Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Fakta Menarik Film What’s Up With Secretary Kim, Adaptasi Lokal dengan Nuansa Realis yang Berbeda dari Versi Drakor

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 11 November 2025 | 22:38 WIB
Poster terbaru drama What
Poster terbaru drama What

RADAR KUDUS - Setelah lama ditunggu, What’s Up With Secretary Kim akhirnya tayang di platform Vidio pada Sabtu (8/11/2025).

Judulnya memang terdengar familier karena diadaptasi dari webtoon dan webnovel populer What’s Wrong with Secretary Kim yang lebih dulu terkenal lewat versi drama Korea dibintangi Park Seo Joon dan Park Min Young.

Menariknya, bukan hanya Indonesia yang membuat versi adaptasi. Filipina dan Thailand juga pernah menggarap cerita serupa dengan sentuhan lokal masing-masing.

Kisah versi Indonesia berfokus pada Rendra Prakasa (Adipati Dolken), wakil presiden direktur perusahaan besar yang telah bekerja sembilan tahun bersama sekretaris setianya, Kimberley Laksono (Mawar de Jongh).

Dunia Rendra mulai goyah ketika sang sekretaris tiba-tiba mengajukan pengunduran diri, hingga membuatnya sadar ada perasaan yang belum pernah ia ungkapkan.

1. Proyek yang Sudah Disiapkan Sejak 2021

Walau baru tayang akhir 2025, produksi film ini rupanya dimulai sejak empat tahun lalu.

Adipati Dolken bahkan menyebut, proses penggarapan yang panjang membuat tim bisa menyiapkan adaptasi dengan matang.

“Film ini udah dibuat sejak 2021, jadi perjalanannya panjang banget. Harapannya penonton bisa ikut ngerasain hasil kerja keras kami,” ujar Adipati saat konferensi pers di Plaza Indonesia, Jakarta.

Durasi persiapan yang panjang ini menjelaskan mengapa film versi Indonesia terasa lebih rapi dalam detailnya, baik dari naskah maupun tata produksinya.

2. Adipati Dolken Dua Kali Menonton Versi Drakor

Untuk membangun karakternya sebagai bos muda karismatik, Adipati menjadikan Park Seo Joon sebagai referensi utama. Ia bahkan mengaku menonton versi drama Korea sebanyak dua kali.

Meski begitu, Adipati tak sekadar meniru gaya akting Park Seo Joon. Ia menyesuaikan karakter Rendra agar terasa lebih membumi dan sesuai dengan budaya kerja di Indonesia.

3. Perubahan Fisik demi Karakter

Sutradara Rako Prijanto meminta Adipati melakukan sedikit transformasi fisik agar lebih sesuai dengan peran seorang eksekutif muda.

“Pak Rako minta saya untuk nambah sedikit otot dan ngerapiin badan. Waktu itu saya kurus banget,” tutur Adipati.

Perubahan kecil ini memberi kesan profesional dan elegan pada sosok Rendra, tanpa kehilangan karakter khas Adipati Dolken yang hangat.

4. Belajar dari Bos Dunia Nyata

Menariknya, Adipati tak hanya belajar dari aktor Korea. Ia juga mengamati langsung cara berinteraksi salah satu pimpinan Falcon Pictures, H.B. Naveen.

Menurutnya, gaya komunikasi seorang pemimpin yang tetap santai namun tegas sangat membantu membentuk karakter Rendra.

“Saya perhatiin cara Pak Naveen ngomong ke anak buahnya—tetap hormat tapi tetap kelihatan kalau dia bosnya. Detail kayak gitu yang saya ambil,” katanya.

Observasi ini membuat karakter Rendra terasa realistis: berwibawa, tapi masih bisa terasa manusiawi.

5. Mawar de Jongh Dalami Dunia Sekretaris

Tak kalah serius, Mawar de Jongh juga melakukan observasi agar perannya sebagai sekretaris terlihat natural.

Ia berbicara dengan teman-temannya yang bekerja di kantor untuk memahami ritme dan budaya kerja profesional.

“Aku lihat gimana mereka ngomong, cara mereka berpakaian, sampai sikap mereka ke atasan. Dari situ aku berusaha bikin karakter Kim lebih relate buat penonton,” ungkapnya.

Pendekatan ini membuat Kimberley Laksono terasa seperti sekretaris yang benar-benar bisa kita temui di dunia nyata, bukan hanya karakter fiksi yang sempurna.

6. Nuansa Realis, Bukan Komikal

Perbedaan paling mencolok dari versi Korea terletak pada suasana film. Jika versi drakor cenderung komikal dengan banyak momen berlebihan, versi Indonesia justru menghadirkan kesan lebih realis.

“Kami bikin versi yang realistis, karena mau dekat dengan penonton Indonesia,” ujar Rako Prijanto.

Dengan pendekatan ini, kisah cinta antara bos dan sekretaris tak lagi sekadar fantasi romantis, melainkan terasa seperti dinamika nyata di dunia kerja modern Indonesia.

Reaksi Penonton di Media Sosial

Film ini langsung jadi perbincangan di Instagram dan TikTok begitu tayang di Vidio. Beberapa komentar netizen antara lain:

- “Chemistry Adipati dan Mawar tuh manis tapi nggak lebay. Kerasa banget lokalnya.”

- “Versi Korea lucu, tapi versi ini lebih real. Rendra kayak bos beneran, bukan karakter kartun.”

- “Seneng banget liat adaptasi lokal yang niat dan nggak asal comot cerita.”

- “Wardrobenya pas, nggak terlalu glamor, cocok sama suasana kantor di sini.”

Sebagian penonton juga memuji keberanian tim produksi untuk tidak sekadar meniru versi Korea, melainkan membuat versi yang relevan dan dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

What’s Up With Secretary Kim versi Indonesia membuktikan bahwa adaptasi bisa tetap setia pada esensi cerita, tapi tetap punya identitas sendiri.

Dengan gaya penyutradaraan yang lebih realistis, riset karakter yang kuat, dan chemistry alami antara Adipati Dolken dan Mawar de Jongh, film ini menjadi contoh menarik bagaimana karya populer bisa diterjemahkan ke konteks lokal tanpa kehilangan pesonanya.

Jika versi Korea memikat lewat kelucuan dan gaya glamornya, maka versi Indonesia memukau lewat kedekatan emosional dan kehangatan yang terasa lebih “nyata.” (rani) 

Editor : Ali Mustofa
#What's Wrong With Secretary Kim #Film versi Indonesia #drama korea #film romance #vidio