alexametrics
29 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Cukai Rokok Naik, Konsumen Berpaling ke SKT

KUDUS – Tarif cukai dipastikan naik pada 2022 mendatang. Kenaikan ini, akan berimbas pada beralihnya konsumen ke jenis rokok sigaret kretek tangan (SKT).

Public Affairs PT Djarum Purwono Nugroho menyatakan, pihaknya akan mengikuti peraturan pemerintah atas pemberlakukaan tarif cukai yang baru. Namun ada beberapa dampak yang akan terjadi jika tarif cukai itu naik.

Menurut Ipung -sapaan akrabnya- masyarakat akan berpindah mengomsumsi jenis rokok. Awalnya banyak yang membeli sigaret kretek mesin (SKM) diprediksi beralih ke sigaret kretek tangan (SKT). ”Ini mengingat memengaruhi daya beli masyarakat, maka akan beralih ke kretek,” terangnya.


Meski demikian, pihaknya tak mengkhawatirkan akan perpindahan konsumen. Sebab, PT Djarum mempunyai alternatif untuk produk SKT. ”Kalau kami punya SKT, konsumen akan pindah ke produk lain yang SKT,” katanya.

Sementara itu, Pemilik Perusahaan Rokok (PR) Rajan Nabadi Sutrisno menyampaikan, pihaknya akan mengikuti kebijakan pemerintah terkait kenaikan cukai rokok pada tahun depan. ”Kami ikut dengan kebijakan pemerintah. Pada 2021 lalu, tarif cukai rokok SKT memang belum naik,” kata pemilik usaha rokok golongan III ini.

Dia mengaku, kenaikannya tidak besar, sehingga tidak memberatkan pengusaha rokok. Khususnya bagi pengusaha rokok golongan III yang produksinya di bawah 500 ribu batang per hari. ”Kalau ada kenaikan tarif mudah-mudahan ‎tidak terlalu tinggi,” harap dia.

Baca Juga :  PLN UIK TJB Gelar Apel Siaga di Objek Vital Nasional PLTU

Terpisah, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi (PLI) KPPBC Tipe Madya Kabupaten Kudus Dwi Prasetyo Rini ‎menjelaskan, kenaikan rata-rata SKM sebesar 14 persen. Untuk tarif cukai SKT kenaikannya 12 persen.

Dari kenaikan itu, ada segi positif dan negatifnya. Dari segi positifnya, bisa menekan konsumsi rokok di masyarakat. Sedangkan segi negatifnya, para pengusaha rokok akan mengeluh.

Kenaikan cukai berimbas pada turunnya produksi perusahaan rokok. Seperti Nojorono yang semula golongan I menjadi golongan II. Produksi rokok golongan II ini, sekitar 500 ribu sampai 3 juta batang hari. Pada tahun ini, golongan I yang bertahan hanya Djarum. Perusahaan rokok golongan I produksinya mencapai 3 juta batang ke atas per hari.

”Penurunan golongan oleh Nojorono memengaruhi penerimaan negara. Sebelumnya mampu menyumbang sekitar Rp 2 triliun, kini menjadi Rp 1,1 triliun per November ini,” katanya.

Rini menambahkan, sekarang ini jumlah penerimaan cukai Kudus per November 2021 senilai Rp 27 triliun. Targetnya sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 33,4 triliun. ”Tahun depan, kami belum mengetahui jumlah targetnya,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Tarif cukai dipastikan naik pada 2022 mendatang. Kenaikan ini, akan berimbas pada beralihnya konsumen ke jenis rokok sigaret kretek tangan (SKT).

Public Affairs PT Djarum Purwono Nugroho menyatakan, pihaknya akan mengikuti peraturan pemerintah atas pemberlakukaan tarif cukai yang baru. Namun ada beberapa dampak yang akan terjadi jika tarif cukai itu naik.

Menurut Ipung -sapaan akrabnya- masyarakat akan berpindah mengomsumsi jenis rokok. Awalnya banyak yang membeli sigaret kretek mesin (SKM) diprediksi beralih ke sigaret kretek tangan (SKT). ”Ini mengingat memengaruhi daya beli masyarakat, maka akan beralih ke kretek,” terangnya.

Meski demikian, pihaknya tak mengkhawatirkan akan perpindahan konsumen. Sebab, PT Djarum mempunyai alternatif untuk produk SKT. ”Kalau kami punya SKT, konsumen akan pindah ke produk lain yang SKT,” katanya.

Sementara itu, Pemilik Perusahaan Rokok (PR) Rajan Nabadi Sutrisno menyampaikan, pihaknya akan mengikuti kebijakan pemerintah terkait kenaikan cukai rokok pada tahun depan. ”Kami ikut dengan kebijakan pemerintah. Pada 2021 lalu, tarif cukai rokok SKT memang belum naik,” kata pemilik usaha rokok golongan III ini.

Dia mengaku, kenaikannya tidak besar, sehingga tidak memberatkan pengusaha rokok. Khususnya bagi pengusaha rokok golongan III yang produksinya di bawah 500 ribu batang per hari. ”Kalau ada kenaikan tarif mudah-mudahan ‎tidak terlalu tinggi,” harap dia.

Baca Juga :  Emak-Emak di Kudus Serbu Minyak Goreng Rp 14 Ribu Per Liter

Terpisah, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi (PLI) KPPBC Tipe Madya Kabupaten Kudus Dwi Prasetyo Rini ‎menjelaskan, kenaikan rata-rata SKM sebesar 14 persen. Untuk tarif cukai SKT kenaikannya 12 persen.

Dari kenaikan itu, ada segi positif dan negatifnya. Dari segi positifnya, bisa menekan konsumsi rokok di masyarakat. Sedangkan segi negatifnya, para pengusaha rokok akan mengeluh.

Kenaikan cukai berimbas pada turunnya produksi perusahaan rokok. Seperti Nojorono yang semula golongan I menjadi golongan II. Produksi rokok golongan II ini, sekitar 500 ribu sampai 3 juta batang hari. Pada tahun ini, golongan I yang bertahan hanya Djarum. Perusahaan rokok golongan I produksinya mencapai 3 juta batang ke atas per hari.

”Penurunan golongan oleh Nojorono memengaruhi penerimaan negara. Sebelumnya mampu menyumbang sekitar Rp 2 triliun, kini menjadi Rp 1,1 triliun per November ini,” katanya.

Rini menambahkan, sekarang ini jumlah penerimaan cukai Kudus per November 2021 senilai Rp 27 triliun. Targetnya sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 33,4 triliun. ”Tahun depan, kami belum mengetahui jumlah targetnya,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/