alexametrics
29.8 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

PLN Boyong 27 Penghargaan Subroto

JAKARTA – PLN Group meraih 27 penghargaan dalam ajang Penghargaan Subroto 2021. Sebuah ajang penghargaan tertinggi dan bergengsi di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM).

Penghargaan yang diboyong PLN Group antara lain, 10 penghargaan di bidang keselamatan ketenagalistrikan dari berbagai kategori. Dalam bidang efisiensi energi, PLN Group meraih enam penghargaan di kategori manajemen energi di gedung dan industri. Selanjutnya, untuk penurunan dan perdagangan emisi karbon di sektor pembangkit listrik, meraih 11 penghargaan dari beberapa kategori.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengaku gembira atas capaian dari seluruh unit dan anak usaha yang meraih penghargaan ini. Terlebih, PLTU Tanjung Jati B (TJB) Unit 4 turut meraih penghargaan Subroto bidang efisiensi energi atas peran terhadap penurunan emisi dan perdagangan emisi karbon.


”Kami bangga atas penghargaan Subroto tahun ini, yang merupakan kerja seluruh insan PLN di setiap unit pemenang. Ini jadi motivasi penting bagi PLN. Terlebih dalam mendorong sistem carbon trading (perdagangan karbon) sebagai upaya penurunan emisi di aset pembangkit kami,” ujarnya.

PLTU TJB Unit 4 di bawah pengelolaan Unit Induk Pembangkitan Tanjung Jati B di Jepara Jawa Tengah, dalam ajang ini meraih juara I kategori penurunan dan perdagangan emisi karbon di sektor pembangkit listrik-seller untuk PLTU Non-Mulut Tambang di atas 400 MW.

PLTU TJB Unit 4 milik PLN memiliki intensitas emisi terendah pada tahun lalu. PLTU TJB memiliki surplus kuota emisi cukup besar. Dalam uji coba perdagangan emisi ini, PLTU TJB Unit 4 sukses mentransfer kuota emisi kepada beberapa pembangkit sejenis, seperti PLTU Punagaya, PLTU Pangkalan Susu, PLTU Sebalang, dan PLTU Teluk Sirih dengan harga Rp 30 ribu per unit karbon (1 ton CO2).

Zulkifli menjelaskan, PLN menaruh perhatian besar terhadap tren global dan transisi energi.  Untuk itu, PLN pun telah menyusun strategi dan peta jalan untuk mendorong dekarbonisasi. PLN menjadi satu dari 30 perusahaan listrik global yang berkomitmen dalam emisi nol karbon dan menargetkan akan mencapainya pada 2060 mendatang.

”Untuk bisa mencapai hal itu, salah satunya kami bekerja keras untuk mengejar target bauran energi 23 persen pada 2025 mendatang. Selanjutnya, kami merancang peta jalan penghentian PLTU hingga 2056, sehingga carbon neutral bisa dicapai,” terangnya.

Baca Juga :  Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN dan BNI Perluas Jangkauan SPKLU

Zulkifli menjelaskan, ada dua pendekatan yang dilakukan PLN dalam mencapai target itu. Pertama, menerapkan dekarbonisasi dalam portofolio PLN. ”Kami sudah menginventarisasi produk dari rumah kaca. Kami memperkirakan puncak emisi rumah kaca akan terjadi pada 2030 dan secara bertahap mengurangi dan mencapai emisi nol bersih pada 2060,” jelasnya.

Kedua, setelah melakukan inventarisasi, perusahaan mengembangkan lini bisnis baru yang mengedepankan dekarbonisasi nasional, seperti pengembangan PLTS, SPKLU, dan peralihan dari kompor gas ke kompor induksi.

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya mendukung negara yang bebas emisi, tetapi secara internal juga bisa meningkatkan keandalan dan keterjangkauan biaya.

Cita-cita dekarbonisasi ini, juga perlu dukungan penelitian dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. Perlu kerja sama semua pihak, agar cita-cita itu bisa segera terealisasi.

