alexametrics
30.8 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Pedagang di Pasar Tradisional Grobogan Enggan Turunkan Harga Minyak Goreng

GROBOGAN  – Sejumlah pedagang di pasar tradisional masih enggan menurunkan harga minyak goreng, meski Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah dua pekan ini menerapkan aturan Harga Eceran Tertinggi (HET). Hingga kini mereka masih menjual dengan harga Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per liter.

Pantauan Jawa Pos Radar Kudus, pedagang di Pasar Induk Purwodadi masih menjual harga di atas HET yang ditetapkan pemerintah. Untuk minyak goreng  curah yang seharusnya Rp 11.500 per liter, masih dijual Rp 18.500 per kilogram. Minyak goreng kemasan seharusnya Rp 13.500 per liter, masih dijual Rp 17 ribu per liter, serta kemasan premium yang seharusnya Rp 14 ribu per liter di lapangan masih Rp 20 ribu per liter.

Kabid Perdagangan Disperindag Grobogan Sigit Adiwibowo mengatakan, meski sudah melakukan sidak ke pasar. Namun, pedagang masih enggan menyesuaikan HET, dengan dalih menghabiskan stok yang sudah dibeli dengan harga sebelumnya yang lebih tinggi.


”Transisi ini pedagang belum bisa mendapatkan kulakan. Stok yang lama juga tidak bisa di-return, jadinya begitu mereka belum bisa menyesuaikan HET,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pegawai Di-Screening, Lingkar Perut dapat Deteksi Status Kesehatan

Selain itu, distribusi supplier juga belum lancar. Sehingga para pedagang pasar tradisional masih belum bisa menjual harga yang ditetapkan pemerintah. ”Kalau di swalayan dan supermarket distributor jelas. Namun, jika di pedagang tradisional rentang distributor banyak, jadi untuk menstabilkan harga butuh waktu,” paparnya.

Pihaknya juga sudah melakukan sidak di sejumlah pasar tradisional. Memang masih ditemukan banyak pedagang yang belum bisa menerapkan harga sesuai ketentuan.

”Masih ada yang belum menerapkan, kita dorong terus agar menyesuaikan. Kita ingatkan untuk patuh, soalnya produsen sudah menerapkan, jadi itu sudah harga di konsumen,” jelasnya.

Pihaknya juga meminta kepada warga untuk melaporkan oknum yang masih menjual dengan harga masih diluar ketentuan.

“Bagi masyarakat yang masih menemukan harga di bawah aturan dapat mengadukan ke hotline Kemendag. Terkait sanksinya bagi pedagang yang tidak patuh, hal itu sesuai dengan ketentuan Kemendag. Memang diberbagai daerah masih banyak ditemukan,” bebernya. (him)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN  – Sejumlah pedagang di pasar tradisional masih enggan menurunkan harga minyak goreng, meski Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah dua pekan ini menerapkan aturan Harga Eceran Tertinggi (HET). Hingga kini mereka masih menjual dengan harga Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per liter.

Pantauan Jawa Pos Radar Kudus, pedagang di Pasar Induk Purwodadi masih menjual harga di atas HET yang ditetapkan pemerintah. Untuk minyak goreng  curah yang seharusnya Rp 11.500 per liter, masih dijual Rp 18.500 per kilogram. Minyak goreng kemasan seharusnya Rp 13.500 per liter, masih dijual Rp 17 ribu per liter, serta kemasan premium yang seharusnya Rp 14 ribu per liter di lapangan masih Rp 20 ribu per liter.

Kabid Perdagangan Disperindag Grobogan Sigit Adiwibowo mengatakan, meski sudah melakukan sidak ke pasar. Namun, pedagang masih enggan menyesuaikan HET, dengan dalih menghabiskan stok yang sudah dibeli dengan harga sebelumnya yang lebih tinggi.

”Transisi ini pedagang belum bisa mendapatkan kulakan. Stok yang lama juga tidak bisa di-return, jadinya begitu mereka belum bisa menyesuaikan HET,” ungkapnya.

Baca Juga :  Skema Tak Sesuai Permintaan, Dua Trayek Feeder di Grobogan Sepi Peminat 

Selain itu, distribusi supplier juga belum lancar. Sehingga para pedagang pasar tradisional masih belum bisa menjual harga yang ditetapkan pemerintah. ”Kalau di swalayan dan supermarket distributor jelas. Namun, jika di pedagang tradisional rentang distributor banyak, jadi untuk menstabilkan harga butuh waktu,” paparnya.

Pihaknya juga sudah melakukan sidak di sejumlah pasar tradisional. Memang masih ditemukan banyak pedagang yang belum bisa menerapkan harga sesuai ketentuan.

”Masih ada yang belum menerapkan, kita dorong terus agar menyesuaikan. Kita ingatkan untuk patuh, soalnya produsen sudah menerapkan, jadi itu sudah harga di konsumen,” jelasnya.

Pihaknya juga meminta kepada warga untuk melaporkan oknum yang masih menjual dengan harga masih diluar ketentuan.

“Bagi masyarakat yang masih menemukan harga di bawah aturan dapat mengadukan ke hotline Kemendag. Terkait sanksinya bagi pedagang yang tidak patuh, hal itu sesuai dengan ketentuan Kemendag. Memang diberbagai daerah masih banyak ditemukan,” bebernya. (him)






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/