alexametrics
32.7 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Kiprah Perajin Kuningan Juwana, Pati

Warisan sejak Zaman Belanda, Sekarang Ekspor ke Mancanegara

Produksi kuningan di Juwana, Pati, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Masyarakat saat itu diajarkan cara mengolah logam oleh penjajah untuk kepentingan kapal. Juwana kini menjadi klaster kuningan. Produksinya diekspor ke mancanegara.

ANDRE FADHIL, Radar Kudus, Pati

SUHU ruangan panas pengaruh dari tungku sangat terasa saat Jawa Pos Radar Kudus masuk ke brak perajin kuningan. Sekitar lima menit masuk, keringat sudah keluar dari tubuh.


Di sisi lain, beberapa pekerja terlihat memasukkan logam ke dalam tungku. Para pekerja sudah terbiasa dengan suhu di lokasi kerja.

”Kuningannya dilebur. Suhunya kisaran seribu derajat selsius,” terang Sutrisno, pemilik salah satu produksi kuningan di Juwana, Pati.

Setelah lebur, kuningan yang leleh (hasil lebur, Red) dituangkan ke tanah yang sudah tercetak. ”Itu untuk membentuk logam. Banyak modelnya. Biasanya patung. Tapi tergantung pesanan,” papar sosok yang juga Ketua Klaster Kuningan Pati itu.

Sebelum membuat cetakan, Sutrisno mengonsepnya terlebih dahulu. Biasanya dia menggambar dengan kain ke tanah liat.

”Saya menggambar sendiri ini. Setelah dikonsep dengan kain, nanti tinggal diukir tanah liatnya. Kemudian dijiplakkan ke tanah,” ujar laki-laki asal Juwana.

Konsep pembuatan cetakannya itu digambar sesuai keinginan atau pesanan pembeli. Biasanya Sutrisno diberi gambar pemesan. Bisa wajah dan gambar lain.

”Biasanya (pembeli, Red) datang langsung. Kadang juga (contoh gambar, Red) dikirim email. Nanti langsung saya kerjakan. Kalau belum ada gambar, saya bantu gambarkan,” katanya.

Bahan logam ini, lanjut, Sutrisno didapat dari lokal sekitar Pati. Di Juwana banyak pengusaha yang mendatangkan bahan kuningan. Kualitasnya bagus-bagus.

”Tinggal beli di pasaran (Juwana, Red). Ada juga yang mendaur ulang dari bahan-bahan bekas,” tuturnya.

Produksi kuningan milik Sutrisno ini dikirim ke domestik hingga mancanegara. Di antaranya, Jakarta, Bali, Inggris, Amerika, dan berbagai negara lainnya.

”Patung Budha ini dikirim ke Bali. Bentuk wajah wanita latin ini dikirim ke Inggris. Buatnya dua sampai tiga bulan,” ucap laki-laki usia 50 tahunan itu.

Ia mengaku, saat ini paling laris pesanan dari Bali. Itu patung dan berbagai logo. Jenis kuningan yang paling banyak diekspor jenis-jenis kepala binatang  ke Australia. Patung manusia dikirim ke Inggris.

”Itu banyak ke luar negeri. Kemudian barang-barang pesnan hotel juga banyak. Misalnya, di Bali, Jakarta, Jogjakarta, dan Surabaya. Hampir semua kerja sama dengan hotel-hotel pengembang tersebut,” jelasnya.

Baca Juga :  Penuhi Kebutuhan dengan Jual Barang dan Jadi Kang Parkir

Tiap hasil produksi logamnya ini tarifnya beragam. Ada yang Rp 5 juta. Ada pula yang lebih dari Rp 10 juta. ”Tergantung tingkat kesulitan. Besar kecilnya patung juga pengaruh. Jadi bervariasi,” sebutnya.

Jika dihitung omzet, bisa saja ratusan juta rupiah. Katanya. ”Berapa ya? Mungkin setahun Rp 300-an juta. Mungkin lebih. Tak bisa dipastikan,”.

Sentra kuningan ini berawal dari kebutuhan perbaikan kapal Belanda. Kemudian berkembang seiring berjalannya waktu.

”Intinya sudah ada sejak pada zaman Belanda,” terangnya.

Masa keemasan, lanjutnya, produksi pada era 80-90an. ”Sekarang di Juwana itu memang banyak sekali produksi kuningan. Hanya saja masih mengandalkan tenaga manusia atau manual. Karena untuk arah ke mesin kalah dengan permodalan. Seperti China,” sambungnya.

Memilih usaha kuningan, lanjut Sutrisno, lantaran sudah banyak di lingkungannya. Juwana juga sudah berkembang puluhan tahun dari zaman Belanda.

Awalnya di Juwana itu di mulai sejak penjajahan Belanda. Ada kapal-kapal penjajah yang mau masuk ke Jawa. Kapalnya pada rusak.

”Kemudian mereka membutuhkan kuil atau kipas kapal. Itu lalu diperbaiki. Ibaratnya seperti bengkellah untuk mengganti spare part atau yang lainnya. Nah, dari situlah mulai dikenalkan orang Belanda cara pengecoran logam,” bebernya.

Awal mulanya dari situ. Lalu berkembang puluhan tahun, karena kebutuhan dari sekitar membutuhkan alat-alat yang berbahan logam. Maka yang dari yang awal mula pengecoran kipas itu dialihkan kebutuhan sehari-hari.

”Seperti alat-alat peralatan, sendok, timbangan, engsel sampai saat ini berkembang ke patung,” lanjutnya.

Sutrisno sendiri mulai terjun ke usaha kuningan pada 2005. Ikut ke salah satu pengusaha kuningan. ”Saya memperoleh ilmu dan mengembangkan kembali dengan mendirikan usaha kuningan. Dikarenakan dulu yang saya ikuti kerja telah meninggal, jadi saya harus berusaha sendiri,” tandangnya.

Untuk karyawan ia mengaku jumlahnya bervariasi. Saat musim pandemi seperti ini, bisa lima orang. Kalau normal kondisi ramai garap proyek bisa 20 sampai 30 orang.

Walaupun pandemi sudah landai, usaha kuningan milik pak Sutrisno masih sepi. Biasanya dirinya mennyetok barang. Kali ini hanya menunggu pesanan.

”Dampaknya masih terasa sangat signifikan. Tidak berani menyetok seperti sebelum pandemi,” tandasnya. (adr/zen)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Produksi kuningan di Juwana, Pati, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Masyarakat saat itu diajarkan cara mengolah logam oleh penjajah untuk kepentingan kapal. Juwana kini menjadi klaster kuningan. Produksinya diekspor ke mancanegara.

ANDRE FADHIL, Radar Kudus, Pati

SUHU ruangan panas pengaruh dari tungku sangat terasa saat Jawa Pos Radar Kudus masuk ke brak perajin kuningan. Sekitar lima menit masuk, keringat sudah keluar dari tubuh.

Di sisi lain, beberapa pekerja terlihat memasukkan logam ke dalam tungku. Para pekerja sudah terbiasa dengan suhu di lokasi kerja.

”Kuningannya dilebur. Suhunya kisaran seribu derajat selsius,” terang Sutrisno, pemilik salah satu produksi kuningan di Juwana, Pati.

Setelah lebur, kuningan yang leleh (hasil lebur, Red) dituangkan ke tanah yang sudah tercetak. ”Itu untuk membentuk logam. Banyak modelnya. Biasanya patung. Tapi tergantung pesanan,” papar sosok yang juga Ketua Klaster Kuningan Pati itu.

Sebelum membuat cetakan, Sutrisno mengonsepnya terlebih dahulu. Biasanya dia menggambar dengan kain ke tanah liat.

”Saya menggambar sendiri ini. Setelah dikonsep dengan kain, nanti tinggal diukir tanah liatnya. Kemudian dijiplakkan ke tanah,” ujar laki-laki asal Juwana.

Konsep pembuatan cetakannya itu digambar sesuai keinginan atau pesanan pembeli. Biasanya Sutrisno diberi gambar pemesan. Bisa wajah dan gambar lain.

”Biasanya (pembeli, Red) datang langsung. Kadang juga (contoh gambar, Red) dikirim email. Nanti langsung saya kerjakan. Kalau belum ada gambar, saya bantu gambarkan,” katanya.

