Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tanpa Dijual ke Pasar, ADRO Hapus 1,36 Miliar Saham Buyback Lewat Pengurangan Modal

M
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

Jakarta — PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) kembali mengirimkan sinyal strategis ke pasar modal. Emiten batubara besar ini resmi melaporkan pengalihan 1,36 miliar saham hasil pembelian kembali (buyback) dengan cara yang tidak lazim: bukan dijual ke pasar, melainkan dihapus melalui pengurangan modal.


Advertisement

Langkah ini menandai fase baru dalam pengelolaan struktur permodalan ADRO. Alih-alih menambah likuiditas lewat penjualan saham treasury, manajemen memilih jalur yang lebih “sunyi”, namun berdampak jangka panjang terhadap komposisi kepemilikan dan jumlah saham beredar.

Keputusan tersebut dilaporkan secara resmi dalam keterbukaan informasi tertanggal 12 Januari 2026, ditandatangani Sekretaris Perusahaan Maharani Cindy Opssedha, dengan tanggal efektif pengalihan pada 30 Desember 2025.

Baca Juga: Bukan Sekadar Buyback, ADRO Tarik 1,36 Miliar Saham dari Peredaran

Bukan Sekadar Buyback, Ini Strategi Pengurangan Modal

Pengalihan yang dilakukan ADRO mencakup 1.368.976.500 saham, setara sekitar 4,45 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Namun berbeda dari praktik umum, saham-saham tersebut tidak dilepas kembali ke publik.

Advertisement

Sebaliknya, ADRO memilih mekanisme pengurangan modal, sehingga secara administratif saham tersebut dihapus dari peredaran. Konsekuensinya jelas:

  • Tidak ada tambahan pasokan saham di pasar

  • Tidak ada tekanan jual dari saham treasury

  • Tidak ada dana masuk ke kas perusahaan dari transaksi ini

Dalam laporan resmi, nilai pengalihan pun dicatat Rp0, menegaskan bahwa langkah ini murni bersifat struktural, bukan komersial.

Baca Juga: Saham Tambang dan Properti Diprediksi Menguat Pekan Ini

Mengapa Pengurangan Modal Jadi Pilihan?

Keputusan ini memberi sinyal bahwa ADRO tengah fokus pada efisiensi struktur saham, bukan sekadar manuver jangka pendek untuk harga.

Dengan berkurangnya jumlah saham beredar, secara teori porsi kepemilikan pemegang saham eksisting meningkat, tanpa perlu membeli saham tambahan.

Advertisement

Bagi investor jangka panjang, langkah ini sering dipandang sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan.

Dalam konteks sektor batubara yang fluktuatif, strategi semacam ini bisa dibaca sebagai upaya menjaga persepsi nilai dan stabilitas ekuitas.

Dasar Hukum dan Restu Pemegang Saham

Manuver ini bukan keputusan sepihak. ADRO telah mengantongi persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 2 Juni 2025.

Selain itu, perusahaan juga telah memperoleh Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor AHU-0051836.AH.01.02.TAHUN 2025 tertanggal 5 Agustus 2025, terkait perubahan Anggaran Dasar sebagai konsekuensi dari pengurangan modal.

Dari sisi regulasi pasar modal, langkah ini mengacu pada:

  • Pasal 44 dan 45 UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

  • POJK No. 29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham Perusahaan Terbuka

Artinya, secara hukum dan regulasi, penghapusan saham treasury ADRO berada dalam koridor yang sah dan terkontrol.

Rincian Saham yang Dihapus dan Sisa Treasury

Saham yang telah dialihkan melalui pengurangan modal berasal dari program buyback periode 15 Mei 2024 hingga 16 Mei 2025, dengan harga rata-rata pembelian Rp1.984 per saham.

Hingga akhir Desember 2025, posisi saham treasury ADRO adalah sebagai berikut:

  • Saham yang telah dihapus: 1.368.976.500 lembar

  • Sisa saham treasury: 589.195.200 lembar

Sisa saham tersebut berasal dari dua fase buyback berbeda:

  1. Periode 15 Mei–2 Juni 2025 sebanyak 33 juta saham

  2. Periode 2 Juni 2025–3 Juni 2026 sebanyak 556,19 juta saham

Manajemen menegaskan bahwa untuk saham-saham yang tersisa, periode pengalihan kembali belum dimulai, sesuai ketentuan POJK yang berlaku.

Dampak Tersembunyi bagi Investor

Meski tidak menimbulkan arus kas masuk, langkah ADRO ini menyimpan implikasi penting:

  1. Jumlah saham beredar menyusut, berpotensi mendongkrak metrik per saham

  2. Tidak ada risiko overhang dari penjualan saham treasury

  3. Kepemilikan pemegang saham eksisting terdilusi lebih kecil

  4. Sinyal disiplin modal di tengah siklus komoditas yang dinamis

Bagi pasar, ini bukan kabar sensasional, tetapi justru keputusan strategis yang biasanya hanya diperhatikan investor institusi dan analis fundamental.

Baca Juga: ADRO Tebar Dividen Interim Rp145 per Saham, Yield Tembus 7,97% di Awal 2026

ADRO dan Arah Bisnis ke Depan

Sebagai perusahaan energi terintegrasi, ADRO tidak hanya bergantung pada batubara. Portofolionya mencakup sektor energi, utilitas, infrastruktur, logistik, hingga ketenagalistrikan melalui anak usaha.

Langkah pengurangan modal ini bisa dibaca sebagai bagian dari penataan internal yang lebih luas, terutama dalam menjaga fleksibilitas struktur permodalan di tengah transisi energi dan dinamika harga komoditas global.

Alih-alih agresif mencari pendanaan, ADRO justru menunjukkan preferensi pada optimalisasi modal yang sudah ada.

Advertisement

Artikel Terkait

BRI Sambut Positif Penguatan Fundamental dan Dukungan untuk Pasar Modal

BRI Sambut Positif Penguatan Fundamental dan Dukungan untuk Pasar Modal

Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada di zona negatif secara year-to-date, perhatian terhadap saham-saham BUMN kembali meningkat.

IHSG Diprediksi Bergerak Sideways, Investor Pantau Cadangan Devisa BI dan Data Tenaga Kerja AS

IHSG Diprediksi Bergerak Sideways, Investor Pantau Cadangan Devisa BI dan Data Tenaga Kerja AS

IHSG diperkirakan bergerak terbatas di kisaran 6.300–6.400. Investor menanti data cadangan devisa BI, Non-Farm Payrolls AS, neraca dagang China, serta lelang SBSN yang berpotensi memengaruhi arah pasar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer