alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Arifin, Pantomimer Rembang

Mundur dari Juri karena Anak Ikut Tampil

Arifin aktif di dunia pantomime. Ipin-sapaannya- beberapa kali tampil di even nasional. Ia pernah mundur sebagai dewan juri, karena anaknya ikuti lomba.

SAIFUL ANWARRembang

SOSOK berwajah putih itu menggeliat, memasang ekspresi sedih, lalu seperti frustasi. Sejenak kemudian bisa tertawa, melompat-lompat, menarik sesuatu, hingga percakapan dengan audiens. Mereka yang menonton pun kadang dibuat mengerutkan dahi, tersenyum, atau sesekali tertawa.


Adalah Arifin, sosok di balik make up serba putih yang memenuhi wajahnya itu. Seniman pantomim memang selalu diidentikkan dengan seorang yang tampil dengan wajah putih.

Meski kini terbilang aktif di kesenian pantomim, namun sejatinya Ipin tak pernah menuntaskan pendidikan tingginya di bidang seni. Bapak dua anak itu hanya sempat mencicipi perguruan tinggi selama tiga semester.

MAKSIMAL: Arifin alias Ipin saat tampil di sebuah acara di Pati belum lama ini. (DOK. PRIBADI)

Tepatnya di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Solo atau yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) di jurusan Seni Rupa. Setelah itu, pria kelahiran Rembang, 10 Oktober 1978 itu memilih menimba pengalaman seninya di Jogjakarta.

Bergabung di kelompok Teater Garasi, Ipin mengikuti sekolah keaktoran selama enam bulan. Sekitar tahun 2003, bersama rekan-rekan di Rembang, dia mendirikan Sanggar Pesisir. Namun, kala itu fokusnya hanya di seni rupa, sebagaimana dasar keilmuannya.

Belakangan, sejak lima tahun silam, Ipin memilih fokus ke pantomim. Menurutnya, menjadi mimer lebih merdeka karena bisa kemana-mana sendiri. Berbeda dengan teater yang harus berkelompok.

”Lima tahun ini fokus ke pantomim. Lebih merdeka ke mana-mana bisa senidiri,” tutur Ipin yang tinggal di Desa Tasik Agung, Kota Rembang itu.

Kiprahnya di dunia seni pun membuatnya kerap dimintai menjadi juri sebuah festival. Salah satunya adalah FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) kabupaten yang digelar pada 2017 lalu.

Uniknya, dua hari sebelum acara, Ipin baru tahu jika salah satu pesertanya adalah anaknya sendiri. Namanya Saketsakaesa. Dia duduk di bangku kelas 5 SD. Mengetahui fakta itu, dia pun lantas mengundurkan diri sebagai juri.

Baca Juga :  Bukukan Karya, Catat Ide Setiap Saat di Ponsel

”Apa pun hasilnya kalau jurinya orang tuanya sendiri pasti kan banyak omongan macam-macam. Akhirnya saya cari teman yang bisa gantiin,” aku Ipin sembari tersenyum mengingat pengalamannya itu.

Meski sudah cukup mengecap asam garam dengan pentas bersama seniman nasional di Jogjakarta, namun Ipin menyebut pengalaman paling berkesan justru saat tampil di Kota Garam. Tepatnya, saat pentas di tugu lilin sekitar tiga tahun lalu.

”Ketika perform waktu itu, respon teman-teman sangat bersemangat. Karena banyak ekspos, akhirnya Bengkel Mime Theater (BMT) tahu dan diundang ke sana,” lanjut suami Dian Nari itu

Belum lama ini, Ipin juga baru saja mengikuti sebuah agenda bertajuk Pentas Pantomim Tunggak Semi di Jogjakarta yang diprakarsai Bengkel Mime Theater. Di sana, dia pentas bersama mimer lainnya dari Jakarta, Jatim, serta Jabar selama kurang lebih sepekan.

Saat ini, Ipin mengaku sedang merancang pementasan pantomim untuk pentas akhir bulan ini. Yakni masih dalam serangkaian Hari Teater Sedunia (Hatedu) yang diperingati setiap 22 Maret. Selain itu, di bidang seni rupa, dia juga sedang merancang pameran instalasi tiga dimensi.

”Masih mencari konsep yang tepat ini,” kata bapak dari Seketsakaesa dan Sahasika itu.

Meski merupakan pegiat seni, Ipin sadar dirinya tak bisa semata-mata hidup dari dunia yang dia cintai itu. Namun, mata pencahariannya memang tak bisa jauh-jauh dari seni. Ya, sehari-hari, dia adalah seorang pelukis mural.

”Sebagian besar kapal di sini (Tasikagung) saya yang buat (muralnya),” aku dia.

Mengenai perkembangan pantomim, Ipin menyebut sebenarnya problemnya ada di sekolah. Sebab, sebenarnya antusiasme terhadap pantomim generasi cilik cukup menggembirakan. Hal itu terbukti saat pentas di kawasan Tasikagung pada akhir Maret lalu. Ada beberapa peserta dari kalangan siswa SD, SMP, maupun SMA.