Bahan logam ini, lanjut, Sutrisno didapat dari lokal sekitar Pati. Di Juwana banyak pengusaha yang mendatangkan bahan kuningan. Kualitasnya bagus-bagus.

”Tinggal beli di pasaran (Juwana, Red). Ada juga yang mendaur ulang dari bahan-bahan bekas,” tuturnya.

Produksi kuningan milik Sutrisno ini dikirim ke domestik hingga mancanegara. Di antaranya, Jakarta, Bali, Inggris, Amerika, dan berbagai negara lainnya.

”Patung Budha ini dikirim ke Bali. Bentuk wajah wanita latin ini dikirim ke Inggris. Buatnya dua sampai tiga bulan,” ucap laki-laki usia 50 tahunan itu.

Ia mengaku, saat ini paling laris pesanan dari Bali. Itu patung dan berbagai logo. Jenis kuningan yang paling banyak diekspor jenis-jenis kepala binatang  ke Australia. Patung manusia dikirim ke Inggris.

”Itu banyak ke luar negeri. Kemudian barang-barang pesnan hotel juga banyak. Misalnya, di Bali, Jakarta, Jogjakarta, dan Surabaya. Hampir semua kerja sama dengan hotel-hotel pengembang tersebut,” jelasnya.

Baca Juga :  Hasil Tes Antigen Reaktif, 13 Siswa SMP di Pati Diisolasi

Tiap hasil produksi logamnya ini tarifnya beragam. Ada yang Rp 5 juta. Ada pula yang lebih dari Rp 10 juta. ”Tergantung tingkat kesulitan. Besar kecilnya patung juga pengaruh. Jadi bervariasi,” sebutnya.

Jika dihitung omzet, bisa saja ratusan juta rupiah. Katanya. ”Berapa ya? Mungkin setahun Rp 300-an juta. Mungkin lebih. Tak bisa dipastikan,”.

Sentra kuningan ini berawal dari kebutuhan perbaikan kapal Belanda. Kemudian berkembang seiring berjalannya waktu.

”Intinya sudah ada sejak pada zaman Belanda,” terangnya.

Masa keemasan, lanjutnya, produksi pada era 80-90an. ”Sekarang di Juwana itu memang banyak sekali produksi kuningan. Hanya saja masih mengandalkan tenaga manusia atau manual. Karena untuk arah ke mesin kalah dengan permodalan. Seperti China,” sambungnya.

Memilih usaha kuningan, lanjut Sutrisno, lantaran sudah banyak di lingkungannya. Juwana juga sudah berkembang puluhan tahun dari zaman Belanda.

Awalnya di Juwana itu di mulai sejak penjajahan Belanda. Ada kapal-kapal penjajah yang mau masuk ke Jawa. Kapalnya pada rusak.

”Kemudian mereka membutuhkan kuil atau kipas kapal. Itu lalu diperbaiki. Ibaratnya seperti bengkellah untuk mengganti spare part atau yang lainnya. Nah, dari situlah mulai dikenalkan orang Belanda cara pengecoran logam,” bebernya.

Awal mulanya dari situ. Lalu berkembang puluhan tahun, karena kebutuhan dari sekitar membutuhkan alat-alat yang berbahan logam. Maka yang dari yang awal mula pengecoran kipas itu dialihkan kebutuhan sehari-hari.

”Seperti alat-alat peralatan, sendok, timbangan, engsel sampai saat ini berkembang ke patung,” lanjutnya.

Sutrisno sendiri mulai terjun ke usaha kuningan pada 2005. Ikut ke salah satu pengusaha kuningan. ”Saya memperoleh ilmu dan mengembangkan kembali dengan mendirikan usaha kuningan. Dikarenakan dulu yang saya ikuti kerja telah meninggal, jadi saya harus berusaha sendiri,” tandangnya.

Untuk karyawan ia mengaku jumlahnya bervariasi. Saat musim pandemi seperti ini, bisa lima orang. Kalau normal kondisi ramai garap proyek bisa 20 sampai 30 orang.

Walaupun pandemi sudah landai, usaha kuningan milik pak Sutrisno masih sepi. Biasanya dirinya mennyetok barang. Kali ini hanya menunggu pesanan.

”Dampaknya masih terasa sangat signifikan. Tidak berani menyetok seperti sebelum pandemi,” tandasnya. (adr/zen)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/