alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Cerita Angkernya Pabrik Ponjot di Pecangaan, Jepara

Cerita Penjaga Pabrik Bonjot, Suka Digoda dan Diajak Main Hantu Belanda

SUARA mesin terdengar saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus melewati sebuah bangunan tua yang ada di pinggir jalan Desa Krasak, Pecangaan. Bangunan tua itu dikenal oleh warga sekitar dengan nama Pabrik Bonjot.

Lokasi Pabrik Bonjot cukup strategis. Berada di kanan jalan bila melaju dari arah Kudus menuju Jepara. Titik koordinatnya juga bisa ditemui secara digital melalui google. Coba saja ketik “Pabrik Bonjot Pecangaan” pada mesin pencarian google. Selain muncul google maps-nya, ada banyak ulasan mengenai bangunan lama peninggalan Belanda tersebut. Termasuk misteri yang menyertainya.

Wartawan Jawa Pos pernah mendatangi lokasi tersebut. Saat melintas sekitar pukul 14.00, tampak banyak orang berada di dalam Pabrik Bonjot. Laki-laki dan perempuan. Mereka terlihat sedang bekerja. Ada juga mobil pikap yang berada di dalam. Saat wartawan mendekat ke gerbang Pabrik Bonjot, tampak di dalam ruangan terdapat banyak barang olahan mebel. Ruangan itu sangat luas sehingga bisa memuat lebih dari lima mebel dengan ukuran jumbo. Warga sekitar menyebutkan, tempat itu kini digunakan sebagai gudang mebel ekspor.


Sahiman, salah satu penjaga Pabrik Bonjot mengatakan pagi hari lokasi tersebut digunakan sebagai tempat kerja biasa bagi karyawan gudang. Gerbang dibuka pada pukul 08.00 dan tutup pada 16.00. Tertib seperti itu setiap hari.

“Kalau malam saya tidak mau ikut-ikut,” ungkapnya, yang juga telah lama menjadi penjaga bangunan lama itu.

Keengganannya bukan tanpa alasan. Sahiman mulanya adalah warga Kudus yang beristrikan orang Jepara. Setelah menikah, ia pindah dari Kudus ke rumah istrinya di Krasak, Pecangaan. Yang juga berada tak jauh dari Pabrik Bonjot. Sekaligus bekerja di sana. Puluhan tahun bekerja sebagai penjaga bangunan itu, ia kerap mengalami hal-hal tidak mengenakkan. Terutama saat jaga malam.

NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS

Ia mengaku pernah melihat sosok hantu Belanda. Hantu Landa. “Dua anak kecil seperti Landa, main-main di sekitar pos jaga saya. Di pintu, di gudang, ada. Suka nggodain, mengajak bermain,” ungkapnya. Ia menunjuk pada sebuah bangunan tua kecil yang berada di depan bangunan depan Pabrik Bonjot. Bangunan kecil dan usang yang menjadi pos jaga Sahiman.

Ia bercerita pernah ada kejadian janggal di gudang tersebut. Ada seorang karyawan mengisi jeriken berukuran 20 liter dengan solar. Pagi hari jerigen diisi, sorenya jeriken tersebut sudah kosong. Kering. Padahal jeriken tidak bocor. Ia menduga itu menjadi ulah anak-anak Landa yang sedang bermain.

Baca Juga :  Dua Bulan, Polres Jepara Ringkus Sebelas Tersangka Narkoba

Kata Sahiman, sosok-sosok aneh itu tidak ia temukan sendiri. Seorang indigo pernah mendatangi pabrik tersebut dan bercerita kepadanya bahwa ada pocong melintas di hadapannya. Kata indigo yang ia temui, ada banyak makhluk halus berkumpul di gudang itu.

Ia juga bercerita, anak laki-lakinya yang ikut menjadi satpam gudang tersebut juga kerap mengalami kejadian aneh. “Anak saya yang sering lihat,” kata Sahiman.

Kata Sahiman, setiap hari ia hanya berharap ingin bekerja normal seperti biasa. Tidak ingin melihat yang aneh-aneh. “Saya tidak mau diganggu, saya juga mau kerja,” ungkapnya.

