha selalu rutin mengikuti acara rutinan setiap tahun memperingati haul masyayikh pada bulan Sya’ban. Sesekali putra KH Nursalim itu, diminta mengisi pengajian.

Baca Juga :  Tiap 15 Menit Telepon Suami, Tanya Kabar Anak

”Tetapi seingat saya sejak 2015, hingga kini, Gus Baha rutin yang ngisi mauidloh hazanah. Kalau dulu masih selang-seling,” katanya.

Sementara untuk ngaji rutinan mulai digelar sejak 2017. Berlangsung hari Jumat awal setiap bulan. Dimulai setelah Jumatan hingga menjelang Salat Ashar. Lokasi pengajian di musala yang terletak di sebelah barat ndalem. Itu merupakan salah satu bangunan paling awal yang juga menjadi cikal bakal pondok. Bentuknya masih mempertahankan struktur bangunan lama. Sedikit saja yang direnovasi.

Pada bagian dalam musla berbentuk seperti huruf T. Di bagian barat ruangan los. Memanjang. Tampak seperti kepala huruf T. Sementara ke timur, makin menyempit. Seperti satu kaki di huruf T. Menyempitnya ruangan karena terdapat empat kamar santri. Masing-masing dua kamar, di bagian kanan dan kiri.

Pada tiap-tiap pintu, baik daun pintu maupun kerangka kamar masih mempertahankan bentuk semula. Warnanya kecokelatan. Terlihat sangat tua karena beberapa bagian ujung daun pintu sudah terkikis usia. Tetapi tetap terlihat kokoh. Sebab, memang terbuat dari kayu jati tua zaman dulu, sehingga awet.

Pada bagian lantai masih menggunakan tegel lama ukuran 20×20 sentimeter. Hitam kecokelatan. Sebagian berwarna kemerahan. Sementara pada bagian atap, dulunya terpasang kepang atau anyaman dari bambu. Namun karena lapuk, kemudian diganti dengan plafon.

Biasanya ngaji rutinan digelar di musala itu. Bisa diikuti 500-an hingga ribuan orang. Baik musola, aula depan ruang ndalem, pondok timur padat. Bahkan, hadirin hingga hingga sampai area luar pondok. Yakni di jalan gang-gang yang ada di sekitar pondok. Juga di masjid yang berada di sebelah barat pondok. Sebab, yang hadir bukan hanya santri pondok, tapi juga hadirin umum.

Ustaz Hamdan menambahkan, saat awal-awal pengajian rutinan bulanan itu, hanya diikuti santri dan alumni pondok. Bukan untuk kalangan umum. Dan berlangsung dua bulan sekali. Sebelum akhirnya rutin sebulan sekali dan untuk umum.

Dia menamabahkan, dulu pengajian hanya berlangsung offline. Tak pernah online. Namun, belakangan demi memfasilitasi alumni yang jumlahnya juga semakin banyak dan tersebar di berbagai daerah, pengajian juga dibuat streaming. ”Disiarkan di Youtube pondok. Namun, alat dan tim difasilitasi Yayasan Menara berserta timnya. Termasuk sound dan tratak disiapkan,” katanya.

Sementara untuk kitab yang dikaji dalam pengajian itu, sesuai dengan keinginan Gus Baha. Namun yang sering kitab Minhajut Tholibin, Qowaidul Asasiyah karangan Syekh Maulana Maliki, dan kitab Shahih Muslim. (*/lin)

Selain mondok di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, KH Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha juga pernah nyantri di Kudus. Tepatnya di Ponpes Mazroatul Ulum atau Pondok Damaran. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Eko Santoso dan Noor Syafaatul Udhma berkesempatan mengunjungi.

Suasana hening terasa sesampainya di ujung gang sempit sebelah barat Menara Kudus. Mirip labirin. Terlihat tembok tebal bercat putih dengan warna yang mulai lamat-lamat. Khas bangunan masa kolonial. Terlebih terdapat jendela dengan daun jendela ganda yang dilengkapi dua lubang di atasnya.

Di bagian tengah dinding itu, terdapat pintu kayu berwarna cokelat dengan dua daun. Tepat setelah membuka pintu, hawa sejuk langsung terasa. Pandangan mata langsung tertuju ke bangunan unik dan klasik di depan pintu. Gedung berwarna kuning gading itu, tertulis huruf arab. Tepatnya di tembok bagian atas. Tepat di bawah ventilasi. Terbaca 27 Rajab 1343 Hijriyah.

Dari luar gedung, lamat-lamat terdengar suara lantunan ayat suci Alquran. Suara ini beradu dengan obrolan suara santri dari dalam kamar. Sementara di aula, terlihat santri tidur dengan posisi miring dengan kaki tertekuk meringkuk.

Inilah kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Mazroatul Ulum atau juga dikenal sebagai Pondok Damaran 78. Angka 78 hanya penanda alamat bangunan yang kini masih kokoh dihuni oleh pengasuhnya dari generasi ke generasi. Pondok ini juga dikenal sebagai salah satu pondok tertua di Kudus. Yang kini diasuh oleh KH Bahauddin Nur Salin atau Gus Baha. Sejak sepeninggal Nyai Aminah pada 2019 lalu.

Terpilihnya Gus Baha pemegang estafet pengasuh pondok bukanlah tanpa alasan. Menurut Pengasuh II Ponpes Mazro’atul Ulum KH Ali Imron Zubaidi, terpilihnya Gus Baha karena sesuai amanah dari Nyai Aminah.

Amanah itu diberikan karena Gus Baha memang pernah menjadi santri di Ponpes Damaran. Sekaligus memiliki trah yang sanad-nya nyambung dengan pendiri pondok KH Ahmad Sholeh Sepuh.

”Sebelum Bu Nyai Aminah meninggal, beliau wasiat, pesen ke saya untuk disampaikan ke Gus Baha, agar meneruskan pondok ini,” kata KH Ali Imron Zubaidi.

Pada 2019, kala Bu Nyai sakit-sakitan, KH Ali Imron Zubaidi datang ke Narukan, Rembang, kediaman Gus Baha. Menyampaikan pesan dari Bu Nyai mengenai kelanjutan estafet pengasuh pondok tersebut. Setelah sampai di Narukan dan pesan disampaikan, Gus Baha menerima. Sejak saat itulah, Ponpes Damaran itu diasuh langsung Gus Baha hingga sekarang.

Meski baru menjadi pengasuh pada 2019, sebelumnya Gus Baha sudah mulai ngaji rutinan di ponpes tersebut. Itu juga atas permintaan Bu Nyai.

Ustaz Hamdan, salah satu alumni Ponpes Damaran yang juga murid Gus Baha menyebut, pengajian Gus Baha di ponpes itu dimulai sejak 2005. Gus Baha selalu rutin mengikuti acara rutinan setiap tahun memperingati haul masyayikh pada bulan Sya’ban. Sesekali putra KH Nursalim itu, diminta mengisi pengajian.

Baca Juga :  Gaet Suara, Cakades di Kudus Ini 'Pancing' Pemilih dengan Makanan Gratis

”Tetapi seingat saya sejak 2015, hingga kini, Gus Baha rutin yang ngisi mauidloh hazanah. Kalau dulu masih selang-seling,” katanya.

Sementara untuk ngaji rutinan mulai digelar sejak 2017. Berlangsung hari Jumat awal setiap bulan. Dimulai setelah Jumatan hingga menjelang Salat Ashar. Lokasi pengajian di musala yang terletak di sebelah barat ndalem. Itu merupakan salah satu bangunan paling awal yang juga menjadi cikal bakal pondok. Bentuknya masih mempertahankan struktur bangunan lama. Sedikit saja yang direnovasi.

Pada bagian dalam musla berbentuk seperti huruf T. Di bagian barat ruangan los. Memanjang. Tampak seperti kepala huruf T. Sementara ke timur, makin menyempit. Seperti satu kaki di huruf T. Menyempitnya ruangan karena terdapat empat kamar santri. Masing-masing dua kamar, di bagian kanan dan kiri.

Pada tiap-tiap pintu, baik daun pintu maupun kerangka kamar masih mempertahankan bentuk semula. Warnanya kecokelatan. Terlihat sangat tua karena beberapa bagian ujung daun pintu sudah terkikis usia. Tetapi tetap terlihat kokoh. Sebab, memang terbuat dari kayu jati tua zaman dulu, sehingga awet.

Pada bagian lantai masih menggunakan tegel lama ukuran 20×20 sentimeter. Hitam kecokelatan. Sebagian berwarna kemerahan. Sementara pada bagian atap, dulunya terpasang kepang atau anyaman dari bambu. Namun karena lapuk, kemudian diganti dengan plafon.

Biasanya ngaji rutinan digelar di musala itu. Bisa diikuti 500-an hingga ribuan orang. Baik musola, aula depan ruang ndalem, pondok timur padat. Bahkan, hadirin hingga hingga sampai area luar pondok. Yakni di jalan gang-gang yang ada di sekitar pondok. Juga di masjid yang berada di sebelah barat pondok. Sebab, yang hadir bukan hanya santri pondok, tapi juga hadirin umum.

Ustaz Hamdan menambahkan, saat awal-awal pengajian rutinan bulanan itu, hanya diikuti santri dan alumni pondok. Bukan untuk kalangan umum. Dan berlangsung dua bulan sekali. Sebelum akhirnya rutin sebulan sekali dan untuk umum.

Dia menamabahkan, dulu pengajian hanya berlangsung offline. Tak pernah online. Namun, belakangan demi memfasilitasi alumni yang jumlahnya juga semakin banyak dan tersebar di berbagai daerah, pengajian juga dibuat streaming. ”Disiarkan di Youtube pondok. Namun, alat dan tim difasilitasi Yayasan Menara berserta timnya. Termasuk sound dan tratak disiapkan,” katanya.

Sementara untuk kitab yang dikaji dalam pengajian itu, sesuai dengan keinginan Gus Baha. Namun yang sering kitab Minhajut Tholibin, Qowaidul Asasiyah karangan Syekh Maulana Maliki, dan kitab Shahih Muslim. (*/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/