Harapan lain, terkait instrumen nilai ekonomi karbon. Sistem perdagangan karbon di sektor ketenagalistrikan ada sebagai produk dari serangkaian proses studi, konsultasi public, dan sekarang pindah ke tahap pengujian. Perdagangan emisi karbon bagaimana pun dinilai lebih tepat untuk menghadirkan inovasi dalam agenda pengurangan emisi bagi pembangkit yang dimiliki PLN.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut, terkait dekarbonisasi pemerintah menargetkan capaian net zero emission (emisi nol karbon) terjadi pada 2060 mendatang atau lebih awal. Ia mengajak semua pelaku usaha energi agar semakin aktif mendukung program transisi energi menuju itu dengan berbagai strategi. Transisi energi menurutnya harus menjadi komitmen bersama seluruh pihak. Tak lupa pihaknya mengapresiasi para pemenang dalam Penghargaan Subroto tahun ini.

”Saya mengucapkan selamat pada para penerima penghargaan Subroto 2021. Prestasi dan sumbangsih tanpa pamrih ini, telah diberikan saudara, bermakna besar bagi kemajuan bangsa Indonesia.” ujarnya.

Penganugerahan penghargaan Subroto oleh Kementerian ESDM tahun ini meliputi 11 bidang. Masing-masing, bidang keselamatan minyak dan gas bumi, PNBP dan kinerja keuangan hulu minyak dan gas bumi, pengusahaan panas bumi, kinerja badan usaha bahan bakar nabati dalam penyaluran bahan bakar nabati jenis biofuel, keselamatan ketenagalistrikan, PNBP mineral dan batubara, inovasi aspek teknik dan lingkungan untuk kaidah pertambangan yang baik, konservasi geologi dan mitigasi bencana geologi, pengembangan kompetensi sumber daya manusia sektor energi dan sumber daya mineral, wartawan energi, dan efisiensi energi. (lin)

JAKARTA – PLN Group meraih 27 penghargaan dalam ajang Penghargaan Subroto 2021. Sebuah ajang penghargaan tertinggi dan bergengsi di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM).

Penghargaan yang diboyong PLN Group antara lain, 10 penghargaan di bidang keselamatan ketenagalistrikan dari berbagai kategori. Dalam bidang efisiensi energi, PLN Group meraih enam penghargaan di kategori manajemen energi di gedung dan industri. Selanjutnya, untuk penurunan dan perdagangan emisi karbon di sektor pembangkit listrik, meraih 11 penghargaan dari beberapa kategori.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengaku gembira atas capaian dari seluruh unit dan anak usaha yang meraih penghargaan ini. Terlebih, PLTU Tanjung Jati B (TJB) Unit 4 turut meraih penghargaan Subroto bidang efisiensi energi atas peran terhadap penurunan emisi dan perdagangan emisi karbon.

”Kami bangga atas penghargaan Subroto tahun ini, yang merupakan kerja seluruh insan PLN di setiap unit pemenang. Ini jadi motivasi penting bagi PLN. Terlebih dalam mendorong sistem carbon trading (perdagangan karbon) sebagai upaya penurunan emisi di aset pembangkit kami,” ujarnya.

PLTU TJB Unit 4 di bawah pengelolaan Unit Induk Pembangkitan Tanjung Jati B di Jepara Jawa Tengah, dalam ajang ini meraih juara I kategori penurunan dan perdagangan emisi karbon di sektor pembangkit listrik-seller untuk PLTU Non-Mulut Tambang di atas 400 MW.

PLTU TJB Unit 4 milik PLN memiliki intensitas emisi terendah pada tahun lalu. PLTU TJB memiliki surplus kuota emisi cukup besar. Dalam uji coba perdagangan emisi ini, PLTU TJB Unit 4 sukses mentransfer kuota emisi kepada beberapa pembangkit sejenis, seperti PLTU Punagaya, PLTU Pangkalan Susu, PLTU Sebalang, dan PLTU Teluk Sirih dengan harga Rp 30 ribu per unit karbon (1 ton CO2).

