Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

”Kalau tenun biasanya saya pilih sebagai outer atau hanya syal penghias pakaian. Tinggal di-mix and match saja. Modern tapi tetap ingin menonjolkan sentuhan etniknya. Jadi modern dan simpel,” ujar salah satu penggemar busana etnik, Ulfa Soepeodjo.
Warna yang dia pilih pun juga tak terlalu mencolok. Ulfa memilih warna dasar seperti hitam, coklat, maroon, navy dengan corak putih. ”Kalau saya memang suka yang menarik dan unik. Apa lagi arahnya ke etnik kontemporer, suka ke pengembangan fashion yang ada nilai tradisinya. Jadi sering saya tambah sentuhan batik, tenun khas nusantara ini,” imbuhnya.
Tren gaya etnik ini juga tak selalu dipakai untuk acara formal. Namun, juga cocok untuk bersantai. Biasanya kamu bisa memilih gaya kasual.
Namun, dari beragam kain khas dari Sabang-Merauke. Semuanya menarik jika dijadikan busana etnik. Selain tenun, batik juga menjadi andalan. Berbagai motif semakin mudah untuk di-eksplore.
”Banyak yang malu memakai batik. Mungkin karena dia belum pandai mengolahnya, jadi gayanya itu-itu saja. Padahal kalau kita mau mempadupadankan, kemudian bermain motif batik. Maka batik akan jauh dari kesan kuno,” kesannya.
Bahkan, jika mau mengotak-atik dan mempromosikan gaya etnik. Dia meyakini Indonesia akan menjadi kiblat pakaian etnik dunia. ”Minimnya konteks promosi. Masyarakat saat ini masih banyak yang melirik gaya luar, karena termakan iklan dan brand. Kalau bisa lebih digencarkan lagi mungkin akan menggeser pemahaman mereka akan fashion. Padahal di negerinya sendiri punya beragam gaya etnik yang tidak akan habis untuk di-eksplore,” kesannya. (int)
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



