alexametrics
24.1 C
Kudus
Friday, November 26, 2021

Dokter Yang Hebat

SEPULUH hari lalu saya harus ke dokter. Itulah kali pertama saya memeriksakan diri ke dokter di Semarang. Saya ke dr Taufik Kresno Dwiyanto SpPD FINASHIM SH atas saran Ida Noor Layla, redaktur pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, yang sudah menjadi pasiennya terlebih dahulu.

Dokter Taufik ahli penyakit dalam. Tempat praktiknya dilengkapi berbagai fasilitas pemeriksaan, seperti laboratorium dan rontgen. Saya periksa darah dan kencing di situ. Satu jam kemudian hasilnya keluar. Beliau lantas menjelaskan hasil pemeriksaan tersebut dan terapinya. Termasuk juga pantangan-pantangannya.

Di ruang tunggu laboratorium terpajang foto. Saya amati detail. Dari posenya saya menduga foto keluarga. Yang dewasa mengenakan baju kebesaran dokter warna putih. ”Dokter Taufik itu sekeluarga dokter ya,” tanya saya. Beliau membenarkan.

Istrinya dokter analis kesehatan. Ketiga anaknya dokter. Bahkan ketiga menantunya juga dokter. Adiknya dokter. Ada juga yang menjadi profesor. Saya membayangkan betapa hebatnya keluarga itu. Lebih luar biasa lagi cara mendidiknya.

Dokter Taufik adalah dokter tentara. Dia ramah. Ilmunya tinggi. Wawasannya luas. Menjelaskan satu gejala kesehatan saja bisa menyangkut politik sampai luar negeri. Tentang  trigliserida saya yang tinggi misalnya, sampai ke penjajahan Belanda. Saya sempat melongo.

Beliau juga sarjana hukum. Menjadi pengacara. Banyak membela pasien. Kalau berbicara runtut. Gampang diterima akal. Saya yang baru pertama menjadi pasiennya sering hanya bisa manggut-manggut. Puas atas penjelasannya. Rasanya sakit sudah sembuh sebelum beliau memberi resep obat.

Sejak zaman-zaman penjajahan, rakyat Indonesia sudah dibiasakan makan yang penting kenyang. Makan nasi yang banyak. Karbohidratnya tinggi. Tenaganya kuat.

Selama energi digunakan tidak masalah. Kalau menganggur akan disimpan dalam tubuh. Itulah bisa meningkatkan kadar trigliserida. Lama-lama menempel di dinding pembuluh darah. Kalau dibiarkan bisa terjadi sumbatan. Orang bisa terkena struk dan penyakit jantung. ”Bisa lebih berbahaya dibanding kolesterol,” ujar dr Taufik.

Baca Juga :  Jalan-Jalan di Kota Mati

Trigliserida itu salah satu jenis lemak. Yang lain adalah kolesterol. Keduanya terbentuk karena makanan, khususnya yang berlemak. Terutama lemak jenuh. Namun kebanyakan orang lebih memperhatikan kolesterol. Saya juga begitu. Biasanya kalau periksa darah hanya minta kolesterol lengkap, asam urat, dan gula. Nyaris tak memperhatian trigliserida.

Agar trigliserida dan kolesterol stabil pada batas yang dibutuhkan tubuh, pola makan harus diatur. Pola hidup juga demikian. Olah raga secara rutin bisa membakar kedua jenis lemak tersebut.

Selama pandemi Covid-19 banyak orang yang berhenti gerak badan.Termasuk saya. Setelah level-levelan menurun, saya baru berani berolah raga lagi. Maklum kebiasaan olah raga saya memang jalan pagi. Pagi setelah malamnya dari dr Taufik, saya jalan pagi di Simpanglima Semarang. Suasananya sudah cukup ramai. Nyaris tak berbeda dibanding sebelum pandemi.

Saat itu, saya mengelilingi lapangan Pancasila lima kali. Satu putaran sekitar delapan menit. Ditambah 14 menit perjalanan dari tempat tinggal ke Simpanglima dan sebaliknya. Saya tak berani lebih cepat lagi. Karena harus memakai masker. Bisa berbahaya. Keluar-masuk oksigen tidak lancar. Bahkan dengan bermasker, CO2 yang mesti dibuang bisa terhirup lagi.

Bagi saya jalan pagi itu menarik. Mendapat banyak pelajaran. Bisa melihat banyak alat cuci tangan yang mangkrak di mana-mana. Termasuk di Simpanglima dan Jalan Pahlawan, tidak jauh dari kantor gubernur. Kebanyakan airnya tidak mengalir. Pipa paralonnya putus. Bahkan kerannya hilang. Sementara itu, baner masih bertebaran yang mengharuskan cuci tangan untuk menangkal penyebaran korona.

Sabtu lalu saya juga jalan pagi di Simpanglima. Mobil polisi lalu lintas terus berkeliling lapangan Pancasila sambil berhalo-halo. Mengabarkan 17 September sampai 3 Oktober dilaksanakan Operasi Patuh Candi. Beberapa polisi wanita (polwan) berkelingi membagikan masker kepada orang-orang yang tidak memakai pelindung diri.

