Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Reli BUMI dan Efek Lo Kheng Hong: Pasar Mulai Berburu Saham Undervalued

M
Ilustrasi orang sedang investasi saham
Ilustrasi orang sedang investasi saham

RADAR KUDUS - Awal tahun 2026 dibuka dengan kejutan dari lantai bursa. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali mencuri perhatian setelah melanjutkan reli agresif yang membuat pelaku pasar tak lagi bisa mengabaikannya.


Advertisement

Lonjakan harga saham emiten batu bara raksasa ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan sinyal kuat bahwa minat investor sedang terkonsentrasi pada saham-saham bernilai murah dengan potensi cerita besar.

Pada perdagangan Senin pagi, 5 Januari 2026, saham BUMI melesat ke level Rp 446, menguat lebih dari 6 persen hanya dalam satu sesi.

Kenaikan ini menyusul lonjakan tajam sebelumnya yang mencapai hampir 15 persen pada akhir pekan lalu.

Advertisement

Dalam hitungan hari, BUMI berubah dari saham yang diremehkan menjadi pusat perbincangan pasar.

Baca Juga: Konflik AS–Venezuela Memanas, Saham Perkapalan dan Emas Mulai Dilirik

Reli BUMI Bukan Kebetulan

Pergerakan BUMI tidak terjadi dalam ruang hampa. Secara teknikal, penguatan terbaru telah membawa saham ini menembus area resistensi penting yang selama ini menjadi penghalang laju harga. Sejumlah analis melihat momentum ini sebagai kelanjutan tren bullish yang sudah terbangun sejak akhir tahun lalu.

Namun yang menarik, reli BUMI bukan hanya soal grafik. Ada perubahan psikologis di pasar. Saham yang selama bertahun-tahun dianggap “berisiko tinggi” kini mulai dipandang ulang sebagai peluang turnaround. Investor mulai bertanya: apakah BUMI sedang memasuki fase revaluasi?

Advertisement

Sentimen positif terhadap sektor energi, stabilitas harga komoditas, serta membaiknya struktur keuangan perusahaan menjadi kombinasi yang memperkuat optimisme.

Baca Juga: ADRO Tebar Dividen Interim Rp145 per Saham, Yield Tembus 7,97% di Awal 2026

Saham Murah dan Logika Lo Kheng Hong

Di tengah hiruk pikuk reli BUMI, satu nama kembali mencuat: Lo Kheng Hong. Investor legendaris ini dikenal konsisten dengan filosofi sederhana namun tajam—membeli saham bagus saat harganya murah, dan bersabar.

Meski Lo Kheng Hong tidak secara spesifik menyebut BUMI, pandangannya tentang kondisi pasar 2026 menjadi konteks penting. Ia menilai banyak saham berfundamental besar masih berada di level undervalued, terutama saham perbankan dan emiten dengan aset kuat.

Dengan suku bunga deposito yang rendah, uang parkir di bank tak lagi menarik. Investor ritel dan institusi pun terdorong mencari alternatif yang memberikan potensi imbal hasil lebih tinggi. Di sinilah saham murah kembali mendapat panggung.

BUMI, dengan harga ratusan rupiah namun volume transaksi besar, masuk radar sebagai saham yang “terlihat murah” secara nominal—sebuah faktor psikologis yang kerap memicu lonjakan minat beli.

Pasar Sedang Mencari Cerita Besar

Awal tahun biasanya menjadi periode pembentukan narasi baru di pasar modal. Tahun ini, narasi tersebut bertumpu pada dua hal: aset lindung nilai dan saham undervalued.

Harga emas yang terus bergerak naik, baik emas perhiasan maupun emas batangan, mencerminkan kecemasan global sekaligus perburuan aset aman. Di sisi lain, saham-saham dengan valuasi rendah mulai dilirik sebagai kendaraan pertumbuhan.

Kombinasi ini menciptakan dualisme strategi: sebagian investor mengamankan dana di emas, sebagian lain berburu saham murah dengan potensi lonjakan cepat. BUMI berada di jalur kedua.

