alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Jantan Pangestu Insani, Atlet Panahan Berprestasi

Jadi Salah Satu Wasit Tingkat Asia

Sering menjuaraI kompetisi nasional, atlet panahan Jantan Pangestu Insani asal Pati ini kini aktif menjadi wasit panahan tingkat Asia.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati, Radar Kudus

TAK banyak wasit Indonesia yang memiliki lisensi kontinental panahan. Di Indonesia hanya ada tiga orang saja. Salah satunya, wasit yang juga atlet panahan asal Pati itu.


Laki-laki usia 23 tahun itu terlihat mendampingi atlet Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Pati di lapangan panahan Stadion Joyokusumo belum lama ini. Begitulah kesibukan atlet panahan yang kerap disapa Jantan itu.

“Saya ikut membantu para pelatih panahan. Kesibukan saya di luar jadi wasit ya seperti ini,” papar ketua Persani Pati itu.

Setidaknya ada 10 altet panahan sedang berlatih di sana. Jarak panahan pun bervariasi. Ada yang 10 meter. Ada pula 70 meter. “Jadi tergantung kelas panahan. Untuk pemula ya 10 meteran jaraknya,” imbuh atlet domisili Desa Winong, Pati itu.

Selain menjadi ketua Persani Pati, Jantan ternyata sebelumnya juga atlet. Berprestasi pula.

Karirnya dimulai sejak dibangku SMP. Waktu itu, mengikuti Popda tingkat kabupaten dan provinsi. “Tahun kapan ya? Lupa aku. Saat SMP seingatku mengikuti Popda,” tukasnya.

Tak hanya itu, saat SMA dia menjuarai kompetisi panahan tingkat nasional. Di antaranya, Jogja Indor, Lanudal Juanda Open, dan Porprov.

“Juara nasional saat Jogja Indoor 2015. Saat itu masih SMA. Pada 2016 lalu juga dapat dua emas dan satu perak di Lanudal Juanda Open. Bisa naik helikopter saat itu. Pengalaman pertama kali dan nggak nyangka,” katanya.

Selain jadi atlet, Jantan juga pernah menjadi wasit nasional dan Asia. Contohnya, saat 2019 lalu. Saat itu, dirinya mendapat lisensi wasit dari asosiasi panahan Asia.

Baca Juga :  Pengendara Lawan Arus, Terobos Barikade Jalan

“Syaratnya memang harus jadi wasit tingkat nasional dulu. Dan saya juga sudah pernah kan,” paparnya.

Ternyata saat 2017 lalu, Jantan pernah menjadi wasit ajang Popnas. Itu pertama kali dia menjadi wasit. ”Waktu itu ikut pelatihan wasit. Ternyata langsung tugas di rangkaian acara Popnas. Saat pertama kali ya nervous. Tapi bagaimanapun wasit harus tetap terlihat meyakinkan di hadapan atlet. Meskipun pertama kali jadi wasti,” katanya.

Menjadi wasit pun ia pelajari saat menjadi atlet. Pengalaman menjadi atlet panahan setidaknya tahun aturan mainnya. ”Memang sebaiknya sebelum jadi wasit itu jadi atlet dulu. Memang ada buku panduan wasit. Tapi kalau pernah atlet kan tahu kondisi di lapangan,” tandasnya.

”Sama seperti bermain bola. Ada kartu kuning dan merah. Kalau panahan ini, misalnya, atlet mendahului waktu bisa kena kartu merah. Itu pengurangan skor tertinggi,” ujarnya.

Banyak negara di Asia yang telah ia kunjungi. Mulai dari Thailand, Singapura, hingga Vietnam. ”Di Vietnam itu single event Asia. Saya punya lisensi kompetisi kontinental. Hanya tiga orang saja di Indonesia yang punya. Jadi saya ditunjuk untuk mewakili Indonesia menjadi wasit di Vietnam pada awal Mei lalu,” imbuhnya.

Ternyata di Indoensia, hanya ada tiga wasit yang mempunyai lisensi kontinental panahan. Salah satunya, Jantan. Banyak yang syarat dan ketentuan untuk mendapatkan lisensi itu.

