alexametrics
24.7 C
Kudus
Wednesday, May 18, 2022

Kerajinan Ukir di Jepara Ditinggalkan Generasi Muda, Ini Pemicunya

JEPARA – Kerajinan ukir di Kabupaten Jepara mulai ditinggalkan generasi muda. Lantaran, kegiatan mengukir terlalu ribet dan kurang praktis. Selain itu, maraknya pabrik garmen menjadi pemicu lain. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik. Karena praktis serta penghasilan tetap dan menjanjikan.

Salah satu sentra ukir yang masih aktif ada di Desa Senenan, Tahunan. Saat koran ini mengecek ke lokasi kemarin, terdapat tiga orang tengah mengukir di salah satu bengkel. Salah satunya Joko.

Saat itu, ia tengah mengukir relief untuk hiasan dinding. Panjang kayunya sekitar dua meter dengan tinggi semester. Pengerjaan ukiran tersebut, diperkirakan rampung dalam waktu dua hingga tiga bulan. Saat itu, prosesnya masih menatah kayu yang telah digambar.


Ia mengakui, generasi muda di Jepara saat ini mulai meninggalkan kerajinan ukir. Usia pengukir yang ada saat ini, paling muda diperkirakan 25 tahun. ”Di bawah itu sudah tidak ada. Jadi, tak ada regenerasi lagi,” terangnya.

Baca Juga :  Bank Jateng Pati Serahkan Hadiah Undian Tabungan Bima

Para pemuda lebih memilih bekerja di pabrik garmen. Lantaran, bekerjanya tak rumit dan gajinya pasti. ”Juga tak ribet. Karena kalau mengukir itu ribet. Butuh ketelitian,” tambah Joko.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara Eriza Rudi Yulianto melalui Kasi Industri Kimia Agro Hasil Hutan (IKAHH) Dhaula Pattaraya mengakui, saat ini kerajinan ukir kalah dengan pabrik garmen di Bumi Kartini.

”Anak-anak muda lebih memilih itu (bekerja di pabrik garmen, Red). Kami tidak ingin Jepara berubah terkenal dengan Kota Garmen. Harusnya tetap Kota Ukir,” keluhnya.

Untuk itu, pihaknya tiap tahun mengadakan pelatihan ukir. Demi melestarikan kerajinan ukir di Jepara. Pesertanya beragam. Mulai pemuda hingga dewasa. Bahkan, juga ada perempuan. Terbaru, Februari lalu pihaknya menggelar pelatihan di Desa Petekeyan dan Tahunan, Kecamatan Tahunan.

Rencananya, tahun depan pelatihan tersebut kembali digelar. Temanya ukiran relief untuk pengembangan. ”Agar ukiran di Jepara ini tidak punah,” tegas Dhaula. (rom)

JEPARA – Kerajinan ukir di Kabupaten Jepara mulai ditinggalkan generasi muda. Lantaran, kegiatan mengukir terlalu ribet dan kurang praktis. Selain itu, maraknya pabrik garmen menjadi pemicu lain. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik. Karena praktis serta penghasilan tetap dan menjanjikan.

Salah satu sentra ukir yang masih aktif ada di Desa Senenan, Tahunan. Saat koran ini mengecek ke lokasi kemarin, terdapat tiga orang tengah mengukir di salah satu bengkel. Salah satunya Joko.

Saat itu, ia tengah mengukir relief untuk hiasan dinding. Panjang kayunya sekitar dua meter dengan tinggi semester. Pengerjaan ukiran tersebut, diperkirakan rampung dalam waktu dua hingga tiga bulan. Saat itu, prosesnya masih menatah kayu yang telah digambar.

Ia mengakui, generasi muda di Jepara saat ini mulai meninggalkan kerajinan ukir. Usia pengukir yang ada saat ini, paling muda diperkirakan 25 tahun. ”Di bawah itu sudah tidak ada. Jadi, tak ada regenerasi lagi,” terangnya.

Baca Juga :  Alasan Jual Sembako, Dua Mal di Kudus Masih Buka

Para pemuda lebih memilih bekerja di pabrik garmen. Lantaran, bekerjanya tak rumit dan gajinya pasti. ”Juga tak ribet. Karena kalau mengukir itu ribet. Butuh ketelitian,” tambah Joko.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara Eriza Rudi Yulianto melalui Kasi Industri Kimia Agro Hasil Hutan (IKAHH) Dhaula Pattaraya mengakui, saat ini kerajinan ukir kalah dengan pabrik garmen di Bumi Kartini.

”Anak-anak muda lebih memilih itu (bekerja di pabrik garmen, Red). Kami tidak ingin Jepara berubah terkenal dengan Kota Garmen. Harusnya tetap Kota Ukir,” keluhnya.

Untuk itu, pihaknya tiap tahun mengadakan pelatihan ukir. Demi melestarikan kerajinan ukir di Jepara. Pesertanya beragam. Mulai pemuda hingga dewasa. Bahkan, juga ada perempuan. Terbaru, Februari lalu pihaknya menggelar pelatihan di Desa Petekeyan dan Tahunan, Kecamatan Tahunan.

Rencananya, tahun depan pelatihan tersebut kembali digelar. Temanya ukiran relief untuk pengembangan. ”Agar ukiran di Jepara ini tidak punah,” tegas Dhaula. (rom)

Most Read

Artikel Terbaru

/