Ia juga bercerita, dulunya Pabrik Bonjot adalah Pabrik Gula yang dimiliki Belanda. Saat itu sekitar 1936. Rencana itu dinilai tidak berhasil sehingga beberapa kali beralih fungsi. Saat ini statusnya dimiliki oleh PT Pertani.

Dari pantauan wartawan, terlihat bangunan itu masih kokoh berdiri. Warna cat yang dulunya putih kini terlihat menghitam karena debu tebal. Gaya arsitekturnya pun masih terlihat sama dengan bangunan khas Belanda pada umumnya. Ada empat sirkulasi udara berbentuk kipas angin di sisi kiri depan bangunan. Tampak masih berfungsi. Sementara itu, sebagian atapnya sudah hancur. Meski atap bangunan tengah yang dijadikan gudang tampak masih digunakan. Ada gerbang yang kini dicat biru. Kata Sahiman, itu untuk memudahkan akses keluar masuk para pekerja gudang mebel.

Menurutnya, bahasan soal hantu dan hal-hal mistis pada pabrik itu tidak perlu dijadikan guyonan. Ia khawatir, makhluk-makhluk halus yang berada di sana bisa marah. Dan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan.

Meski begitu, tak jarang Sahiman menemukan para remaja sering berkunjung ke lokasi tersebut saat malam hari. “Tidak jelas kegiatan mereka. Cuma main-main sama mabuk-mabukan kalau malam hari,” katanya dengan nada kesal.

Padahal, kata Sahiman, bukan mustahil seseorang kerasukan makhluk halus saat berada di sana.

Ia juga sempat berpesan kepada wartawan untuk tidak melakukan hal-hal berlebihan. “Kalau cukup di luar gudang, di luar saja. Tidak usah masuk,” katanya,  melarang wartawan untuk masuk ke dalam gudang tersebut.

Ia meyakini, para makhluk halus di sekitar pabrik tersebut tidak menyukai orang-orang baru. Apalagi mereka yang iseng bermain masuk keluar gedung tanpa tujuan yang jelas. “Cukup hormati saja kalau mereka memang ada di sekitar kita,” kata Sahiman mengakhiri obrolan. (nib/war)

SUARA mesin terdengar saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus melewati sebuah bangunan tua yang ada di pinggir jalan Desa Krasak, Pecangaan. Bangunan tua itu dikenal oleh warga sekitar dengan nama Pabrik Bonjot.

Lokasi Pabrik Bonjot cukup strategis. Berada di kanan jalan bila melaju dari arah Kudus menuju Jepara. Titik koordinatnya juga bisa ditemui secara digital melalui google. Coba saja ketik “Pabrik Bonjot Pecangaan” pada mesin pencarian google. Selain muncul google maps-nya, ada banyak ulasan mengenai bangunan lama peninggalan Belanda tersebut. Termasuk misteri yang menyertainya.

Wartawan Jawa Pos pernah mendatangi lokasi tersebut. Saat melintas sekitar pukul 14.00, tampak banyak orang berada di dalam Pabrik Bonjot. Laki-laki dan perempuan. Mereka terlihat sedang bekerja. Ada juga mobil pikap yang berada di dalam. Saat wartawan mendekat ke gerbang Pabrik Bonjot, tampak di dalam ruangan terdapat banyak barang olahan mebel. Ruangan itu sangat luas sehingga bisa memuat lebih dari lima mebel dengan ukuran jumbo. Warga sekitar menyebutkan, tempat itu kini digunakan sebagai gudang mebel ekspor.

Sahiman, salah satu penjaga Pabrik Bonjot mengatakan pagi hari lokasi tersebut digunakan sebagai tempat kerja biasa bagi karyawan gudang. Gerbang dibuka pada pukul 08.00 dan tutup pada 16.00. Tertib seperti itu setiap hari.

“Kalau malam saya tidak mau ikut-ikut,” ungkapnya, yang juga telah lama menjadi penjaga bangunan lama itu.

