Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Buwuh Rokok: Tradisi, Membebani, atau Perlu Diganti?

M. Khoirul Anwar • Minggu, 16 November 2025 | 06:05 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

DI banyak desa di Jepara, ada satu tradisi sosial yang masih bertahan hingga hari ini: buwuh rokok satu pres. Sederhana bentuknya, namun kompleks dampaknya.

Ketika seseorang punya gawe, tetangga dan kerabat biasanya datang membawa sumbangan berupa rokok. Umumnya satu pres atau satu slop. Merek tertentu, seolah sudah menjadi “mata uang tidak resmi” dalam urusan adat.

Selama bertahun-tahun, tradisi ini berjalan tanpa banyak dipertanyakan. Memberi rokok saat tetangga punya hajatan, lalu menerima kembali ketika tiba giliran kita punya acara.

Ada rasa saling bantu, ada nilai sosial yang dijaga. Namun, perubahan zaman pelan-pelan memberi tanda tanya. Apakah skema timbal balik ini masih relevan dan adil?

Harga rokok terus naik setiap tahun. Sementara kondisi ekonomi masyarakat justru tidak menentu. Ketika menerima, tentu tidak masalah.

Tetapi saat harus mengembalikan buwuhan itu, sebagian orang mulai merasa berat. Bukan karena tidak mau, tetapi karena nilai yang harus “dibayar” semakin tinggi.

Di sisi lain, tekanan sosial untuk tetap mengikuti adat membuat banyak orang memilih diam. Sebab tak ada yang ingin menjadi bahan gunjingan.

Fenomena lain yang mengemuka adalah peredaran rokok lawas dalam tradisi buwuh. Rokok produksi dua atau tiga tahun silam kini sering muncul sebagai pilihan murah. Para pemberi buwuh memilih seri lama karena harga jauh lebih rendah, sedangkan tuan rumah menerimanya tanpa banyak pilihan.

Toh sebagian besar rokok itu akan dijual ke tengkulak untuk menutup biaya gawe. Ironisnya, tengkulak membeli dengan harga lebih rendah lagi. Rugi dua kali: menerima rokok lawas, lalu menjual dengan nilai jatuh.

Akibatnya, rokok yang beredar saat musim gawe cenderung itu-itu saja. Rokok lama yang berpindah tangan dari satu hajatan ke hajatan berikutnya. Sebuah lingkaran ekonomi kecil yang sebenarnya tidak lagi sehat.

Kesadaran baru mulai tumbuh. Belakangan muncul catatan kecil dalam undangan gawe:
“Bagi yang ingin menyumbang rokok, dapat diganti dengan uang.”

Praktis, jujur, dan lebih rasional. Ketimbang menerima rokok yang kemudian dijual murah, tuan rumah bisa langsung mengelola dana sesuai kebutuhan. Para tamu pun tidak perlu berburu rokok lawas atau menanggung harga rokok terbaru yang semakin mahal.

Namun pertanyaan yang lebih besar tetap menggantung. Apakah tradisi buwuh rokok perlu dibenahi?

Adat idealnya menjaga kebersamaan, bukan menjadi beban yang tak terucapkan. Tradisi dibangun oleh manusia, dan sewajarnya pula manusia yang menyesuaikannya ketika situasi berubah. Apa yang dulu terasa ringan, kini bisa menjadi memberatkan.

Tetapi perubahan tidak harus menghilangkan nilai utama dari budaya buwuh. Semangat saling membantu.

Mungkin kini saatnya masyarakat menimbang kembali. Apakah wujud buwuhan tetap harus rokok? Atau bisa diganti dengan bentuk lain yang lebih realistis dan tidak menjerat secara ekonomi?

Pada akhirnya, gotong royong adalah soal rasa. Dan rasa itulah yang harus terus dijaga, tanpa harus memaksa siapapun mengorbankan lebih dari kemampuannya.

Editor : Zainal Abidin RK
#jepara #hajatan #Kondangan #tradisi #rokok