alexametrics
30.8 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Panic Buying Jadi penyebab Minyak Goreng di Toko Modern Selalu Kosong

PATI – Subsidi minyak goreng seharga Rp 14 ribu di toko modern mulai langka. Beberapa toko terlihat kehabisan stok minyak subsidi tersebut. Faktor panic buying disinyalir menjadi penyebabnya.

Rak-rak di toko modern daerah Runting dan toko timur Alun-alun Pati terlihat kosong. Tak ada satupun minyak subsidi yang tersisa.

Saat ditanyai, salah satu karyawan di toko modern wilayah Alun-alun Pati Nevvy Imelda mengatakan, kelangkaan minyak goreng ini terjadi mulai beberapa hari terakhir. Sejak adanya subsidi minyak goreng.


”Sebelum ada subsidi stok terjaga. Minyak gorengnya selalu ada. Tapi setelah adanya subsidi cepat habis. Adanya minyak kelapa. Itupun tak subsidi,” ujar Nevvy saat ditemui kemarin.

Padahal setiap hari toko tersebut di-dropping minyak goreng. Pasokan minyaknya pun tak ada beda jumlah antara sesudah dan sebelum subsidi. Pihaknya juga membatasi pembelian minyak goreng maksimal satu kemasan.

”Pukul 08.00 datang 24 bungkus satu literan, belum sejam sudah habis. Diserbu pembeli,” katanya.

Hal yang serupa juga dialami toko modern di daerah Pasar Runting Pati. Minyak goreng juga habis terjual.

Baca Juga :  Penyerapan DAK Fisik di Pati Masih Rendah

”Pukul 10.00 datang minyaknya. Sebelum pukul 11.00 sudah habis. Siang ini sudah ndak ada,” papar karyawan laki-laki yang tak mau disebut namanya itu.

Berdasarkan keterangan pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati subsidi Rp 4.000 itu baru menyasar toko modern. Untuk pasar tradisional akan menyesuiakan pekan ini.

Pihaknya menyayangkan hal ini. Apalagi harga minyak goreng ini dipastikan akan turun semunya. Baik di toko modern atau toko tradisional.

”Subsidi itu langsung dari pemerintah pusat. Untuk pasar tradisional menyusul pekan ini. Memang start-nya beda,” kata Kepala Disdagperin Pati Hadi  Santosa.

Menurutnya, kelangkaan minyak goreng ini dikarenakan efek panic buying. Dimana masyarakat ketakutan. Akhirnya berfikiran untuk membelinya. ”Ini karena panic buying. Harapannya, masyarakat jangan panik. Nantinya harga juga menyesuaikan semua,” pungkasnya.

Diketahui, minyak goreng Rp 14 ribu belum menyentuh pedagang kecil di pasar tradisional. Pedagang pasar tradisional masih menjual minyak goreng dengan harga normal antara Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribuan per liter. Nantinya akan menyusul pada pekan ini. (adr)






Reporter: Andre Faidhil Falah

PATI – Subsidi minyak goreng seharga Rp 14 ribu di toko modern mulai langka. Beberapa toko terlihat kehabisan stok minyak subsidi tersebut. Faktor panic buying disinyalir menjadi penyebabnya.

Rak-rak di toko modern daerah Runting dan toko timur Alun-alun Pati terlihat kosong. Tak ada satupun minyak subsidi yang tersisa.

Saat ditanyai, salah satu karyawan di toko modern wilayah Alun-alun Pati Nevvy Imelda mengatakan, kelangkaan minyak goreng ini terjadi mulai beberapa hari terakhir. Sejak adanya subsidi minyak goreng.

”Sebelum ada subsidi stok terjaga. Minyak gorengnya selalu ada. Tapi setelah adanya subsidi cepat habis. Adanya minyak kelapa. Itupun tak subsidi,” ujar Nevvy saat ditemui kemarin.

Padahal setiap hari toko tersebut di-dropping minyak goreng. Pasokan minyaknya pun tak ada beda jumlah antara sesudah dan sebelum subsidi. Pihaknya juga membatasi pembelian minyak goreng maksimal satu kemasan.

”Pukul 08.00 datang 24 bungkus satu literan, belum sejam sudah habis. Diserbu pembeli,” katanya.

Hal yang serupa juga dialami toko modern di daerah Pasar Runting Pati. Minyak goreng juga habis terjual.

Baca Juga :  Undian PHS, Bikin “Mesra” Pelaku UMKM dan BRI Rembang

”Pukul 10.00 datang minyaknya. Sebelum pukul 11.00 sudah habis. Siang ini sudah ndak ada,” papar karyawan laki-laki yang tak mau disebut namanya itu.

Berdasarkan keterangan pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati subsidi Rp 4.000 itu baru menyasar toko modern. Untuk pasar tradisional akan menyesuiakan pekan ini.

Pihaknya menyayangkan hal ini. Apalagi harga minyak goreng ini dipastikan akan turun semunya. Baik di toko modern atau toko tradisional.

”Subsidi itu langsung dari pemerintah pusat. Untuk pasar tradisional menyusul pekan ini. Memang start-nya beda,” kata Kepala Disdagperin Pati Hadi  Santosa.

Menurutnya, kelangkaan minyak goreng ini dikarenakan efek panic buying. Dimana masyarakat ketakutan. Akhirnya berfikiran untuk membelinya. ”Ini karena panic buying. Harapannya, masyarakat jangan panik. Nantinya harga juga menyesuaikan semua,” pungkasnya.

Diketahui, minyak goreng Rp 14 ribu belum menyentuh pedagang kecil di pasar tradisional. Pedagang pasar tradisional masih menjual minyak goreng dengan harga normal antara Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribuan per liter. Nantinya akan menyusul pada pekan ini. (adr)






Reporter: Andre Faidhil Falah

Most Read

Artikel Terbaru

/