alexametrics
29 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Muhammad Fadlil Irfan, The Santri Rich asal Rembang

Punya Dua Kantor, Omzet Miliaran

Setelah boyong dari pondik pesantren, Muhammad Fadlil Irfan mendirikan usaha sendiri. Di usia muda, santri asal Rembang ini telah memiliki dua kantor dan karyawan 30-an. Omzet yang dihasilkannya miliaran rupiah.

VACHRI RINALDY L, Radar Kudus

KEMARIN, Muhammad Fadlul Irfan tengah sibuk berbagi pengalaman. Ia menjadi pemateri pelatihan digital marketing di Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (Dinindagkop UKM) Rembang. Ia duduk di tengah. Berdiskusi bersama para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Santri.


Ada yang masih muda hingga ibu-ibu. Alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Roudhotul Ulum, Guyangan, Pati itu, bisa dianggap sukses mengelola bisnis online. Ia memang sudah berkomitmen untuk terjun di wiraswasta. Begitu boyong (rampung) nyantri langsung mencoba berusaha sendiri.

Ia mengaku awal memulai usaha tak tahu tentang digital marketing. Sehingga saat mulai merintis, pria kelahiran tahun 2000 itu pun sempat kesulitan untuk mencari mentor. ”Ketika dulu aku nyari itu sulit banget. Adapun itu berbayar,” ujarnya.

Bisnis itu berawal 2019 akhir. Dari yang dulu tidak punya apa-apa, kini sudah berkembang pesat. Sudah memiliki kantor sendiri. Bahkan dua. Di Rembang dan Juwana. ”Saya punya beberapa ekspedisi. Tujuh sampai delapan outlite ekspedisi. Juga beberapa puluh karyawan,” jelasnya.

Ia tak memiliki produk usaha sendiri. Melainkan reseller. Atau menjual kembali produk orang lain. Saat ini, Irvan sedang fokus berdagang kosmetik. Ide itu muncul ketika ia tak memiliki uang setelah selesai mondok sekitar dua tahun lalu. Dan, mencoba melihat peluang di market place ternama.

Baca Juga :  Tertua di Indonesia, Berarsitektur Gaya Swiss Chalet

Awalnya, dia melirik baju sebagai barang dagangan. Namun geliatnya mulai meredup setelah Lebaran. ”Apa sih yang gak ada habisnya, ternyata kosmetik,” imbuhnya.

Tentu saja usaha itu terdapat tantangan tersendiri. Mulai merintis 2019 hingga pertengahan 2020, ia juga sempat mengalami kerugian. Namun Irfan masih teguh memegang prinsip tak mau jadi karyawan. Tekadnya untuk menjadi pengusaha sudah tertanam kuat.

”Saya mau jadi owner. Punya kebebasan waktu, kebebasan finansial juga,” kata lelaki usia 21 tahun itu.

Pemikiran semacam itu sudah mengalir sejak kecil. Mengingat latar belakang keluarga yang juga pedagang. Sehingga sudah terdidik untuk itu. ”Saya tiga tahun di pondok. Jadi mulai nyoba (bisnis online) itu kudet banget. Setahun baru jalan,” imbuhnya.

Proses belajar pun ia tekuni secara otodidak. Melalui grup-grup di sosial media. Gratis. Tanpa biaya. Sekarang, omzetnya sudah melebihi ekspektasi yang ia bayangkan. Omzet yang ia dapat perbulan tembus Rp 2 miliar.

”Mungkin bener. Tapi kadang-kadang kan omzet dari semua. Ada ekspedisi ada lain-lain. Kami belum bisa mengartikan segitu (Rp 2 miliar, Red). Mungkin gak bisa mengartikan segitu,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini UMKM di Rembang perlu mengembangkan digital marketing. Ia pun saat ini memberikan pelatihan itu secara sukarela. Mengingat pengalamannya yang dulu sempat kesulitan mencari mentor ketika hendak akan memulai. (*/zen)

Setelah boyong dari pondik pesantren, Muhammad Fadlil Irfan mendirikan usaha sendiri. Di usia muda, santri asal Rembang ini telah memiliki dua kantor dan karyawan 30-an. Omzet yang dihasilkannya miliaran rupiah.

VACHRI RINALDY L, Radar Kudus

KEMARIN, Muhammad Fadlul Irfan tengah sibuk berbagi pengalaman. Ia menjadi pemateri pelatihan digital marketing di Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (Dinindagkop UKM) Rembang. Ia duduk di tengah. Berdiskusi bersama para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Santri.

Ada yang masih muda hingga ibu-ibu. Alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Roudhotul Ulum, Guyangan, Pati itu, bisa dianggap sukses mengelola bisnis online. Ia memang sudah berkomitmen untuk terjun di wiraswasta. Begitu boyong (rampung) nyantri langsung mencoba berusaha sendiri.

Ia mengaku awal memulai usaha tak tahu tentang digital marketing. Sehingga saat mulai merintis, pria kelahiran tahun 2000 itu pun sempat kesulitan untuk mencari mentor. ”Ketika dulu aku nyari itu sulit banget. Adapun itu berbayar,” ujarnya.

Bisnis itu berawal 2019 akhir. Dari yang dulu tidak punya apa-apa, kini sudah berkembang pesat. Sudah memiliki kantor sendiri. Bahkan dua. Di Rembang dan Juwana. ”Saya punya beberapa ekspedisi. Tujuh sampai delapan outlite ekspedisi. Juga beberapa puluh karyawan,” jelasnya.

Ia tak memiliki produk usaha sendiri. Melainkan reseller. Atau menjual kembali produk orang lain. Saat ini, Irvan sedang fokus berdagang kosmetik. Ide itu muncul ketika ia tak memiliki uang setelah selesai mondok sekitar dua tahun lalu. Dan, mencoba melihat peluang di market place ternama.

Baca Juga :  UMKM Jepara Sumbang Investasi Rp 79 Miliar

Awalnya, dia melirik baju sebagai barang dagangan. Namun geliatnya mulai meredup setelah Lebaran. ”Apa sih yang gak ada habisnya, ternyata kosmetik,” imbuhnya.

Tentu saja usaha itu terdapat tantangan tersendiri. Mulai merintis 2019 hingga pertengahan 2020, ia juga sempat mengalami kerugian. Namun Irfan masih teguh memegang prinsip tak mau jadi karyawan. Tekadnya untuk menjadi pengusaha sudah tertanam kuat.

”Saya mau jadi owner. Punya kebebasan waktu, kebebasan finansial juga,” kata lelaki usia 21 tahun itu.

Pemikiran semacam itu sudah mengalir sejak kecil. Mengingat latar belakang keluarga yang juga pedagang. Sehingga sudah terdidik untuk itu. ”Saya tiga tahun di pondok. Jadi mulai nyoba (bisnis online) itu kudet banget. Setahun baru jalan,” imbuhnya.

Proses belajar pun ia tekuni secara otodidak. Melalui grup-grup di sosial media. Gratis. Tanpa biaya. Sekarang, omzetnya sudah melebihi ekspektasi yang ia bayangkan. Omzet yang ia dapat perbulan tembus Rp 2 miliar.

”Mungkin bener. Tapi kadang-kadang kan omzet dari semua. Ada ekspedisi ada lain-lain. Kami belum bisa mengartikan segitu (Rp 2 miliar, Red). Mungkin gak bisa mengartikan segitu,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini UMKM di Rembang perlu mengembangkan digital marketing. Ia pun saat ini memberikan pelatihan itu secara sukarela. Mengingat pengalamannya yang dulu sempat kesulitan mencari mentor ketika hendak akan memulai. (*/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/