Keengganannya bukan tanpa alasan. Sahiman mulanya adalah warga Kudus yang beristrikan orang Jepara. Setelah menikah, ia pindah dari Kudus ke rumah istrinya di Krasak, Pecangaan. Yang juga berada tak jauh dari Pabrik Bonjot. Sekaligus bekerja di sana. Puluhan tahun bekerja sebagai penjaga bangunan itu, ia kerap mengalami hal-hal tidak mengenakkan. Terutama saat jaga malam.

NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS

Ia mengaku pernah melihat sosok hantu Belanda. Hantu Landa. “Dua anak kecil seperti Landa, main-main di sekitar pos jaga saya. Di pintu, di gudang, ada. Suka nggodain, mengajak bermain,” ungkapnya. Ia menunjuk pada sebuah bangunan tua kecil yang berada di depan bangunan depan Pabrik Bonjot. Bangunan kecil dan usang yang menjadi pos jaga Sahiman.

Ia bercerita pernah ada kejadian janggal di gudang tersebut. Ada seorang karyawan mengisi jeriken berukuran 20 liter dengan solar. Pagi hari jerigen diisi, sorenya jeriken tersebut sudah kosong. Kering. Padahal jeriken tidak bocor. Ia menduga itu menjadi ulah anak-anak Landa yang sedang bermain.

Baca Juga :  Penataan Penghijauan di Kudus Agar Estetik dan Aman: Jangan Asal Pangkas

Kata Sahiman, sosok-sosok aneh itu tidak ia temukan sendiri. Seorang indigo pernah mendatangi pabrik tersebut dan bercerita kepadanya bahwa ada pocong melintas di hadapannya. Kata indigo yang ia temui, ada banyak makhluk halus berkumpul di gudang itu.

Ia juga bercerita, anak laki-lakinya yang ikut menjadi satpam gudang tersebut juga kerap mengalami kejadian aneh. “Anak saya yang sering lihat,” kata Sahiman.

Kata Sahiman, setiap hari ia hanya berharap ingin bekerja normal seperti biasa. Tidak ingin melihat yang aneh-aneh. “Saya tidak mau diganggu, saya juga mau kerja,” ungkapnya.

Ia juga bercerita, dulunya Pabrik Bonjot adalah Pabrik Gula yang dimiliki Belanda. Saat itu sekitar 1936. Rencana itu dinilai tidak berhasil sehingga beberapa kali beralih fungsi. Saat ini statusnya dimiliki oleh PT Pertani.

Dari pantauan wartawan, terlihat bangunan itu masih kokoh berdiri. Warna cat yang dulunya putih kini terlihat menghitam karena debu tebal. Gaya arsitekturnya pun masih terlihat sama dengan bangunan khas Belanda pada umumnya. Ada empat sirkulasi udara berbentuk kipas angin di sisi kiri depan bangunan. Tampak masih berfungsi. Sementara itu, sebagian atapnya sudah hancur. Meski atap bangunan tengah yang dijadikan gudang tampak masih digunakan. Ada gerbang yang kini dicat biru. Kata Sahiman, itu untuk memudahkan akses keluar masuk para pekerja gudang mebel.

Menurutnya, bahasan soal hantu dan hal-hal mistis pada pabrik itu tidak perlu dijadikan guyonan. Ia khawatir, makhluk-makhluk halus yang berada di sana bisa marah. Dan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan.

Meski begitu, tak jarang Sahiman menemukan para remaja sering berkunjung ke lokasi tersebut saat malam hari. “Tidak jelas kegiatan mereka. Cuma main-main sama mabuk-mabukan kalau malam hari,” katanya dengan nada kesal.

Padahal, kata Sahiman, bukan mustahil seseorang kerasukan makhluk halus saat berada di sana.

Ia juga sempat berpesan kepada wartawan untuk tidak melakukan hal-hal berlebihan. “Kalau cukup di luar gudang, di luar saja. Tidak usah masuk,” katanya,  melarang wartawan untuk masuk ke dalam gudang tersebut.

Ia meyakini, para makhluk halus di sekitar pabrik tersebut tidak menyukai orang-orang baru. Apalagi mereka yang iseng bermain masuk keluar gedung tanpa tujuan yang jelas. “Cukup hormati saja kalau mereka memang ada di sekitar kita,” kata Sahiman mengakhiri obrolan. (nib/war)


Most Read

Artikel Terbaru

/