alexametrics
24.4 C
Kudus
Wednesday, May 18, 2022

Nojorono Kudus Ekspor ke Pasar Asia

KUDUS – PT Nojorono Tobacco International, merupakan salah satu perusahaan di bidang Industri Hasil Tembakau (IHT) yang saat ini menduduki posisi kelima terbesar di Indonesia. Kini melakukan ekspor perdananya Pada 13 Juli 2021. Itikad ekspor tersebut selaras dengan imbauan kebijakan pemerintah.

Seperti dilansir beberapa media, Menkeu Sri Mulyani Indrawati mendorong produsen sigaret untuk mulai menggiatkan ekspor produknya. Ekspor ini juga merupakan langkah lanjutan Nojorono Kudus menyikapi situasi pandemi.

Langkah strategis itu untuk menyiasati keberlangsungan bisnis serta kesejahteraan pekerja. Seperti yang disampaikan Stefanus JJ Batihalim, President Director PT Nojorono Tobacco International perihal rencana ekspor.


”Tahun lalu kami melahirkan produk baru untuk menjamin keberlangsungan lapangan kerja dan roda perekonomian. Tahun ini, kami lanjut kan dengan memperluas jangkauan pasar melalui ekspor,” ungkapnya.

Kebijakan ekspor ditempuh dengan melihat besarnya potensi pangsa pasar konsumen di mancanegara serta sebagai salah satu upaya menyiasati kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) tahun ini yang mencapai angka rata-rata 12,5%.

Sementara menurut Arief Goenadibrata, Managing Di rector PT Nojorono Tobacco International, Kenaikan CHT berakibat pada kenaikan harga yang menekan daya beli masya rakat. ”Kami berinisiatif memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara yang dinilai memiliki potensi besar. Tahap awal dimulai dengan membidik pasar Asia, khususnya konsumen Indonesia yang tinggal disana. Namun, tidak menutup peluang untuk perluasan ke negara lainnya di masa mendatang,” tuturnya.

Baca Juga :  PB Djarum Jaring Atlet lewat Edisi Khusus

Sigaret kretek menjadi salah satu identitas khas Indonesia dan saat ini hanya diproduksi oleh produsen sigaret Indonesia. Produk ekspor perdana PT Nojorono Tobacco International jatuh pada kategori Sigaret Kretek Mesin Mild (SKMM); Clas Mild. Produk sigaret LTLN (Low Tar Low Nicotine) unggulan yang diluncurkan perdana pada tahun 2003 ini, sempat menduduki peringkat kedua penjualan terbaik kategori SKMM dalam kurun waktu yang singkat.

Arief menjelaskan, bahwa konsistensi Nojorono Kudus dalam prosedur pemilihan dan penggunaan bahan baku terbaik di setiap produknya, melandasi pertimbangan kuat dalam kebijakan ekspor. “Keseimbangan kualitas dan cita rasa yang memenuhi standar higienis dan freshness of product, selalu menjadi prioritas utama kami. Clas Mild merupakan produk sigaret kretek, yang sejak awal diluncurkan memenuhi standar kualitas ekspor,” jelasnya.

Bea Cukai Kudus juga mengapresiasi ekspor perdana Nojorono. Agus Saptari, Kasi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai II menyampaikan, keberhasilan ekspor Nojorono Kudus perlu diapresiasi.

”Sebagai institusi pemerintah yang diamanahi tugas dan fungsi di bidang cukai, Bea Cukai Kudus siap menjadi mitra kerja Nojorono. Selamat atas pelaksanaan ekspor perdana Nojorono Kudus, harapannya ekspor diperluas untuk negara lainnya,” pungkasnya. (lia)

KUDUS – PT Nojorono Tobacco International, merupakan salah satu perusahaan di bidang Industri Hasil Tembakau (IHT) yang saat ini menduduki posisi kelima terbesar di Indonesia. Kini melakukan ekspor perdananya Pada 13 Juli 2021. Itikad ekspor tersebut selaras dengan imbauan kebijakan pemerintah.

Seperti dilansir beberapa media, Menkeu Sri Mulyani Indrawati mendorong produsen sigaret untuk mulai menggiatkan ekspor produknya. Ekspor ini juga merupakan langkah lanjutan Nojorono Kudus menyikapi situasi pandemi.

Langkah strategis itu untuk menyiasati keberlangsungan bisnis serta kesejahteraan pekerja. Seperti yang disampaikan Stefanus JJ Batihalim, President Director PT Nojorono Tobacco International perihal rencana ekspor.

”Tahun lalu kami melahirkan produk baru untuk menjamin keberlangsungan lapangan kerja dan roda perekonomian. Tahun ini, kami lanjut kan dengan memperluas jangkauan pasar melalui ekspor,” ungkapnya.

Kebijakan ekspor ditempuh dengan melihat besarnya potensi pangsa pasar konsumen di mancanegara serta sebagai salah satu upaya menyiasati kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) tahun ini yang mencapai angka rata-rata 12,5%.

Sementara menurut Arief Goenadibrata, Managing Di rector PT Nojorono Tobacco International, Kenaikan CHT berakibat pada kenaikan harga yang menekan daya beli masya rakat. ”Kami berinisiatif memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara yang dinilai memiliki potensi besar. Tahap awal dimulai dengan membidik pasar Asia, khususnya konsumen Indonesia yang tinggal disana. Namun, tidak menutup peluang untuk perluasan ke negara lainnya di masa mendatang,” tuturnya.

Baca Juga :  Status PPKM Turun ke Level I, Bupati Kudus Minta Warganya Disiplin Prokes

Sigaret kretek menjadi salah satu identitas khas Indonesia dan saat ini hanya diproduksi oleh produsen sigaret Indonesia. Produk ekspor perdana PT Nojorono Tobacco International jatuh pada kategori Sigaret Kretek Mesin Mild (SKMM); Clas Mild. Produk sigaret LTLN (Low Tar Low Nicotine) unggulan yang diluncurkan perdana pada tahun 2003 ini, sempat menduduki peringkat kedua penjualan terbaik kategori SKMM dalam kurun waktu yang singkat.

Arief menjelaskan, bahwa konsistensi Nojorono Kudus dalam prosedur pemilihan dan penggunaan bahan baku terbaik di setiap produknya, melandasi pertimbangan kuat dalam kebijakan ekspor. “Keseimbangan kualitas dan cita rasa yang memenuhi standar higienis dan freshness of product, selalu menjadi prioritas utama kami. Clas Mild merupakan produk sigaret kretek, yang sejak awal diluncurkan memenuhi standar kualitas ekspor,” jelasnya.

Bea Cukai Kudus juga mengapresiasi ekspor perdana Nojorono. Agus Saptari, Kasi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai II menyampaikan, keberhasilan ekspor Nojorono Kudus perlu diapresiasi.

”Sebagai institusi pemerintah yang diamanahi tugas dan fungsi di bidang cukai, Bea Cukai Kudus siap menjadi mitra kerja Nojorono. Selamat atas pelaksanaan ekspor perdana Nojorono Kudus, harapannya ekspor diperluas untuk negara lainnya,” pungkasnya. (lia)

Most Read

Artikel Terbaru

/