“Intinya pernah jadi wasit nasional, bisa berbasa Inggris. Soalnya, tak banyak yang bisa bahasa Inggris. Nanti, aku mau ke  Uni Emirat Arab untuk perpanjang lisensi ini. Dari berbagai negara di Asia mengikuti uji lisensi itu,” katanya. (*/mal)

Sering menjuaraI kompetisi nasional, atlet panahan Jantan Pangestu Insani asal Pati ini kini aktif menjadi wasit panahan tingkat Asia.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati, Radar Kudus

TAK banyak wasit Indonesia yang memiliki lisensi kontinental panahan. Di Indonesia hanya ada tiga orang saja. Salah satunya, wasit yang juga atlet panahan asal Pati itu.

Laki-laki usia 23 tahun itu terlihat mendampingi atlet Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Pati di lapangan panahan Stadion Joyokusumo belum lama ini. Begitulah kesibukan atlet panahan yang kerap disapa Jantan itu.

“Saya ikut membantu para pelatih panahan. Kesibukan saya di luar jadi wasit ya seperti ini,” papar ketua Persani Pati itu.

Setidaknya ada 10 altet panahan sedang berlatih di sana. Jarak panahan pun bervariasi. Ada yang 10 meter. Ada pula 70 meter. “Jadi tergantung kelas panahan. Untuk pemula ya 10 meteran jaraknya,” imbuh atlet domisili Desa Winong, Pati itu.

Selain menjadi ketua Persani Pati, Jantan ternyata sebelumnya juga atlet. Berprestasi pula.

Karirnya dimulai sejak dibangku SMP. Waktu itu, mengikuti Popda tingkat kabupaten dan provinsi. “Tahun kapan ya? Lupa aku. Saat SMP seingatku mengikuti Popda,” tukasnya.

Tak hanya itu, saat SMA dia menjuarai kompetisi panahan tingkat nasional. Di antaranya, Jogja Indor, Lanudal Juanda Open, dan Porprov.

“Juara nasional saat Jogja Indoor 2015. Saat itu masih SMA. Pada 2016 lalu juga dapat dua emas dan satu perak di Lanudal Juanda Open. Bisa naik helikopter saat itu. Pengalaman pertama kali dan nggak nyangka,” katanya.

Selain jadi atlet, Jantan juga pernah menjadi wasit nasional dan Asia. Contohnya, saat 2019 lalu. Saat itu, dirinya mendapat lisensi wasit dari asosiasi panahan Asia.

Baca Juga :  Telusuri Bakat Anak, Lalu Latih Keterampilan Hidup

“Syaratnya memang harus jadi wasit tingkat nasional dulu. Dan saya juga sudah pernah kan,” paparnya.

Ternyata saat 2017 lalu, Jantan pernah menjadi wasit ajang Popnas. Itu pertama kali dia menjadi wasit. ”Waktu itu ikut pelatihan wasit. Ternyata langsung tugas di rangkaian acara Popnas. Saat pertama kali ya nervous. Tapi bagaimanapun wasit harus tetap terlihat meyakinkan di hadapan atlet. Meskipun pertama kali jadi wasti,” katanya.

Menjadi wasit pun ia pelajari saat menjadi atlet. Pengalaman menjadi atlet panahan setidaknya tahun aturan mainnya. ”Memang sebaiknya sebelum jadi wasit itu jadi atlet dulu. Memang ada buku panduan wasit. Tapi kalau pernah atlet kan tahu kondisi di lapangan,” tandasnya.

”Sama seperti bermain bola. Ada kartu kuning dan merah. Kalau panahan ini, misalnya, atlet mendahului waktu bisa kena kartu merah. Itu pengurangan skor tertinggi,” ujarnya.

Banyak negara di Asia yang telah ia kunjungi. Mulai dari Thailand, Singapura, hingga Vietnam. ”Di Vietnam itu single event Asia. Saya punya lisensi kompetisi kontinental. Hanya tiga orang saja di Indonesia yang punya. Jadi saya ditunjuk untuk mewakili Indonesia menjadi wasit di Vietnam pada awal Mei lalu,” imbuhnya.

Ternyata di Indoensia, hanya ada tiga wasit yang mempunyai lisensi kontinental panahan. Salah satunya, Jantan. Banyak yang syarat dan ketentuan untuk mendapatkan lisensi itu.

“Intinya pernah jadi wasit nasional, bisa berbasa Inggris. Soalnya, tak banyak yang bisa bahasa Inggris. Nanti, aku mau ke  Uni Emirat Arab untuk perpanjang lisensi ini. Dari berbagai negara di Asia mengikuti uji lisensi itu,” katanya. (*/mal)


Most Read

Artikel Terbaru

/