alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Bripka Puguh Agung Dwi Pambuditomo Enam Tahun Dampingi Difabel

Telusuri Bakat Anak, Lalu Latih Keterampilan Hidup

Berawal dari mendampingi tiga difabel, Bripka Puguh Agung Dwi Pambuditomo kini menjadi 131 difabel. Dia memang terus berpatroli keliling Blora bagian selatan untuk mencari difabel yang tidak terdampingi karena tidak ada SLB.

AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF, Blora, Radar Kudus

KEGIATAN pendampingan terhadap kaum difabel dilakukan Bripka Puguh Agung Dwi Pambuditomo, anggota Satlantas Polres Blora. Lokasinya di Yayasan Insan Mandiri Blora Selatan, tepatnya di Kelurahan Wulung, Randublatung, Blora.


Kegiatan pendampingan itu, terus dilakukan meski harus menempuh jarak yang jauh dari rumahnya. Yakni di Dukuh Kidangan, Kelurahan Jepon, Jepon. Bripka Puguh tetap menjalin silaturahim dan mendampingi dalam pencarian dan pengembangan bakat anak-anak difabel. Bahkan, sudah terbukti beberapa anak difabel binaannya juara lomba melukis. Termasuk sudah ada yang rekaman lagu.

”Saya bagian menggali bakat anak-anak. Mulai dengan memfasilitasi melukis, menggambar, bernyanyi, juga melatih ecoprint,” jelas Puguh kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Bulan lalu, dia meluncurkan produk hasil kerajinan tangan anak-anak difabel yang binaannya. Produk itu berupa kerajinan tangan tas dan kerudung ecoprint.

Bripka Puguh menjelaskan, kerajinan teknik ecoprint sudah diajarkan kepada anak-anak difabel binaannya selama dua tahun. Pada tahun pertama, pihaknya sudah pernah meluncurkan kerajinan batik ecoprint anak difabel Insan Mandiri Blora Selatan. Pada tahun ini, launching pada kerajinan tas dan kerudung ecoprint.

BERBUAT LEBIH: Bripka Puguh Agung Dwi Pambuditomo mendampingi anak-anak difabel membuat batik ecoprint. (POLRES BLORA FOR RADAR KUDUS)

Dia menjelaskan, pemikiran mengajarkan batik ecoprint kepada difabel muncul dari gagasan kakaknya yang menjadi guru di salah satu SMP di Kecamatan Kunduran. Menurut kakaknya, metode batik ecoprint dianggap cocok untuk anak-anak difabel.

Baca Juga :  Tinggal Bersama Sapi, Masih Ingat Perjalanan 18 Hari ke Ambon

”Berawal dari ide dan diskusi ringan dengan kakak dan pengasuh yayasan, akhirnya kami pilih ecoprint. Kami kembangkan untuk kegiatan keterampilan anak-anak. Harapannya, setelah anak-anak lulus sekolah dia bisa membuat karya yang bisa dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup,” ucapnya.

Dalam pendampingannya selama enam tahun itu, dirinya mengaku memiliki beberapa kendala yang awalnya cukup menghambat. Salah satunya soal komunikasi.

”Karena setiap anak menyandang disabilitas yang berbeda. Ada yang tuna rungu, tuna netra, dan tuna grahita. Jadi, dibutuhkan kesabaran dalam momong mereka,” jelasnya.

Saat ini, kegiatan digelar di SDN 5 Wulung yang sudah tidak terpakai. Dia berharap, di Blora bagian selatan dapat segera dibangun sekolah luar biasa (SLB) negeri. Sebab, memang belum ada sekolah. Sedangkan difabel asuhannya sudah ada 131 anak.

”Sementara kami masih pinjam pakai SDN 5 Wulung yang kosong. Harapannya, semoga segera dibangun SLB bagi anak-anak yang sudah semakin banyak,” harap Puguh.

Atas kepeduliannya itu, dia meraih beberapa penghargaan dari berbagai instansi. Seperti dari Polres Blora, Kodim Blora, juga dari bupati. Selain itu, juga mendapatkan penghargaan polisi terbaik versi PPWI (Persatuan Pewarta Indonesia) pada akhir tahun lalu. (*/lin)

Berawal dari mendampingi tiga difabel, Bripka Puguh Agung Dwi Pambuditomo kini menjadi 131 difabel. Dia memang terus berpatroli keliling Blora bagian selatan untuk mencari difabel yang tidak terdampingi karena tidak ada SLB.

AHMAD ZA’IIMUL CHANIEF, Blora, Radar Kudus

KEGIATAN pendampingan terhadap kaum difabel dilakukan Bripka Puguh Agung Dwi Pambuditomo, anggota Satlantas Polres Blora. Lokasinya di Yayasan Insan Mandiri Blora Selatan, tepatnya di Kelurahan Wulung, Randublatung, Blora.

Kegiatan pendampingan itu, terus dilakukan meski harus menempuh jarak yang jauh dari rumahnya. Yakni di Dukuh Kidangan, Kelurahan Jepon, Jepon. Bripka Puguh tetap menjalin silaturahim dan mendampingi dalam pencarian dan pengembangan bakat anak-anak difabel. Bahkan, sudah terbukti beberapa anak difabel binaannya juara lomba melukis. Termasuk sudah ada yang rekaman lagu.

”Saya bagian menggali bakat anak-anak. Mulai dengan memfasilitasi melukis, menggambar, bernyanyi, juga melatih ecoprint,” jelas Puguh kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Bulan lalu, dia meluncurkan produk hasil kerajinan tangan anak-anak difabel yang binaannya. Produk itu berupa kerajinan tangan tas dan kerudung ecoprint.

Bripka Puguh menjelaskan, kerajinan teknik ecoprint sudah diajarkan kepada anak-anak difabel binaannya selama dua tahun. Pada tahun pertama, pihaknya sudah pernah meluncurkan kerajinan batik ecoprint anak difabel Insan Mandiri Blora Selatan. Pada tahun ini, launching pada kerajinan tas dan kerudung ecoprint.

BERBUAT LEBIH: Bripka Puguh Agung Dwi Pambuditomo mendampingi anak-anak difabel membuat batik ecoprint. (POLRES BLORA FOR RADAR KUDUS)

Dia menjelaskan, pemikiran mengajarkan batik ecoprint kepada difabel muncul dari gagasan kakaknya yang menjadi guru di salah satu SMP di Kecamatan Kunduran. Menurut kakaknya, metode batik ecoprint dianggap cocok untuk anak-anak difabel.

Baca Juga :  Sulap Limbah jadi Rupiah, Ciptakan Ruang Kerja Disabilitas

”Berawal dari ide dan diskusi ringan dengan kakak dan pengasuh yayasan, akhirnya kami pilih ecoprint. Kami kembangkan untuk kegiatan keterampilan anak-anak. Harapannya, setelah anak-anak lulus sekolah dia bisa membuat karya yang bisa dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup,” ucapnya.

Dalam pendampingannya selama enam tahun itu, dirinya mengaku memiliki beberapa kendala yang awalnya cukup menghambat. Salah satunya soal komunikasi.

”Karena setiap anak menyandang disabilitas yang berbeda. Ada yang tuna rungu, tuna netra, dan tuna grahita. Jadi, dibutuhkan kesabaran dalam momong mereka,” jelasnya.

Saat ini, kegiatan digelar di SDN 5 Wulung yang sudah tidak terpakai. Dia berharap, di Blora bagian selatan dapat segera dibangun sekolah luar biasa (SLB) negeri. Sebab, memang belum ada sekolah. Sedangkan difabel asuhannya sudah ada 131 anak.

”Sementara kami masih pinjam pakai SDN 5 Wulung yang kosong. Harapannya, semoga segera dibangun SLB bagi anak-anak yang sudah semakin banyak,” harap Puguh.

Atas kepeduliannya itu, dia meraih beberapa penghargaan dari berbagai instansi. Seperti dari Polres Blora, Kodim Blora, juga dari bupati. Selain itu, juga mendapatkan penghargaan polisi terbaik versi PPWI (Persatuan Pewarta Indonesia) pada akhir tahun lalu. (*/lin)


Most Read

Artikel Terbaru

/