Baca Juga: IHSG Rawan Koreksi, Saham Ini Dinilai Paling Tahan Ditengah Geopolitik Luar Negeri yang Memanas

Apakah BUMI Sudah Terlalu Tinggi?

Pertanyaan krusial mulai muncul: apakah reli BUMI sudah mendekati puncak? Beberapa analis teknikal memperingatkan bahwa penguatan tajam dalam waktu singkat kerap diikuti fase konsolidasi. Namun, selama volume perdagangan tetap terjaga dan sentimen positif bertahan, peluang lanjutan masih terbuka.

Yang jelas, BUMI kini bukan lagi saham yang sepi perhatian. Setiap pergerakannya dipantau ketat, baik oleh trader jangka pendek maupun investor yang berharap cerita pemulihan berkelanjutan.

Emas Menguat, Saham Bergerak Agresif

Sementara BUMI mencuri sorotan di pasar saham, emas tetap memainkan perannya sebagai jangkar stabilitas. Harga emas perhiasan terpantau relatif terjaga, sementara emas batangan Antam kembali menembus kisaran Rp 2,5 juta per gram.

Kondisi ini menegaskan satu hal: pasar sedang berada dalam fase “waspada tapi oportunistis”. Investor tidak sepenuhnya defensif, namun juga tidak gegabah. Mereka memilih aset dengan cerita kuat—baik sebagai pelindung nilai maupun mesin pertumbuhan.

Baca Juga: Saham HUMI Terbang di Awal 2026: Arus Dana Asing, Efek Psikologis, dan Taruhan Pasar

Arah Pasar 2026 Mulai Terbaca

Jika dirangkum, awal 2026 memperlihatkan pola yang jelas. Saham-saham yang lama tertidur mulai bangun, emas tetap menjadi primadona, dan investor legendaris kembali dijadikan rujukan.

BUMI menjadi simbol dari pergeseran ini. Dari saham kontroversial menjadi saham yang diperebutkan. Dari cerita masa lalu menjadi spekulasi masa depan.

Namun satu catatan penting: reli cepat selalu membawa risiko. Investor dituntut lebih disiplin, memahami tujuan investasinya, dan tidak terjebak euforia semata.

Murah Bukan Berarti Murahan

Kenaikan saham BUMI menegaskan bahwa pasar selalu memberi kesempatan kedua. Saham yang dulu dipandang sebelah mata bisa kembali bersinar ketika momentum, sentimen, dan narasi bertemu di satu titik.

Filosofi Lo Kheng Hong kembali relevan: harga murah bukan soal nominal, tetapi soal nilai. Dan di awal 2026 ini, pasar tampaknya sedang berlomba mencari nilai tersebut—baik di saham, maupun di emas.

Advertisement

Artikel Terkait

Investor Asing Jual Saham di Tengah IHSG Ambruk, Ini 10 Emiten dengan Net Foreign Sell Terbesar

Investor Asing Jual Saham di Tengah IHSG Ambruk, Ini 10 Emiten dengan Net Foreign Sell Terbesar

IHSG anjlok 3,49 persen ke level 5.098,06 pada 29 Oktober 2026. BUMI, CUAN, dan AMRT masuk daftar 10 saham dengan penjualan bersih asing terbesar di tengah tekanan pasar.

IHSG Merosot Hampir 2 Persen, BUMI dan BBCA Masuk Daftar Saham yang Dilepas Asing

IHSG Merosot Hampir 2 Persen, BUMI dan BBCA Masuk Daftar Saham yang Dilepas Asing

IHSG turun 1,93 persen ke level 5.975,78 pada sesi I, Senin (12/10/2026). Investor asing mencatat net sell Rp166,22 miliar, dengan BUMI menjadi saham yang paling banyak dilepas.

Pemegang Saham Loyal Metals Setujui Akuisisi BUMI Senilai A$79,1 Juta

Pemegang Saham Loyal Metals Setujui Akuisisi BUMI Senilai A$79,1 Juta

Pemegang saham Loyal Metals menyetujui akuisisi 100 persen oleh BUMI senilai sekitar A$79,1 juta. Transaksi ini memperkuat ekspansi BUMI ke aset tembaga dan emas di Australia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer