Radar Kudus - Fanny Soegi, mantan vokalis band Soegi Bornean, baru-baru ini membeberkan kebobrokan dalam pembagian royalti lagu "Asmalibrasi" melalui platform X.
Meski lagu ini menghasilkan royalti mencapai setengah miliar rupiah, Fanny mengungkapkan bahwa penciptanya, termasuk dirinya sendiri, hidup dalam kesulitan finansial.
Ironisnya, pencipta lagu tersebut bahkan harus meminjam uang untuk membayar biaya sekolah anaknya.
Royalti yang Tidak Merata
Menurut Fanny, terdapat ketidaktransparanan dalam pembagian royalti.
Sementara pencipta lagu hidup dalam keterbatasan, orang-orang yang tidak berhak mendapatkan bagian royalti malah bisa menikmati kehidupan mewah, seperti membeli dua mobil sekaligus dan gitar mahal.
Pencipta lagu "Asmalibrasi" harus tinggal di rumah kontrakan dengan kondisi atap yang bocor, sebuah kontradiksi mencolok terhadap besarnya royalti yang diperoleh.
Kurangnya Empati dan Ketidakadilan
Selain masalah royalti, Fanny juga menyentuh soal kurangnya empati dari bandnya. Ketika Fanny berduka atas kepergian ibunya, bandnya tetap memaksanya untuk tampil, sebuah tindakan yang membuat Fanny merasa sangat terluka.
Hal ini menunjukkan betapa rendahnya tingkat kepedulian dan keadilan di antara anggota band.
Masalah Hak Kekayaan Intelektual
Fanny menceritakan bahwa ketika dia ingin keluar dari band, dia dihadapkan dengan masalah hak kekayaan intelektual.
Dia diharuskan membayar untuk menggunakan nama "Soegi," yang merupakan nama miliknya sendiri. Hal ini menambah rasa ketidakadilan yang dirasakannya dan menunjukkan adanya praktik yang tidak adil dalam industri musik.
Keberanian Menghadapi Ancaman
Meskipun menghadapi ancaman dan tekanan dari pihak-pihak yang berpengaruh, Fanny menegaskan bahwa dia tidak takut dan tetap berpegang pada prinsip keadilan.
Dia menolak untuk diintimidasi dan bertekad untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun ada ancaman dari orang-orang penting di belakang masalah ini.
Latar Belakang dan Dampak Lagu "Asmalibrasi"
Lagu "Asmalibrasi" yang viral pada 2022 telah mendominasi berbagai platform media sosial dan mendapatkan lebih dari 80 juta views di YouTube serta 205 juta pemutaran di Spotify.
Pencipta lagu, Fanny Soegi dan Dhimas Tirta Franata (dimectirta), juga menciptakan tujuh lagu lainnya yang ikut berkontribusi pada kesuksesan band tersebut.
Namun, ketidakadilan dalam pembagian royalti menunjukkan bahwa meskipun lagu tersebut sukses, tidak semua pihak yang berkontribusi merasakan manfaatnya.
Kritik Terhadap Sistem Royalti dan Perlunya Keadilan
Kisah ini mengungkapkan betapa pentingnya transparansi dan keadilan dalam industri musik, serta kebutuhan untuk memperjuangkan hak-hak semua pihak yang terlibat.
Fanny Soegi dengan berani telah membuka tabir ketidakadilan, dan kini menjadi suara bagi pencipta lagu yang selama ini terabaikan.
Editor : Abdul Rokhim