Semoga kita tetap sehat. (*)

SEPULUH hari lalu saya harus ke dokter. Itulah kali pertama saya memeriksakan diri ke dokter di Semarang. Saya ke dr Taufik Kresno Dwiyanto SpPD FINASHIM SH atas saran Ida Noor Layla, redaktur pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, yang sudah menjadi pasiennya terlebih dahulu.

Dokter Taufik ahli penyakit dalam. Tempat praktiknya dilengkapi berbagai fasilitas pemeriksaan, seperti laboratorium dan rontgen. Saya periksa darah dan kencing di situ. Satu jam kemudian hasilnya keluar. Beliau lantas menjelaskan hasil pemeriksaan tersebut dan terapinya. Termasuk juga pantangan-pantangannya.

Di ruang tunggu laboratorium terpajang foto. Saya amati detail. Dari posenya saya menduga foto keluarga. Yang dewasa mengenakan baju kebesaran dokter warna putih. ”Dokter Taufik itu sekeluarga dokter ya,” tanya saya. Beliau membenarkan.

Istrinya dokter analis kesehatan. Ketiga anaknya dokter. Bahkan ketiga menantunya juga dokter. Adiknya dokter. Ada juga yang menjadi profesor. Saya membayangkan betapa hebatnya keluarga itu. Lebih luar biasa lagi cara mendidiknya.

Dokter Taufik adalah dokter tentara. Dia ramah. Ilmunya tinggi. Wawasannya luas. Menjelaskan satu gejala kesehatan saja bisa menyangkut politik sampai luar negeri. Tentang  trigliserida saya yang tinggi misalnya, sampai ke penjajahan Belanda. Saya sempat melongo.

Beliau juga sarjana hukum. Menjadi pengacara. Banyak membela pasien. Kalau berbicara runtut. Gampang diterima akal. Saya yang baru pertama menjadi pasiennya sering hanya bisa manggut-manggut. Puas atas penjelasannya. Rasanya sakit sudah sembuh sebelum beliau memberi resep obat.

Sejak zaman-zaman penjajahan, rakyat Indonesia sudah dibiasakan makan yang penting kenyang. Makan nasi yang banyak. Karbohidratnya tinggi. Tenaganya kuat.

Selama energi digunakan tidak masalah. Kalau menganggur akan disimpan dalam tubuh. Itulah bisa meningkatkan kadar trigliserida. Lama-lama menempel di dinding pembuluh darah. Kalau dibiarkan bisa terjadi sumbatan. Orang bisa terkena struk dan penyakit jantung. ”Bisa lebih berbahaya dibanding kolesterol,” ujar dr Taufik.

Baca Juga :  Jalan-Jalan di Kota Mati

Trigliserida itu salah satu jenis lemak. Yang lain adalah kolesterol. Keduanya terbentuk karena makanan, khususnya yang berlemak. Terutama lemak jenuh. Namun kebanyakan orang lebih memperhatikan kolesterol. Saya juga begitu. Biasanya kalau periksa darah hanya minta kolesterol lengkap, asam urat, dan gula. Nyaris tak memperhatian trigliserida.

Agar trigliserida dan kolesterol stabil pada batas yang dibutuhkan tubuh, pola makan harus diatur. Pola hidup juga demikian. Olah raga secara rutin bisa membakar kedua jenis lemak tersebut.

Selama pandemi Covid-19 banyak orang yang berhenti gerak badan.Termasuk saya. Setelah level-levelan menurun, saya baru berani berolah raga lagi. Maklum kebiasaan olah raga saya memang jalan pagi. Pagi setelah malamnya dari dr Taufik, saya jalan pagi di Simpanglima Semarang. Suasananya sudah cukup ramai. Nyaris tak berbeda dibanding sebelum pandemi.

Saat itu, saya mengelilingi lapangan Pancasila lima kali. Satu putaran sekitar delapan menit. Ditambah 14 menit perjalanan dari tempat tinggal ke Simpanglima dan sebaliknya. Saya tak berani lebih cepat lagi. Karena harus memakai masker. Bisa berbahaya. Keluar-masuk oksigen tidak lancar. Bahkan dengan bermasker, CO2 yang mesti dibuang bisa terhirup lagi.

Bagi saya jalan pagi itu menarik. Mendapat banyak pelajaran. Bisa melihat banyak alat cuci tangan yang mangkrak di mana-mana. Termasuk di Simpanglima dan Jalan Pahlawan, tidak jauh dari kantor gubernur. Kebanyakan airnya tidak mengalir. Pipa paralonnya putus. Bahkan kerannya hilang. Sementara itu, baner masih bertebaran yang mengharuskan cuci tangan untuk menangkal penyebaran korona.

Sabtu lalu saya juga jalan pagi di Simpanglima. Mobil polisi lalu lintas terus berkeliling lapangan Pancasila sambil berhalo-halo. Mengabarkan 17 September sampai 3 Oktober dilaksanakan Operasi Patuh Candi. Beberapa polisi wanita (polwan) berkelingi membagikan masker kepada orang-orang yang tidak memakai pelindung diri.

Semoga kita tetap sehat. (*)

Most Read

Artikel Terbaru