”Tinggal kemauan guru dan sekolah seperti apa. Di situ biasanya susahnya,” tutur Ipin. (*)

Arifin aktif di dunia pantomime. Ipin-sapaannya- beberapa kali tampil di even nasional. Ia pernah mundur sebagai dewan juri, karena anaknya ikuti lomba.

SAIFUL ANWARRembang

SOSOK berwajah putih itu menggeliat, memasang ekspresi sedih, lalu seperti frustasi. Sejenak kemudian bisa tertawa, melompat-lompat, menarik sesuatu, hingga percakapan dengan audiens. Mereka yang menonton pun kadang dibuat mengerutkan dahi, tersenyum, atau sesekali tertawa.

Adalah Arifin, sosok di balik make up serba putih yang memenuhi wajahnya itu. Seniman pantomim memang selalu diidentikkan dengan seorang yang tampil dengan wajah putih.

Meski kini terbilang aktif di kesenian pantomim, namun sejatinya Ipin tak pernah menuntaskan pendidikan tingginya di bidang seni. Bapak dua anak itu hanya sempat mencicipi perguruan tinggi selama tiga semester.

MAKSIMAL: Arifin alias Ipin saat tampil di sebuah acara di Pati belum lama ini. (DOK. PRIBADI)

Tepatnya di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Solo atau yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) di jurusan Seni Rupa. Setelah itu, pria kelahiran Rembang, 10 Oktober 1978 itu memilih menimba pengalaman seninya di Jogjakarta.

Bergabung di kelompok Teater Garasi, Ipin mengikuti sekolah keaktoran selama enam bulan. Sekitar tahun 2003, bersama rekan-rekan di Rembang, dia mendirikan Sanggar Pesisir. Namun, kala itu fokusnya hanya di seni rupa, sebagaimana dasar keilmuannya.

Belakangan, sejak lima tahun silam, Ipin memilih fokus ke pantomim. Menurutnya, menjadi mimer lebih merdeka karena bisa kemana-mana sendiri. Berbeda dengan teater yang harus berkelompok.

”Lima tahun ini fokus ke pantomim. Lebih merdeka ke mana-mana bisa senidiri,” tutur Ipin yang tinggal di Desa Tasik Agung, Kota Rembang itu.

Kiprahnya di dunia seni pun membuatnya kerap dimintai menjadi juri sebuah festival. Salah satunya adalah FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) kabupaten yang digelar pada 2017 lalu.

Uniknya, dua hari sebelum acara, Ipin baru tahu jika salah satu pesertanya adalah anaknya sendiri. Namanya Saketsakaesa. Dia duduk di bangku kelas 5 SD. Mengetahui fakta itu, dia pun lantas mengundurkan diri sebagai juri.

Baca Juga :  Pengawal Kades Tahunan Rembang Punya Senjata Api Ilegal

”Apa pun hasilnya kalau jurinya orang tuanya sendiri pasti kan banyak omongan macam-macam. Akhirnya saya cari teman yang bisa gantiin,” aku Ipin sembari tersenyum mengingat pengalamannya itu.

Meski sudah cukup mengecap asam garam dengan pentas bersama seniman nasional di Jogjakarta, namun Ipin menyebut pengalaman paling berkesan justru saat tampil di Kota Garam. Tepatnya, saat pentas di tugu lilin sekitar tiga tahun lalu.

”Ketika perform waktu itu, respon teman-teman sangat bersemangat. Karena banyak ekspos, akhirnya Bengkel Mime Theater (BMT) tahu dan diundang ke sana,” lanjut suami Dian Nari itu

Belum lama ini, Ipin juga baru saja mengikuti sebuah agenda bertajuk Pentas Pantomim Tunggak Semi di Jogjakarta yang diprakarsai Bengkel Mime Theater. Di sana, dia pentas bersama mimer lainnya dari Jakarta, Jatim, serta Jabar selama kurang lebih sepekan.

Saat ini, Ipin mengaku sedang merancang pementasan pantomim untuk pentas akhir bulan ini. Yakni masih dalam serangkaian Hari Teater Sedunia (Hatedu) yang diperingati setiap 22 Maret. Selain itu, di bidang seni rupa, dia juga sedang merancang pameran instalasi tiga dimensi.

”Masih mencari konsep yang tepat ini,” kata bapak dari Seketsakaesa dan Sahasika itu.

Meski merupakan pegiat seni, Ipin sadar dirinya tak bisa semata-mata hidup dari dunia yang dia cintai itu. Namun, mata pencahariannya memang tak bisa jauh-jauh dari seni. Ya, sehari-hari, dia adalah seorang pelukis mural.

”Sebagian besar kapal di sini (Tasikagung) saya yang buat (muralnya),” aku dia.

Mengenai perkembangan pantomim, Ipin menyebut sebenarnya problemnya ada di sekolah. Sebab, sebenarnya antusiasme terhadap pantomim generasi cilik cukup menggembirakan. Hal itu terbukti saat pentas di kawasan Tasikagung pada akhir Maret lalu. Ada beberapa peserta dari kalangan siswa SD, SMP, maupun SMA.

”Tinggal kemauan guru dan sekolah seperti apa. Di situ biasanya susahnya,” tutur Ipin. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/