alexametrics
29 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Supeno, Kades Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus

Bikin Lahan Hijau, Gagas Terminal UMKM

DESA Terban mengandung kehidupan masa purbakala. Sebagai Kepala Desa, Supeno bertekad untuk mengembangkan wisata desa yang akses masuknya di pinggir Jalan Pantura Kudus-Pati ini.

Supeno sudah mengikuti perkembangan Museum Patiayam sejak awal. Sekitar 2006 lalu, ketika masih berstatus sebagai rumah fosil. Hingga saat ini sudah menjadi museum Tipe B. Saat Jawa Pos Radar Kudus menemuinya kemarin, Supeno sedang berada di lantai II museum bersama pengurus yang sedang mengidentifikasi temuan fosil yang diduga dari hewan masa lalu.

Temuan fosil itu 80 persen di area hutan. Sisanya di kawasan pemukiman. Penemuan paling banyak terjadi saat musim hujan. Karena ada kikisan tanah. Sehingga fosil bisa tampak ke permukaan.


Ya, di lantai II museum masih ada ribuan fosil. Beberapa ada yang merupakan temuan baru. Museum Pati Ayam memang menjadi salah satu ikon desa ini. Rencana Supeno akan mengembangkan wisata di sekitarnya.

Di samping museum, ada sebidang tanah yang akan dijadikan kebun buah. “Nanti tak buat kaya kolam renang,” ujarnya.

Selain itu, juga ada beberapa potensi destinasi lainnya. Seperti rumah jadul, sendang pengilon, fan air terjun. Tak hanya itu, di desa ini diduga ada banyak gua peninggalan jepang.

Bahkan Supeno sendiri ikut mencari keberadaan gua itu. Beberapa waktu lalu sempat ia temukan gua jepang. Kata Supeno, mayoritas gua kemungkinan masih tertutup pepohonan dan tertutup sudah sekitar puluhan tahun.

Baca Juga :  Manfaatkan Bahan di Sekitar, Sumbang Perekonomian Desa

Mengetahui ada potensi itu, ia pun berinisiatif untuk mencari. Dan saat ini sudah ditemukan. Karakteristik goa-goa Jepang, kata pria kelahiran 1973 itu, memiliki format-format huruf. Seperti huruf T, L  dan I.

“Itu gua jepang,” imbuhnya.

Supeno memang memiliki gairah untuk mengembangkan wisata. Sebab, kata dia, orang-orang dulu pernah berucap, bahwa suatu saat Pati Ayam akan jadi kota. Seperti diketahui, saat ini di wilayah Terban ada beberapa industri.

Sehingga melihat peluang strategis itu Ia ingin mengkoneksikan antara wisata dan UMKM. “Saya mengarah ke desa mandiri,” imbuhnya.

Supeno juga secara mandiri melakukan penghijauan di kawasan pati ayam di area puncak sekitar satu hektare dengan penanaman buah-buahan. Penanaman itu ia tujukan untuk memberi  akan kera, yang saat ini masih ada di area gunung itu.

“Memang saya cawisan ben dipangan ketek,” ungkapnya.

Desa terban sudah mengantongi Surat Keputusan (SK) Desa Wisata berkembang sejak 2020. Ia berharap, ke depan ada semacam terminal wisata dan penataan UMKM. (ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

DESA Terban mengandung kehidupan masa purbakala. Sebagai Kepala Desa, Supeno bertekad untuk mengembangkan wisata desa yang akses masuknya di pinggir Jalan Pantura Kudus-Pati ini.

Supeno sudah mengikuti perkembangan Museum Patiayam sejak awal. Sekitar 2006 lalu, ketika masih berstatus sebagai rumah fosil. Hingga saat ini sudah menjadi museum Tipe B. Saat Jawa Pos Radar Kudus menemuinya kemarin, Supeno sedang berada di lantai II museum bersama pengurus yang sedang mengidentifikasi temuan fosil yang diduga dari hewan masa lalu.

Temuan fosil itu 80 persen di area hutan. Sisanya di kawasan pemukiman. Penemuan paling banyak terjadi saat musim hujan. Karena ada kikisan tanah. Sehingga fosil bisa tampak ke permukaan.

Ya, di lantai II museum masih ada ribuan fosil. Beberapa ada yang merupakan temuan baru. Museum Pati Ayam memang menjadi salah satu ikon desa ini. Rencana Supeno akan mengembangkan wisata di sekitarnya.

Di samping museum, ada sebidang tanah yang akan dijadikan kebun buah. “Nanti tak buat kaya kolam renang,” ujarnya.

Selain itu, juga ada beberapa potensi destinasi lainnya. Seperti rumah jadul, sendang pengilon, fan air terjun. Tak hanya itu, di desa ini diduga ada banyak gua peninggalan jepang.

Bahkan Supeno sendiri ikut mencari keberadaan gua itu. Beberapa waktu lalu sempat ia temukan gua jepang. Kata Supeno, mayoritas gua kemungkinan masih tertutup pepohonan dan tertutup sudah sekitar puluhan tahun.

Baca Juga :  Manfaatkan Bahan di Sekitar, Sumbang Perekonomian Desa

Mengetahui ada potensi itu, ia pun berinisiatif untuk mencari. Dan saat ini sudah ditemukan. Karakteristik goa-goa Jepang, kata pria kelahiran 1973 itu, memiliki format-format huruf. Seperti huruf T, L  dan I.

“Itu gua jepang,” imbuhnya.

Supeno memang memiliki gairah untuk mengembangkan wisata. Sebab, kata dia, orang-orang dulu pernah berucap, bahwa suatu saat Pati Ayam akan jadi kota. Seperti diketahui, saat ini di wilayah Terban ada beberapa industri.

Sehingga melihat peluang strategis itu Ia ingin mengkoneksikan antara wisata dan UMKM. “Saya mengarah ke desa mandiri,” imbuhnya.

Supeno juga secara mandiri melakukan penghijauan di kawasan pati ayam di area puncak sekitar satu hektare dengan penanaman buah-buahan. Penanaman itu ia tujukan untuk memberi  akan kera, yang saat ini masih ada di area gunung itu.

“Memang saya cawisan ben dipangan ketek,” ungkapnya.

Desa terban sudah mengantongi Surat Keputusan (SK) Desa Wisata berkembang sejak 2020. Ia berharap, ke depan ada semacam terminal wisata dan penataan UMKM. (ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/