Zulkifli menjelaskan, PLN menaruh perhatian besar terhadap tren global dan transisi energi.  Untuk itu, PLN pun telah menyusun strategi dan peta jalan untuk mendorong dekarbonisasi. PLN menjadi satu dari 30 perusahaan listrik global yang berkomitmen dalam emisi nol karbon dan menargetkan akan mencapainya pada 2060 mendatang.

”Untuk bisa mencapai hal itu, salah satunya kami bekerja keras untuk mengejar target bauran energi 23 persen pada 2025 mendatang. Selanjutnya, kami merancang peta jalan penghentian PLTU hingga 2056, sehingga carbon neutral bisa dicapai,” terangnya.

Baca Juga :  Enam Tahun Berturut-turut PT Epson Terima Penghargaan Ret Dot Design

Zulkifli menjelaskan, ada dua pendekatan yang dilakukan PLN dalam mencapai target itu. Pertama, menerapkan dekarbonisasi dalam portofolio PLN. ”Kami sudah menginventarisasi produk dari rumah kaca. Kami memperkirakan puncak emisi rumah kaca akan terjadi pada 2030 dan secara bertahap mengurangi dan mencapai emisi nol bersih pada 2060,” jelasnya.

Kedua, setelah melakukan inventarisasi, perusahaan mengembangkan lini bisnis baru yang mengedepankan dekarbonisasi nasional, seperti pengembangan PLTS, SPKLU, dan peralihan dari kompor gas ke kompor induksi.

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya mendukung negara yang bebas emisi, tetapi secara internal juga bisa meningkatkan keandalan dan keterjangkauan biaya.

Cita-cita dekarbonisasi ini, juga perlu dukungan penelitian dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. Perlu kerja sama semua pihak, agar cita-cita itu bisa segera terealisasi.

Harapan lain, terkait instrumen nilai ekonomi karbon. Sistem perdagangan karbon di sektor ketenagalistrikan ada sebagai produk dari serangkaian proses studi, konsultasi public, dan sekarang pindah ke tahap pengujian. Perdagangan emisi karbon bagaimana pun dinilai lebih tepat untuk menghadirkan inovasi dalam agenda pengurangan emisi bagi pembangkit yang dimiliki PLN.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut, terkait dekarbonisasi pemerintah menargetkan capaian net zero emission (emisi nol karbon) terjadi pada 2060 mendatang atau lebih awal. Ia mengajak semua pelaku usaha energi agar semakin aktif mendukung program transisi energi menuju itu dengan berbagai strategi. Transisi energi menurutnya harus menjadi komitmen bersama seluruh pihak. Tak lupa pihaknya mengapresiasi para pemenang dalam Penghargaan Subroto tahun ini.

”Saya mengucapkan selamat pada para penerima penghargaan Subroto 2021. Prestasi dan sumbangsih tanpa pamrih ini, telah diberikan saudara, bermakna besar bagi kemajuan bangsa Indonesia.” ujarnya.

Penganugerahan penghargaan Subroto oleh Kementerian ESDM tahun ini meliputi 11 bidang. Masing-masing, bidang keselamatan minyak dan gas bumi, PNBP dan kinerja keuangan hulu minyak dan gas bumi, pengusahaan panas bumi, kinerja badan usaha bahan bakar nabati dalam penyaluran bahan bakar nabati jenis biofuel, keselamatan ketenagalistrikan, PNBP mineral dan batubara, inovasi aspek teknik dan lingkungan untuk kaidah pertambangan yang baik, konservasi geologi dan mitigasi bencana geologi, pengembangan kompetensi sumber daya manusia sektor energi dan sumber daya mineral, wartawan energi, dan efisiensi energi. (lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/